
Setelah dibangunkan dengan cara yang memalukan oleh Reno, Emma oun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tadinya Emma khawatir bila ia harus memakai baju piyama yang sama yang dipakainya semalam tadi. Tapi syukurlah Reno cepat tanggap dan membelikan nya baju baru berikut juga underwear nya.
Emma dibuat terheran-heran karena baju yang pemuda itu belikan untuk nya ternyata pas sekali di badan. Menyadari kalau Reno bisa menebak tepat ukuran baju bahkan hingga underwear nya, membuat Emma jadi malu untuk menatap Reno lagi sepanjang sisa pagi itu.
"Kita sarapan dulu ya. Ini, aku juga beliin bubur ayam buat kamu. Sengaja aku beliin bubur ayam. Soalnya kan kamu habis dikurung beberapa hari terakhir kan? Khawatirnya lambung kamu gak kuat kalau langsung makan nasi," papar Reno perhatian.
"Makasih ya, Ren.. kamu selalu tahu apa yang terbaik buat aku.." ucap Emma dengan kepala tertunduk.
"Nyantai aja, Emm. Lagian, aku juga kan ada modus kok baikin kamu gini," ucap Reno dengan sejujurnya.
Seketika itu juga wajah Emma langsung terangkat dan menatap heran ke arah Reno.
"Modus apa, Ren?" Tanya Emma kebingungan.
"Modus biar kamu cepat kasih jawaban yes untuk confession ku semalam tadi," jawab Reno sejujurnya.
Wajah Emma seketika menjadi merah padam. Ia akhirnya ingat dengan lamaran Reno yang mengajaknya untuk menikah.
Itu adalah lamaran yang tak Emma duga sama sekali. Terutama di saat status kehidupan gadis itu sedang kacau akhir-akhir ini.
Emma masih sulit untuk mempercayai kalau Reno benar ingin menikahi nya. Lelaki yang sepertinya adalah anak konglomerat itu ingin mempersunting Emma yang hanya rakyat jelata. Terlebih lagi saat ini Emma memiliki beban biaya pengobatan sang ibu yang masih terbaring di rumah sakit.
Jadi Emma kesulitan untuk membuat hati nya yakin dengan lamaran yang disampaikan oleh Reno semalam tadi.
"Kok malah diam sih, Yang? Jawab dong! Jadi, kamu nerima aku kan? Terima lah, Emm.. aku tuh limited edition banget lho!" Aeloroh Reno dengan pandangan lembut.
Mendengar kata terakhir Reno, seketika tawa Emma pun pecah.
"Hahaha! Limited edition apaan coba! Ya iya, kamu kayak tas Hermes!" Tuding Emma tak lagi merasa risau.
Reno tersenyum lembut saat melihat tawa Emma. Pemuda itu menyadari kalau Emma belum siap untuk menjawab lamaran nya. Jadi tadi Reno pun sengaja mengajak Emma bercanda agar gadis itu tak merasa sungkan untuk berbicara lagi dengan nya.
"Yah. Anggap begitu juga boleh lah.. " seloroh Reno asal sambil mengunyah roti sebagai sarapan pagi nya.
"Ngasal aja kalau ngomong!" Cibir Emma dengan senyuman di wajah nya.
Kedua muda dan mudi itu pun lalu menghabiskan sarapan pagi mereka hingga tandas. Setelah itu, keduanya langsung pergi menuju rumah Susi dengan menaiki motor Reno.
***
Di rumah Susi.
"Emma?! Ya Allah, Emm! Kamu sehat, Nak?" Tanya Tante Rubi, Mama dari Susi.
Emma kebingungan karena begitu ia berhadapan dengan Tante Rubi, wanita itu langsung menangis dan memeluk Emma erat.
"Er.. ba.. baik, Tante. Emma ke sini mau ketemu Susi, Tante. Soalnya katanya Susi.. sakit?" Tanya Emma langsung ke inti.
Ditanya begitu, Tangis Tante Rubi malah semakin menjadi.
Hingga Emma pun dibuat kebingungan jadi nya.
...
Setelah beberapa menit berlalu, Tante Rubi akhirnya berhenti menangis usai kemunculan Kak Bobi. Kak Bobi adalah kakak nya Susi.
Kak Bobi langsung menarik bahu Tante Rubi dan mempersilahkan Emma dan Reno masuk ke dalam rumah.
"Masuklah, Emm! Mas! Maafkan ibu. Ibu hanya masih bersedih dengan kondisi Susi," ujar Bobi menjelaskan.
Keempat orang itu kini duduk di sofa ruang tamu.
Saat mendengar jawaban singkat dari Kak Bobi tadi, sebenarnya benak Emma langsung dihinggapi dengan firasat yang tak enak.
Bayang-bayang ucapan Daffa tentang kondisi Susi saat ini kembali terngiang di benak dan pikiran Emma.
Setelah beberapa waktu berlalu dalam diam, akhirnya Emma memberanikan diri untuk bertanya kepada Bobi.
"Maaf, Kak. Emma mau ketemu Susi. Dia ada kan?" Tanya Emma berhati-hati.
"Kakak jelas kaget banget pas dikabarin sama ibu tentang Susi yang kecelakaan," imbuh Kak Bobi.
"Ke..kecelakaan?!" Emma memekik kaget.
"Ya. Kecelakaan. Tunggu dulu, memang nya kamu belum tahu ya, Emm. Kalau Susi kecelakaan?" Tanya Bobi tiba-tiba.
Emma langsung saja menggelengkan kepala nya.
"Emma gak tahu kak. Memang, kapan kejadian nya?" Tanya Emma masih dengan raut tak percaya.
"Pas malam dia pamit mau ke rumah kamu itu lho, Emm. Kakak ingat banget. Soalnya Susi sempat pamitan ke Kakak sorenya," tutur Bobi menjelaskan.
Emma langsung memutar memori nya ke hari di mana Susi pergi ke rumah nya.
"Waktu malam acara reuni, Kak?!" Tanya Emma memastikan.
"Huh? Reuni? Bukan ah. Dia bilangnya kalian mau pergi ke rumah Ustad Untung. Kalian jadi pergi ke sana?" Tanya balik Bobi.
Emma mendadak jadi bingung.
'Malam waktu pergi ke rumah Eyang hantu?? Tapi.. itu kan kejadian nya sebelum acara reuni! Padahal Susi masih sempat jemput aku ke acara reuni, kan??' Emma sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Emm? Emma!"
Emma tersentak kaget dari lamunan singkat nya. Ia menoleh ke arah Reno yang baru saja menepuk tangan nya cukup kencang.
"Kamu mikirin apa?" Tanya Reno merasa cemas.
Emma tak menjawab pertanyaan Reno. Ia langsung menghadap ke arah Bobi dan kembali bertanya pada Kakak nya Susi tersebut.
"Apa Kakak gak salah ingat? Susi kan masih jemput Emma ke rumah pas acara reuni SMA, kak? Itu kejadian nya sekitar seminggu sesudah kita pergi ke rumah Eyang han.."
Emma buru-buru mengoreksi ucapan nya. Ia hampir saja menyebut "Eyang Hantu" sesaat tadi.
"...ke rumah Eyang Untung, Kak!" Ungkap Emma bersikukuh.
"Masa iya? Ah, enggak ah. Mana mungkin Kakak salah ingat. Jelas-jelas kecelakaan nya itu pas Susi pamit mau anterin kamu ke rumah Pak Ustad. Dia sempat cerita kalau kamu digangguin sama hantu. Iya kan? Maaf, kalau ucapan Kakak lancang!" Imbuh Bobi dengan nada meminta maaf.
"Kakak ingat, itu tanggal berapa?" Tanya Emma tiba-tiba.
"1 Desember. Kakak ingat banget soalnya itu kan pas hari AIDS sedunia ya.." jawab Bobi dengan nada yakin.
Emma terhenyak lemas.
'Ya. Aku juga ingat kalau kami memang pergi ke rumah Eyang hantu itu tanggal satu Desember. Jadi.. Susi kecelakaan malam itu juga?' Emma bermonolog dalam hati.
"Jam.. jam berapa kejadian nya, Kak?" Tanya Emma lagi ingin memastikan.
"Malam banget, Emm. Sekitar jam sepuluh malam kira-kira. Kayak nya dia arah mau pulang sih. Kejadian nya pas di tikungan dekat rumah," jawab Bobi kembali.
Dan kembaki, ingatan Emma pun langsung melayang pada nasihat Eyang Hantu terhadap Susi dulu.
Saat itu, Emma dan Susi menganggap ucapan si Kakek tidak lah berarti.
Kakek itu dulu berkata seperti ini,
'Sekarang, kalian pulang lah. Tak baik bila malam-malam anak gadis keluyuran. Dan kamu, Nak. Berhati-hati lah saat melewati tikungan,' ucap Eyang Untung kepada Susi, dulu.
Seketika itu pula Emma merasa tubuh nya lemas. Kalimat Eyang Untung itu terus terngiang-ngiang di benak gadis itu.
Entah kebetulan atau bukan, yang jelas ucapan Eyang Untung itu terbukti benar. Bahwa Susi seharusnya lebih berhati-hati saat melewati jalan tikungan.
Jika saja mereka lebih memperhatikan nasihat dari Eyang Untung saat itu. Munin..
"Boleh Emma ketemu Susi, Kak?" Pinta Emma akhirnya, dengan pandangan mata yang nanar.
***