Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Persiapan Menjemput Emma



Usai menjenguk Retno, Reno langsung mengunjungi rumah sakit tempat Emma dirawat. Kebetulan keduanya dirawat di tempat yang berbeda.


Begitu masuk ke dalam kamar inap VIP yang ditempati oleh Emma, Reno langsung mendengar lantunan ayat suci yang mengalun pelan.


Sebuah rekaman pemutar murottal tergeletak di atas nakas. Tak jauh dari tempat Emma terbaring kini.


Dua hari terbaring di kasur dan di doping dengan cairan infus, membuat penampilan Emma tak lagi terlihat pucat.


Reno kemudian mengambil sebuah kursi yang ia tarik mendekati tempat Emma terbaring.


Diraih nya jemari tangan Emma dan diusap nya jari tersebut dnegan lembut. Tak lupa, Reno mengecup jemari milik Emma dengan penuh rasa sayang.


"Yang.. maaf aku datang agak siang hari ini. Aku baru aja nemuin Sein dan minta pertolongan nya untuk selametin kamu nanti," Reno mengawali cerita monolog nya kepada Emma.


"Aku gak tahu apa yang akan ku hadapi nanti di villa itu, Emm. Aku berharap bisa segera menemukan kamu di sana. Kamu masih menunggu ku kan, Sayang? Harus iya loh ya, Emm! Bersabar lah.. aku akan segera datang dan menjemput mu pulang!" Janji Reno kepada Emma.


"Selain itu, sebenar nya aku juga menemukan sesuatu yang mungkin cukup penting dari hasil penyelidikan Sein tadi, Yang. Tapi nanti aja deh aku ceritain ke kamu nya! Soal nya aku belum mastiin juga sih.."


"Kamu baik-baik tunggu aku di sini ya! Terus perbanyak mengingat Allah! Nih, aku sediain recorder murottal juga buat kamu. Biar kamu gak digangguin sama hantu jahat itu lagi!"


"Emm.. sampai sekarang, sebenarnya aku masih heran, kenapa bisa kamu kerja di tempat yang orang-orang nya nyeremin banget. Tapi setelah ku pijir-pikir lagi, mungkin ini memang sudah digariskan oleh yang berkuasa. Jadi aku jelas gak mengeluh kan ya?"


"Kamu juga! Jangan mengeluh juga ya, Yang.. tunggu aku dab aku akan bawa spirit kamu kembali ke tubuh mu ini lagi. Love you so, Emm.." Reno menutup kalimat nya dengan kecupan singkat di kening Emma.


Ia tahu kalau perbuatan nya itu tak dibenarkan. Akan tetapi, pemuda itu tak bisa menepis kerinduan nya kepada kekasih nya itu.


Reno begitu berharap agar Emma bisa cepat kembali tersadar dari tidur koma nya.


Tak lama kemudian, seornag wanita paruh baya berpenampilan sopan, masuk ke dalam ruangan.


"Ah.. Tuan Muda!" Sapa wanita paruh baya itu mengenali Reno.


"Bibi.. Bibi dari mana?" Tanga Reno menyapa balik sang wanita.


Wanita itu adalah pengasuh Reno saat ia masih kecil dulu. Nama nya Bi Rukmini. Atau kerab disapa Bi Ruk.


Sebenarnya Rukmini telah lama pensiun bekerja dengan keluarga besar Reno. Akan tetapi Reno tiba-tiba mendatangi nya ke rumah. Anak asuh nya itu lalu meminta tolong kepada nya untuk menjaga Emma di rumah sakit, selagi ia tak bisa menyertai Emma.


"Dari bawah, Tuan. Beli makan siang. Tuan Muda sudah makan siang?" Tanya Bi Ruk.


"Belum, Bi," jawab Reno segera.


"Kalau begitu, Bibi belikan sekalian ya di kantin bawah? Ada menu soto kesukaan Tuan deh kayak nya tadi," tawar Bi Rukmini.


"Gak usah, Bi! Nanti aja Reno makan di jalan. Sebentar lagi juga Reno pulang kok!" Imbuh Reno kemudian.


"Beneran gak sekarang aja Bibi belikan buat Tuan Muda?" Tanya bi Ruk kembali.


"Beneran gak usah, Bi. Bibi kan baru dari bawah. Kalau harus pergi ke bawah lagi nanti Bibi kan capek.." ujar Reno kemudian.


"Gak apa-apa, Tuan. Yang penting Tuan senang dan kenyang, Bi Ruk gak keberatan kok bolak-balik ke bawah berkali-kali!" Ujar Bi Ruk dengan nada mantap.


Reno kembali menggeleng keras.


"Gak usah, Bi. Makasih.." tolak Reno.


"Iya, Bi. Makan aja.." sahut Reno balik.


Bi Ruj lalu membawa makanan yang baru saja ia beli di kantin rumah sakit, ke meja lain yang ada dalam ruangan. Selanjut nya wanita itu membuka bungkus makanan nya dan melahap nya hingga tandas tak bersisa.


Selama itu, Reno masih setia menunggui Emma di samping nya.


Setelah Bi Ruk selesai makan, Reno pun mengajak nya mengobrol sebentar.


Dari tempatnya duduk, Reno sedikit memutar badan nya hingga menghadap l pada Bi Ruk. Setelah itu, pemuda itu pun bicara.


"Selama Bibi di sini, Bibi aman-aman aja kan, Bi?" Tanya Reno tiba-tiba.


Setelah kejadian diganggu oleh arwah Celia, Reno langsung pergi menjemput Bi Ruk pada keesokan pagi nya.


Pagi-pagi sekali Reno mendatangi wsnita tersebut dan meminta nya untuk berjaga menemani Emma selagi Reno tak berada di rumah sakit.


Syukurlah dengan persuasif, Bi Rukmini akhirnya mau menyetujui permintaan Reno itu.


"Aman-aman gimana maksudnya, Tuan? Memang nya di rumah sakit gak aman ya? Maaf. Bibi bingung maksud nya aman tuh seperti apa?" Tanya balik Bi Ruk.


"Maksud Reno, Bibi nyaman-nyaman aja kan nemanin Emma.. bibi gak ngalamin kejadian ganjil gitu di kamar ini?" Tanya Reno lebih spesifik lagi.


"Nyaman kok, Tuan. Di kamar ini kan ada sofa panjang nya juga ya, Tuan. Jadi bibi bisa beristirshat di sofa ini. Bibi cuma lupa bawa baju ganti tambahan, Tuan. Apa Bibi bisa pulang sebentar ke rumah, Tuan? Untuk mengambil baju lagi.." Bi Ruk meminta ijin Reno.


"Mm.. bair nanti Jelo yang bawakan baju ganti untuk bibi ya?" Usul Reno kemudian.


Jelo adalah sopir pribadi Mama nya Reno.


"Oh.. kalau itu tidak merepotkan Tian. Terima kasih kalau gitu, bibi ucapkan," syukur Bi Ruk dengan tatapan berterima kasih.


"Jangan sungkan begitu lah, Bi. Bagaimana pun juga Reno sudah anggao Bibi seperti ibu kedua Reno. Justru Reno yang harusnya minta maaf dan bilang terima kasih ke Bibi. Karena Bi Ruk mau menjaga Emma di sini," giliran Reno yang memandang penuh rasa terima kasih kepada Bi Rukmini.


"Tak apa-apa.. itu sudah jadi tugas Bibi.." ujar Bi Ruk merendah.


"Kalau gitu, nanti Reno kabarin Pak Jelo pas di jalan pulang ya bi. Terima kasih banyak ya, Bi. Reno pamit pulang dulu!" Ujar Reno berpamitan.


"Baik. Hati-hati ya Den!" Ujar Bi Ruk dengan tatapan keibuan di wajah nya.


Reno kemudian keluar dari pelataran rumah sakit. Selanjut nya, ia pulang kembali ke apartemen nya yang berada satu lantai di atas tempat tinggal sementara Emma kemarin lalu.


Reno menyiapkan banyak hal untuk ia bawa. Seperti P3K, baju ganti, alat sadap yang telah dipersiapkan oleh Sein, cemilan kering untuk situasi darurat. Serta beberapa hal lain nya.


Setelah semua peralatan itu selesai ia perisapkan, Reno memasukkan buntelan persiapan nya itu ke dalam jok motor milik nya.


Lega karena telah mempersiapkan segala sesuatu nya, barulah Reno menyempatkan diri untuk makan. Ia sebenarnya tak terlalu berselera makan saat ini. Tapi demi teringat pada misi nya nanti yang pasti akan menguras tenaga nya, Reno pun memaksa dirinya untuk melahapkan makanan yang ia beli praktis via go food.


Selesai makan, Reno pun langsung tancap gas menuju Villa Grandhill. Tempat di mana ia meyakini spirit kekasih nya itu berada kini.


"Tunggu aku ya, Emma Sayang! Aku akan menjemput mu pulang!" Gumam Reno dari atas jok motor nya.


***