
Begitu hitungan sudha mencapai ke sepuluh, Emma langsung melesat ke dapur.
Akan tetapi karena suara klik klak kaki nya bergema cukup bising. Akhirnya Emma pun memelankan langkah kaki nya.
Sesampai nya di dapur, Emma langsung mengambil kantong plastik yang terselip di kolong kulkas. Mungkin bekas terjatuh. Lalu mengambil berkeping-keping cookies untuk tambahan bekal perjalanan nya saat kabur.
Setelah itu, Emma langsung pergi menuju garasi mobil. Akan tetapi karena letak garasi ada di luar villa, akhirnya emma pun tak bisa menemukan cara untuk bisa keluar. Secara, ukuran tubuh nya memang kecil seperti boneka pada umum nya.
Emma lalu memikirkan cara untuk bisa keluar dari rumah.
"Oh ya! Aku baru ingat! Bukan kah di bagian bawah dari pintu belakang villa ada bagian seperti pintu kecil? Seperti pintu untuk anjing atau kucing.. mungkin aku bisa keluar lewat sana?" Gumam Emma bersemangat.
Akhirnya Emma kembali berjalan. Kali ini tujuan nya adalah pintu belakang villa yang langsung mengarah ke kolam buatan.
Sesekali Emma menghisap sari cookies yang ia bawa untuk me recharge energi spirit nya. Sampai ketika ia sudah tiba di pintu itu, ternyata pintu kecil yang berada di bagian bawah pintu itu tak bisa pula ia buka.
Emma berusaha mendorong nya sekiat tenaga, namun seperti nya pintu itu telah dilem keras.
Pasrah atas nasib nya yang kurang beruntung, Emma pun terduduk lemas dan menyender ke daun pintu.
Boneka Emma lalu kembali menghabiskan sisa bekal nya yang tinggal tiga keping lagi saja. Sebelum akhirnya ia kembali bangkit ke ruang TV untuk menemukan boneka Sella.
Emma menyadari, kalau ia bekum bisa kabur dari Villa Grandhill pada malam ini.
"Besok.. aku akan memastikan kalau besok aku bisa pergi dari villa ini. Ya ampun.. gimana kabar tubuh manusia ku ya? Dan kenapa juga hantu Celia gak gangguin aku ya? Dia udah tahu juga kan kalau aku menjadi boneka sekarang ini?" Emma bergumam pelan.
"Ahh!"
Sebuah prasangka pun terbetik di beklnak Emma.
"Jangan-jangan sekarang hantu Celia udah merasuki tubuh manusia ku?! Maka nya aku dipaksa jadi boneka arwah, biar aku gak bisa bebas kembali ke tubuh manusia ku lagi. Gitu kali ya?!" Emma masih sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Sampai kemudian sebuah tepukan di pundak telah mengagetkan Emma.
Pluk.
"Aaargghhh!!" Emma berteriak cukup kencang.
"Qiqiqiqiii!! Kakak lucu banget! Ketakutan gitu!"
Entah sejak kapan, boneka Cello telah berdiri di belakang boneka Emma.
"Cello! Kamu ngagetin Kakak aja! Dari mana aja kamu?" Tanya boneka Emma.
"Aku nge game lah kak! Dan main percobaan.." jawab Cello ambigu.
"Percobaan apa sih?" Tanya Emma penasaran, saat ia kenyadari kalau Cello sengaja menyembunyikan kegiatan nya tadi dari Emma.
"Ada deh.. Kakak Cantik dari mana? Terus, Sella nya mana?" Tanya Cello sambil melongok ke sekitar boneka Emma.
"Kami lagi main petak umpet, tadi. Kakak yang jaga nya," jawab Emma.
"Kakak Cantik!" Emma kembali menoleh ke samping. Dan ia pun melihat sosok boneka Sella muncul dari arah pintu masuk ruang tivi.
"Sella.."
"Kakak ke mana aja? Sella cariin gak ketemu-temu! Sella sedih main sendirian.. dan Cello! Kamu juga ke mana aja sih?" Tanya boneka Sella merajuk.
"Ada lah," jawab Cello tak jujur.
"Kakak Cantik lama banget nyariin Sella nya. Padahal Ella ngumpet nya di lemari bawah tangga lho! Gak jauh kan dari tempat Kakak Cantik jaga tadi?" Boneka Sella pun curhat.
"Oo.. di situ toh.. wahh.. Kakak gak tahu, Sell. Maaf ya. Berarti kamu hebat dong sembunyi nya. Sampai-sampai Kakak aja kesusahan nyari kamu nya!" Sahut Emma menghibur Sella.
"Oh ya? yeay! Sella hebat!" Boneka Sella langsung melonjak kegirangan.
"Cih.. gitu aja udah senang! Aku dong, tadi habis main seru!" Boneka Cello gantian pamer.
"Memang nya kamu habis dari mana, Cell? Tadi aku sama Kakak Cantik susul kamu ke dapur, tapi kamu nya gak ada," ujar Sella.
"Aku itu tadi habis main lempar panah tahu..ehh!" Boneka Cello langsung menutup mulut boneka nya dengan tangan.
Emma mencurigai gelagat boneka arwah tersebut. Akhirnya Emma pun kembali melontarkan pancingan kepada Cello.
"Lempar panah? Ah.. itu sih gak seru! Masih seru main petak umpet lah! Ya kan, Sell?!" Emma meminta dukungan kepada Sella yang langsung segera ia dapatkan.
"Iya. Gak seru. Apa seru nya coba?" Ledek boneka Sella.
"Seru!" Boneka Cello meraung kesal.
"Enggak!" Dan boneka Sella pun menentang pemikiran saudara kembar nya itu.
"Seru, Sella! Ayo deh sini, ku tunjukin ke kalian. Betapa seru nya main lempar panah!" Ujar boneka Cello langsung berbalik pergi.
Dalam hati nya, Emma langsung berseru, 'Yes! Unpan ku berhasil! Aku ingin tahu. Apa sebenarnya yang disembunyikan sama bocah tengil ini?'
Selanjutnya ketiga boneka arwah itu pun berjalan klik. Klak. Dengan Boneka Cello sebagai pemandu jalan.
Cello lalu mengajak ketiga nya menuju kamar mandi di kamar tidur Sofia. Di sana, Cello kemudian naik ke atas toilet jongkok, menarik salah satu tombol yang tersembunyi di belakang toilet.
Dan, voila! Sebuah keajaiban pun terjadi.
Dinding tempat lemari kabinet kecil bergantung lalu bergeser membuka ke dalam. Dan Emma serta Sella lalu melihat adanya jalan lorong temaram yang memanjang hingga ke kejauhan.
"Dari mana kau bisa menemukan jalan ajaib ini, Cell?" Tanya Sella yang ternganga takjub.
"Qiqiqi.. ada deh.. ayo masuk! Akan ku tunjukkan pada kalian, betapa seru nya permainan melempar panah itu! Main petak umpet sih gak seru!" Ujar boneka Cello dengan sikap kelewat pongah.
Ketiga boneka arwah itu pun lalu memasuki jalan lorong rahasia tersebut.
Boneka Cello berjalan paling depan sebagai pemandu. Boneka Sella berjalan di bagian tengah. Dan boneka Emma berjalan paling akhir.
Berjalan di posisi paling belakang, Emma merasa dada nya berdentum kencang. walaupun itu jeas hal yang tak mungkin terjadi. Mengingat kini ia hanyalah sesosok boneka.
Tapi inti nya, sejak Emma mulai menjejakkan kaki nya menelusuri lorong ini, ingatan nya kembali mengajak Emma pada lorong panjang yang menuju gudang rahasia tempat ia disekap, dulu.
'Bagaimana ini? kalau ujung dari lorong panjang ini adalah gudang rahasia itu, maka matilah aku! aku gak mau balik lagi ke tempat itu!' pikiran Emma pun menjadi kalang kabut.
Sementara itu, boneka Cello terus memandu kedua boneka lain nya untuk terus maju.
Langkah ketiga boneka itu pun bergaung nyaring di lorong yang panjang nan lagi pengap itu.
'Klik. klak. klik. klak.'
***