Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Buah Pengingat



"Duh! Jangan Tuan juga lah! Panggil saja aku Rudolf! Itu panggilan orang-prang kepada ku!" Ucap sang pemuda memperkenalkan diri.


"Rudolf? Baik lah! Nama ku Emma, Rudolf!" Gantian Emma yang memperkenalkan diri nya.


"Sekarang, ayo cepat naik lah ke atas sini! Sebelum nona Hantu itu kembali kuat dan mengejar kita!" Ajak Rudolf sambil mengulurkan tangan ke arah Emma.


Emma menyambut uluran tangan Rudolf lalu naik ke atas papan selancar yang masih melayang sekitar dua puluh senti di atas tanah.


Begitu sudah berdiri di atas papan selancar, Rudolf tiba-tiba meraih tangan Emma yang satu nya untuk kemudian ia letakkan di pinggang pemuda itu.


"Berpeganglah yang erat. Dan fokus melihat ke depan. Kau pernah naik benda terbang juga kan?" Tanya Rudolf tiba-tiba.


"Ti..tidak! Apa ini aman? Apa kita tak akan terjatuh?" Tanya Emma dengan khawatir.


"Oh! Bukan kah tadi kau mengatakan kalau kau tahu ini adalah Dunia Mimpi? Ku pikir itu artinya kau cukup berpengalaman di dunia ini!" Ujar Rudolf sambil memandang heran pada Emma.


"Aku tak tahu dunia apa sebenar nya Dunia Mimpi ini. Aku pun baru diberitahu tadi oleh Sella dan Cello. Mereka itu anak asuh ku di Dunia nyata. Jadi, apa ini cukup aman?" Tanya Emma mengulang.


Pandangan gadis itu tak henti-henti nya menatap ke bawah. Ia masih terpikir kalau mereka bisa saja jatuh sewaktu-waktu dari atas papan selancar.


"Tenang saja. Alat ini aman kok. Lagipula, kita sedang berada di Dunia Mimpi kan? Jadi sebenar nya kita bebas melakukan apapun juga di dunia ini. Tingkat kekuatan kita pun bisa bebas. Yang diperlukan hanya imajinasi kita saja!" Papar Rudolf menerangkan.


"Maksud nya? Maaf, aku kurang paham!" Ucap Emma dekat di telinga Rudolf.


Kali ini keduanya sudah melesat di ketinggian 15 meter dari atas tanah. Kedua tangan Emma mulai merasa dingin karena memegang baju di bagian pinggang yang Rudolf kenakan.


Rambut Emma berkibar tak beraturan ke belakang, bersamaan dengan hembusan angin yang arus nya mereka lawan.


Emma tak berani melihat ke bawah lagi. Karena ia takut kalau ia akan jatuh pingsan saat menyadari ketinggian tempat nya berada saat ini.


"Jadi begini. Di Dunia Mimpi ini, ada satu aturan penting yang harus diketahui oleh semua penghuni nya. Aturan itu adalah bahwa setiap makhluk bebas berimajinasi dan mengekspresikan diri tanpa takut dibatasi oleh norma-norma yang ada seperti di dunia nyata. Tunggu sebentar, bila kulihat dari caramu berpakaian, seperti nya kau bukan dari Dunia Empat Kerajaan. Dari mana sebenar nya Dunia Nyata tempat asal mu, nona Emma?" Tanya Rudolf tiba-tiba.


"Apa maksud ucapan mu, Rudolf? Tentu saja aku tinggal di bumi! Bukan kah kau juga tinggal di bumi kan? Jangan bilang kalau kau juga hantu seperti Celia dan yang lain nya!" Tuding Emma tak percaya.


"Ooh.. ternyata kau berasal dari bumi, ya. Hmm.. aku pernah pergi ke bumi. Tempat yang indah. Dengan berbagai kerajaan, eh, bukan. Negara! Ya! Ada banyak negara-negara di bumi. Bukan begitu?" Tanya Rudolf minta diyakinkan.


'Dasar aneh! Dia seperti datang dari Dunia lain saja!' gerutu Emma dalam hati.


Sayang nya pada detik berikutnya Emma menyesali gumaman nya dalam hati itu. Karena ia baru teringat kalau semua orang/makhluk di dunia aneh ini bisa membaca isi pikiran dan isi hati nya.


Terlebih lagi Rudolf pun langsung mengomentari gerutuan hati Emma tadi.


"Hey! Aku bukan orang aneh ya, Non! Aku ini memang bukan datang dari bumi. Karena Dunia asal ku adalah Dunia Empat Kerajaan. Persisnya, aku datang dari kerajaan Nevarest!" Seru Rudolf berapi-api.


"Hah? Bukan! Nevarest itu salah satu dari empat kerajaan yang ada di Dunia asal ku. Selain Nevarest, ada juga Kerajaan Goluth, Enmar dan juga Allain. Selebih nya, tak ada lagi kerajaan atau negara yang lain!" Papar Rudolf menerangkan Dunia asal nya.


"Err.. kurasa penjelasan mu itu membuat kepala ku pusing, Rudolf. Inti nya, kau ini manusia juga kan?" Tanya Emma menyimpulkan pembicaraan mereka.


"Hahaha! Tentu saja Nona Emma! Tidak kah kau bisa merasakan kepadatan pinggang ku yang kau pegang saat ini? Atau apa aku perlu terjun dari atas sini dan mati terlebih dulu baru kau akan percaya kalau aku ini seorang manusia juga seperti mu?" Ujar Rudolf sambil terkekeh bebas.


Emma merengut kesal. Hampir saja ia ingin bergumam lagi dalam hati. Namun ia buru-buru mengingatkan diri nya tentang aturan aneh di Dunia Mimpi ini.


"Mm.. Jadi Rudolf, apa kau tahu cara untuk kembali ke Dunia nyata tempat ku berasal?" Tanya Emma tiba-tiba.


"Tentu saja aku tahu. Kita hanya perlu pergi ke Air Terjun Pelupa dan melewati nya. Nanti juga kau akan bangun di dunia nyata dengan sendiri nya. Tapi ku beritahu pada mu ya, Nona! Bila nanti kau melewati air terjun itu dan terbangun di dunia nyata mu, kau pasti akan melupakan semua kejadian yang kau alami di Dunia Mimpi ini! Itu adalah aturan penting lain nya dari Dunia Mimpi ini!" Papar Rudolf menasihati.


"Hah? Bagaimana bisa begitu? Apa ada cara agar aku tak lupa dengan kejadian yang ku alami di Dunia ini?" Tanya Emma penasaran.


Emma berpikir, bila ia melupakan kejadian di dunia ini, kemungkinan besar ia akan kembali mengalami teror dari hantu Celia di dunia nyata tanpa ia mengetahui keberadaan nya.


Jika ia bisa mengingat kejadian yang ia alami di dunia ini saat terbangun nanti, Emma akan mencari keberadaan tubuh Celia dan anak-anak asuh nya yang menurut mereka masih hidup di suatu tempat dalam villa Grandhill.


Emma akan menyelidiki semuanya dalam diam. Dan melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa nya dari ancaman hantu Celia. Bukankah ini cara yang lebih baik?


"Tentu ada, Nona manis! Kita hanya perlu memakan Buah Pengingat tepat sebelum kita melewati air terjun pelupa!" Jawab Rudolf memberitahu.


"Buah Pengingat? Buah apa itu? Di mana aku bisa mendapatkan nya?" Tanya Emma beruntun.


"Tentang itu, apa kau benar-benar ingin mendapatkan buah itu, Nona Emma? Kau sungguh ingin mengingat pengalaman mu tadi di Dunia Mimpi ini?" Tanya Rudolf meyakinkan Emma.


"Ya! Aku harus mengingat nya! Jadi aku harus mendapatkan buah pengingat itu, Rudolf!" Jawab Emma dengan yakin.


"Hmm.. baiklah. Aku akan mengantarkan mu ke tempat pohon dari Buah Pengingat itu berada. Tapi aku tak bisa membantu mu mendapatkan nya, Nona Emma. Kau harus mendapatkan nya dengan usaha mu sendiri," tutur Rudolf dengan raut menyesal.


Emma sedikit kecewa karena Rudolf tak bisa membantu nya untuk mendapatkan buah pengingat itu. Namun ia buru-buru memasang wajah senyum dan menyahut ucapan Rudolf.


"Tak apa-apa, Rudolf. Bagaimana pun juga kau sudah menyelamatkan ku dari hantu Celia. Jadi, aku akan mengambil buah pengingat itu sendiri," sahut Emma sambil tersenyum.


"Maaf ya, Emma. Aku sedang terburu-buru juga soal nya. Aku harus menemukan kristal Amora sebelum fajar berganti. Jika tidak, nyawaku di Dunia Nyata akan jadi taruhan nya," papar Rudolf kembali menerangkan kondisi yang sedang ia hadapi.


"Ya. Tak apa-apa, Rudolf. Jadi, di mana aku bisa menemukan Buah Pengingat itu?" Tanya Emma to the point.


"Di sana! Di Lembah Kuning Mengambang!" Jawab Rudolf sambil menunjuk ke satu titik di kejauhan.


***