Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Promosi Genre TEEN



Dear, semua..


alhamdulillah novel horor ini akhirnya Tamat juga ya..


Sekarang mel mau promosi novel mel lain nya.


Bisa cek bio. atau berikut mel sertakan cuplikan episode awal nya.


Judul novel: Cinta dari Luar Angkasa


bab. 1. Nura Kecil Nura. Anak perempuan berusia tujuh tahun itu kini tengah merajuk pada Emak. Ia kesal karena Tio, adik bungsunya dibelikan sepatu baru sementara ia hanya mendapatkan sepatu bekas Kak Eci.


Nura semakin tambah kesal ketika Kak Eci mengatakan padanya bahwa ia pun mendapatkan sepatu itu dari Kak Lili. Itu berarti usia sepatu itu kini sudah tiga generasi di tangan Nura.


Entah jika sebelum Kak Lili pun ada orang lain yang sudah memakainya. Mungkin bisa empat, lima generasi atau lebih tua lagi usia sepatu itu.


'uuuuuggghhh!!! Sebal!! Seball!' begitu rutuk Nura dalam hati.


Kenapa hanya dalam hati? Karena Nura tak memiliki keberanian untuk terus terang menyatakan ketidaksukaan nya pada sepatu butut itu.


Bisa-bisa Emak akan memarahinya habis-habisan. Mengatakan bahwa ia tidak bersyukur-lah. Atau apa-lah. Padahal kan ia sudah mengucap 'alhamdulillah'.


Coba kalau tidak bersyukur, sudah tentu sedari tadi sepatu butut itu akan dibuangnya jauh-jauh.


Kini Nura bergerak mendekati Emak. Ia memijit-mijit pelan pundak Emak yang saat itu tengah menguleni tepung untuk dijadikan kue Macho. Kue bulat berisi kacang hijau dan gula putih yang bagian luarnya ditaburi wijen.


Di dekat Emak, terdapat tiga nampan kue macho yang siap untuk digoreng. Kue-kue macho itu rencananya akan Emak titipkan di kantin sekolah Kak Lili. Seperti biasanya.


Keluarga Nura memang terbilang keluarga SAS, kependekan dari keluarga sangat-Amat sederhana. Segala kebutuhan hidup tiga putri dan seorang putra di keluarga itu dipenuhi dari hasil berdagang kue-kue tradisional buatan Emak yang dititipkannya ke kantin SMP tempat Kak Lili sekolah.


Bapak sudah lama wafat. Sekitar empat bulan setelah Tio lahir, pada enam tahun yang lalu.


Sungguh. Saat itu adalah masa-masa yang sulit bagi Emak. Ditinggal mati suami pada usia 26 tahun, dan sudah menjadi tulang punggung bagi empat orang anak yang masih kecil-kecil. Itu bukanlah perkara mudah. Terlebih lagi saat itu Kak Lili sudah duduk di bangku sekolah kelas 2 SD.


Hampir saja Kak Lili putus sekolah jika saja tak ada Koh Acan, tetangga Hokian yang tinggal di sebelah rumah mereka. Koh Acan mau berbaik hati membiayai sekolah Kak Lili yang memang dikenal di sekolah sebagai anak berprestasi. Itu pun dengan syarat, sepulang sekolah Kak Lili harus membantu berjualan di market kelontong Koh Acan.


Biasanya Kak Lili yang saat itu berumur Tujuh tahun ditugaskan untuk menimbang dan membungkus tepung terigu menjadi kemasan perapatan. Sebuah pekerjaan yang cukup sulit untuk anak usia tujuh tahun.


Tapi upah yang didapat oleh Kak Lili setiap bulannya pun terbilang cukup untuk membantu mengepulkan asap dapur sehari-hari. Padahal Koh Acan sudah begitu baik membiayai sekolahnya.


Dan terkadang, ketika pekerjaannya telah selesai, Kak Lili pun dioleh-olehi sekilo tepung terigu dan se per-empat gula untuk dibawa pulang ke rumah. Sungguh. Tetangga yang sangat baik.


Saat Kak Lili mulai bekerja, Kak Eci baru berumur lima tahun. Meski usianya terbilang muda, Kak Eci sudah ditugaskan Emak untuk menjaga Nura. Sementara Emak membawa serta Tio, balita empat bulannya untuk kuli mencuci di rumah orang gedong.


Nura yang saat itu berumur 1 setengah tahun terbilang adik yang cukup rewel. Kemana pun Eci pergi, Nura selalu ingin ikut. Bahkan untuk ke WC umum yang letaknya di atas sungai sekali pun, Nura juga ingin ikut.


Berbeda sekali dengan Nura saat ini. Saat ini Nura selalu sebal dengan Kak Eci, lantaran ia sering dijahili oleh kakak perempuannya itu.


Lihat saja saat ini. Ketika Nura tengah bersiap-siap untuk membujuk Emak agar membelikannya sepatu baru seperti yang dibelikannya untuk Tio, Kak Eci malah iseng menjahilinya dengan berkata,


"Mak, Nura katanya mau bilang 'sesuatu'..." Kata Kak Eci dengan senyum jahilnya.


"Mau bicara apa, Nura?" tanya Emak, dengan perhatian masih fokus pada menguleni tepung macho.


Nura yang ditanya tiba-tiba seperti itu akhirnya malah gelagapan.


"Eh! itu Mak... mmm..."


"Apa?" tanya Emak lagi.


Kak Eci tersenyum lebar melihat ekspresi Nura. Nura sendiri merasa makin sebal pada kakaknya itu. Ia lalu memelototi Kak Eci, yang selanjutnya dibalas pula dengan pelototan.


Merasa pertanyaannya lama tak dijawab, Emak pun bertanya lagi.


"Ada apa Nura?"


"ii...itu Mak.. tentang... se.sepatu!"


"Sepatu? kenapa?"


Nura makin gelagapan. Dan ini membuat Kak Eci makin tersenyum lebar. Akhirnya Kak Eci pun tergerak untuk 'membantu' adiknya itu. Kak Eci berkata,


"Nura katanya mau bilang "makasih" Mak untuk sepatunya. Dia seneeeeeeeeeng banget dapet sepatu itu."


Nura melotot kaget ketika mendengar ucapan Kak Eci itu. Gagal sudah rencananya untuk membujuk Emak agar membelikannya sepatu baru. Gagal total. Tal. Tal. Tal.. Nura kemudian makin melotot ketika mendengar ucapan Kak Eci berikutnya,


"Katanya sepatu itu juga bikin dia inget selalu sama keluarga walaupun dia di sekolah, Mak. Jadi Nura bakal lebih semangat lagi belajarnya. Gitu kan, Dek?"


Kali ini Kak Eci sudah memancing emosi Nura ketika ia mengedipkan sebelah matanya. Seolah-olah kedipan itu mengatakan bahwa Kak Eci lagi-lagi 'menang' darinya.


"Begitu, Nura?" tanya Emak menegaskan.


Dan Nura yang tak punya keberanian untuk membantah pun akhirnya mengiyakan saja pertanyaan Emak. Dalam hatinya ia merasa geram sekali pada keisengan Kak Eci.


'Nyebelin! Nyebelin ! Nyebelin!' rutuk Nura, lagi-lagi hanya dalam hati.


Ia kemudian masuk ke kamar untuk menyiapkan peralatan sekolah. Sambil memasukkan buku-buku ke dalam tas, ia merutuki Kak Eci berkali-kali. Nura baru berhenti merutuk ketika Emak yang ada di dapur berteriak padanya.


"Nura, ayo bergegas berangkat. Sudah jam berapa ini?" ucap Emak tiba-tiba.


Nura kemudian melihat jam yang terpajang di dinding rumahnya. Ia kaget ketika melihat bahwa saat itu sudah hampir jam tujuh.


"Ah!! jam tujuh, Mak!" jerit Nura.


"Aiissshh! gak perlu teriak segala, Nur. berisik. Sudah cepat berangkat, sana!"


"Kak Eci mana, Mak?"


"Kak Eci sudah berangkat tadi."


"hah?!"


Nura pun bergegas mencium punggung tangan Emak lalu melangkah keluar rumah. Di samping pintu, sepatu 'butut' barunya sudah tergeletak rapih siap dipakai.


Nura yang tak punya pilihan selain menggunakan sepatu itu, karena sepatu lamanya hilang sebelah digondol tikus, akhirnya meraih sepatu itu untuk dipakainya.


Dalam hatinya ia kembali ingat pada kekesalannya lantaran tak mendapat sepatu baru yang benar-benar baru. Ia harus bersyukur dengan hanya mendapat sepatu baru yang setelah diciumnya,


"Uughh! bau kamper!!" Keluh Nura.


Dan Emak yang masih bisa mendengar keluhan Nura pun bertanya dari dalam rumah.


"Kenapa, Nur?"


"Gak apa-apa, Mak." Jawab Nura terburu-buru.


Setelah kedua sepatu itu terpasang rapih di kakinya, Nura pun kemudian melangkah cepat-cepat menuju sekolah.


"Nura berangkat ya, Mak. Assalamu'alaikum!"


"wa'alaikum salam warahmatullah..."


Di dapur, ketika dirasa Nura sudah cukup jauh dari rumah, Emak menghentikan kegiatannya sejenak.


Emak sebenarnya tahu bahwa tadi Nura ingin minta sepatu baru. Ibu mana yang tidak bisa membaca isyarat tubuh anaknya ketika menginginkan atau tidak menyukai sesuatu. Emak jelas tahu.


Tapi, oleh karena keterbatasan uang selama semester akhir sekolah ini, juga karena meningkatnya kebutuhan hidup dengan Tio yang juga akan memasuki sekolah pada bulan depan, Emak pun akhirnya mesti menahan diri dan berpura-pura tak mengerti keinginan Nura.


Emak sebenarnya sedih sekali, tadi. Tapi Emak harus menegarkan dirinya untuk mendidik putra-putrinya agar bisa hidup hemat dan prihatin dengan kondisi keluarga.


Akhirnya, Emak kembali menekuni pekerjaannya membuat kue Macho. Ia harap, bulan depan ada uang lebih yang cukup untuk dibelikannya sepatu baru bagi Nura.


"Duh Gusti, mampukan hamba mengais rizki untuk anak-anak hamba. Aamiin," Emak melirihkan sebait doa.


***