Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Harapan di Penghujung Subuh



Kembali ke saat ini. Ketika Emma baru selesai menunaikan shalat isya di pertengahan malam.


Tanpa bisa dicegah, dua bulir anak sungai pun mengalir di kedua sisi pipi Emma.


Dalam ruangan berukuran empat kali empat meter, berwarna putih polos, Emma merindukan sang Mama.


"Hiks.. Mama.. Emma kangen Mama..huu..." Emma melirihkan tangis dan rasa sedih nya seorang diri.


Ia terus menangis hingga badan nya rebah di atas sajadah biru yang masih terhampar.


Hingga lelap membawa kesadaran nya ke alam mimpi, Emma masih tetap memakai mukenah nya.


***


Keesokan pagi nya, Emma terbangun sekitar jam empat pagi. Ia tersentak kaget karena tak menyangka kalau ia akan tertidur sambil mengenakan mukenah di atas lantai.


Ia lalu teringat dengan dua boneka yang diasuh nya. Aneh nya Emma merasa bersalah karena semalaman ia malah tertidur dan tak menemani boneka itu terjaga.


Bukankah menurut deskripsi pekerjaan yang terlampir di surat perjanjian kerja nya, tugas Emma memang untuk menemani anak-anak bermain kapanpun mereka terjaga?


Merasa belum waktunya subuh, Emma pun bergegas melepas mukenah nya dan melipatnya asal di atas sajadah.


Setelah itu, Emma melangkahkan kaki nya menuju lantai atas. Ke kamar milik para boneka arwah yang ia asuh.


Saat itu, suasana Villa masih sangat lengang. Agaknya orang-orang masih pulas tidur di kamar nya masing-masing.


Dengan perlahan Emma berjalan menaiki tangga.


Tuk. Tuk. Tuk.


Hanya suara langkah sendal rumah yang Emma kenakan saja yang bisa ditangkap oleh indera pendengaran Emma saat itu.


Tuk. Tuk. Tuk.


Emma terus menaiki anak tangga berbentuk melingkar, yang jumlahnya sekitar tiga puluhan itu. Sesampainya di atas, Emma dibuat heran karena pintu kamar anak asuh nya terbuka sedikit.


"Apa mereka sudah bangun lagi ya semalam?" Gumam Emma sendiri di lorong yang sepi.


Emma lalu teringat dengan kasur tak berpenghuni yang ada di bagian ujung ruangan yang akan ditujunya itu. Kasur dengan segala ornamen merah hati yang menjadi penghias nya.


Sprei merah. Sarung bantal merah. Dan kayu tempat tidur yang juga dicat dengan warna merah.


Gulp..


Emma menelan ludah nya dengan susah payah.


Sekuat tenaga Emma menabahkan hati nya untuk melanjutkan langkah.


"Tenang aja, Emm.. tinggal diwiridin, nanti setan nya juga takut.." gumam Emma menguatkan diri sendiri.


Setelah perjalanan beberapa langkah menuju pintu yang dirasa berat bagi Emma yang telah kalut dalam rasa takut, akhirnya Emma bisa meraih gagang pintu dan mendorong nya terbuka lebih lebar.


Emma melihat, kedua boneka Sella dan Cello masih tergeletak seperti saat ia meninggalkan mereka semalam tadi.


Meski begitu, Emma menangkap aroma menyengat dari dalam kamar itu. Aroma yang semalam tadi tak sempat ia cium berada di sana. Aroma kemenyan.


Dan dari sudut matanya, Emma menangkap keberadaan sebuah kendi dari tanah merah dengan beberapa dupa yang masih terbakar serta taburan kelopak bunga di atas piring kecil di dekat nya.


Emma merasa heran dengan keberadaan sesajen tersebut dalam kamar anak-anak. Namun ia tak berani melangkah ke dalam saat itu juga.


Sesuatu dalam diri Emma mengingatkan nya untuk tidak memasuki kamar di depan nya saat itu. Terlebih ketika hawa dingin itu kembali muncul tiba-tiba dan membuat Emma tak bisa mengendalikan gerak motorik nya dengan leluasa.


Seolah dikutuk menjadi patung, Emma hanya bisa terdiam dengan mata yang membulat lebar di depan pintu.


'Ke..kenapa lagi ini, Ya Allah! Aduuh.. tahu gitu, mending nengok anak-anak nya pas udah terang aja deh nanti!' gumam batin Emma yang gusar sendiri.


Sebuah tepukan pelan di bahu Emma mengejutkan gadis muda tersebut setengah mati.


Jika Emma bisa berteriak, sudah tentu ia akan menjerit kencang saat itu juga.


Tapi syukurlah, Emma bisa kembali menggerakkan tubuh sekehendak hati nya. Dan ia pun membalikkan badan nya segera.


"Bi..Bibi Hara!" Pekik Emma yang masih dalam pengaruh kuasa magis sesaat tadi.


"Neng Emma ngapain di sini? Bukan nya sebentar lagi waktu subuh ya? Sebaiknya Neng kembali ke kamar. Biasanya Nyonya Sofia sebentar lagi bangun. Sebaiknya Neng Emma kembali sebelum Nyonya bangun," Bibi Hara memberi saran.


"Memang nya kenapa Bi?" Tanya Emma spontan penasaran.


"Soal nya mood Nyonya kalau baru bangun tidur itu agak pemarah. Jadi menurut Bibi.."


"Ooh.. iya Bi! Emma paham. Makasih ya Bi, sudah diingatkan," ujar Emma berterima kasih.


"Sama-sama, Neng. Kalau Neng Emma sudah lapar, biasanya Chef Kiman sudah bangun jam segini. Mau Bibi minta buatkan sesuatu kah untuk sarapan Neng Emma?" Tanya Bi Hara.


"Mm.. gak usah, Bi. Emma belum merasa lapar kok. Kalau gitu, Emma balik ke kamar ya, Bi.." Emma berpamitan.


Dengan langkah bergegas, Emma pun menuruni anak tangga kembali. Di perjalanan menuju kamar nya, ia mendengar gaung suara adzan di kejauhan.


Villa Grandhill letak nya memang agak masuk ke pelosok hutan. Jadi Emma merasa heran karena ia masih bisa mendengar sayup suara adzan dari desa di pinggir hutan.


Subuh itu, Emma bisa shalat dengan lebih khusyu. Bahkan bisa dibilang, shubuh itu adalah ibadah pagi nya yang paling khusyu sepanjang Emma menunaikan shalat.


Karena gadis itu melakukan nya di saat hati nya benar-benar membutuhkan penyertaan dari Pencipta- nya. Saat is berada di villa asing yang terasing di tengah hutan belantara.


Emma merajuk, menghamba pada Sang Illahi. Memohon perlindungan kepada-Nya untuk hari-hari ke depan nya nanti, selama ia bekerja di tempat ini.


Hingga waktu perjumpaan dengan sang Mama akan ia hadapi nanti. Selaksa doa pun dipanjatkan Emma. Agar ia dan Mama kian sehat dan selamat di setiap waktu nya. Aamiin..


***


Usai shalat subuh, Emma memutuskan untuk mengaji lewat aplikasi al quran yang ia download di ponsel nya.


Emma merasa malu sendiri karena sudah lama seingatnya ia tak membaca al quran. Mungkin sejak ia kelas 4 SD? sejak Papa nya dikabarkan tiada.


Dan sekarang Emma tergerak untuk mengaji lagi. Karena hanya itulah satu-satu nya kegiatan yang bisa membuat hati nya menjadi tenang. Selain juga menunaikan shalat.


Ketika ia mendekatkan dirinya kepada Allah, Emma merasa ia tak lagi sendiri menghadapi para hantu di villa ini.


Emma bahkan mulai memandang boneka Sella dan Cello tak terlalu menyeramkan.


Dalam pandangan nya kini, Boneka Sella dan Cello hanya sekedar boneka yang bisa hidup saja. Anggap saja mereka diberi kelebihan karena diinangi oleh para arwah.


Walaupun Emma juga tak berharap ia akan sering melihat kemunculan boneka arwah lain nya lagi ke depan nya nanti.


Dan tentang hantu yang dipanggil Sella dengan nama Kak Celia.. Emma masih merasa ngeri setiap kali ia mengingat sosok hantu tersebut.


Entah apa sebenar nya yang diinginkan oleh Hantu Celia darinya. Tapi yang jelas, Emma tak terlalu menyukai setiap teror yang diciptakan oleh hantu tersebut kepada Emma.


Emma pun tergerak untuk menyelidiki sendiri tentang asal muasal para boneka arwah asuh nya itu.


Ia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga dua boneka tersebut bisa diinangi oleh arwah.


Apakah ini murni dilakukan oleh majikan baru nya, Nyonya Sofia. Ataukah ada orang lain di rumah ini yang ikut andil dalam penciptaan boneka arwah tersebut.


Sisi detektif dalam diri Emma tergerak untuk menyelidiki semua rahasia yang tersembunyi di villa Grandhill ini.


***