
Sementara itu di apartemen milik Reno..
Reno kembali masuk ke apartemen nya yang ditempati oleh Emma. Begitu masuk, Reno langsung membalikkan badan nya menghadap pintu karena pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
"E...Emma! Ngapain kamu pakai kaos dalam doang?!" Bentak Reno yang tiba-tiba merasa hati nya gerah.
Pemuda itu tak mendengar sahutan dari kekasih nya itu. Sehingga ia pun memanggil nya lagi.
"Yang? Kamu ke kamar dulu sana! Pakai baju! Kamu sengaja ya mau bikin aku hor ny?" Tuding Reno yang masih kesal sekaligus panas dingin.
Lagi-lagi tak ada sahutan dari Emma di belakang nya.
Reno lalu mengingat-ingat lagi pemandangan yang ia lihat ketika memasuki apartemen nya tadi.
Saat itu Emma hanya memakai kaos dalam dan underwear saja sambil tidur telentang di atas lantai. Kedua mata kekasih nya itu tampak terpejam.
Mengira kalau kekasih nya tiu mungkin tertidur di lantai, Reno pun menjadi khawatir. Ia berniat untuk berjalan mundur dan mengambil selimut di kamar untuk menutupi tubuh Emma.
Namun, belum sempat ia berjalan jauh, tiba-tiba saja Emma muncul di depan Reno dan mengejutkan nya.
"BA! HAHAHAHAHA!!" Emma tertawa terbahak-bahak.
"Aa!!" Reno tersentsk ksget.
"Yang! Kamu asli ngagetin aku! Aduh ini mata! Yang, please banget kamu jangan godain iman kayak gini dong! Pakai dulu deh baju luar nya! Aku kan jadi malu sendiri," seloroh Reno sambil kembali buru-buru memejamkan kedua mata nya.
Penyebab nya tak lain adalah karena Emma masih seperti penampilan nya saat tertidur di atas lantai. Yaitu hanya mengenakan singlet dan underwear saja.
"Aku gerah! Ihihihihi.." Emma terkikik geli.
Reno mengernyit keheranan. Tak biasa nya Emma terkikik seperti itu.
"Yang.. kamu pakai baju, atau aku ajak kamu ke KUA sekarang juga!" Reno mengancam Emma.
Pemuda itu yakin kalau Emma akan memakan ancaman nya itu bulat-bulat. Jadi kekasih nya itu pasti akan segera mengenakan pakaian nya lagi. Namun ternyata..
"KUA? Apa itu?" Tanya Emma dengan polos nya.
Reno langsung melotot ke arah Emma. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengar telinga nya. Namun baru juga ia membuka mata, pemuda itu kembali terburu-buru menutup nya lagi. Karena pemandangan dua gunung kembar milik Emma berada tepat di depan mata Reno.
"Emmaaa!! Biar gimana pun juga aku tuh cowok normal! Pakai baju sekarang juga, atau.. atau.." Reno kenlbingungan hendak mengancam bagaimana lagi. Pemuda itu sungguh tak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada Emma saat ini.
'Semalam dia baik-baik saja. Tunggu dulu! Apa jangan-jangan dia sudah berubah pikiran dan ingin segera menikah dengan ku? Tapi karena dia malu, jadi dia berpura-pura menjadi bodoh seperti sekarang, begitu?' Reno sibuk menduga dalam hati.
Lamunan Reno langsung terusik saat ia merasakan benda kenyal membentur lengan kiri nya. Dan saat sepasang lengan melingkari leher Reno, barulah pemuda itu tersadar kalau Emma telah bergelayut pada nya.
"Mau ke KUA! Mau ikut!" Pinta Emma dengan nada manja.
Dengan sekuat tenaga, Reno tetap mencegah mata nya sendiri dari terbuka. Dan dengan berhati-hati, pemuda itu melepaskan lingkaran lengan Emma pada leher nya.
"Oke-oke. Kita ke KUA nanti ya. Besok oke? Hari ini aku kerja dulu. Besok baru kita ke KUa. Gimana, Yang?" Tanya reno masih dengan mata yang terpejam.
"Gak mau besok! Mau sekarang! Aku mau berenang, main game, makan-makan enak, lihat film bioskop, terus.." Emma terus mengatakan segala hal yang ingin dilakukan nya kepada Reno.
Reno yang mendengar nya dibuat kebingungan dengan permintaan kekasih nya itu.
'Asli. Ini sih bukan Emma ku! Aku ngintip bentar ah. Kali aja ada cewek yang nyamar jadi Emma ku,' gumam Reno sambil kemudian membuka sedikit mata nya.
'Fokus, Ren! Fokus! Coba lihat baik-baik cewek ini. Jangan-jangan dia cuma cewek yang nyamar jadi Emma lagi!' Reno sibuk menduga.
Selama beberapa waktu Reno mengamati wajah wanita di samping nya itu lekat-lekat. Mulai dare dahi, alis, mata, hidung hingga bibir wanita itu. Dan Reno menyadari kalau wanita itu sungguh adalah Emma.
Pemuda itu mengenal betul bentuk bibir kekasih nya itu. Bibir yang begitu ingin ia cicipi selama ia berpacaran dengan Emma, namun belum sempat ia rasakan hingga saat ini jua.
Emma selalu menolak kontak fisik yang berlebihan kala mereka berpacaran. Katanya sih, takut dosa!
Reno menelan ludah nya dengan susah payah saat netra nya disajikan dengan wajah Emma yang berada begitu dengan wajah nya sendiri.
Ia hanya perlu memajukan wajah nya sedikit lagi saja, sebelum ia bisa mencicipi bibir ranum milik kekasih nya itu. Sedikit lagi saja...
'Tunggu dulu! Ingat, Ren! Ingat kalau kalian masih belum hal..lal..?!!'
Cup.
Emma mencium Reno tepat di bibir nya.
Reno membelalakkan mata. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sampai kemudian ketika ia mendengar suara Emma bergumam kecil.
"Ah.. tak mengerti. Apa asik nya melakukan itu? Tapi aku sering melihat Mama melakukan nya dengan Paman Adda.." gumam Emma dengan suara pelan.
Adik terdekat Reno mendadak terbangun. Dan Reno langsung didera keinginan untuk menerkam Emma pada detik itu juga.
Tapi keimanan masih memimpin sisi rasional pemuda itu. Sehingga dalam sekali dorongan, Reno pun berhasil menjauhi Emma dari diri nya.
Reno juga langsung berlari menuju pintu masuk apartemen dan menutup nya lagi rapat-rapat. Sampai kemudian ia mendengar gedoran dari dalam apartemen yang mestilah dilakukan oleh Emma, kekasih nya.
"Buka! Om, buka Om! Aku mau keluar! Ikut, Om! Aku mau ikut ke KuA!" Pinta Emma dengan suara nyaring.
Mata Reno semakin membulat lebar. Ia sungguh kebingungan dengan sikap dan perilaku Emma hari ini.
Mulai dari memakai baju sekedar nya, menci um nya!, Minta ikut ke KUA pula! Yang pasti Reno merasa yakin kalau Emma yang ada di dalam apartemen nya saat ini adalah Emma yang otak nya sudah acak kadut!
Reno sungguh menginginkan Emma lama nya kembali. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh pemuda itu?
"Aku masih harus bekerja hari ini. Apa aku ijin kerja sama ya lagi? Aarhh! Ram pasti akan mengomel panjang lebar bila aku minta ijin lagi hari ini!" Keluh Reno sibuk sendiri.
Ram adalah bos sekaligus huga co founder perusahaan bersama dengan Reno juga. Ram menjabat sebagai CEO di perusahaan Jasa Keamanan IT. Sementara Reno menjabat sebagai kepala manajer di perusahaan itu.
Meski begitu, Ram adalah sahabat dekat Reno. Jadi pikir Reno, ia mungkin masih bisa mentolerir kekesalan Ram nanti nya.
"Ya sudah lah. Aku ijin saja lagi hari ini. Sekalian ajak Emma berobat ke rumah sakit. Siapa tahu ia tak sengaja terjatuh dan membentur kepala nya. Sehingga ia jadi aneh seperti itu?" Gumam Reno lebih lanjut.
Mengabaikan gedoran di pintu, Reno langsung mengirim pesan chat kepada Ram. Selanjutnya, pemuda itu pun kembali memberanikan diri nya untuk masuk lagi ke dalam apartemen tempat Emma terkurung.
Sebelum masuk, Reno kembali mengingatkan diri nya sendiri.
"Ingat ya, Ren! Kamu harus bisa tahan sabar tuk ngadepin Emma. Terutama kamu Junior!" Reno memelototi organ geni tal di bawah tubuh nya dalam diam.
Reno tak tahu, seorang petugas kebersihan baru saja keluar dari lift dan melihat aksi pemuda itu berbicara sendiri di depan pintu sambil melihat ke bawah tubuh nya.
"Ih. Balik lagi deh. Itu orang kayak nya rada-rada deh!" Gumam petugas kebersihan itu sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam lift yang baru saja ia tumpangi.
***