Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Ancaman pak Adda



Terlambat. Anak panah itu berhasil menancap selama sepersekian detik pada lengan Pak Kiman yang tergantung terbalik di atas dinding.


Emma akhirnya menyadari, kalau ujung anak panah tersebut disambung dengan jarum panjang yang tebal dsn juga runcing. Sehingga setelah anak panah itu terjatuh, darah segar pun mengalir keluar dari lengan Pak Kiman yang terluka.


Emma masih memandang ngeri pada Pak Kiman. Sebelum kemudian ia mendengar suara Pak Adda di dekat nya.


Sontak saja Emma langsung menoleh dan menyadari kalau kini Pak Adda sudah berada dalam jarak yang cukup dekat untuk menjangkau nya.


Lelaki paruh baya itu mengulurkan anak panah lain nya kepada Emma.


"Lemparkan ini pada nya. Dengan begitu, kau bisa pergi dari kamar rahasia ini!" Titah Pak adda kemudian.


"Tidak! Aku gak mau melakukan itu! Anda gila! Bagaimana bila polisi datang nanti?! Tidakkah Anda merasa takut jika polisi menangkap Anda nanti?!" Tanya Emma dengan geram.


"Polisi? Mana? Mereka tak ada di sini, Nona kecil. Jangan bicara melantur. Cepat lakukan, jika kau ingin segera keluar dari kamar ini!" Titah Pak adda kembali terulang.


Emma masih bergeming tak menyahut ataupun bergerak. Dipandangi nya Pak Adda dengan pandangan sengit. Walaupun sebenarnya ekspresi gadis itu masihlah tetap sama sepanjang waktu. Yentu saja. Emma kan kini telah menjadi boneka yang kaku.


"Cello!" Panggil Pak Adda kepada Cello.


"Ya, Paman?!" Sahut Cello, langsung berjalan menghampiri.


"Tunjukkan pada kawan kecil mu itu, kalau permainan ini sangat lah menyenangkan!" Ujar Pak Adda dengan pandangan yang tak berpaling dari mata Emma..


"Baik, Paman!" Cello bersikap patuh.


"Cello! Jangan lakukan itu! Kamu bisa menyakiti Pak Kiman nanti! Kasihan dia kan!" Emma membujuk boneka Cello.


"Ini hanya permainan, Kakak Cantik. Lagipula dia itu orang jahat. Benar kan, Paman?" Ujar Cello meminta persetujuan dari Pak Adda.


Adda pun mengangguk seraya tersenyum tipis. Dan Emma sungguh ingin melayangkan bogem mentah pada wajah lelaki dewasa di depan nya itu.


'Bisa-bisa nya dia mencuci otak Cello! Biarpun Cello hanyalah boneka arwah, namun dia tetaplah bocah! Pak Adda benar-benar jahat!' rutuk Emma dalam hati.


"Jangan percaya omongan lelaki ini, Cello! Dia itulah penjahat yang sebenar nya!" Emma mencoba menyadarkan Cello dari ketidaktahuan nya dalam mengenali siapa yang sesungguh nya jahat di sini.


"Paman.. Kakak Cantik mengganggu sekali!" Cello mengeluh pada Pak Adda.


"Ya. Kau benar, Cello. Begini saja. Bagaimana kalau kita mengubah target kita, hmm?" Pak Adda mengusulkan saran.


"Target baru? Apa itu Paman?" Tanya boneka Cello.


Pak Adda lalu mengambil tubuh boneka Sella yang tergeletak diam dari atas lantai. Emma terlambat menyadsri aksi dari Pak Adda itu.


"Lepaskan Sella! Lepaskan dia sekarnsg juga!" Jerit boneka Emma sambil melompat-lompat untuk meraih tamgan boneka Sella yang tergantung terbalik.


Melihat itu, Emma muntab dalam emosi marah. Pak Adda tega menggantung terbalik boneka Sella dengan tamgan nya. Sehingga gaun lolita yang dikenakan oleh Sella pun langsung tersingkap.


Tampak lah bagian bawah tubuh boneka Sella di pandangan semua yang ada di ruangan itu.


'Biadab sekali lelaki ini!' umpat Emma yang mengamuk marah.


Boneka Emma lalu menendang, dan menarik celana Pak Adda sekuat tenaga nya. Namun perjuangan nya untuk menurunkan boneka Sella itu tidaklah berhasil.


Pak Adda lalu mengibaskan Emma yang mencoba naik ke atas kaki nya dengan sekali sentakan pada kaki nya. Sedetik kemudian, tubuh boneka Emma pun terlempar beberapa meter ke belakang.


"Aww!" Emma mengaduh sakit.


Syukurlah rasa sakit itu tak bertahan lama. Boneka Emma kemudian segera bisa kembali bangkit dan hendak kembali menerjang Pak Adda. Akan tetapi niat itu diurungkan oleh Emma.


Emma berpikir, kekuatan nya seorang diri jelas tak akan mampu untuk melawan Pak adda.


Emma pun sibuk memikirkan sebuah rencana untuk bisa keluar dari kamar rahasia ini!


"Apa sebenarnya mau mu, bang sat!" Umpat Emma yang sangat marah.


"Bukankah sudah ku katakan pada mu, Nona kecil? Aku hanya ingin mengajak mu bermain. Tidakkah permainan yang ditunjukkan oleh ku dan juga Cello tadi terlihat menyenangkan?" Ujar Pak Adda dengan ekspresi datar khas nya.


"Itu sih gila! Itu bukan permainan nama nya! Melainkan menyiksa orang sampai mati! Apa sebenar nya alasan mu melakukan ini, Pak Adda?! Apa salah Pak Kiman sehingga ia Anda siksa sedemikian rupa?!" Tanya Emma.


Dan ekspresi Pak Adda pun seketika mengeras. Entah kenapa Emma merasa hati nya tak tenang saat bersitatap dengan Pak Adda saat itu.


"Itu sama sekali bukan urusan mu, Nona kecil! Kau hanya tinggal mengikuti permainan yang sudah ku tentukan saja. Jika tidak.." Pak Adda menggantungkan ucapan nya selama beberapa saat.


"Jika tidak.. aku akan mengganti target nya menjadi boneka kecil ini. Bagaimana menurut mu? Apakah ini akan lebih menarik untuk mu, Nona Kecil?" Tanya Pak Adda dengan seringaian yang menggentarkan jiwa Emma dalam tubuh boneka nya.


"Apa?! Kau tak mungkin akan melakukan itu! Cello! Kau juga akan menentang nya bersama Kakak, bukan?" Tanya boneka Emma kepada voneja Cello.


Cello terlihat ragu. Dan Emma terperangah tak percaya. Gadis itu langsung saja berujar.


"Cello! Sella itu saudari mu! Saudari kembar mu sendiri! Apa kamu akan begitu tega membiarkan lelaki jahat ini melukai nya, hah?!" Emma kembali mencoba membuat cello tersadar akan kesalahan nya dalam mempercayai orang.


"Tenang saja, Cell. Saudari mu ini tak akan merasa kesakitan. Bukan kah saat ini ia sedang tak sadar? Jadi sudah tentu ia tak akan bangun dalam waktu yang lama, bukan?" Ucap Pak Adda yang kembali mengotori pikiran Cello dengan ide-ide jahat nya.


"Ah..ya. Paman benar!" Shaut Cello kemudian.


Kepada Emma, boneka anak lelaki itu lalu berkata pula.


"Sella gak akan merasa sakit kok, Kak! Dia kan sekarang lagi ada di pasar ghaib!" Seru Cello mengingatkan Emma.


'Duh! Ni anak kenapa bisa percaya banget sih sama Pak adda?! Kalau terus begini, Sella akan benar-benar akan disiksa oleh Pak Adda nanti!' gerutu Emma dalam hati.


"Tapi Cell. Itu gak bisa dibenarkan! Kamu ngerti gak sih, kalau menyakiti orang itu gak baik! Mau dia bisa merasakan nya ataupun enggak. Itu jelas bukan perbuatan yang baik, Cell!" Emma kembali mengajari Cello tentang prinsipil hidup yang baik.


Cello kembali terlihat gamang, dan ia pun akhirnya menatap Pak Adda dengan pandangan tanya.


"Jadi gimana ini, Paman. Cello bingung.." ungkap cello masih sambil memegang anak panah di tangan kanan nya.


Pak Adda tampak kesal. Selanjutnya lelaki itu menjatuhkan boneka Sella begitu saja ke atas lantai untuk yang kedua kali nya.


Syukurlah saat ini boneka Sella sedang dalam masa dorman nya. Jadi ia tak akan merasa sakit saat tubuh boneka nya terjatuh dari ketinggian lantai.


***