
Pagi hari nya, Emma diajak makan bersama lagi dengan Nyonya Sofia dan juga pegawai Villa Grandhill yang lain.
Tak memiliki alasan untuk menolak, akhirnya Emma pun ikut makan bersama di meja dengan keempat orang lain nya.
Ketika menyantap hidangan, tak ada satu pun orang yang berbicara. Baru ketika Nyonya Sofia selesai makan, semua pegawai yang lain ikut berhenti makan segera setelah nya. Begitu lah yang Emma pantau.
Saat itu lah baru perbincangan di meja makan bisa terjadi.
"Nona Emma.. bagaimana dengan anak-anak? Mereka tidak menyusahkan mu, bukan?" Tanya Sofia dengan senyum tipis di wajah nya.
Emma yang baru selesai menenggak air lalu menjawab.
"Anak-anak berlaku baik, Nyonya. Hanya saja.. ada yang ingin saya tanyakan tentang mereka," ungkap Emma dengan nada hati-hati.
Sofia lalu menunjukkan gestur tangan untuk Emma menahan diri dari melanjutkan kalimat nya.
"Kita bicarakan itu selesai makan di ruang tivi," titah Sofia kemudian.
"Baik, Nyonya," sahut Emma.
Selanjutnya, Sofia terlebih dulu bangkit dan berjalan menuju ruang tivi. Sementara Emma bergegas mengikuti nya dari belakang.
Di ruang tivi, kini Emma dan Sofia pun duduk berhadapan.
"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan, Emm? Bergegaslah. Saya harus berangkat lima belas menit lagi," titah Sofia kemudian.
"Itu, Bu. Saya mau tanya. Biasanya anak-anak terbangun lama atau hanya sebentar saja ya?" Tanya Emma.
"Kenapa kamu menanyakan nya?"
"Soal nya.. semalam anak-anak cuma bangun tak lebih dari satu jam saja. Selebih nya, mereka tidur sepanjang malam," papar Emma menerangkan.
"Oh begitu. Itu sudah biasa terjadi. Jam aktif mereka memang tak menentu. Bisa hanya hitungan menit saja. Atau bisa juga sepanjang malam mereka terjaga," jawab Sofia.
"Yang penting, kamu menemani mereka bermain saat mereka terbangun. Dan juga memberi mereka makan atau cemilan juga," imbuh Sofia lebih lanjut.
"Baik, Nyonya," jawab Emma segera.
"Sudah itu saja? Kalau gitu, saya berangkat dulu ya, Emm. Tolong jaga anak-anak. Tetap sodori mereka makanan meski mereka dalam posisi tidur. Dan lap juga tubuh mereka," titah Sofia lebih lanjut.
"Baik, Nyonya," sahut Emma singkat.
Sofia kemudian berdiri. Ia menerima tas tangan yang disodorkan Bibi Hara kepada nya.
Selanjutnya, tanpa berkata apa-apa lagi, Sofia pun pergi menuju luar villa untuk kembali bekerja di kota.
"Neng Emma. Saya mau rapih rumah dulu ya. Kalau mau ambil makanan untuk anak-anak, Chef Kiman sudah menyiapkan nya di dapur. Mau bibi ambilkan atau..?" Ujar Bibi Hara.
"Biar Emma saja yang ambil, Bi. Bibi gak apa-apa lanjut kerjain tugas bibi," ujar Emma terburu-buru.
"Baiklah. Kalau gitu, bibi ke atas dulu ya, Neng!" Pamit bibi Hara.
"Iya. Bi!"
Emma kemudian pergi ke dapur. Dan ia melihat Chef Kiman yang sedang menyesap minuman dari mug yang ia pegang.
Saat Emma memasuki dapur, Chef Kiman langsung melayangkan tatapan tajam nya ke arah Emma. Membuat hati gadis muda tersebut menjadi gentar akhir nya.
"Mm..ma..maaf, Pak! Anu.. saya mau ambil makanan untuk bonek..ehh, maksud saya, untuk anak-anak nya Bu Sofia!" Emma menerangkan maksud kemunculan nya di dapur.
Pak Kiman tak bergegas menjawab ucapan Emma. Lelaki itu malah menatap tajam Emma selama beberapa saat lagi.
Emma merasa tak nyaman ditatap lama oleh Pak Kiman. Sehingga ia pun kembali berkata.
"Err.. kalau makanan nya belum ada, gak apa-apa deh nanti saya balik lagi. Permisi ya, Pak!"
"Tunggu dulu!" Emma mendengar suara Pak Kiman berseru di belakang nya.
"Makanan mereka ada di situ!" Ujar Pak Kiman sambil mengedikkan dagu ke arah meja di depan nya.
Emma melihat di atas meja terdapat tudung saji. Dan sepertinya makanan yang dimaksud oleh Pak Kiman ada di balik tudung saji berwarna merah tersebut.
"Oh.. iya, Pak. Terima kasih!"
Emma lalu mendekati meja sekaligus juga Pak Kiman. Ia lalu membuka tudung saji untuk mengambil se mangkok bubur berwarna kuning.
"Emma bawa ini ya, Pak, ke atas!" Pamit Emma.
"Hmmm" gumam Pak Jiman tanpa memandang Emma lagi.
Emma pun berbalik dan hendak keluar dari dapur. Namun lagi-lagi langkah nya tertahan karena Pak Kiman yang tiba-tiba memanggil nya lagi.
"Emma bukan?" Panggil Pak Kiman.
"Ya, Pak?" Emma segera berbalik dan menghadap ke arah Pak Kiman.
Emma lalu menangkap sesuatu di mata Pak Kiman. Namun setelah ia menunggu beberapa waktu, lelaki itu tak jua mengatakan isi kepala nya.
Karena sudah tak sabar, Emma pun kembali pamit diri kepada lelaki paruh baya tersebut.
"Kalau gak ada apa-apa, Emma pergi ke atas ya, Pak. Dan terima kasih untuk ubur nya ini. Juga untuk masakan Bapak tadi pagi. Masakan Bapak enak-enak!" Emma mencoba mencairkan suasana. Sebelum akhirnya ia berlalu pergi meninggalkan Kiman di dapur sana.
Emma lalu pergi ke kamar para boneka. Begitu sampai di atas, ia tak lagi mendapati keberadaan sesajen seperti yang sempat ia lihat pagi-pagi sekali tadi.
"Assalamu'alaikum!" Sapa Emma saat memasuki kamar yang kosong orang.
Syukurlah ia tak lagi merasakan hawa dingin saat memasuki ruangan itu. Mungkin karena saat itu hari masih terang.
Emma lalu meletakkan bubur di atas meja nakas di samping kasur Sella. Kemudian mengambil air digayung.
Menit berikutnya, Emma mengelap tubuh para boneka dan menyalinkan baju keduanya.
'Aku berasa kayak lagi main boneka aja deh. Bukan nya lagi kerja. Coba mereka bisa terus diam kayak gini pas malam juga. Kerjaan ku kan jadi lebih menyenangkan!' Emma bermonolog dalam hati.
"Sella, Cello, Kakak penasaran. Kalian kalau siang memang selalu tidur ya? Atau.. apa kalian gak bisa bergerak pas hari masih terang?" Emma mengajak obrol kedua boneka yang kini duduk di depan nya.
Keduanya sudah Emma lap dan salinkan baju. Sella kini memakai dress princess berwarna kuning pucat. Sementara Cello memakai kaos dan celana dengan warna senada.
Kini Emma sedang menyisiri rambut Sella yang sepanjang pinggang.
Ia tergerak untuk mencaci kelabang rambut pirang milik boneka perempuan tersebut. Sesuatu yang ingin sekali dilakukan nya jika saja ia memiliki seorang adik perempuan.
"Wah.Sell.. rambut kamu halus banget.. rambut Kak Emma masih kalah halus nih dari rambut kamu!" Lanjut Emma berkomentar.
Tak ada sahutan atas komentar Emma barusan. Meski begitu Emma tak merasa terganggu. Justru ia lebih nyaman bila kedua boneka itu tetap diam saja.
"Nah. Sekarang, kamu gak akan ngerasa gerah deh, Sell. Wahh.. hasil cacian Kakak lumayan bagus juga, kan? Apa aku nyoba jadi hair stylist aja ya?" Emma kembali bermonolog.
"Dan kamu, Cell. Potongan rambut kamu kayaknya udah gak bisa diubah lagi deh. Tapi kamu udah keren kok!" Puji Emma dengan tulus.
"Sekarang, kalian makan dulu ya!"
Emma kemudian menyodorkan bubur yang ia ambil dari dapur ke depan mulut boneka Sella dan Cello secara bergantian.
"Oke. Baca bismillah dulu ya! Ehh.m bentar. Bentar. Kalian nanti kepanasan gak ya kalau baca bismillah? Ah tau ah. Yaudah. Biar kakak deh ya yang baca bismillah. Jadi minimal kakak dapat pahala dari nyuapin kalian!" Emma sibuk bicara seorang diri.
Dan sepanjang sisa hari itu, Emma pun menemani para boneka asuh nya melihat tivi (sebenar nya lebih ke Emma yang melihat acara berita), tidur siang (Emma benar-benar tidur siang sampai tiga jam lama nya), dan juga makan cake.
Untuk soal makanan, Emma sempat mencicipi cake yang telah ia sodorkan kepada para boneka. Dan ternyata, seperti dugaan nya. Cake itu sungguhan menjadi hambar tanpa rasa!
***