Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Mengalahkan Pak Adda



Kemudian, tiba-tiba saja Emma kembali menggigit tangan Pak Adda yang mengurung tubuh nya.


"Aargghh!! Sialan kau!" Pak Adda kembali menjerit kesakitan, namun tak melepaskan pegangan nya pada kerah belakang gaun yang dikenakan oleh boneka Emma.


Kini boneka Emma tergantung mengkhawatirkan dalam pegangan Pak Adda. Namun Reno tak membiarkan Emma berjuang sendiri.


Saat ia melihat Emma menggigit tangan Pak Adda, Reno pun langsung bergegas memperpendek jarak nya dengan posisi Pak Adda dan Emma berada.


Hanya dengan dua langkah lebar, Reno pun telah berada tepat didepan Pak Adda. Lalu membagikan tendangan kencang ke alat vital lelaki itu.


Pak Adda menjerit kesakitan. Dan pegangan nya pada tubuh Emma pun seketika terlepas.


Emma terlempar ke atas dan hampir akan kembali terjatuh ke lantai, jika saja Reno tak sigap menangkap nya.


Hap.


"Ren!"


"Emma! Apa kau baik-baik saja, Yang?" Tanya Reno begitu khawatir.


"Aku baik-baik saja, Ren! Tapi.. Awas!!" Emma memberikan peringatan kepada Reno tepat pada waktu nya.


Saat kondisi anu nya Pak Adda berangsur membaik, lelaki itu pun segera tegak kembali untuk membalas perlakuan Reno kepada nya.


Pak Adda melayangkan bogem mentah nya ke arah wajah Reno, namun Reno sigap menghindar usai mendengar peringatan kilat dari Emma.


Pak Adda melayangkan tendangan kaki kiri milik nya, Namun Rneo kembali bisa menghindar dengan melangkah mundur menjauhi nya.


Semakin kesal, Pak Adda pun melayangkan tendangan dan pukulan secara bertubi-tubi ke arah Reno. Sampai Reno akhirnya cukup kewalahan karena ia pun masih memeluk Emma dengan satu tangan nya.


Pada satu kesempatan, Pak Adda akhirnya berhasil menyarangkan bogem mentah nya ke perut Reno. Hingga membuat pemuda itu tersungkur mundur hingga terjatuh.


Punggung Reno menabrak dinding di belakang nya cukup keras. Meski begitu, Reno yak melepaskan pegangan nya pada boneka Emma.


"Lepaskan aku, Ren! Atau kita pergi saja dari tempat ini!" Usul Emma dengan panik.


"Jangan asal bicara kau Nona kecil! Aku tak akan membiarkan kalian keluar dari ruangan ini hidup-hidup! Camkan itu!" Ancam balik Pak adda.


Lelaki itu ekmudian hendak kembali menyerang Reno. Namun Reno yang sesaat tadi tampak kesakitan memegangi perutnya, tiba-tiba saja menyerang Pak Adda dengan stun gun yang ia simpan di saku jaket nya.


Pak Adda pun terkejut kesakitan karena diserang tiba-tiba dengan arus 800 volt dari alat tersebut.


Lelaki dewasa itu pun terjerembap lemas usai diserang dengan stun gun berkali-kali oleh Reno.


Reno memastikan Pak adda jatuh pingsan terlebih dshulu sebelum ia melepaskan stungun yang tadi ditekan kan nya ke leher lelaki itu.


"Apa dia mati, Ren?!" Tanya bineka Emma terdengar sangat ketakutan.


Reno menggeleng dan menjawab dengan suara letih.


"Enggak, Emm. Dia cuma pingsan. Sebaiknya kita segera mengikat nya. Agar nanti dia tak mengejar kita lagi!" Ujar Reno seraya bangkit dengan perlahan.


Selanjutnya Reno mengeluarkan tali dari dalam ransel yang ia geletakkan di depan pintu. Dengan tali itu, ia mengikat tangan serta kaki Pak Adda yang telah pingsan.


Setelah itu, Reno kembali meraih boneka Emma untuk ia peluk erat kemudian.


"Emma! Emma! Emma! Aku kangen banget sama kamu!" Gumam Reno terdengar begitu tulus.


Tapi yang bisa dilakukan Emma saat ini hanya lah membalas pelukan Reno kepada nya dengan erat.


"Aww!" Emma mengaduh kesakitan.


Sontak saja Reno melepas pelukan nya untuk melihat tubuh boneka yang berada di genggaman nya saat ini.


"Kamu kenapa? Mana yang sak.."


Belum selesai Reno bertanya. Lelaki itu sudah bisa melihat penyebab rasa sakit yang dirasakan Emma saat ini. Pandangan nya menggelap seketika usai ia melihat tangan boneka Emma yang hampir terlepas dari tubuh nya.


"Kepa rat! Apa baji ngan itu yang melakukan ini padamu, Emm?! Jika ya, biar kuhajar saja lagi dia! Berani nya dia melukai mu separah ini!" Reno mencak-mencak marah.


Kemudian Reno menghampiri Pak Adda yang tak sadarkan diri. Lalu pemuda itu menendang Pak Adda beebrapa akali lagi.


"Ren! Udah Ren! Jangan siksa dia lagi! Aku gak mau kamu kena masalah nanti! Gimana kalauu dia nanti bebas dan ngelaporin kamu ke polisi?!" Ujar boneka Emma mengingatkan.


"Biarin aja! Aku belum puas kalau belum patahin tangan lelaki ini, Emm! Berani nya dia sakitin kamu sampai sepatah ini!" Germa Reno yang memuntahkan amarah nya dengan membabi buta.


"Bukan dia yang bikin tangan ku patah seperti ini, Ren! Bukan Pak adda!" Snaggah Emma memberi tahu.


Seketika itu pula gerakan kaki Reno pun terhenti tiba-tiba. Pandangan nya kembali beradu dengan kedua mata boneka Emma yang masih ia pegang dekat ke dada kiri nya.


"Bukan lelaki ini?" Tanya Reno terlihat bingung.


"Iya, bukan!" Pekik Emma memberitahu.


"Lalu siapa Emm? Bilang ke aku. Dan akan ku balas rasa sakit yang kamu rasakan berkali-kali lipat pada orang itu nanti!" Reno merapalkan janji nya kepada Emma.


Emma menggelengkan kealanya keras-keras. Tanpa sadar pandnsgan Emma melirik takut ke arah tubuh Celia yang saat ini masih terbaring tak sadar di atas kasur.


Pandangan Reno pun mengikuti arah pandang boneka Emma. Dan ia baru tersadar dengan keberadaan sosok manusia lain di ruangan itu selain dirinya dan Pak Adda.


Seorang remaja putri terbaring tak sadarkan diri di atas kasur. Sebuah selang infus dan masker terhubung ke lengan dan wajah remaja putri tersebut.


Reno memandang bingung pada remaja itu. Sebelum kemudian ia mengembalikan pandangan nya kembali kepada Emma.


"Kenapa, Emm? Siapa dia? Apa dia yang sudah membuat mu terluka separah ini?" Tanya reno perlahan kepada boneka Emma.


Tanpa sadar, boneka Emma masih menunjukkan rasa takut nya terhadap Celia. Meski saat itu Celia masih tak bisa tersadar dari koma nya.


Dengan suara berbisik, Emma pun menjawab pertanyaan Reno.


"Bukan dia yang sudah menyakiti ku, Ren," jawab Emma masih dengan pandangan takut ke arah tubuh Celia.


Reno pun dibuat semakin bingung. Karena jelas-jelas Emma terlihat takut pada remaja putri itu. Tapi Emma menyanggah pula tebakan Reno tadi.


"Lalu siapa, Emm? Bilang ke aku!" Tanya Reno kembali.


Kali ini Reno sengaja mehghadapman wajah boneka Emma agar kembali menatap nya. Diangkat nya tangan Reno sedikit lebih tinggi dari sebelum hya. Hingga akhirnya kini kedua mata Reno hanya berjarak sekian senti saja dari kedua manik milik boneka Emma.


"Arwah anak itu, Ren, yang sudah menyerang ku! Dia sudah mencuri tubuh ku. Dan menjadi penyebab kenapa aku bisa terjebak dalam tubuh boneka ini," jawab Emma dengan kalimat yang menggemparkan dunia Reno seketika itu jua.


***