
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Reno menahan lengan Emma dari beranjak pergi.
"Kita harus bicara dulu, Emm!" Pinta Reno dengan nada mendesak.
Awal nya Emma hendak menolak keinginan Reno tersebut. Namun setelah dipikir lagi, menurutnya Reno berhak untuk mengetahui apa yang ingin diketahui nya. Setidaknya itu adalah bentuk rasa terima kasih Emma terhadap pemuda itu.
"Oke. Kita bicara sekarang juga. Kamu mau nanya apa, Ren?" Tanya Emma to the point saat itu juga.
"Jangan di sini. Ayo pergi ke kantin. Aku haus. Dan kurasa kamu juga perlu minum, Emm," ujar Reno memutuskan.
"Fine. Aku ikut kamu!" Jawab Emma langsung menurut.
Keduanya lalu berjalan menuju kantin rumah sakit. Saat tiba di sana, hanya ada dua orang lelaki yang sedang menyesap minuman dan roti di kantin sana.
Reno mengajak Emma duduk pada salah satu bangku. Dan ia lalu membeli teh hangat untuk nya dan Emma. Serta beberapa cemilan cokelat yang ia tahu sangat disukai oleh mantan kekasih nya itu.
"Minum dulu, Emm. Dan makan ini. Kamu butuh makanan untuk nenangin pikiran mu!" Ujar Reno menasihati Emma.
Masih menurut, Emma menyesap teh panas itu secara perlahan. Ia pun menggigit sebatang cokelat yang telah Reno belikan untuk nya.
Sambil makan, Emma mencoba memikirkan ulang apa yang sebenarnya telah ia lalui sepanjang sore ini.
"Jadi, sebenarnya apa yang terjadi, Emm? Kamu tadi bilang kalau kamu disekap? Apa itu sama majikan mu yang sekarang, Emm?" Tanya Reno tiba-tiba.
Perhatian Emma pun kembali fokus kepada Reno. Setelah melirik sekilas pada jam dinding besar yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, Emma pun menjawab pertanyaan Rena dengan kisah nya yang cukup panjang.
Emma menceritakan awal mula ia bekerja di villa Grandhill. Kemudian aksi kabur nya yang kemudian mempertemukan nya kembali dengan Reno di dalam bus.
Selanjutnya kecelakaan yang menimpa sang Mama (Retno), hingga tawaran dari Nyonya Sofia, berikut juga janji nya untuk menjaga keamanan diri nya sebagai pegawai.
Yang paling mendebarkan adalah ketika Emma menceritakan soal boneka Sella dan Cello yang menjadi anak asuh nya selama beberapa minggu ini.
Emma tadi nya sudah berpikir kalau Reno tak akan mempercayai cerita nya tentang kedua boneka arwah tersebut. Namun ternyata perkiraan nya itu meleset.
Reno nyatanya langsung percaya dan tak menyanggah cerita Emma tentang kedua boneka arwah tersebut.
"Jadi, anak asuh kamu itu dua boneka yang diinangi oleh arwah?" Tanya Reno.
Emma mengangguk.
"Mereka benar-benar bisa bergerak sendiri? Tanpa orang ataupun baterei yang menggerakkan mereka, Emm?" Tanya Reno lagi.
Dan Emma pun kembali mengangguk.
"Tapi mereka bisa bergerak hanya untuk waktu yang terbatas dan juga tak tentu, Ren," tutur Emma menjelaskan.
"Maksud nya terbatas?" Tanya Reno yang terlihat penasaran sekaligus juga bingung.
"Sering nya mereka gak bisa bebas gerak di siang hari. Tapi pernah juga sih kejadian nya sekali waktu Cello bisa bergerak di waktu siang. Itu cuma sekali itu aja. Selebihnya, mereka cuma bisa aktif gerak di malam hari," imbuh Emma.
Reno terhenyak di atas kursi yang ia duduki. Ditatap nya Emma dalam-dalam. Pemuda itu setengah berharap kalau Emma tak benar-benar serius dengan cerita nya itu. Namun harapan nya sungguh kecele besar.
Nyatanya Emma dengan berani nya membalas tatapan menyelidik Reno. Dan tahulah pemuda itu kalau Emma sungguh mengatakan kebenaran yang ia ketahui.
"Jadi, biaya pengobatan Tante Retno itu dibayar sama Majikan mu itu, Emm?" Tanya Reno menyimpulkan.
Pada saat-saat seperti inilah ia menyayangkan ketidak mampuannya dalam hal finansial.
"Terus sekarang gimana? Apa menurut mu majikan mu itu akan kembali mencari mu, Emm? Dan juga pengobatan Tante Retno.. apa majikan mu itu masih mau membayar biaya pengobatan Tante Retno?" Tanya Reno kembali.
"Gak tahu, Ren. Aku juga gak tahu. Mungkin dia bakal datang lagi untuk mencari ku karena dia kan pernah sekali datang ke rumah untuk nawarin kontrak kerja yang baru. Bisa jadi nanti dia bakal datang lagi.." ucap Emma dengan nada tak yakin.
Reno terdiam selama beberapa saat. Sampai kemudian sebuah kalimat pun kembali keluar dari mulut pemuda itu.
"Kalau gitu, gimana kalau untuk sementara waktu ini kamu tinggal di apartemen ku?" Reno mengusulkan sebuah saran.
Emma langsung berdiri dan menatap garang ke arah Reno.
"Maksud kamu apa, Ren?!" Tanya Emma dengan pandangan sengit.
Reno ikut berdiri dan menuntun bahu Emma untuk kembali duduk.
"Maksud ku itu, untuk menghindari majikan mu itu, sementara ini kamu tinggal aja di apartemen ku. Tenang aja! Aku punya dua apartemen kok. Jadi kamu bisa tinggal di salah satu apartemen nya!" Usul Reno.
"Oh! Jadi.."
"Iya. Kamu sembunyi dulu aja di apartemen ku. Sampai situasi nya aman dan terkendali, baru nanti kamu bisa pulang ke rumah kamu lagi!" Tutur Reno menyampaikan argumen nya.
"Tapi.. aku bakal ngerepotin kamu, Ren.. aku ngerasa gak enak hati. Lagipula, apa dengan berlari, semua masalah bisa diselesaikan?" Sahut balik Emma.
"Memang masalah gak bisa diselesaikan dengan bersembunyi. Tapi kamu tahu juga kan, kita gak punya bukti soal penyekapan kamu. Lagipula, polisi juga pasti gak akan percaya sama ide Bi Hara untuk menukar ruh kamu sama arwah anak nya ke dalam tubuh kamu ini. Iya kan?" Reno memaparkan argumentasi nya.
"Hah.. kamu benar, Ren. Yang ada, aku malah bakal disangka gila sama pak polisi nya," Emma mengiyakan pendapat Reno.
Kamu tuh enggak gila kok, Emm. Aku percaya sama kamu!" Sahut Reno menghibur Emma.
Emma menatap Reno dengan pandangan haru.
"Makasih ya, Ren. Kamu udah nolongin aku lagi.. aku gak tahu, harus dengan cara gimana aku bisa membalas semua hutang budi ini," ucap Emma menahan malu.
"Gampang aja, Emm. Menikah lah dengan ku! Dengan begitu, kamu gak perlu lagi merasa sungkan untuk menerima semua bantuan ku!" Ucap Reno blak-blakan.
Ucapan nya itu spontan mengejutkan Emma yang tak berharap akan menerima sebuah confession dalam kondisi nya saat ini.
"Kamu becanda ya, Ren?" Tanya Emma menuding.
"Aku serius, Emm! Gak pernah aku merasa yakin seyakin saat aku mengatakan permintaan ku ini ke kamu. Menikah lah dengan ku, Emm?!" Pinta Reno dengan tatapan yang dalam.
Dengan baju piyama yang tertutupi oleh jaket army milik Reno..
Dengan wajah dan rambut yang terlihat kusut karena tak tersentuh make up selama beberapa hari..
Serta confession yang dilakukan di kantin rumah sakit ini..
Lengkap sudah kejutan yang disiapkan oleh takdir untuk Emma pada malam yang lengang saat itu.
***