
Tanah merah basah.
Gerimis rintik turun perlahan membasahi bumi. Sebuah gundukan tanah bertabur bunga terlihat paling baru di antara gundukan lain di area pemakaman lama.
Emma berjalan dengan langkah kaki yang berat. Di samping nya, Retno berjalan menemani sang putri.
Retno selaku penunjuk jalan, lalu membawa Emma hingga berada pads gundukan tanah yang paling baru itu. Begitu sudah berada di depan nya, Emma langsung terduduk lemas dan menundukkan kepala nya dalam-dalam.
Tangisan tanpa suara pun pecah dari kedua mata Emma, pada akhirnya.
'Papa! Kenapa Papa pergi tanpa mengatakan apa-apa ke Emma?!' jerit Emma dalam hati.
Gadis itu menahan diri untuk tidak meraung kan tangis nya. Itu adalah pesan sang ibunda, sebelum Retno bersedia mengantarkan Emma menuju pusara mendiang Pak Kiman.
Ya. Pak Kimanto pada akhirnya telah tiada. Dua hari setelah ia dibawa ke rumah sakit. Dehidrasi dan malnutrisi karena tak makan berhari-hari, serta luka pukulan benda tumpul di bagian kepala nya membuat Kiman tak mampu bertahan melewati hari berikut nya.
Lelaki itu pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, tanpa pernah tersadar lagi sebelum nya.
Retno baru mengetahui perihal masih hidup nya sang suami, di hari kedua setelah hari penyelamatan Emma. Reno lah yang telah memberitahu dirinya tentang identitas Pak Kiman yang sebenar nya.
Kembali ke saat ini.
Di area pemakaman yang terbilang sepi.
Emma menangis tanpa suara selama beberapa menit lama nya. Ditahan nya semua tanya dan sesak itu dalam dada. Sementara perlahan penyesalan memakan isi hati nya.
'Kenapa Papa tak mengakui diri nya kepada Emma?'
'Apa Papa tak sayang pada Emma?'
'Apa Papa tak mengenali Emma sebagai anak?'
Beragam pertanyaan itu bercokol di benak gadis berusia 22 tahun tersebut.
Setelah cukup lama, Retno pun menarik lengan Emma untuk bangkit. Ia mengajak sang putri untuk kembali pulang.
"Ayo, Emm. Sudah cukup sore. Sebaiknya kita pulang.." ajak Retno kemudian.
Keluar dari area pemakaman, Reno yang menjadi sopir pengantar bagi pasangan ibu dan anak itu pun lalu sigap membuka pintu belakang mobil nya.
"Terima kasih, Nak Reno. Sudah menyempatkan diri untuk mengantar kami," ucap tulus Retno kepada pemuda seusia Emma itu.
"Nyantai aja, Tante. Sekarang, sesuai janji. Reno mau ajak Tante dan Emma makan dulu ya sebelum kota pulang!" Tutur Reno mencoba mengubah suasana sendu yang ada.
Retno menyadari usaha pemuda tersebut. Ia pun menganggukkan kepala nya seraya tersenyum. Ditengok nya wajah sang putri, yang masih juga terdiam merenung.
"Hh.." Retno menghela napas letih.
Ia menyesalkan karena Emma tak sempat untuk bertukar kata secara langsung dengan Papa kandung nya. Hal itulah mungkin yang juga menjadi penyesalan terbesar dalam hati Emma. Begitu kiranya pikir Retno.
"Kita mau ke mana, Nak Reno?" Tanya Retno dari kursi belakang.
"Tenang, Tante! Reno punya kejutan spesial nanti! Reno mau ketemuin kalian sama seseorang nanti!" Ujar Reno penuh misteri.
"Ketemu siapa?" Tanya Retno penasaran.
"Ada deh.. dan kamu pasti bakal terkejut deh, Emm!" Seru Reno kepada Emma yang duduk di samping nya.
Sayang nya, ucapan Reno tak mengendap lama di benak Emma. Gadis itu masih saja diam termenung menatap jendela.
"Hh.."
"Hh.."
***
Mobil yang dikendarai Reno kemudian berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan halaman yang cukup luas.
Emma bahkan sempat teralihkan dari kesedihan nya karena mengagumi keindahan taman di rumah itu.
"Nak Reno, ini rumah siapa? Rumah Nak Reno kah?" Tanya Retno dengan pandangan kagum.
Reno melebarkan senyuman nya. Dengsn nada misteri, pemuda itu pun menjawab,
"Nanti juga Tante dan Emma bakal tahu. Ayo masuk! Kita sudah ditunggu sama yang punya rumah, Tante!" Seru Reno bersemangat.
Emma mulai tertarik untuk mengetahui pemilik dari rumah megah tersebut. Jika berandai-andai, ia ingin sekali memiliki rumah seperti ini. Rumah dengan taman bunga yang beragam serta ayunan untuk tempat bersantai.
Begitu ketiga nya tiba di depan pintu rumah tersebut, tiba-tiba saja daun pintu terbuka lebar.
Seorang wanita seumuran Retno lah yang membuka nya. Wanita itu berwajah ramah. Dan ia menyapa Emma juga yang lain untuk tak segan masuk ke dalam.
"Silahkan masuk, Tuan Reno, Nyonya dan juga Nona.. Nona kecil sedang merapihkan diri di kamar nya. Dia akan turun sebentar lagi," ujar Sang wanita yang menyambut ketiga nya.
'Nona Kecil? Siapa sebenar nya yang dia maksud? Apa aku mengenal nya?' Benak Emma dipenuhi tanya.
"Terima kasih ya, Bi. Kalau gitu, ayo Tante, Emm, kita tunggu saja dulu!" Ajak Reno dengan sikap leluasa.
Sepertinya pemuda itu telah sering datang ke rumah ini. Karena tak nampak kecanggungan dan keterasingan dalam interaksi nya dengan pembantu di rumah megah tersebut.
Selagi berjalan mengikuti Reno, pandangan Emma melayang ke sekitar ruangan yang ia lewati.
Semua furniture di rumah ini tampak simpel dan tak terlalu banyak. Seolah-olah pemilik nya hanya mengedepankan kenyamanan dan keluasan dalam ruangan saja.
Reno lalu mendahului duduk pada salah satu sofa yang ada di ruang televisi. Diikuti selanjutnya oleh Retno dan juga Emma.
"Sebenarnya ini rumah siapa, Nak Reno? Jangan bilang kalau ini rumah orang tua mu?" Retno mencoba menebak-nebak.
Kali ini wajah wanita paruh baya tersebut terlihat gugup.
Sementara itu, kala Emma mendengar tebakan yang keluar dari mulut sang Mama, matanya langsung memandnag nyalang ke arah Reno.
Diberi nya Reno tatapan paling sengit milik nya. Sebagai hadiah awal bagi pemuda itu, bila benar jika ini adalah rumah orang tua nya.
Menyadari kalau kemisteriusan nya berakibat buruk kepada nya, Reno pun buru-buru menjelaskan.
Dengan panik, pemuda itu buru-buru menyanggah ucapan Retno perihal kepemilikan rumah megah tersebut.
"Bukan, Tantr! Ini bukan rumah Mama dan Papa. Mereka kan tinggal di kota lain. Jadi kalau Reno mau ajak kalian untuk ketemu Mama dan Papa, Reno akan bilang dari jauh hari kok! Janji!" Reno melafalkan janji nya.
Mendengar jawaban Reno, seketika kelegaan pun menjangkiti benak Retno dan juga Emma.
Di saat Emma hendak memberanikan untuk bertanya kepada Reno perihal siapa sebenar nya pemilik dari rumah tersebut, tiba-tiba saja sebuah suara yang tak asing terdengar berteriak dari arah tempat ketiga nya masuk ke ruang tv.
"Kakak Cantik!" Seru sang pemilik suara dengan nada agak melengking tinggi.
Dan ketiga nya pun sontak menoleh.
***