
Emma tersentak kaget oleh tarikan kencang pada tangan nya. Begitu tersadar, ia keheranan karena baju dan celana nya telah basah semua.
Yang lebih membuat Emma terkejut adalah keberadaan Pak Kiman yang terduduk di samping nya sambil terbatuk-batuk.
Oh, tidak! Bukan Pak Kiman ternyata yang terbatuk. Melainkan Emma sendiri lah yang tenggorokan nya tersedak oleh air bau, yang diduga Emma adalah air kolam di depan nya.
"Dasar gadis bodoh! Apa yang hendak kau lakukan?! Kalau mau mati, jangan mati di tempat ini! Mati lah di depan ibu mu sendiri. Baru bisa dikatakan nyali mu sudah teruji?" Bentak Pak Kiman kepada Emma yang masih terbatuk-batuk.
"Uuuk! Uhuk! Uhuk! Si..siapa yang mau mati?! Ada juga saya curiga, kenapa Bapak mendorong saya ke kolam ikan?! Bapak mau saya mati tenggelam ya!" Tuding Emma begitu yakin.
Ia sebenar nya masih merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ingatan terakhirnya adalah ia sedang melihat keindahan riak di kolam ikan.
Kemudian tiba-tiba saja ia merasa tangan nya ditarik? Dan tahu-tahu baju nya telah basah seluruh nya!
"Aku?! Mendorong mu?! Kau gila ya! Yang benar itu, aku menarik mu yang ingin menceburkan diri ke dalam kolam! Beruntung aku cukup tepat waktu berada di sini. Jika tidak, kau mungkin berhasil melenyapkan dirimu sendiri ke dalam kolam yang cukup dalam itu!" Pak Kiman balas menuding Emma.
Emma mengerutkan kening nya. Ia tak mengerti sama sekali dengan ucapan Pak Kiman.
"Jelas-jelas Bapak yang sudah mendorong saya ke dalam kolam! Saya gak mungkin lah mau bunuh diri! Lha wong saya belum juga nikah!" Emma keceplosan berkata.
Sedetik setelah nya, wajah gadis itu langsung bersemu merah. Ia pun kembali menambahkan.
"Mak..maksud saya, saya gak akan bodoh banget sampai-sampai mau mati bunuh diri di kolam yang cetek ini! Gila benar sih itu!" Imbuh Emma kemudian.
"Perlu kamu tahu ya. Bocah!" Ujar Pak Kiman memberi tahu.
"Saya bukan bocah! Saya wanita dewasa! Bapak gak bisa lihat apa?!" Tukas Emma mengoreksi ucapan Pak Kiman.
Pak Kiman lalu memberikan Emma pandangan aneh. Sehingga membuat Emma merasa jengah karena ditatap lama-lama dengan pandangan itu.
Meski begitu Emma menabahkan hati nya. Ia berusaha bersikap setangguh dan sebijak mungkin di depan lelaki paruh baya tersebut.
"Pfftt!" Sebuah tawa terlepas keluar dari mulut Pak Kiman.
Dan ini mengejutkan Emma, bahkan juga Pak Kiman sendiri.
Suasana di antara kedua nya pun berubah canggung. Dan Emma mulai menyadari rasa dingin akibat baju dan celana nya yang telah basah.
'Apa sih yang sebenar nya terjadi? Kenapa aku sama sekali gak ingat kejadian sewaktu aku tercebur ya? Tahu-tahu aku sudah ada di pinggir kolam sini? Dan apa maksud ucapan Pak Kiman tadi?! Kenapa dia mengatakan kalau aku ingin bunuh diri?!' Emma sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Baik. Jadi begini, wanita dewasa!" Pak Kiman memulai kalimat nya lagi. Sebuah penekanan ia berikan pada nada panggilan nya kepada Emma dalam kata 'wanita dewasa'.
Emma mengangguk kesal sekaligus juga malu. Pada akhirnya gadis itu memilih untuk diam dan merengut di sepanjang waktu Pak Kiman menyampaikan kalimat nya.
"Akan ku jelaskan sekali lagi pada mu apa yang sebenar nya terjadi sesaat tadi. Terserah kau mau mempercayainya atau tidak. Itu adalah urusan mu!" Ujar Pak Kiman mengingatkan.
"Tadi itu, aku hendak pergi membuang sampah ke belakang villa, saat aku melihat kau berjalan sendiri menuju kolam ini. Tadi nya ku pikir kau hanya ingin bermain air di pinggiran nya saja. Namun kemudian kau malah terus berjalan menuju bagian tengah kolam. Sampai-sampai air nya sudah mencapai pinggang mu!" Lanjut Pak Kiman bercerita.
Saat mendengar cerita yang dituturkan oleh Pak Kiman, Emma langsung menganga tak percaya. Ia sama sekali tak mengingat pernah melakukan hal itu. Yah, walaupun ia juga tak bisa menjelaskan kenapa baju nya semua basah juga sih..
"Aku memanggil mu 2 kali. Namun kau tak jua menyahut. Karena cemas, aku langsung saja menceburkan diri ke dalam kolam dan bergegas menarik mu lagi ke tepian nya. Sebelum kau benar-benar tenggelam!"
"Jadi, jangan menuding ku sebagai seorang pembunuh yang mendorong mu ke dalam kolam ya, Bocah! Karena aku tak ada kepentingan untuk melakukan nya! Masih bagus aku menyelamatkan mu segera. Tapi kau malah menuduh ku melakukan hal yang tak ku lakukan!" Ucap Pak Kiman menutup pidato nya.
Emma masih ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja didengar nya itu.
Walaupun ia juga tak bisa menafikan kalau ia pun tak bisa mengingat saat Pak Kiman mendorong nya. Jika benar lelaki itu memang mendorong nya.
Cello terlihat menelengkan kepala nya ke sebelah kanan. Berikut juga jari telunjuk nya yang menunjuk ke satu arah.
Emma mengikuti arahan jari telunjuk Cello yang mengarah ke kolam. Dan sekilas, ia seperti melihat bayangan wajah Hantu Celia di permukaan kolam yang hijau pekat.
Emma seketika merinding ngeri. Mata nya pun melebar tanpa bisa ia pegang kendali. Diangkat nya pandangan Emma ke atas langit.
'Ini masih pagi! Apa barusan aku cuma berhalusinasi ya?! Mana mungkin setan muncul siang-siang?!' gumam Emma mencoba meyakinkan diri nya sendiri.
Terlihat linglung, Emma kemudian mendapatkan nasihat berikutnya dari Pak Kiman.
"Sudah! Jangan berpikir yang macam-macam! Sebaiknya kau segera masuk ke dalam dan ganti baju mu yang basah itu! Jangan salah kan aku kalau nanti kau bisa masuk angin!" Nasihat Pak Kiman dengan nada ketus.
Bagai kerbau yang dicucuk hidung nya dengan rumput, Emma mengikuti arahan dari Pak Kiman begitu saja.
Ia bangkit berdiri dan mendorong stroller yang membawa kedua boneka Sella dan Cello pada kursi nya kembali ke dalam rumah.
Di depan pintu, Emma kembali bertemu dengan seseorang. Kali ini adalah Bibi Hara.
"Ya ampun, Neng! Kenapa baju nya pada basah?!" Tanya Bi Hara terlihat terkejut.
"Itu.. tadi itu..Emma.."
Merasa bingung harus menjelaskan rangkaian kejadian yang bahkan tak diingat nya, Emma pun akhirnya menggantungkan kalimat nya.
Bi Hara pun tak menuntut Emma meneruskan kalimat nya. Wanita paruh baya itu langsung mengambil alih pegangan stroller dari tangan Emma dan menyuruh gadis tersebut untuk berganti baju.
"Sudah! Biar bibi yang bawa anak-anak ke ruang tivi. Neng Emma ganti baju saja dulu!" Ujar Bi Hara kemudian.
Setelah jeda beberapa detik, Bi Hara kembali berkata.
"Mungkin ada baik nya kalau Neng Emma mandi lagi. Neng habis nyemplung di kolam belakang ya?" Tanya Bi Hara sambil mengerucutkan hidung nya.
Saat itulah Emma tersadar dengan bau lumpur yang menguar dari tubuh nya. Merasa malu, akhirnya Emma pun buru-buru berpamitan dan kembali ke kamar nya untuk mandi. Mengikuti nasihat dari Bi Hara tadi.
Ketika sedang mandi, lagi-lagi Emma memikirkan kejadian ganjil yang dialami nya di kolam belakang villa tadi.
Ia pun teringat pula pada bayangan wajah hantu Celia di permukaan kolam yang gelap oleh lumut. Dan itu membuat nya bergidik ngeri.
Tak ingin berlama-lama sendiri di kamar mandi, Emma pun segera mengakhiri ritual mandi nya. Setelah itu, gadis tersebut melangkahkan kaki nya menuju ruang tivi. Tempat di mana para boneka asuh nya kini berada.
Perhatian Emma kini terfokus pada boneka Cello.
Boneka itu saat ini telah didudukkan di atas sofa yang berhadapan tepat di depan televisi. Di samping nya, boneka Sella menemani nya duduk melihat tv.
Pandangan Emma langsung meruncing, saat ia menyadari pergerakan jari telunjuk boneka Cello. Boneka lelaki itu seperti sedang mengetuk-ketukkan jari telunjuk nya ke atas kaki nya sendiri.
'Cello bisa bergerak? Meski ini masih siang hari?!' Emma terkejut dengan penemuan nya itu.
Seolah menyadari kalau Emma sedang intens menatap nya, tiba-tiba saja kepala boneka Cello menoleh secara perlahan ke arah Emma.
Dan Emma kembali dibuat tak nyaman saat melihat seringaian abadi di wajah kekanakan milik boneka Cello itu.
***