
"Terus, kamu juga datang selametin aku dari gudang bawah tamah itu kan?" Seru Emma mengingatkan Susi pada kejadian beberapa malam yang lalu.
"Iya. Tapi sebelum hari itu, aku udah pernah nengokin kamu di villa itu, Emm. Itu pertama kalinya aku ke villa itu. Aku kaget banget karena tempat nya ada di tengah hutan," jawab Susi kemudian.
"Maksud kamu, waktu kamu balas sms ku lagi itu ya?" Tebak Emma.
"Iya. Dan aku kaget banget pas nengokin kamu lagi, tahu nya kamu lagi disekap di gudang rahasia itu!" Ujar Susi melanjutkan cerita nya.
"Iya. Ya ampun, Emm! Asli deh! Kamu ngapain coba berani kerja di tempat terpencil kayak gitu? Nyari penyakit aja! Apalagi sama orang-orang yang tinggal di dalam nya. Hii.. pada aneh-aneh semua! Bikin ngeri!" Emma melihat Susi bergidik ngeri.
Gadis itu sontak ingin tertawa, namun ia menahan nya.
Emma menertawakan fakta bahwa spirit Susi nyatanya malah takut dengan para penghuni villa Grandhill. Tidakkah itu ironi?
'Bukan nya dia sendiri udah jadi hantu? Tapi kenapa malah takut sama orang yang jelas-jelas gak bisa berbuat apa-apa ke dia?' gumam Emma dalam benak nya.
"Ya gimana dong, Sus? Aku kepepet banget perlu buat biaya berobat Mama," sahut Emma dengan nada sedih.
"Iya juga ya. Tante Retno udah mendingan, Emm?" Tanya Susi peduli.
"Alhamdulillah.. mendingan Sus. Tapi Mama masih perlu check up lagi beberapa kali. Dan itu juga perlu biaya lagi," Emma mengeluh.
"Kan kamu udah ada Reno? Anggap aja dia bank berjalan nya kami, Emm?" Usul Susi.
"Ngaco, kamu! Ehh! Kok aku malah keasikan ngobrol sih! Terus ini aku gimana Sus? Kamu bisa bantuin aku lepas dari benang merah ini, gak?" Tanya Emma mendesak.
"Aku gak bisa, Emm. Ini kayak nya benang kepunyaan nenek yang tinggal sama kamu di villa itu deh!" Ujar Susi memberitahu.
"Nenek? Nenek mana sih?" Tanya Emma kebingungan.
"Itu lho, yang udah nyekap kamu di gudang rahasia!" Sahut Susi menjelaskan.
"Bi Hara? Kok kamu manggil nya nenek sih? Beliau kan masih lumayan muda. Seumuran Mama kita lho itu!" Tegur Emma.
"Masa sih? Tapi aku kok ngelihat muka dia banyak kerutan nya gitu ya? Seram.. aku malah mikir nya kalau dia juga hantu tadi nya. Tapi dia manusia juga kan ya?" Seloroh Susi sambil melayang mengikuti Emma yang ditarik ke satu arah.
"Mata kamu buram kali, Sus! Kerutan di mana nya sih? Biasa aja ah!" Sanggah Emma.
"Kamu tuh aneh deh, Emm! Kok ya malah sibuk ngebahas soal nenek itu sih? Padahal kamu kan mau diculik sama nenek itu!" Ujar Susi mengingatkan.
"Eh! Iya ya! Karena kamu sih, Sus! Aku tuh suka gagal fokus kalau bareng sama kamu! Jadi benang ini tuh kiriman dari Bi Hara ya? Apa berarti sekarang aku lagi di Dunia Mimpi?" Tanya Emma lagi.
"Mm.. aku juga gak tahu ini dunia apa. Tapi pas aku masuk ke sini, ada banyak gelembung-gelembung besar di antara dunia yang gelap pekat. Dan aku masuk ke salah satu gelembung itu. Sampai akhirnya aku datang ke sini dan nemuin kamu!" Papar Susi menjelaskan.
"Terus sekarang aku gimana dong, Sus?" Tanya Emma mulai merasa panik.
Gadis itu benar-benar takut bila kembali bertemu dengan Bi Hara lagi. Wanita itu adalah wanita paling gila yang pernah Emma temui. Bahkan lebih gila dari majikan Emma, ibu Sofia.
"Sebentar, aku minta bantuan dulu deh ya!" Pamit Susi.
"Minta bantuan ke siapa, Sus?" Tanya Emma.
Sebelum Susi menghilang, Emma masih sempat mendengar jawaban dari mulut sahabat nya itu.
"Ke Mbak Kunti lah!" Jawab Susi sebelum ia pergi menghilang.
Emma semakin panik saat dilihat nya Susi pergi meninggalkan nya begitu saja.
"Eh, tapi kan Susi bukan orang lagi ya. Hmm.. apa sekarang dia jadi takut sama Pak Ustadzah gitu ya? takut dibacain ayat kursi?" Gumam Emma lagi.
"Haiishhh!! Emma! Kok malah ngelantur sih mikir nya! Ini gara-gara Susi deh nih. Kenapa juga dia ninggalin aku begitu aja!" Terus sekarnag aku minta tolong ke siapa dong?!" Emma menjeritkan kesusahan nya.
Namun sedetik kemudian, Emma langsung menjerit ketakutan oleh sebab kemunculan sosok berwajah pucat dan berambut panjang tepat di depan wajah nya.
"AAAAAARRRGHHHH!! SETAAANNNNN!!" Jerit Emma ketakutan.
"Emma! Jangan gak sopan gitu dong! Aku kan jadi gak enak sama Mbak Kunti!" Tegur Susi yang ternyata ada di samping Mbak Kunti.
Mbak Kunti adalah seperti yang dikenal Emma dalam tayangan-tayangan horor di televisi.
Rambut nya panjang hingga melewati ping gul, wajah pucat dengan kantung hitam di bawah mata yang cukup besar, serta gaun putih panjang yang menutupi mata kaki nya.
Emma jadi penasaran, apa Mbak Kunti mempunyai kaki untuk menapak? Atau ia melayang seperti yang pernah ia lihat di tayangan yutub yang viral itu ya?
"Su..susi! Kamu datang lagi!" Tanya Emma terkwjut.
"Tentu saja, Emm! Kan, sudah ku bilang tadi. Kalau aku oergi untuk cari bantuan dulu. Ini dia Mbak Kunti. Aku mengajak nya ke sini. Barangkali dia bisa membantu mu!" Seru Susi dengan ekspresi riang di wajah.
Pandangan Emma kembali beralih ke wajah Mbak Kunti yang berdiri tak sampai satu meter di depan nya. Samar-samar gadis itu seperti mencium bau busuk yang menguar dari tubuh samg Kunti.
Dengan susah payah Emma menelan ludah nya sendiri. Terutama saat Mbak Kunti mendekati nya dna menyentuh benang merah yang telah mengikat nya sedari tadi.
Tak lama kemudian Mbak Kunti mengeluarkan bisikan yang teramat pelan. Emma hampir-hampir tak bisa menangkap dengar apa yang ia katakan, jika saja jarak nya dengan Mbak Kunti tak sedekat seperti sekarang ini.
Hantu wanita itu berbisik seperti ini.
"Sssulit ssekali. Benang ini terlalu kuat. Ada makhluk lain yang menyokong kekuatan dari benang ini. Aku tak bisa membantu nya," bisik sang Kunti sebelum akhirnya menghilang dalam sekejap.
"Ehh? Mbak Kunti kenapa tiba-tiba menghilang?" Ujar Susi yang kebingungan.
Sementara itu Emma langsung menghirup napas dalam-dalam. Ini disebabkan tadi saat Mbak Kunti mendekati nya, Emma langsung menahan napas saja. Alasan nya tak lain dan tak bukan adalah karena bau yang menguar kuat dari tubuh sang Kunti. Bau busuk.
"Dia juga gak bisa bantu, Sus. Terus gimana ini ceritanya? Atau coba deh kamu temuin pak Ustadz, Sus? Emma kembali meminta tolong.
"Ngaco kamu ya, Emm? Aku takut ah! Nanto baru juga nongol, terus aku dikasih ayat kursi gimana? Panas tahu!" Tolak Susi mentah-mentah.
"Hah?? Memang nya ada yang pernah bacaan ayat kursi ke kamu, Sus? Siapa??" Tanya Emma penasaran.
Dengan wajah malu, Susi pun menyahut.
"Udah pernah. Kak Bobi yang bacain ayat kursi ke aku," jawab Susi.
"Kak Bobi?? Kok bisa??" Tanya Emma lagi.
"Bisa lah! Soalnya.." Susi terlihat ragu untuk melanjutkan lagi perkataan nya. Namun setelah melihat tatapan berharap di mata Emma, akhirnya Susi pun kembali berkata.
"Soalnya waktu itu aku iseng jahilin Kak Bobi dengan bikin melayang bola basket nga dia secara tiba-tiba. Kupikir Kakak bakalan lari ketakutan gitu. Kan lucu ya?" Seloroh Susi dengan ekspresi meringis.
"Terus?"
"Terus.. kenyataan nya gak begitu! Kak Bobi malah langsung bacain ayat kursi plus tiga surat kul dan ayat awal surat al baqoroh! Aku langsung berasa kepanasan, Emm! Rasa-rasa kebakar seluruh tubuh! Ujung-ujung nya malah aku yang kocar-kacir pergi ketakutan!" Ungkap Susi dengan jujur.
***