Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Sella Marah



Malam hari di Villa Grandhill..


"Apa yang terjadi dengan nya?" Tanya Hara kepada Adda.


Keduanya saat ini sedang berada di kamar gudang milik Adda. Mereka sedang memperhatikan kondisi boneka Emma yang tampak berantakan dan mengenaskan.


Tangan boneka Emma hampir putus salah satu nya. Baju yang ia kenakan pun koyak di beberapa bagian. Belum lagi noda lumpur dan dedaunan kering yang menempel pada rambut dan baju nya.


"Aku pun tak tahu. Di sudah dalam kondisi seperti itu saat aku menemukan nya di dekat semak-semak. Mungkin dia diterjang babi hutan?" Tebak Adda dengan asal.


Hara memandang jijik tubuh boneka Emma yang tergeletak diam di atas meja. Tak ada rasa iba ataupun bersalah dalam pandangan Hara terhadap nya.


Padahal penyebab semua hal yang terjadi pada diri Emma adalah karena ulah dari wanita tersebut.


"Hah. Mungkin sudah nasib nya seperti itu. Buang saja tubuh nya ke gudang rahasia. Dengan begitu, walaupun dia kembali terbangun nanti, dia tak akan bisa pergi jauh lagi," ujar Hara.


"Baik. Atau kau ingin ia dimusnahkan pula seperti bocah lelaki itu?" tanya Adda kemudian.


Hara tampak berpikir sejenak.


"Hmm.. Jangan dulu. Aku mungkin masih perlu untuk menanyakan beberapa hal lagi kepada nya nanti. Kabari saja bila dia telah kembali tersadar!" titah Hara kembali.


"Bagaimana dengan pemuda itu? Apa rencana mu untuk nya?" Tanya Adda kemudian.


"Reno? Hmm.. biarkan saja dia menunjukkan belang nya sendiri. Aku ingin tahu, apa sebenarnya tujuan pemuda itu datang kemari?" Jawab Hara dengan pertanyaan pula.


"Bukan kah kata mu dia mengenal Kimanto?" Tanya Adda lagi.


"Ya. Dari foto yang ia tunjukkan memang seperti itu. Tapi entahlah. Firasat ku mengatakan kalau lelaki itu memiliki tujuan yang lain. Bagaimana dengan motor nya? Apa itu kerusakan buatan atau tak disengaja?" Tanya Hara kembali.


"Itu kerusakan yang disengaja. Sudah ku pastikan itu. Tapi seperti kata mu, aku berpura-pura tak bisa membenarkan nya. Kau ingin pemuda itu bermalam kan di sini?" Terka Adda.


"Ya. Sudah ku duga. Pemuda itu memang menyembunyikan sesuatu. Bagaimana dengan Kiman? Apa dia sudah sadar?" Hara bertanya.


"Belum. Sepertinya aku terlalu keras menyiksa nya. Maafkan aku," ujar Adda dengan wajah tak menyesal.


Detik selanjutnya Hara mendekati Adda dan menarik pinggang lelaki itu hingga kedua dada mereka saling menempel.


Hara yang tak lebih tinggi dari Adda pun menengadahkan wajahnya ke atas.


"Hah! Aku tahu kau selalu cemburu kepada nya, Da.. tapi sudah ku katakan kepada mu, bukan? Kau adalah nomor satu di hati ku. Jadi jangan meributkan sesuatu yang sudah jelas lagi. Kasihani lah lelaki tua itu sedikit," bujuk Hara merayu.


"...baik lah. Aku akan lebih berhati-hati lagi dalam menyiksa nya. Seperti yang kau inginkan, Love.." sahut Adda sambil balas memeluk pinggang Hara.


"Hmm.. sekarang, apa yang sebaiknya kita lakukan dengan Reno? Kucing kecil itu seperti nya akan mencoba mencari mangsa malam ini. Bisakah kau melacak nya tepat pada waktu nya, Sayang? Usahakan untuk membiarkan nya menangkap mangsa, tapi jangan biarkan ia menikmati hasil buruan nya. Kau mengerti maksud ku bukan, Dda?" Tanya Hara, sambil menyusupkan wajah nya ke leher samping Adda.


Adda merasakan gai rah nya bangkit, usai Hara mencum bu leher nya. Ia pun kemudian balas mengecup balik leher wanita yang usianya hampir dua kali lipat dari nya itu.


"Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita prmanasan terlebih dahulu? Hmm..?" Ajak Hara sambil menarik pinggang Adda menuju kasur di ujung ruangan.


***


"Apa salah ku kepada nya? Kenapa juga dia memilih tubuh ku untuk miliki?! Benar-benar! Ya ibu, ya anak, sama-sama jahat dua-dua nya!" Emma menggerutu sendiri.


"Kak Emma!" Sebush suars yang familiar di telimga Emma memanggil nama nya.


'Duh! Kenapa bisa ketemu di sini? Padshal dari tadi aku udsh ngumpet-ngumpet..' Emma merutuki nasib nya karena harus kembali bertemu dengan sosok yang tadi memanggil nya.


Dengan enggan, Emma langsungs aja berbalik.


"Ee...hay Sella! Apa kabar?" Sapa Emma dengan ekspresi bersalah.


"Kakak jahat! Cello juga jahat! Kalian gak ada di rumah! Sella cari kalian ke mana-mana. Tapi kalian gak ada! Sella sedih main sendirian.. apalagi Mama juga lagi sakit.." Sella emmarshi Emma.


'Apa katanya tadi? Cello juga tak ada di rumah? Dan Nyonya Sofia sedang sakit?' gumam batin Emma.


"Ke mana Cello pergi?" Kali ini Emma menyuarakan pertanyaan nya.


"Sella juga gak tahu, Kak.. Sella takut terjadi apa-apa sama Cello. Gak biasanya dia gak ajak Sella pergi. Biasanya kalau dia mau main sendiri, dia selalu ajak Sella dulu," tutur Sella yang mencurahkan kekhawatiran nya kepada Emma.


'Apa berarti, terakhir kaki nya kami bertemu Cello adalah di malam ketika kami bermain kejar-kejaran dengan Pak Adda? Apa itu berarti Cello berhasil ditangkap oleh nya dan kini Cello berada bersama Pak Adda?' Emma sibuk menduga-duga.


"Kakak.. bagaimana ini, Kak? Sella takut.." ujar Sella yang kembali memeluk Emma.


"Tenang lah, Sell. Mungkin Cello hanya sedang keasikan main saja. Sementara kamu main sendiri dulu saja ya?" Emma memberikan saran.


"Terus Kakak ke mana? Kakak kok gak ada di rumah?" Tanya spirit Sella.


Ditanya seperti itu, Sella kembali dilanda oleh perasaan bersalah. Akhirnya, spirit Emma pun memutuskan untuk mengatakan yang sebenar nya kepada spirit Sella.


"Sella, kakak mau ketemu Mama Kakak. Jadi sekarang kakak dalam perjalanan menuju pulang ke rumah Mama nya Kakak.." ungkap Emma dengan sejujur nya.


"Pulang?" Tanya Sella dengan tatapan milik orang yang sedang patah hati.


"I..iya, Sell. Kakak juga kangen sama Mama Kakak. Jadi dua hari ini Kakak.."


Ucapan Emma tiba-tiba dipotong oleh Sella.


"Kakak.. Kakak jahat! Kenapa kakak pergi?! Sella kan mau bareng sama Kakak! Sekarang, Kakak pergi! Cello juga! Kenapa semua orang pergi tinggalin Sella?! Sella benci semua nya!" Teriak Sella, yamg kemudian langsung berlari meninggalkan Emma.


"Sell! Sella!" Mula nya Emma hendak mengejar spirit anak perempuan tersebut.


Ia sungguh merasa bersalah kepada Sella. Namun bila disuruh untuk memilih lagi, Emma akan tetap pada keputusan nya untuk pergi dari villa Grandhill tersebut.


Gadis itu ingin mencari pertolongan ke seseorang di luar sana. Entah ustadz atau siapa yang sekitanya bisa membantu spirit nya kembali ke tubuh nya lagi.


Alhasil, pada akhirnya Emma hanya bisa memandangi profil dari spirit Sella dari kejauhan. Hingga sosok Sella pun kembali menghilang di tengah kerumunan Pasar.


"Maafin Kakak ya, Sell.." lirih Emma dalam penyesalan nya.


***