Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Harapan Mama



Selepas kepergian Sofia, Emma lalu kembali membaca dua poin lain dalam surat perjanjian kerja yang menarik perhatian nya.


Selain poin tentang janis permainan bebas yang ditentukan oleh anak-anak boneka tersebut dan juga jaminan keselamatan yang tertulis di sana. Ada juga poin yang menyebutkan kalau Emma bisa menetapkan peraturan bermain yang baru, dengan persetujuan anak-anak.


"Memang nya anak-anak itu bisa diajak kompromi apa?!" Gerutu Emma.


Tapi lalu Emma teringat dengan percakapan nya dengan dua boneka setan itu.


Bila diingat-ingat lagi, kedua boneka arwah itu memang mengajak bicara Emma dengan bahasa yang cukup sopan. Walaupun beberapa kali Emma juga menangkap kalimat-kalimat yang seketika telah membuat bulu roma nya merinding ngeri.


Jika ada poin tentang membuat aturan baru yang bisa dibuat oleh Emma, maka tentu ini sangat menguntungkan gadis itu. Karena Emma akan menjadi penentu dalam setiap permainan para boneka Arwah.


Jadi Emma bisa memilah-milah permainan yang aman menurut nya dan juga aman bagi kesehatan mental nya.


"Semisal bermain congkak atau lompat tali, mungkin?" Emma bergumam.


Gadis muda tersebut langsung saja membayangkan kedua boneka Sella dan Cello asik bermain congkak. Dan well, Emma merasa itu akan jadi pemandnagan yang cukup menarik.


"Hihihi.. lho? Kok aku malah pingin ketawa ya jadi nya ngebayangin dua boneka setan itu main congkak? Ya ampun, Emm! Yang benar aja! Jangan-jangan pikiran ku udah ketularan sama ibu Sofia nih! Si ibu kan nganggap dua anak nya sweet-sweet gitu.. hiii..!" Lnjut Emma bermonolog.


Pandsngan Emma akhirnya jatuh kembali ke poin yang menurut nya paling menarik dalam surat perjanjian kerja di tangan nya.


Di sana tertulis, "setelah masa enam bulan kerja selesai, dan kedua anak pemberi kerja merasa senang, maka pekerja akan menerima bonus pertengahan tahun sebesar 300 juta. Sebagai bentuk apresiasi nya karena telah menjadi pengasuh yang baik," begitu yang tertera pada surat tersebut.


Nominal 300 juta yang tertera dalam surat itu sontak ssja terngiang-ngiang di benak Emma. Ia sungguh berharap bisa memiliki uang sebanyak itu.


"Dengan uang itu aku bisa membangun warung sembako untuk Mama. Jadi Mama gak perlu susah payah pergi ke sekolah untuk berdagang lagi. Mama juga bisa ku belikan sepeda motor. Sepeda Mama sudah butut sekali kan ya.." lagi-lagi Emma berselancar di dunia hayal nya sendiri.


"Eh, tapi.. apa aku bisa ngadepin dua anak nya ibu Sofia itu ya? Ini boneka arwah lho, Emm! Yakin kamu bisa tetap waras setelah masa enam bulan selesai?!" Emma bertanya pada dirinya sendiri.


Tik. Tak. Tik. Tak.


Sementara emma berpikir, waktu terus bergulis semakin malam. Saat Emma tersadar, tahu-tahu ia sudah mendengar suara adzan isya berkumandang di kejauhan.


Sadarlah Emma kalau ia harus segera pergi ke rumah sakit.


Tapi lalu Emma teringat untuk membawa satu benda bagi Mama nya. Karena Retno sendiri telah meminta Emma untuk membawa nya ke rumah sakit.


Dengan terburu-buru, Emma kembali memasuki kamar Retno untuk mengambil benda tersebut. Gadis itu kemudian memasukkan benda tersebut ke dalam tas jinjing di tangan nya. Baru kemudian Emma mengunci pintu rumah nya lagi dan pergi ke rumah sakit.


Di perjalanan angkot, Emma masih terbayang-bayang dengan setiap poin yang ada pada surat perjanjian kerjanya yang baru.


***


"Mama, Emma datang!" Sapa Emma ketika memasuki ruangan tempat Retno dirawat.


"Emm.. ucapkan salam!" Tegur Retno dengan suara yang masih terdengar lemah di telinga Emma.


Biasanya kan Emma sering menerima teriakan Rerno dalam keseharian nya. Teriakan mengomel ala emak-emak atas kecerobohan dan kelalaian Emma saat melakukan sesuatu hal.


"Eh, lupa, Ma! Maaf. Assalamu'alaijum!" Sapa Emma mengulangi.


Retno memberikan Emma tatapan menegur. Membuat nyali gadis itu seketika menciut.


Dengan langkah kecil, Emma pun mendekati tempat Retno terbaring. Ia lalu menyodorkan tas jinjingan yang dibawanya dari rumah dan meletakkan nya di samping ranjang pasien.


"Emma bawain titipan Mama. Mukenah. Mama memang nya mau shalat?" Tanya Emma sambil mengambil tempat duduk di kursi samping ranjang pasien.


"Iya. Mama udah ngelewatin shalat beberapa kali, Emm.. maka nya Mama minta kamu bawain mukenah. Makasih ya.." ujar Retno berterima kasih.


"Iya, Ma," sahut Emma singkat.


Emma mengernyitkan kening.


"Tapi ini udah masuk waktu isya, Ma.." Emma mengingatkan Retno.


"Gak apa-apa. Masih bisa dijama' kan? Bisa bantu rapatin ranjang Mama ke dekat dinding, Emm? Mama mau tayamum aja deh," ujar Retno kembali.


Emma menuruti permintaan sang ibu. Ia pun menggeser ranjang pasien secara perlahan hingga tangan Retno bisa meraih dinding ruangan tempat nya di rawat.


Selanjutnya Emma melihat Retno melakukan prosesi tayamum.


Tayamum adalah cara bersuci tanpa menggunakan air. Dalam hal ini, Retno menggunakan debu yang menempel di dinding rumah sakit untuk bersuci.


Tayamum bisa menggantikan wudlu pada kondisi-kondisi darurat di mana tak ada air atau seseorang memiliki iudzur tak bisa terkena air.


Dan dengan luka-luka di tangan, wajah dan kaki nya, kondisi Retno jelas memperbolehkan nya untuk melakukan tayamum saat itu.


Selesai tayamum, Rerno pun meminta Emma untuk memakaikan mukenah pada nya. Menit selanjut nya, Emma memperhatikan bagaimana sang ibu menjumpai Rabbul Izzati di saat kondisi nya yang masih payah seperti saat ini.


Emma terharu. Ujung hati nya merasa tersentil. Karena ia sendiri yang sehat dan bugar malah tak bergegas menunaikan shalat.


Emma bahkan mengakui kalau ia masih sering bolong shalat subuh atau pun isya. Alasan nya tak lain dan tak bukan adalah karena ia kebablasan tidur.


Emma lalu memutuskan pergi ke kamar kecil untuk mengambil wudhu. Setelah Retno melepas mukena nya, Emma pun gantian meminjam nya untuk shalat.


"Memang nya kamu belum shalat, Emm?" Tanya Retno menegur.


"Belum, Ma.. tadi nanggung banget adzan isya nya pas Emma mau berangkat. Jadi Emma putusin datang ke rumah sakit dulu deh," tutur Emma menjelaskan.


Retno hanya memberikan putrinya itu gelengan kepala. Dan Emma membalas nya dengan sebuah cengiran kuda.


Selesai Emma shalat, Retno mengajak nya berbincang.


"Emm, tadi ada teman kamu mampir ke sini.." ucap Retno memberi tahu.


"Siapa, Ma? Susi?" Emma menerka.


"Bukan. Lelaki kok. Ganteng!" Ujar Retno sambil mengulum senyum.


"Idih, Mama.. gak usah sambil senyum-sengum gitu juga kali.. Emma jadi curiga. Jangan-jangan Mama puber ke dua lagi, nih!" Tuding Emma bercanda.


"Ngawur kamu, Emm!" Wajah Retno seketika mengeras.


"Mama sih udah tua! Udah bau tanah! Mana bisa puber-puberan. Ada juga kamu tuh yang masih bisa ngalamin puber! Jangan-jangan lelaki tadi itu pacar kamu ya? Kamu diam-diam udah punya calon ya, Emm?" Goda balik Retno sambil menyelidik.


"Apaan sih, Ma! Emma mana punya pacar?! Gak ada itu.. " Emma bersikukuh menyanggah tudingan Retno.


"Yah.. kalaupun iya juga gak apa-apa, Emm. Biar kamu cepat-cepat nikah. Biar Mama bisa lebih tenang.." ujar Retno kembali dengan pandangan sendu nya.


Emma langsung mengandarkan kepala nya ke tangan Retno.


"Tuh kan! Mama ngomong nya begitu lagi tuh. Emma gak suka ah! Mama itu masih muda.. masih cantik.. masih banyak lelaki yang ngelirik!" Tutur Emma menghibur Retno.


"Ngasal kamu, Emm!" Sergah Emma smabil mengusap kepala Emma.


"Iih.. beneran ini, Ma! Itu Mang Uding tetangga kita sering banget lho nanya-nanya ke Emma tentang kesukaan Mama.." Emma mempromosikan salah satu kandidat calon ayah baru nya.


"Apaan sih kamu, Emm! Udah jangan bahas soal itu. Maksud Mama ngomong soal pendamping kamu itu biar kamu tahu kalau Mama akan lebih tenang setelah melihat kamu menikah, Nak. Mama ingin kamu mempunyai seseorang untuk jadi tempat bersandar nya kamu.." Retno memberitahukan harapan terdalam nya.


***