
Selesai shalat maghrib, perasaan Emma pun menjadi lebih tenang.
Ia lalu menyantap hidangan di piring yang mulai dingin. Namun Emma tak merasa keberatan.
Menurutnya, lebih baik makan nasi dingin seorang diri, dibanding bila ia harus sering berhadapan dengan majikan nya, Nyonya Sofia. Itu membuat nya merasa tak nyaman.
Entah kenapa Emma selalu merasa ada yang aneh dari sikap dan perilaku majikan nya itu. Terutama berkenaan dengan dua boneka arwah yang diakunya sebagai anak.
Selesai makan, Emma berdiam diri di kamar nya. Ia hendak menunggu waktu isya tiba sambil rebahan di atas kasur.
Emma lalu memutuskan untuk mengirim pesan kepada Susi.
Dari Emma : Sus, aku kerja lagi di villa boneka hantu yang kemarin. Terpaksa sih sebenar nya. Mama sakit dan perlu biaya besar. Cuma ada pekerjaan ini yang bisa bantu biaya pengobatan Mama. Aku sengaja kabarin kamu. Buat jaga-jaga aja. Siapa tahu kan ke depan nya gimana. Tapi doain aja yg terbaik ya, Sus. Oya, kamu udah baikan?
Pesan terkirim.
Emma meletakkan ponsel nya di samping. Menunggu balasan dari Susi. Satu menit. Dua menit. Berlalu begitu lama bagi Emma. Namun Susi tak jua segera membalas pesan nya.
Disaat Emma hampir terlelap karena rasa letih yang menguras fisik dan psikis nya, tiba-tiba saja bunyi pesan masuk menelusup ke indera pendengaran Emma.
Lamat-lamat, Emma meraih ponsel nya. Ternyata balasan dari Susi lah yang masuk ke kotak masuk di ponsel nya saat itu.
Dari Susi: iya, Emm. Aku tahu. Hati-hati ya. Aku selalu ada untuk kamu.
Emma terharu kala membaca pesan dari kawan karib nya itu. Untuk sejenak, Emma mengulang kembali isi pesan dari Susi. Baru setelah beberapa lama waktu berlalu, Emma pun kembali membalas pesan dari kawan nya itu.
Dari Emma: makasih ya, Sus.. kamu benar best friend nya aku! Peluk dari jauh.🤗🤗
Terkirim.
Kali ini Emma tak perlu waktu lama untuk menunggu. Karena pada menit yang sama ketika ia selesai mengirimkan pesan kepada Susi, kawan nya itu langsung membalas pesan nya segera.
Dari Susi: peluk balik..👻👻
Dari Emma: sialan kamu, Sus! Bisa-bisa nya ngirim ikon hantu! Udah tahu kalau sekarang aku kerja lagi di rumah boneka setan! Sengaja kamu ya?!
Emma mencebikkan bibir. Merasa kesal pada keisengan kawan nya itu.
Namun sesaat kemudian perasaan kesal itu berganti dengan perasaan tak enak hati. Lantaran lagi-lagi Emma merasakan hawa dingin melewati tengkuk nya.
Serr...
Jantung Emma tiba-tiba berdegup lebih cepat. Pegangan tangan nya pada ponsel tanpa sengaja ia eratkan.
Entah kenapa gadis itu merasa kalau ia tak lagi sendirian di ruangan ini. Sekujur bulu roma di tubuh nya mendadak berdiri tanpa ia minta.
Emma langsung beringsut mundur hingga punggung nga menempel ke head board kasur. Dengan tegang, Emma melarikan pandangan nya ke sekitar. Berusaha mencari penyebab rasa tak enak yang mendera hati nya saat ini.
Gadis itu setengah berharap bisa menemukan sumber ketidaksendirian yang ia rasakan. Sekaligus juga setengah tak berharap untuk tidak bisa melihat nya.
Secara perlahan, hawa dingin itu semakin menusuk tengkuk Emma. Kedua bola mata gadis itu pun sudah dibuat nya membola selebar yang ia bisa.
Rasa takut menguasai diri. Hingga akhirnya ketika Emma tak lagi bisa menahan beban ngeri tersebut, indera nya tiba-tiba saja mendengar bisikan halus tepat di telinga kiri nya.
"Shahhhh...." Sebuah desa han yang tak terlalu kencang. Pun jua tak terlalu lama.
Namun jelas telah melemparkan rasionalitas dari dalam benak gadis muda tersebut. Sehingga seketika itu pula Emma menjerit kencang.
"Aaaarrgghhh!!"
Brukk..
Emma langsung berlari menuju pintu dengan napas yang telah memburu entah sejak kapan.
Diputar nya gagang pintu dnegan sentakan kuat. Namun begitu ia membuka pintu, apa yang dilihat nya berdiri di depan pintu malah membuat nya kembali menjerit ngeri.
Karena Emma melihat, Dua boneka Sella dan Cello berdiri tepat di depan kamar nya.
Boneka Sella dengan wajah senyum tipis nya. Serta boneka Cello dengan seringai lebar abadi nya. Kedua nya saling bergandengan tangan dan kompak mengatakan hal yang sama kepada Emma di waktu yang persis bersamaan.
"Kakak Cantik, kami lapar..." Ucap kedua nya bersamaan dengan suara lengking khas anak-anak usia lima tahun.
"Aaarrrggghhhh!!!" Lagi-lagi Emma menjerit.
Dengan spontan ia pun membanting pintu.
BRAK!!
Emma merasa kalut dan tak tahu harus lari ke mana lagi.
Di saat seperti ini, ia sungguh menyesali keputusan nya untuk menerima pekerjaan ini kembali.
'Dasar bodoh! Emma bodoh! Sekarang, kamu bisa apa coba?! Percuma uang ratuséan juta yang dijanjikan oleg Nyonya Sofia itu. Kalau pada akhirnya kamu hanya akan menajdi santapan kedua boneka setan itu!' Emma merutuki dirinya sendiri.
Tok. Tok. Tok.
Pintu di belakang Emma diketuk kencang.
Dengan takut, Emma langsung mengunci pintu kamar nya dari dalam dan ia pun langsung kembali ke atas kasur nya.
Dipeluknya guling erat-erat. Sementara kedua netra Emma menatap ngeri ke arah pintu.
Dari lubang di bawah pintu, Emma masih bisa melihat dua bayangan milik boneka Sella dan Cello berdiri di sana. Keduanya masih terus mengetuk pintu Emma.
Tok. Tok. Tok.
"Kakak Cantik.. kami lapar.. " jerit suara Cello terdengar tak sabar.
"Min..minta sama Mama kalian dulu sana! Saya mulai kerja nya besok!" Emma menyahut tanpa berpikir.
Setelah itu, terdengar suara 'klik. Klak' yang menjadi langkah khas kedua boneka arwah tersebut. Semakin lama, suaranya semakin mengecil dan menjauh.
Saat itu lah degup jantung Emma mulai kembali normal.
Cukup lama Emma duduk di atas kasur. Sampai kemudian didengar nya suara adzan di kejauhan yang hampir akan berakhir.
Emma mendengarkan suara adzan hingga selesai. Baru kemudian memutuskan untuk turun dari kasur untuk menunaikan shalat isya.
Akan tetapi, baru juga Emma menurunkan kaki nya dari atas kasur dan hendak melangkah. Saat tiba-tiba saja Emma merasakan cengkeraman pada pergelangan kaki kiri nya.
Alhasil Emma yang tak siap dengan tangan dingin yang menahan kaki nya itu pun seketika jatuh terjerembab ke depan.
Emma terjatuh dengan suara debuman yang cukup keras. Dengan posisi wajah nya benar-benar menci um lantai.
Tapi tepat sebelum Emma menci um lantai, netra nya sempat menangkap penampakan kepala dengan rambut panjang berada di kolong kasur nya. Dan sepasang mata merah, menatap Emma dengan pandangan marah!
***