Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Surat Perjanjian Baru



"Saya gak bisa terima pekerjaan ini, Bu. Mohon maaf saja. Jika saya mau, saya bisa saja melaporkan semua kejadian penyiksaan yang saya alami selama dua hati saya bekerja di villa milik ibu!" Emma mencoba balas mengancam ibu Sofia.


Aneh nya, Sofia tak merasa takut dengan gertakan Emma. Ia masih terlihat duduk santai di atas sofa yang ia duduki saat ini.


"Apa bukti yang Nona Emma punya untuk melaporkan saya ke polisi? Rekaman? Atau yang lain nya?" Balas tanya ibu Sofia.


"Itu.." Emma mengerutkan kening. Ia sadar, kalau ia tak memiliki bukti untuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh dua anak bu Sofia itu.


"Lagipula, apa polisi akan percaya dengan cerita Nona tentang kedua anak saya yang sweet itu?" Tanya ibu Sofia lebih lanjut.


Emma mendengus kesal. Ucapan ibu Sofia memang ada benar nya.


Tudingan apa yang akan Emma layangkan dan terhadap siapa? Tindak kekerasan oleh Dua boneka setan? Jelas tak akan ada polisi yang mau menindaklanjuti laporan Emma itu.


"Begini saja, Nona Emma. Berhubung kedua anak saya menyukai Nona Emma sebagai pengasuh baru mereka.." ucap ibu Sofia mengawali pidato nya lagi..


Emma bergidik ngeri. Dalam hati nya ia mengumpat kesal.


'Sialan benar ibu ini! Jelas anak-anak nya itu adalah pembully ulung. Jelas lah mereka senang kepada ku. Karena mereka berhasil membully ku hingga ketakutan setengah mati!' dumel Emma dalam hati.


"Dan Nona Emma juga sedang ada kebutuhan kan saat ini.." imbuh ibu Sofia kembali.


Emma mengerjap dua kali. Tak mengerti dengan arah pembicaraan wanita di depan nya itu.


"Saya dengar, ibu Nona Emma saat ini sedang dirawat di rumah sakit.." tutur ibu Sofia sambil menatap Emma dengan pandangan iba.


Sementara itu Emma memicingkan kedua mata nya. Merasa heran dari mana kiranya ibu Sofia bisa mengetahui kabar tentnag ibu nya yang sedang dirawat.


'Jangan-jangan..?!' pikiran Emma menganak liar.


"Jangan berpikiran macam-macam tentang darimana saya bisa tahu soal ibu Nona. Saya sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan penyebab ibu Nona dirawat. Well, saya hanya membayar orang yang tepat untuk mencari tahu segala hal tentang Anda. Dan, voila! Semua nya bisa dengan mudah saya ketahui!" Papar ibu Sofia dengan sikap percaya diri.


Emma tak menyukai kepercayaan diri yang ditunjukkan oleh wanita di depan nya itu.


Karena saat melihat ibu Sofia, Emma lagi-lagi diingatkan tentang ketidakmampuan nya untuk membiayai pengobatan Mama atas penyakit kanker nya.


Tanpa sadar, Emma mere mas kain baju nya. Itu adalah bentuk kekesalan nya pada diri sendiri.


"Jadi Nona Emma. Kali ini, saya menawarkan opsi yang lebih baik untuk hubungan kerja sama di antara kita," ujar ibu Sofia lebih lanjut.


"Apa yang sebenar nya Anda mau, Nyonya? Seperti yang sudah anda selidiki tentang saya dan Mama saya.. kami ini hanya orang sederhana yang tak bergelimang harta seperti Anda. Jadi, kenapa Anda sibuk memperhatikan kami yang tak bernilai ini?" Ujar Emma bernada sinis.


"Jangan merendah seperti itu, Nona Emma. Pasir yang terlihat tak bernilai pun pada kenyataan nya mengandung garam yang sangat berharga. Begitu juga dengan Anda bagi kedua anak saya.." tutur ibu Sofia berfilosofi.


"Cepat katakan tujuan Nyonya datang ke rumah saya! Saya harus pergi kembali ke rumah sakit!" Usir Emma tanpa basa basi.


Ibu Sofia terlihat tak marah atas pengusiran yang baru saja ia terima dari Emma. Ia melanjutkan kembali ucapan nya.


"Jadi Nona Emma, saya ingin menawarkan kontrak kerja yang baru," tutur ibu Sofia mengawali maksud kedatangan nya.


"Maaf, saya menolak nya!" Tukas Emma segera seraya berdiri.


Emma lalu berjalan mendekati pintu untuk mengusir ibu Sofia kembali. Namun ucapan wanita kaya itu berikut hya mampu membuat Emma dilanda kebimbangan kemudian.


"Meski saya menawarkan untuk membiayai semua pengobatan dan perawatan ibu Anda selama di rumah sakit? Anda akan tetap menolak nya?" Tanya ibu Sofia, masih dengan nada santai.


"... Apa Nyonya serius dengan yang Nyonya katakan tadi?" Tanya Emma tak percaya.


"Ya. Tentu saja. Saya tak pernah main-main dengan setiap janji yang saya ucapkan, Nona Emma. Anda bisa pegang ucapan saya. Atau lebih baik lagi, Anda bisa membaca nya dengan teliti lagi di surat perjanjian kerja yang baru ini," ujar ibu Sofia sambil menyerahkan binder ke dua berisi surat perjanjian kontrak yang baru.


"Di sana jelas tertulis kalau saya akan menyanggupi segala kebutuhan finansial pekerja selama ia bekerja kepada saya. Termasuk juga membiayai pengobatan ibunda pekerja yang sakit hingga selesai," papar Ibu Sofia.


Ia tak ingin lagi 'kecolongan' karena tak teliti dalam membaca poin yang tertera dalam surat perjanjian yang akan ia tanda tangani nanti nya.


Total ada sebelas poin yang tertulis dalam surat perjanjian yang baru. Namun ada tiga poin yang menarik perhatian Emma.


"Pihak pekerja (Nona Emma) akan menemani dan menjaga dua anak pemberi kerja (Ny. Sofia) saat keduanya bermain. Permainan nya bersifat bebas. Mengikuti keinginan anak-anak. Namun pemberi kerja akan menjamin keselamatan pekerja saat ia bekerja," Emma membacakan salah satu poin dengan suara keras.


Usai membaca poin tersebut, Emma pun mendumel dalam hati.


'Keselamatan apa nih yang dijaga? Keselamatan fisik kali ya? Kalau keselamatan mental sih aku gak yakin dia bisa jamin tetap waras!' gerutu batin Emma.


"Maksud poin ini, adalah agar tak ada lagi kejadian celaka seperti yang saya alami kemarin kah, Bu?" Tanya Emma seraya menunjukkan bekas luka di tangan kanan nya.


Luka yang ditunjuk Emma adalah luka bekas sayatan pisau yang dipegang oleh Cello dulu. Emma tak sengaja terkena pisau tersebut saat duo boneka kembar itu mengajak nya 'bermain'.


"Hari itu, Cello membawa pisau untuk bisa mendaki pohon yang ada di dekat jendela kamar Anda, Nona Emma. Begitu penjelasan Cello kepada saya," Tutur Sofia dengan senyuman tipis.


Emma tak menangkap ekspresi bersalah di wajah wanita itu.


"Malam itu kamar Nona dikunci dari luar. Jadi anak-anak tak bisa masuk lewat pintu dan nekat masuk melewati jendela kamar. Mereka terlalu senang karena akhirnya mempunyai nanny pengasuh lagi," imbuh Sofia dengan kedua mata yang berbinar cerah setiap kali ia menyebut nama anak nya.


"Saat itu kenapa saya tidak langsung menyita pisau di tangan Cello adalah karena saya pikir Anda baru selesai memberi mereka makan," tutur Sofia lagi masih dengan wajah yang tak menampakkan rasa bersalah.


"Lalu bagaimana saat Ibu melihat saya terikat di dalam kamar?! Jangan bilang kalau mata Ibu terlalu rabun untuk bisa melihat kondisi saya saat itu!" Cecar Emma dengan berani.


"Well, saya kira Anda sedang bermain dengan anak-anak. Terkadang saya pun sering bermain culik-culikan dengan anak-anak. Dan posisi nya pun memang harus diikat seperti itu," ibu Sofia menjelaskan.


Penjelasan itu membuat Emma melongo tak percaya.


Melihat Emma yang tak mempercayai ucapan nya, ibu Sofia pun menerangkan lebih lanjut lagi.


"Anak-anak sungguh totalitas dalam setiap hal yang mereka lakukan, Nona Emma. Saat bermain, mereka kadang memang bisa sedikit kelewatan. Tapi sejauh ini tak pernah ada pengasuh mereka yang celaka kok," ujar Sofia meyakinkan Emma.


'Iya. Bukan celaka fisik. Melainkan celaka mental!' cecar batin Emma.


"Memang nya sebelum saya, sudah ada berapa pengasuh yang mengurus anak-anak?" Tanya Emma basa-basi.


"Yah.. sekitar empat atau lima mungkin? Sejak anak-anak pindah ke tubuh baru nya saja jadi mereka membutuhkan pengasuh. Sebelum nya, kan mereka hanya bisa terbaring seharian di.. ah! Maaf. Lupakan apa yang baru saja saya katakan, Nona Emma!" Ujar Sofia terburu-buru.


Sayang nya permintaan ibu Sofia itu tak masuk ke hati Emma. Karena gadis itu telah menangkap fakta yang tak sengaja diucapkan oleh majikan nya itu tadi.


Tanpa segan, Emma malah menanyakan sesuatu untuk menuntaskan rasa penasaran yang telah memantik di benak nya.


"Apa tadi kata bu Sofia? Tubuh baru? Maksud nya adalah tubuh boneka? Berarti anak-anak memiliki tubuh yang lama?" Tanya Emma mencecar Sofia.


Menerima pertanyaan Emma, ekspresi di wajah Sofia pun seketika mengeras.


Wanita tersebut langsung saja berdiri dan berjalan ke arah pintu tanpa menjawab pertanyaan dari Emma.


Sebelum meraih gagang pintu, Sofia menyampaikan kalimat nya yang terakhir kepada Emma.


"Silahkan Nona Emma pertimbangkan tentang tawaran kerja ini. Setidak nya, ingat juga lah pada ibu Nona yang harus menjalani pengobatan kanker nya sesegera mungkin.. saya hanya ingin membantu. Permisi."


Emma menatap sebal pads eks majikan nya itu. Tanpa sadar, Emma pun mere mas surat perjanjian di tangan nya dengan cukup erat.


"Membantu katanya? Cih.. membantu tapi ada pamrih nya!" Gerutu Emma.


***