Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Candaan Reno



Flashback dimulai..


"Hara, ada pesan baru masuk ke ponsel gadis itu," lapor Adda tiba-tiba saat keduanya bertemu di teras belakang villa Grandhill.


Adda menyodorkan ponsel baru milik Emma yang memang tak sengaja tertinggal di kamar nya di villa. Saat Emma sempat disekap oleh Hara, semua barang milik Emma memang langsung diamankan oleh Adda.


Karena mereka membutuhkan alibi untuk dilaporkan kepada Sofia, bahwa Emma telah mengundurkan diri secara tiba-tiba.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah gadis itu melarikan diri dari penyekapan Hara terhadap nya.


"Apa penting nya pesan itu? Setelah ritual pemanggilan ruh lusa nanti, gadis itu akan kembali ke villa ini dengan sendiri nya," ujar Hara sambil memandang kolam yang gelap di hadapan nya.


"Tapi pesan ini dari Kiman," imbuh Adda memberitahu.


Saat itulah perhatian Hara langsung tertuju kepada Adda.


"Kiman? Untuk apa lelaki itu menghubungi Emma?" Tanya Hara dengan raut bingung.


"Bacalah sendiri, Hara.. aku curiga kalau Kiman mengetahui sesuatu tentang rencana mu," ucap Adda lebih lanjut.


Hara pun langsung meraih ponsel yang disodorkan oleh Adda. Selanjutnya wanita itu pun membaca pesan yang dimaksud oleh Adda tadi.


Di layar ponsel tertampil pesan berikut:


Dari Kiman: Emma, saya Pak Kiman. Ada yang perlu saya beritahu kan ke kamu tentang Bi Hara. Bisakah kita bertemu besok?


"Oh.. jadi begitu.. Seperti nya kita punya tikus tambahan untuk diatasi, Adda. Bagaimana menurut mu?" Tanya Hara sambil tersenyum sinis menatap Adda.


Adda langsung mendekat dan meraih pinggang Hara hingga dada kedua nya bersentuhan. Selanjut nya lelaki itu menyurukkan kepala nya ke leher Hara.


Saat itu waktu maghrib baru saja berlalu. Sebentar lagi waktu makan malam akan datang. Jadi Adda yakin kalau aksi mesra nya itu tak akan ketahuan oleh penghuni lain di villa ini.


Karena Pak Kiman mungkin sedang ada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara Nyonya Sofia berada di kamar nya sendiri karena baru pulang dari bekerja.


"Aku akan mengikuti apa katamu, Dear.." sahut Adda sambil meninggalkan jejak cinta nya di pundak Hara.


"Hmm.. kau sungguh berani, Adda! Tapi.. aku suka. Bagaimana kalau kita bermain kilat terlebih dahulu? Di sini?" Ajak Hara dengan pandangan menantang.


Pandangan Adda pun seketika memanas.


"Tentu saja aku siap, Dear.." bisik Adda tepat di telinga Hara.


Flashback selesai.


Kembali ke saat ini, di mana Hara menatap ponsel Emma yang berada di atas nakas nya.


Wanita itu sedang berdiri di sisi jendela kamar nya sambil menatap halaman yang gelap pekat dipayungi oleh malam.


"Sabar ya, Celia Sayang.. ibu pastikan, tak akan ada yang bisa menghalangi ibu untuk memenuhi keinginan mu, Nak.." gumam Hara bermonolog.


***


Di apartemen milik Reno..


Emma benar-benar tak bisa memejamkan kedua mata nya sampai subuh datang menjelang.


Dengan kepala yang terasa pusing, Emma menyeret tubuh nya untuk menunaikan shalat subuh terlebih dahulu. Baru kemudian merebahkan tubuhnya lagi ke atas kasur.


Emma akhirnya bisa kembali tidur usai semalaman benak nya memikirkan tentang siluet Susi yang sempat ia lihat berada di apartemen Reno bersama nya.


Sekitar jam enam pagi, Reno masuk langsung ke apartemen keduanya. Ia dibuat khawatir karena Emma tak juga membukakan pintu untuk nya saat ia memencet bel di depan pintu.


Akan tetapi kekhawatiran Reno pun segera pupus usai dilihat nya Emma pulas tertidur dalam kamar nya.


Lelaki itu pun lalu mendekati kasur tempat Emma berbaring. Dan mengambil kursi geser untuk ia letakkan tepat di samping Emma.


Begitu Emma membuka kedua mata nya, Ia langsung dihadapkan pada sepasang mata yang menatap nya intens.


Mengira kalau ia sedang bermimpi, Emma pun tanpa sadar meraih wajah yang berada tepat di depan nya itu sambil tersenyum.


Selama beberapa detik, kedua pasang mata milik Emma dan Reno saling bertatapan dalam diam. Dengan satu tangan Emma yang tetap bertahan memegang sisi wajah Reno yang kanan.


"Eehh?? Kok mimpi nya gak berubah-ubah ya?" Gumam Emma yang masih belum sepenuh nya sadar.


"Berubah kayak gimana, Yang?" Tanya Reno dengan suara berbisik.


"Ya berubah jadi kamu yang lagi ciu man sama si Meyong gitu.. biasanya kan begitu.." sahut Emma masih tak sadar kalau ia sudah terbangun.


"Huh? Meyong? Maksud kamu kucing? Kamu kan tahu kalau aku anti banget sama kucing!" Ujar Reno dengan nada heran.


Emma tiba-tiba langsung mendudukkan diri nya dan menyahuti ucapan Reno lagi.


"Iya. Aku tahu! Tapi maksud aku tuh bukan Meong kucing, Ren! Tapi..!!!??"


Saat itu lah Emma baru tersadar kalau ia tak lagi sedang bermimpi.


Gadis itu langsung membekap mulut nya yang spontan melebar saking terkejut nya.


'Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun! Barusan aku bilang apa aja sih tadi?! Ehh?!!! Ini beneran Reno ya?! Aku gak lagi mimpi?!' jerit Emma tanpa suara.


Merasa sangat malu, Emma pun langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan wajah nya dari pandangan Reno.


Tak lama kemudian Emma mendengar gelak tawa milik Reno.


"Hahaha!! Ngapain ngumpet, Emm? Aku udah lihat kok muka kamu. Jadi kenapa masih malu?" Goda Reno di samping kasur.


Emma mencebik kesal di balik selimut.


Tanpa melihat, gadis itu langsung menarik bantal yang ia tiduri semalam tadi lalu melemparkan nya ke arah Reno berada.


"Eits! Hampir aja kena! Hmm.. ada jejak apa nih di bantal mu, Emm? Kayak bekas ileran.." ucap Reno dengan suara pelan.


Terkejut setengah mati, Emma langsung keluar dari tempat persembunyian nya dan mengambil kembali bantal yang tadi ia lempar ke arah Reno.


Gadis itu langsung menginspeksi bantal tersebut. Takut bila tudingan Reno menjadi benar adanya. Jika begitu, tentulah Emma akan merasa sangat malu terhadap pemuda itu.


Setelah melihat beberapa kali dan membolak balikkan bantal itu beberapa kali, nyatanya Emma tak melihat jejak iler seperti yang telah disebutkan oleh Reno sesaat tadi.


Tahulah Emma kalau Reno telah mengerjai nya. Sehingga Emma pun kembali menyerang Reno dengan serangan bantal yang bertubi-tubi.


"Aduduh! Aduh! Udah, Emm! Ampun! Ampun! Aku minta maaf deh.. tadi cuma becanda aja!" Kilah reno sambil berlari melarikan diri dari Emma.


Akan tetapi Emma masih merasa kesal. Sehingga ia terus mengejar Reno sambil menghadoahi nya dengan tepukan bantal yang bertubi-tubi.


"Makanya! Lain kali jangan suka iseng! Lagian berani banget sih masuk ke kamar tidur cewek! Gak sopan tahu!" Omel Emma blak blakan.


"Iya. Iya. Aku minta maaf deh.. eh, jadi ke rumah sakit gak nih?" Tanya Reno tiba-tiba dalam usaha nya untuk mengalihkan perhatian Emma.


Usaha pemuda itu berhasil. Emma langsung berhenti memukulinya dengan bantal.


Gadis itu lalu memberikan jawaban panjang.


"Tentu aja jadi! Tapi, kita ke tempat lain dulu ya, Ren?" Pinta Emma tiba-tiba.


"Ke mana du..oh! Kamu mau lihat Susi dulu ya?" Reno menebak.


Emma langsung memberikan jawaban berupa anggukan singkat.


***