Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Sein



Di rumah sakit tempat Retno dirawat..


"Terima kasih, Nak Reno selalu mampir untuk menjenguk Tante.." ucap Retno kepada pemuda tampan di dekat nya.


"Sama-sama, Tante. Saya senang kok jenguk Tante. Sekalian arah pulang juga kan," sahut Reno merendah.


"Apa Nak Reno sudah mendengar kabar dari Emma akhir-akhir ini? Tante sudah coba telepon beberapa kali, tapi ponsel nya selalu gak aktif," Retno menyampaikan kekhawatiran nya terhadap Emma.


Selama dua detik Reno tak menjawab pertanyaan dari Retno. Pemuda itu baru menjawab setelah ia menenangkan jantung nya sendiri yang berdebum kencang tanpa bisa ia kendalikan sesaat tadi.


"Iya, Tante. Emma titip salam. Katanya maaf karena akhir-akhir ini dia gak bisa telpon ibu. Soalnya dia lagi repot ngasuh dua anak majikannya yang lagi sakit," jawab Reno tak jujur.


Pemuda itu sebenarnya juga sama khawatirnya seperti Retno. Karena telah beberapa hari ini ia mengirimkan pesan kepada Emma namun gadis itu tak jua membalas satu pun pesan nya.


Tapi melihat kondisi Retno yang masih terbaring lemah, Reno jadi tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ibunda dari wanita yang ia cintai itu.


"Begitu rupa nya. Pantas lah. Tapi Emma sehat kan, Nak? Tante khawatir sama Emma. Gak biasanya dia gak telepon lebih dari tiga hari. Tapi kalau memang dia lagi sibuk, Tante bisa memahami nya," ujar Retno dengan pandangan sendu.


Setengah jam kemudian, Reno pamit pulang.


Di perjalanan menuju pulang, Reno teringat dengan ucapan Retno kepada nya saat di bangsal rumah sakit.


Flashback.


"Tante sebenarnya tak tega membiarkan Emma kembali bekerja. Apalagi di tempat kerjanya yang terakhir, Emma sempat kabur dari rumah majikan nya," Retno bercerita.


Ingatan Reno langsung melayang ke detik ketika ia bertemu lagi dengan Emma dalam bus beberapa pekan lalu. Saat itu penampilan Emma memang membuat Reno penasaran. Karena Emma hanya memakai baju piyama tanpa membawa sepeser pun uang di kantong nya.


'Apa jangan-jangan waktu itu adalah saat Emma kabur dari rumah majikan nya?' Reno menebak dalam hati.


"Memang nya kenapa, Tante?" Reno menyuarakan pendapatnya.


"Katanya sih, rumah tempat kerja nya itu seram. Soalnya dia jadi pengasuh dua boneka arwah. Ceritanya sih begitu. Tapi masa iya, jaman sekarang masih ada yang percaya begituan ya. Kan gak mungkin!" Tukas Retno mengemukakan pendapat nya.


"Boneka arwah?" Tanya Reno mengulang.


"Ya, Nak. Boneka arwah. Gak mungkin ada yang kayak begitu kan?" Ujar Retno mengharapkan dukungan Reno atas pendapat nya itu.


Flashback selesai.


'Emma pernah bilang kalau dia kerja di rumah majikan nya yang lama. Apa maksudnya rumah tempat boneka arwah itu berada ya?' Gumam Reno sambil melajukan motor nya cepat.


Setengah jam kemudian, motor Reno berhenti di depan sebuah kontrakan kumuh. Ia pun kemudian turun dari atas motor. Lalu mengetuk salah satu pintu dari lima pintu kontrakan yang berjejer.


Tok. Tok. Tok.


"Sein! Ini gue, Reno!" Panggil Reno pada penghuni di dalam kontrakan yang pintu nya ia ketuk.


"Hmm! Bencar!" Sahut suara seseorang dari dalam kontrakan.


Tak berselang lama, pintu pun terbuka. Dan tampaklah seorang pemuda seumuran Reno, dengan kaca mata tebal yang bertengger di hidung nya yang mancung.


Wajah pemuda itu terlihat baby face, ditambah bintik-bintik merah di sekitar area pipi nya.


"Ren! Tumben mampir? Ada job darurat kah?" Tanya Pemuda itu, yang tak lain bernama Sein.


Ia membuka lebar pintu kontrakan nya dan mempersilahkan Reno untuk masuk.


"Masuk, Ren! Tapi sorry ya. Masih agak berantakan. Soalnya gue belum sempat beresin!" Ujar Sein.


"Buset deh, Sein! Ini sih bukan sedikit! Coba gue tanya. Kapan terakhir kali Lo beres-beres kamar, hah?" Tanya Reno.


Sein abai atas sindiran dalam pertanyaan Reno itu. Ia langsung menjawab dengan sejujur nya.


"Mm.. se mingguan, mungkin? Gue lupa. Lagi banyak job sih nih akhir-akhir ini!" Sahut Sein.


Pemuda berkacamata itu lalu mengambil bangku kosong dari pojok ruangan dan meletakkan nya di dekat bangku lain yang ada di depan sebuah meja.


Di atas meja tersebut terdapat 2 keyboard yang tersambung dengan dua komputer dan sebuah CPU.


"Boleh nih. Sekarang klien lo, udah jadi perusahaan-perusahaan besar kali ya?" Tebak Reno.


"Yah.. begitulah, Ren? Habis kejuaraan, gue langsung dapat banyak job yang gak habis-habis. Nih sampe 2 hari ini aja gue gak sempat mandi!" Sahut Sein sejujurnya.


Sein adalah seorang programmer handal. Dan dia baru saja memenangkan kejuaraan hacker tingkat nasional. Dia menyabot juara 1.


"An j*r! Pantesan dari tadi gue nyium bau gak sedap. Ternyata Lo asal nya!" Sahut Reno seraya menggeser tempat duduk nya untuk menjauh.


"Sorry, bro. Padahal gue udah pake parfum kok. Masih kebauan memang ya?" Tanya Sein sambil mengendus-endus ketiak nya sendiri.


"Nj rit! Tingkah lo gak ada berubah-berubah nya dari waktu kita masih SMA!" Cibir Reno setengah bercanda.


Ya. Reno dan Sein adalah sahabat karib semasa SMA. Keduanya berpisah usai kelulusan. Masing-masing memilih jurusan pendidikan yang berbeda di universitas yang berbeda pula.


Meski begitu, keduanya masih sering berhubungan via telepon. Dan ini adalah kali pertama Sein dan Reno bertemu kembali, setelah 5 tahun lebih mereka berpisah.


"Jadi bro, what's up?" Tanya Sein sambil mengetik pada salah satu keyboard.


Pandangan Sein fokus menatap layar komputer di depan nya.


"Gue butuh bantuan Lo, Sein!"


Reno lalu menyodorkan ponsel nya ke depan mata Sein. Pada layar nya tertampil sebuah nomor kontak.


"Emma? Lo masih kontekan sama mantan Lo itu? Bukan nya dulu kalian putus parah ya? Terus bantuan apa yang Lo minta, Ren? Gue bukan biro jodoh ya! Yang jelas, gue bukan mak comblang!" Tukas Sein yang kini menatap serius pada sahabat lama nya itu.


"Serius gue nih, Sein! Gue minta Lo lacak lokasi ponsel nya dia sekarang di mana. Udah. Itu aja!" Pinta Reno dengan tatapan serius.


...


...


"Sejak kapan Lo jadi stalker gini, Ren? Gue baru sadar.." komentar Sein dengan tatapan tak kalah serius.


"****! Jangan ngebacot yang gak jelas lah, Sein. Ini darurat! Gue curiga Emma lagi dalam bahaya. Maka nya gue ke sini temuin Lo. Please, cepat cari sekarang juga!" Pinta Reno mendesak.


"All right!" Sein langsung mengalihkan tatapan nya lagi ke layar komputer.


Sambil mengetikkan sebuah aplikasi lacak yang ia buat sendiri, Sein kembali berkomentar.


"Jadi Lo bukan stalker. Tapi pangeran yang mau selametin putri yang diculik naga!" Komentar Sein asal.


Dan Reno pun menoyor pelan bahu sahabat nya itu.


***