
Emma tersadar. Dan ia terkejut saat tiba-tiba saja ia berada di dalam sebuah taman.
Sejauh mata Emma memandang, yang bisa ia lihat hanyalah dinding-dinding tanaman yang cukup tinggi dan mengelilingi nya.
"Di mana ini? Rasa-rasa nya tadi aku lagi lihat tivi? Apa jangan-jangan aku ketiduran dan ada yang mindahin aku ke tempat ini ya?" Emma sibuk menduga.
Emma berdiri, mengibaskan sisa rumput yang menempel di celana nya, baru kemudian berjalan meniti pertengahan jalan di antara dinding tanaman.
Setelah beberapa lama berjalan, Emma melewati sebuah tikungan. Namun ternyata ia masih berada di antara kurungan dinding-dinding tanaman yang tinggi.
Emma pun tersadar kalau ia tak sedang berada di sebuah taman biasa. Karena pada kenyataan nya saat itu ia berada di sebuah taman yang berbentuk labirin.
"Halo! Apa ada orang di sini? Ini Emma! Aku tersesat! Siapa pun yang mendengar ku, bisa tolong tunjukkan diri?" Emma berteriak kencang.
Kaki nya mulai letih usai berjalan melewati tikungan yang serasa tak berakhir.
Mungkin hampir setengah jam lama nya ia berjalan melalui taman labirin itu. Dan ia mulai tak sabar sekaligus juga cemas. Cemas bila ia tak bisa keluar dari taman labirin yang menyesatkan ini.
Emma menengadahkan kepala nya ke atas. Hanya bulan separo yang bisa dilihat nya menghiasi langit malam saat ini.
Tak ada awan. Tak ada pula bintang-bintang.
Bulan itu tampak bersinar sendiri dengan cahaya nya yang redup di malam yang kelewat sepi.
Melihat bulan tersebut, Emma pun jadi teringat pada diri nya sendiri.
Seorang diri melewati taman labirin. Kedinginan karena dibelai oleh hembusan angin malam. Dan juga perasaan jerih usai berjalan di jalan yang tak jelas mana akhir nya.
"Sialan! Siapa sih yang iseng banget ngerjain aku! Ini udah kejadian dua kali nih kayak gini!" Emma merutuk kesal. Ditendangnya sebuah kerikil yang menghadang kaki nya saat berjalan.
"Wooyy! Jangan cemen deh! Sini muncul dan kita berantem deh! Bernai nga main petak umpet gak jelas!" Teriak Emma pada udara kosong di depan nya.
Tak berselang lama kemudian, sebuah hembusan angin pelan melewati Emma. Dalam hembusan angin itu, Emma juga menangkap suara lain bersama nya.
Suara yang mirip seperti desa han.
'Syaahhhh....'
Bulu roma Emma bergidik tiba-tiba. Tanpa sadar ia pun mengusap lengan nya berkali-kali.
"Sialan! Ngapain yang muncul malah suara serem kayak gitu sih!" Gumam Emma mulai merasa kalut.
Dilayangkan nya pandangan ke sekitar. Untuk melihat jika saja muncul penampakan seram yang sangat tak ingin dilihat nya saat ini.
'Syahhh...' suara desa han itu kembali terdengar bersamaan dengan hembusan angin yang juga kembali melewati Emma.
Merasa takut, Emma pun melanjutkan kembali jalan nya dengan bergegas. Ia ingin pergi sejauh mungkin dari sumber suara desa han yang meremangkan bulu roma nya itu.
'syaahhh....'
"Astaghfirullah! Allahu akbar!"
Berbagai lafaz dzikir pun keluar dari mulut Emma. Selagi gadis itu melangkah cepat melewati taman labirin yang sunyi.
Belok kanan. Belok kiri.
Entah sudah berapa belokan Emma lewati. Namun akhir dari labirin tersebut belum juga tampak di mata nya.
Perasaan kalut mulai merajah di benak Emma. Dan ia dibuat terkejut dengan kemunculan sosok hantu perempuan yang pernah menerornya di villa Grandhill dulu.
Hantu dari Anak perempuan remaja dnegan rambut menjuntai berantakan melewati bahu. Serta mata merah yang bisa dilihat Emma di sela helaian rambut yang menutupi wajah nya yang pucat.
"Aaaarghh!!" Terkejut, Emma pun berbelok ke tikungan yang lain.
Kali ini gadis itu berlari sekencang yang ia bisa. Jantung nya berpacu dengan rasa takut yang mengancam benak dan pikiran nya.
Sebuah sulur tanaman merambat yang tumbuh pada salah satu sisi dinding di labirin itu tiba-tiba sja tumbuh memanjang dan melingkari pergelangan kaki Emma.
Tak percaya dengan kejadian ganjil tersebut, Emma berusaha melepas belitan dari sulur tanaman tersebut sedapat yang ia bisa.
Tak ingin bila sosok hantu yang diyakini nya sebagai Celia, berhasil mengejar gadis itu dan menangkap nya.
"Eerrggghhh! Susah banget sih!" Emma menarik sulur sekuat yang ia bisa. Namun sulur tersebut membelit kaki nya dengan begitu kuat hingga ia kesulitan untuk melepas nya.
Emma lalu melihat sebuah batu dengan ujung yang cukup runcing tak jauh di depan nya.
Ia pun terpikirkan untuk menggunakan batu tersebut untuk membuka belitan sulur tanaman yang menjerat kaki nya.
Srak. Srak. Srak.
Begitu kiranya suara gesekan batu pada sulur tanaman di kaki Emma.
'Syaahhhhh..'
Kembali, desa han menyeramkan itu mengumandang di dekat telinga Emma.
Seketika Emma pun menoleh ke belakang. Dan ia dibuat kalut saat melihat sosok hantu Celia sedang melayang ke arah nya.
Kedua mata Emma membulat lebar. Ketakutan itu kembali menghimpit dada gadis tersebut. Emma mempercepat gesekan pada sulur tanaman di kaki nya.
Dan syukurlah! Sulur tanaman tersebut akhirnya bisa terlepas juga. Meski pun kaki Emma juga harus menerima luka lecet akibat gesekan tak disengaja saat melepas sulur tanaman tersebut.
Tapi Emma tak memikirkan kaki nya yang lecet dan berdarah.
Yang ada di pikiran nya saat itu hanya lah lari dan lari menjauhi hantu Celia.
Gabrukk!
"Aduh!"
Emma terjatuh tak sengaja. Kini tangan dan dagu nya pun ikut lecet dan berdarah karena terantuk kerikil di atas jalan tempat nya terjatuh sesaat tadi.
Akan tetapi lagi-lagi Emma tak menghiraukan rasa sakit yang dialami nya. Gadis itu kembali bangkit dan berlari sekencang-kencang nya.
"Hah! Hah! Hah! Hah!"
Emma merasa dada nya mulai sesak kehabisan napas.
Entah sudah berapa lama ia berlari. Namun hantu Celia selalu saja berhasil menemukan nya lagi dan lagi.
Emma mulai dilanda oleh rasa putus asa. Ia ingin menyerah dan menghadapi hantu Celia saja pada akhirnya.
Dan pemikiran itu memang sungguh benar terjadi. Di saat Emma kembali terjatuh untuk ke sekian kali.
Gabruk!
"Aargh!! Hah! Hah! Hah!"
Lutut Emma terasa letih sangat. Ia bahkan hampir tak bisa merasakan telapak kaki nya lagi saar ia menapak.
Keletihan itu benar-benar telah menguras daya yang tersisa dari diri Emma. Sehingga bahkan untuk bangun dari posisi tersungkurnya pun Emma tak lagi mampu.
'Syaahhhh..' suara desa han kembali terdengar dekat di telinga Emma.
Emma memejamkan kedua mata nya. Pasrah atas apapun yang akan dilakukan oleh makhluk halus tersebut terhadap nya.
***