Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Wanita Gila Yang Sebenarnya



"Ya. Celia itu sebenarnya adalah anak ku. Anak dari proses bayi tabung yang terlahir melalui rahim wanita itu. Sayang nya wanita itu tak mengetahui kalau bayi yang telah dikandung nya dan dilahirkan nya adalah darah daging nya. Padahal sebenarnya Celia itu adalah anak ku. Darah daging ku!" Ungkap Bi Hara dengan suara lantang.


"Ta..tapi, bagaimana bisa?! Proses bayi tabung kan harus melalui prosedural resmi yang diketahui oleh pemilik sper ma dan juga sel telur nya! Jadi Bibi gak bisa seenaknya merubah sel telur sesuka hati ibu kan?! Kecuali.."


Emma memikirkan satu kemungkinan yang bisa terjadi. Begitu terpikirkan di benak nya, Emma segera menghapus kemungkinan itu segera. Karena itu adalah kemungkinan yang mustahil.


"Ya. Seperti nya kau pun bisa menduga nya, Emma. Tentu saja aku tak bisa melakukan nya seorang diri. Karena aku memang dibantu oleh Aslan, mendiang suami dari Sofia!" Ungkap Bi Hara dengan sejujur nya.


"Tapi kenapa?" Tanya Emma kebingungan.


"Karena jauh sebelum mengenal Sofia, Aslan sebenar nya adalah kekasih kecil ku. Bukan kah ini mengejutkan mu?" Ungkap Bi Hara dengan senyuman merekah.


"Hah?!! Ta..tapi.. memangnya umur Pak Aslan itu berapa?" Emma meracau tak jelas.


Rasanya sulit untuk mempercayai cerita Bi Hara. Mengingat Pak Aslan memiliki istri yang cantik seperti ibu Sofia. Sementara Bi Hara malah tampak seperti ibu bagi Nyonya Sofia. Begitu pikir Emma.


"Aku mengangkat Aslan dari jalanan saat ia masih sangat muda. Mungkin sekitar lima belas tahun saat itu. Sementara aku baru saja bercerai dari suami pertama ku di usia ku yang ke 33 tahun," papar Bi Hara memulai kisah nya.


'Gila! Itu sih dua kali lipat umur nya! Dan.. itu berarti pedofil kan Bi Hara ini?!' tuding Emma dalam hati.


Bi Hara lalu berjalan ke depan. Dan Emma pun spontan menyingkir untuk menghindar dari nya.


Bi Hara kemudian duduk di tepi kasur yang kosong. Barulah melanjutkan kembali cerita nya.


"Aslan menganggap ku sebagai dewi penyelamat nya. Karena aku memberikannya makanan dan tempat di saat ia tak memiliki apa-apa juga siapa-siapa lagi yang mau menerima nya."


"Kami terlibat dalam hubungan asmara yang rumit. Terutama di saat keadaan perekonomian ku sedang sulit. Akhirnya aku meminta Aslan untuk menggaet wanita kaya dan mengambil uang mereka demi kehidupan sehari-hari kami," tutur bi Hara mengenang masa lalu.


"Dia gak mungkin mau melakukan itu kan?!" Tebak Emma dengan sangat yakin.


Bi Hara tak marah. Wanita itu hanya memberikan Emma senyuman ramah nya yang seperti biasa ia berikan. Baru kemudian berkata lagi.


"Tentu saja Aslan melakukan nya. Karena dia sangat mencintai ku!" Ungkap Bi Hara dengan nada bangga.


'Menjijikkan! Wanita ini sungguh menjijikkan sekali!' Emma memelototi Bi Hara dengan pandangan marah.


Bi Hara tak menggubris pandangan dari Emma. Ia terus saja melanjutkan kisah nya lagi.


"Sampai akhirnya seorang wanita lugu bertemu dengan Aslan dan jatuh cinta pada nya. Wanita itu pun menikahi Aslan, meski hubungan keduanya sempat ditentang oleh orang tua dari gadis tersebut!" Lanjut Bi Hara bercerita.


"Apa gadis itu adalah Nyonya Sofia?" Tanya Emma menebak-nebak.


"Ya. Gadis lugu itu adalah Sofia. Aku mengijinkan Aslan untuk menikahi Sofia. Dengan catatan, aku akan ikut tinggal bersama mereka entah sebagai apapun itu," papar Bi Hara kembali.


'Gila! Dia rela jadi babu cuma untuk nguntitin gigolo nya!' benak Emma sibuk menuding.


"Aku masih menjalin hubungan asmara dengan Aslan di belakang Sofia. Dan wanita itu pun perlahan mulai curiga kalau suami nya itu telah mendua. Tentu saja aku sengaja meninggalkan jejak-jejak percintaan kami di baju dan mobil Aslan. Karena aku tak rela setiap kali melihat mereka bermesraan di depan ku! Selamanya, Aslan hanya lah milikku seorang!" Ujar Bi Hara berapi-api.


'Dasar psiko!' rutuk Emma dalam hati.


"Dan rencana ku berhasil. Mereka tak pernah jadi pasangan yang romantis. Selalu ada pertengkaran di setiap waktu nya yang terjadi di antara mereka."


"Akhirnya Sofia membujuk Aslan dengan saham perusahaan yang ia miliki, agar Aslan tak lagi meminta cerai dari nya. Sofia juga memaksa Aslan untuk mengikuti proses bayi tabung, karena lelaki itu bahkan tak lagi ingin menyentuh Sofia."


"Aku ikut membujuk Aslan untuk menerima tawaran itu. Tapi tentunya dengan tambahan rencana ku sendiri.." ujar Bi Hara sambil tersenyum menang.


Emma bisa menebak penyebab Bi Hara tersenyum seperti itu.


"Dan Bibi menukar sel telur milik Nyonya Sofia dengan sel telur milik ibu sendiri, benar begitu?!" Emma menebak.


"Hahaha.. kau cukup pintar juga, Emma! Ya. Aku memang telah menukar nya. Dengan begitu, aku mendapatkan hal yang ku inginkan tanpa perlu bersusah payah bukan? Sofia rela mengandung anakku dan Aslan dalam perutnya selama delapan bulan. Dan begitu lahir, putri kandung ku itu langsung dihadiahi nya 30 persen saham milik nya! Beruntung sekali bukan nasib putri ku?!" Bi Hara terlihat girang menceritakan kisah nya.


"Anda sungguh gila! Itu kebohongan besar nama nya! Kalau ibu Sofia mengetahui fakta itu, tentu dia tak akan melakukan hal itu bukan?!" Emma mencebik kesal.


"Tunggu dulu, bagaimana dengan Sella dan Cello? Apa mereka juga anak-anak Bi Hara dan Pak Aslan?!" Tanya Emma tiba-tiba.


Saat ditanya tentang si kembar Sella dan Cello, senyuman di wajah Bi Hara langsung surut.


"Hah! Dua anak itu adalah hasil rasa iba yang dimiliki oleh Aslan terhadap Sofia! Dia berani menyentuh wanita kepa rat itu tanpa seijin ku. Sehingga kedua anak setan itu terlahir ke dunia ini!" Umpat Bi Hara terlihat sangat kesal.


"Tapi, bukankah si kembar lahir setelah Celia, anak Bibi sakit keras?" Tanya Emma memastikan ingatan nya pada cerita Bi Hara dulu.


"Ya! Saat aku sedang khawatirkan memikirkan kondisi Celia yang sakit keras secara tiba-tiba, lelaki itu malah berani main api dengan Sofia!" Umpat Bi Hara yang masih terlihat sangat kesal.


"Tapi tentu saja itu normal! Karena mereka kan pasangan suami istri! Sementara Anda ini orang asing!" Tuding Emma dengan berani.


Detik berikutnya, Emma dibuat ketakutan saat tiba-tiba saja Bi Hara bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah nya.


Bibi Hara mendorong Emma hingga membentur pintu lalu lanjut bicara dengan tangan yang menuding ke arah gadis itu.


"Kukatakan kepada mu, ya, bocah! Selama nya, Aslan adalah MILIKKU! DIA ITU MILIKKU!" Jerit Bi Hara terlihat seperti orang gila.


Emma terperangah hingga tak mampu berkata apa-apa lagi selama beberapa waktu. Ditatap nya Bi Hara dengan pandangan yang berbeda dari sebelum nya.


'Gila! Wanita ini adalah yang paling gila yang pernah ku temui!' cerca Emma dalam hati.


"Aslan itu adalah milikku satu-satu nya. Hidup matinya adalah milikku! Dan karena dia mulai memiliki perasaan terhadap wanita itu, akhirnya aku pun berhak untuk membuang nya lagi!" Ungkap Bi Hara kemudian.


"Huh?... Buang? Apa maksud Bibi?" Tanya Emma dengan cicit pelan.


Kali ini Bi Hara memberikan seringai misterius yang sontak membuat bulu kuduk Emma jadi berdiri seketika.


"Aku membuang nya lagi ke tempat pertama aku menemukan nya. Tempat sampah! Ya! Aku membunuh nya, lalu membuang nya ke tempat sampah! Hahahahaa!" Bi Hara tertawa bahak.


Emma beringsut menjauhi sosok wanita gila di depan nya itu. Kali ini ia sungguh ingin melarikan diri dari villa ini. Peduli setan dengan kontrak perjanjian kerja yang harus ia hadapi nanti.


Ya. Emma memang telah sombong karena tadinya ia pikir bisa menyelesaikan masalah misteri di villa ini. Namun begitu ia menyadari kalau yang ia hadapi tak hanya sekedar makhluk halus semata, melainkan juga wanita gila yang tak segan untuk membunuh. Emma sungguhan takut sekali.


'Ya ampun, Ma! Gimana Emma bisa kabur dari sini?!' Emma menyebutkan nama sang ibunda dalam hati.


***