Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Rudolf



Di saat Emma hampir berputus asa atas hidup nya yang akan segera berakhir di tangan hantu Celia, tiba-tiba saja dinding tanaman di seberang nya rubuh sebagian.


Tak hanya itu. Seorang lelaki juga terlempar keluar dari lubang di dinding tersebut. Ia terjatuh tepat di samping Emma.


Seketika itu juga perhatian Emma dan Hantu Celia pun tertuju pada lelaki yang kini berusaha untuk bangkit kembali.


"Uhuk! Uhuk! Aduh! Sial benar sih! Bisa-bisa nya kakek itu meninju ku sekencang tadi! Aku sampai terlempar ke gelembung mimpi yang berbeda!" Ujar lelaki pendatang itu sambil membersihkan daun dan ranting yang menempel pada baju dan celana nya.


Emma memperhatikan penampilan lelaki tersebut. Dan ia tak bisa menghentikan rona merah menjalar di wajah nya oleh sebab ketampanan lelaki itu yang sungguh teramat rupawan.


Lelaki itu memiliki rambut pirang dengan mata berwarna hazel kekuningan. Rambut nya sepanjang bahu dengan tubuh yang tinggi dan juga atletis.


Emma mengamati terdapat kantong serut berwarna cokelat yang tergantung pada ikat pinggang lelaki tersebut. Entah apa isi nya, yang jelas Emma cukup tertarik untuk melihat isi nya usai dilihat nya lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung serut tersebut.


Kenapa Emma tertarik pada kantung serut tersebut? Karena dari dalam kantung berukuran kecil itu, sang lelaki pendatang bisa mengeluarkan benda berukuran besar yang mirip seperti papan selancar.


Emma lalu melihat saat lelaki itu meletakkan papan selancar nya ke atas tanah. Ia mengucapkan kalimat yang tak Emma mengerti sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke arah papan tersebut. Dan, Voila! Papan itu pun bisa melayang tiba-tiba sekitar 20 senti meter di atas permukaan tanah.


Emma lalu melihat saat lelaki tersebut hendak menaiki papan selancar nya. Dan tahulah Emma, kalau lelaki itu akan segera berlalu pergi dari tempat itu.


Dengan kekuatan yang entah datang nya dari mana, Emma buru-buru bangkit, berlari dan menahan lengan baju lelaki pendatang tersebut.


"Tunggu! Tolong aku! Hantu itu akan membunuh ku!" Jerit Emma meminta tolong pada sang pendatang.


Baru saat itulah pendatang itu menengok dan tersadar kalau ia tak hanya sendirian di taman labirin tempat nya berada saat ini.


Pandangan lelaki itu lalu menoleh ke arah hantu Celia yang menatap nya garang. Sebelum akhirnya kembali pada Emma yang menatap nya penuh permohonan.


"Oh.. ternyata ini gelembung mimpi hantu ya.." Emma mendengar lelaki tiu bergumam pelan.


"Maaf, Nona Cantik. Saat ini aku sedang terburu-buru. Aku harus segera menemukan kristal Amora sebelum fajar berganti. Jika tidak, nyawa ku sendiri pun akan sama bahaya nya dengan mu!" Elak sang pendatang dengan pandangan meminta maaf kepada Emma.


Hati Emma sempat mencelos. Namun ia tak lantas melepaskan pegangan nya pada lengan baju sang pendatang.


"Jangan begitu, Kak! Tolong lah aku! Aku diseret oleh hantu ini ke Dunia Mimpi yang aneh ini! Dan bila dia berhasil membunuh ku, dia nanti akan menguasai tubuh ku! Kasihani lah ibu ku, Tuan! Bagaimana nanti nasib nya bila anak nya nanti dirasuki oleh setan jahat ini?!" Emma menyampaikan rajukan nya pada sang pendatang.


Dengan sengaja, Emma membuat wajah nya terlihat memelas dan semenyedihkan mungkin.


Pandangan sang lelaki kembali menengok ke arah hantu Celia yang menatap nya garang.


Tahu kalau lelaki di depan nya itu akan menjadi penghalang bagi nya untuk membunuh Emma, hantu Celia pun segera memperingatkan nya.


"Kau jangan ikut campur, bang sat! Ini urusan ku dengan wanita itu!" Ancam Celia pada lelaki pendatang tersebut.


Sesuatu berkilat di mata sang pemuda. Ia yang tadi nya hendak mengacuhkan Emma pun akhirnya memutuskan untuk berbalik dan menghadap ke hantu Celia.


"Ada yang perlu kuluruskan di sini ya!" Ujar sang pendatang dengan sikap serius nya.


"Pertama, aku ini bukan kakak mu, ya, Cantik! Jadi jangan bersikap terlalu akrab memanggil ku, Kakak!" Ucap lelaki itu kepada Emma.


"Kedua, aku paling tak suka dengan orang yang berkata kasar dan mengumpati orang-orang dengan panggilan menghina! Oh, maaf! Aku lupa kalau kau itu hantu, Nona Hantu!" Ujar lelaki itu kembali.


Kali ini ia mengatakannya kepada hantu Celia. Ucapan yang jelas mengandung ejekan pada sang hantu.


"Kau!!! Awas kau, bang sat!"


Tanpa babibu lagi, Hantu Celia pun menyerang sang lelaki pendatang dengan julurna tangan hitam nya yang bisa ia panjangkan sekehendak hati.


Akan tetapi lelaki itu berhasil melompat ke atas papan selancar nya tepat waktu. Dan ia langsung melesat terbang beberapa meter ke atas tanah.


"Awas kau!" Hantu Celia menjerit mengancam sang pemuda.


Dan dalam sekejap, hantu Celia pun ikut melesat terbang ke atas tanah tanpa menggunakan benda apapun. Ia melayang begitu saja.


"Ooh.. rupa-rupa nya kau ini hantu yang cukup berilmu juga ya. Seperti nya kau telah cukup lama menjadi hantu. Baiklah. Tak apa-apa. Aku akan mengakhiri duel ini sebelum kau bisa menjejakkan kaki mu ke tanah lagi. Camkan itu, Nona Hantu!" Ujar sang lelaki pendatang dengan sikap pongah.


Beberapa menit berikut nya, Emma menyaksikan pertarungan keduanya dari bawah. Ia terkesima saat melihat sang lelaki begitu tangkas dan gesit menghindari serangan tangan panjang hantu Celia.


Emma saja sudah bergidik ngeri saat membayangkan bila ia lah yang melayang di atas papan seluncur milik pemuda itu. Emma memang takut ketinggian.


Jangankan bisa bertarung seperti lelaki itu, untuk tetap berdiri di atas papan seluncur nya pun sudah jadi kemampuan hebat menurut Emma!


"Hahaha!! Apa yang kau pikirkan, Nona di bawah sana! Kau bilang kau takut ketinggian?! Ahahahhaha!"


Tiba-tiba saja Emma mendengar lelaki pendatang di atas langit itu berbicara kepada nya.


Dan Emma pun kembali teringat kalau semua orang dan juga hantu seperti nya bisa mendengar suara pikiran nya di dunia Mimpi ini.


'Ya ampun! Lelaki itu cukup menyebalkan juga ya!' umpat Emma dengan kepala tertunduk, menahan malu.


"Diam kau bang sat! Jangan main-main! Akan ku lenyapkan juga kau dari dunia ini! Jadi kau tak akan lagi bisa berpikir untuk mencampuri urusan orang lain!" Teriak hantu Celia cukup lancang.


"Dih. Kau tahu juga ya kalau aku memang masih bermain-main dengan mu, Nona Hantu! Baiklah! Sekarang aku akan bertarung dengan serius! Kau, bersiap lah ya!" Ujar sang pendatang lelaki.


Kali ini dengan pandangan yang lebih serius.


Tak berselang lama, lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung serut di pinggang nya.


Ia kemudian menebar sesuatu yang berbentuk serbuk mengkilap di udara di sekitar hantu Celia.


Tanpa aba-aba, hantu Cekia pun menjerit kesakitan saat tubuh nya tersentuh oleh serbuk tersebut. Ia bahkan tak bisa membuat tubuh nya tetap melayang di udara. Sehingga dengan cepat tubuh nya terjatuh ke atas tanah.


BRAK!


Hantu Celia mengaduh kesakitan.


Jangan kan Celia, Emma saja merasa ngeri saat melihat tubuh Celia terjatuh dari ketinggian lima meter sesaat tadi. Rasanya pastilah sakit sekali.


"Nah, sampai sini saja ya, Nona Hantu. Kali ini aku akan memaafkan mu! Tapi sebagai pelajaran untuk mu, kau harus menjaga mulut mu itu dari berkata-kata kasar, oke! Anak perempuan tak baik bersikap kasar. Nanti bisa jauh lho dari jodoh nya!" Ujar sang pendatang menasihati hantu Celia.


Celia tak membalas ucapan lelaki tersebut. Ia masih saja memberinya tatapan garang.


"Dan kau, Nona. Mungkin sebaik nya aku mengantarkan mu ke tempat yang aman saja ya. Jika tidak, kau mestilah akan di bully lagi oleh nona hantu ini!" Ujar lelaki itu kepada Emma.


Saat itu juga wajah Emma berseri-seri.


"Terima kasih, Kakak, atas kebaikan mu!" Seru Emma dengan tulus.


"Haishh! Sudah kubilang kan kalau aku ini bukan kakak mu! Jadi jangan memanggil ku Kakak, oke!" Pinta sang pemuda dengan nada memaksa.


"Lalu aku harus memanggil mu apa, Kak? Eh, Tuan?" Tanya Emma kebingungan.


"Duh! Jangan Tuan juga lah! Panggil saja aku Rudolf! Itu panggilan orang-prang kepada ku!" Ucap sang pemuda memperkenalkan diri.


***