Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Ancaman ibu Sofia



Setelah hampir sepuluh jam di ruang ICU, Retno akhirnya bisa dipindahkan ke kamar rawat inap.


Emma terus menemani sang ibu hingga Retno tersadar keesokan siang nya.


Saat itu Reno sudah pamit pulang. Jadi hanya ada Emma yang menemani ibu nya seorang diri.


"Emm..?" Lirih suara Retno terdengar di telinga Emma yang ketiduran di samping ranjang pasien Retno.


"Mama! Mama sadar! Gimana kondisi Mama sekarang? Apa Mama ngerasa sakit atau apa? Emma panggilin dokter ya, Ma!" Ujar Emma yang terlihat senang saat melihat Retno sadar.


"Mama.. haus, Emm.." kembali Retno bicara dengan suara lirih.


Serta merta Emma pun menyodorkan segelas air putih di atas nakas langsung ke mulut Retno. Dengan sabar, Emma menyertai Retno minum di gelas.


"Mama tunggu dulu sebentar ya. Emma panggil dokter dulu!"


Setelah pemeriksaan singkat, dokter menjelaskan kalau kondisi Retno pasca kecelakaan mulai membaik.


"Jadi, kapan saya boleh pulang, Dok?" Tanya Retno to the point.


"Untuk sekarang, lebih baik ibu Fokuskan diri untuk sembuh saja dulu. Jika tanda vital ibu menunjukkan hasil yang baik, saya akan memberikan ijin untuk ibu pulang ke rumah," tutur Dokter Liani.


"Tolong dibantu rawat ibu nya ya, Mbak," ucap Dokter Liani khusus kepada Emma.


"Baik, Dok!" Sahut Emma singkat.


"Oya Mbak, bisa ikut saya sebentar?" Tanya Dokter Liani kepada Emma.


"Baik, Dok.. Maa.. Emma keluar sebentar ya.." pamit Emma kepada Retno.


Emma pun kemudian berlalu pergi mengikuti langkah dokter Liani menuju ruangan nya. Sementara itu Retno menatap cemas pada gelagat sang putri yang terlihat serius tak seperti biasanya Emma.


Di ruangan kerja Dokter Liani..


"Jadi Nona Emma, saya sarankan pasien segera diberitahu soal kondisi penyakit nya secara perlahan. Kesiapan mental pasien sangat dibutuhkan untuk menghadapi rangkaian proses kemo dan terapi yang akan dihadapinya kelak," Dokter Liani memberi saran.


"Baik, Dok.. nanti saya akan segera memberitahu ibu saya," jawab Emma.


"Akan lebih baik bila selama masa pengobatan ibunda Nona tetap dirawat di rumah sakit agar memudahkan proses pemantauan terhadap sel kanker di hati nya," imbuh Dokter Liani kembali.


"Ba..baik, Dok.." sahut Emma lagi.


Keduanya lalu membincangkan beberapa hal lain terkait proses pengobatan yang harus dijalani oleh Retno.


Dengan Emma yang hanya mengangguk-anggukkan kepala nya saja saat mendengar pemaparan dari dokter Liani.


Padahal dalam hatinya, Emma melantunkan keluh kesah nya tanpa suara.


'Dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Mama? Ya Allah! Kenapa cobaan -Mu seberat ini? Sembuhkan Mama, Ya Allah..' doa Emma dalam hati.


Menjelang sore, Emma berpamitan pulang untuk mengambil baju ganti. Ia juga baru teringat kalau ia belum mandi sedari kemarin sore.


Akhirnya Emma pun pulang dengan menaiki angkot.


Dalam angkot, lagi-lagi Emma banyak melamun. Lamunan nya berkisar tentang biaya pengobatan Mama yang harus ia usahakan segera ada.


Sampai di rumah, Emma bergegas mandi. Usai mandi, ia sengaja membungkus beberapa baju ganti milik nya dan juga Retno.


Selesai shalat maghrib, Emma hendak pergi kembali menuju rumah sakit tempat Retno dirawat. Akan tetapi saat ia baru selesai mengunci pintu depan rumah nya, Emma dikejutkan oleh sapaan suara wanita dari teras rumah.


"Nona Emma, apa kabar?" Sapa suara tersebut.


Seketika Emma menoleh dan ia hampir terlonjak kaget sekaligus ngeri. Karena wanita yang baru saja menyapa nya dan kini berdiri sekitar semeter di depan teras nya adalah ibu Sofia. Ibu dari dua boneka setan yang tinggal di villa Grandhill.


Tanpa membalas sapaan Ibu Sofia, Emma bergegas hendak membuka kembali pintu nya yang baru ia kunci. Namun karena rasa takut yang mencekam benak nya, Emma kehilangan kendali pada tangan nya yang memegang anak kunci.


Sehingga kunci pun terlepas dari genggaman nya dan terjatuh ke atas lantai yang dingin.


Sambil menatap ngeri ke arah ibu Sofia, Emma meraba lantai untuk mengambil kembali kunci yang terjatuh. Namun ia semakin dilanda rasa ngeri saat dilihatnya ibu Sofia melangkah maju, mendekati Emma.


"Ada bisnis yang harus kita tuntaskan, Nona Emma. Sepertinya Anda melupakan salah satu poin penting dalam kontrak kerja yang telah Anda tanda tangani dulu," tutur ibu Sofia sambil tersenyum tipis.


"Pee..per..pergi! Ss.. saya ber..berhenti kerja aja lah, bb..buu! Saya enggak cocok kerja sama anak-anak Nyonya. Maaf!" Tolak Emma fakut-takut.


Ibu Sofia terus melangkah maju mendekati Emma. Namun ia berhenti tepat sekitar satu meter dari gadis yang saat ini tengah ketakutan itu.


"Kalau begitu, Anda harus membayar denda pembatalan kerja seperti yang tertera dalam surat kontrak, Nona Emma," ujar ibu Sofia dengan senyuman tipis yang sama.


"Maksud ibu, apa?! Saya gak ngerti!" Tanya Emma kebingungan.


Gadis itu melirik ke sekitar. Dan ia menjerit kesal dalam hati karena tetangga sebelah rumah nya terlihat sepi tak ada orang.


'Pada ke mana sih orang-orang? Baru juga maghrib, tapi kok udah sepi begini sih?!' keluh Emma dalam hati.


"Seperti yang sudah saya katakan tadi, Nona Emma. Bahwa Anda harus membayar denda pembatalan kontrak kerja. Karena semua ini telah Anda tanda tangani di atas materai yang sah secara hukum. Jadi seharusnya Anda menuntaskan masa kerja 6 bulan Anda merawat kedua anak saya," ancam Ibu Sofia.


"Atau jika Anda memang ingin berhenti. Silahkan saja. Tapi tolong siapkan uang denda dari pembatalan kontrak kerja sebesar 2 milyar rupiah!" Imbuh Sofia menutup ancaman nya.


"Apa??! Gila! Itu sih gak masuk akal, Bu! Mana ada kontrak kerja isinya begitu?!" Protes Emma atas ancaman yang dilayangkan oleh Nyonya Sofia kepada nya.


"Tentu saja ada, Nona Emma yang baik. Bukankah Nona sendiri yang telah menandatangani surat nya di hari pertama Anda datang ke rumah saya?" Papar ibu Sofia menerangkan.


Emma lalu mengingat lima lembar kontrak kerja yang memang telah ia tandatangani di hari pertama nya bekerja di villa itu.


Emma menyesalkan karena ia tak meneliti setiap poin yang tertera dalam surat perjanjian kerja tersebut. Mungkin karena saat itu ia terlalu lelah.


Jadi selesai makan malam, Emma langsung saja membubuhi tanda tangan nya di atas meterai dalam surat perjanjian kerja tersebut. Lalu menyerahkan surat nya kepada ibu Sofia.


"Bisa kita masuk dulu ke dalam rumah, Nona Emma? Dengan begitu, Anda bisa membaca kembali poin yang menegaskan tentang denda pembatalan kerja yang saya maksud. Anda menyimpan kopian nya bukan?" Usul ibu Sofia.


"Oh! Maaf! Saya lupa. Anda kan melarikan diri ya pada malam kedua anda bekerja. Jadi Anda meninggalkan semua benda dan surat kontrak nya di rumah saya. Tunggu sebentar, ini dia surat kontrak nya. Sementara untuk barang-barang pribadi milik Nona Emma, masih tersimpan rapih di villa saya," Papar ibu Sofia dengan senyuman ramah.


Sofia lalu mengeluarkan binder berisi kopian surat perjanjian kerja yang Emma tinggalkan di villa Grand hill.


Saat itulah Emma langsung membaca poin tentang denda pembatalan kerja yang dimaksud oleh ibu Sofia tadi. Dan ia pun langsung mengumpat dalam hati.


'Sialan! Pantas lah aku gak nyadar ada poin ini. Lha wong nulisnya juga di lembaran kedua terakhir. Di pertengahan pula pake tulisan yang padat dan rapat!' keluh Emma dalam hati.


Emma menatap geram pada eks majikan nya itu.


"Saya gak bisa terima pekerjaan ini, Nyonya. Mohon maaf saja. Jika saya mau, saya bisa saja melaporkan semua kejadian penyiksaan yang saya alami selama dua hari saya bekerja di villa milik Nyonya!" Emma mencoba balas mengancam ibu Sofia.


***