Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Perselisihan di Dapur



Sore hari nya, Emma ingin berjalan-jalan sebentar mengitari villa. Ia pun lalu membawa dua boneka Sella dan Cello bersama nya dengan kereta dorong bayi.


Emma berpikir jika ia sering mengajak kedua boneka asuh nga itu di siang hari, mungkin mereka tak akan usil pada nya di waktu malam nanti.


Yah.. cukup masuk di akal juga kan? bukan kah kebanyakan anak-anak akan merasa letih dan pulas tidur saat mereka puas bermain di waktu siang nya?


Jadi mungkin aturan itu juga berlaku untuk para boneka arwah. Begitulah dugaan Emma.


Emma lalu mengajak anak-anak melihat kolam ikan yang ada di belakang villa.


"Wahh.. ikan nya kayak nya ada banyak tuh! Besok kita coba mancing ikan yuk! Kalau sekarang jangan lah. Nanggung. Bentar lagi juga udah mau maghrib," ujar Emma dalam monolog nya.


Di sekitar Emma tak terlihat seorang pun dalam jangkauan pandangan nya. Emma hanya sempat bertemu dengan Pak Adda, sang penjaga kebersihan dan kerapihan halaman di villa Grandhill ini.


Pak Adda adalah seorang pendiam dnegan wajah pemurung. Emma rasa-rasanya tak terlalu cocok dengan para penghuni di rumah ini. Kecuali bibi Hara saja mungkin yang terlihat normal menurut Emma.


"Kalian mau lihat sesuatu yang seru gak, Sell? Nih lihat ya!" Emma tiba-tiba berseru riang pada kedua boneka yang duduk diam di atas kereta nya.


Emma lalu mengambil kerikil yang ada di pinggir kolam. Kemudian melemparkan nya ke tengah kolam.


Cemplung!


Seketika itu juga sebuah risk berukuran besar terbentuk di pertengahan kolam.


"Hahaha! Lihat! Ikan nya pada kabur! Seru banget sih!"


Emma lalu kembali mengulang lemparan nya pada kolam. Dan beberapa riak pun kembali tercipta.


Setelah puas bermain, Emma pun menyudahi keasikan nya sendiri itu dengan perasaan sedikit bersalah. Pada akhirnya sebelum kembali memasuki rumah, Emma pun meneriakkan permintaan maafnya kepada para penghuni kolam yang telah diganggu oleh nya beberapa menit terakhir ini.


"Maaf yaa ikan-ikan!! Besok aku bawa pancingan deh! Siap-siap untuk ku tangkap ya, kalian!" Teriak Emma dengan hati yang puas dalam rasa senang.


Dan Emma pun kembali memasuki villa, ketika dilihat nya langit yang mulai menunjukkan rona jingga kemerahan nya.


Setengah jam kemudian..


"Sekarang, kalian udah ganteng dan cantik. Dan perut kalian juga udah kenyang kan!" Emma kembali mengajak bincang boneka Sella dan Cello.


Ia baru selesai mengelap dan memberi makan keduanya.


"Sekarang, gantian Kakak yang mau mandi juga ya biar cantik. Kalian di sini dulu, oke! Mau kusetel lagu untuk kalian?"


Emma bertanya pada dua boneka yang kaku diam. Meskipun tak menerima tanggapan dari boneka yang diajaknya bicara, Emma tetap menyetelkan lagu dari radio yang ada di dalam kamar.


Setelah mencari beberapa channel, Emma akhirnya menemukan channel radio yang menyiarkan lagu-lagu anime klasik.


Kebetulan lagu yang saat itu sedang disiarkan adalah soundtrack dari anime movie Doraemon: Stand by Me yang berjudul "Himawari no Yakusaku". Lagu karya pemusik Jepang bernama Motohiro Hata.


"Nah.. lagu yang bagus nih. Kalian baik-baik ya di sini. Kakak mau mandi dulu!" Pamit Emma terburu-buru.


Di kejauhan, ia mendengar sayup adzan maghrib berkumandang.


"Allahu Akbar! Allahu akbar!"


"Aduh! Keburu maghrib! Buru-buru deh mandinya!" Gumam Emma sambil menuruni tangga.


Usai mandi kilat, Emma bergegas menunaikan shalat maghrib.


Di dapur Emma mendapati bibi Hara sedang membantu Chef Kiman menyiapkan makan malam.


"Bibi.. Emma bantu ya!" Emma masuk ke dapur sambil menawarkan bantuan.


"Iih.. gak usah, Neng. Neng Emma istirahat aja di kamar. Nanti kalau makanan nya udah siap, bibi panggil Neng!" Tolak Bi Hara dengan senyuman ramah di wajah nya.


"Gak apa-apa, Bi. Emma bete di kamar sendirian. Dari pada sendirian bete, kan mending Emma di sini ngarubung sama bibi dan Pak Kiman. Siapa tahu Emma bisa kenyang duluan nyicipin makanan! Hee.." Emma berseloroh riang.


Bi Hara tak mengomentari selorohan Emma. Ia hanya melebarkan senyuman nya. Sementara itu Pak Kiman secara blak-blakan mencerca Emma.


"Dasar bocah!" Gumam Pak Kiman pelan.


Meskipun lelaki paruh baya itu bergumam dengan suara pelan, namun Emma masih bisa mendengar ucapan nya tadi.


Emma langsung terdiam dan salah tingkah sendiri. Beruntung lah bibi Hara berbaik hati menghibur Emma.


"Jangan dengarkan omongan bujang lapuk itu, Neng! Dia memang selalu mendumel sepanjang waktu!" Cibir Bi Hara pada Pak Kiman.


"Dih! Siapa juga yang bujang lapuk! Kurasa dia sedang membincangkan diri nya sendiri!" Gumam Pak Kiman lagi sambil menggerakkan samsi di atas wajan panas.


Dari aroma nya, Emma mencium wangi tumis udang yang sedang dimasak oleh Pak Kiman. Seketika itu pula air liur Emma menitik deras dalam mulut nya.


"Jangan asal bicara kamu, Man! Aku sudah pernah menikah dan mempunyai anak. Jadi jelas, bujang lapuk itu adalah kau sendiri!" Omel Bi Hara berapi-api.


Mendengar percekcokan antar Bibi Hara dan Pak Kiman, Emma jadi tersadar dari lamunan nya akan tumis udang. Ia pun jadi tak tahu harus ikut dalam perbincangan panas di dapur saat itu atau tidak.


Emma tak menyangka kalau bibi Hara yang biasanya ramah dan bertutur kata lembut itu ternyata bisa mengomel juga.


Emma jadi teringat pada ibu nya, Retno.


"Hhh..."


Tanpa sadar gadis itu menghela napas cukup dalam. Helaan napas nya itu ternyata menarik perhatian Bibi Hara dari perselisihan nya dengan Pak Kiman.


"Neng Emma kenapa? Maafin ucapan Pak Kiman ya, Neng. Dia memang sudah biasa menggerutukan segala hal. Jadi jangan dimasukin ke hati ya kalau ucapan nya ada yang nyelekit," tutur bi Hara menasihati.


"Ehh.. itu.."


"Hey. Kalau mau ngomongin orang, jangan di depan orang nya lah! " Tegur Pak Kiman lagi.


"Suka-suka saya lah! Ini mulut, mulut saya!" Tukas balik Bi Hara.


Emma semakin bingung sekaligus canggung dengan situasi yang sedang ia hadapi saat ini.


Gadis itu jadi bingung untuk berkata-kata lagi saat ia dihadapkan dengan dua orang dewasa yang sedang cekcok di depan mata nya saat itu.


"Bi Hara?" Panggil Emma menengahi perselisihan keduanya.


"Ya, Neng? Kenapa?" Sahut bibi Hara.


Kebingungan tak tahu harus mengatakan apa, akhirnya Emma pun mencetuskan apa yang terlintas di benak nya saat itu juga.


"Apa ibu dan Pak Kiman ini pernah jadi mantan satu sama lain?" Cetus Emma tanpa sempat ia cegah dan saring terlebih dulu.


***