
"Iya, Kak. Itu memang hal yang wajar terjadi di Dunia Mimpi. Karena di dunia ini, semua suara bisa didengar secara gamblang. Termasuk juga dengan suara hati dan suara pikiran," papar Sella menjelaskan.
"Bagaimana bisa?!" Emma sangat bingung dengan penjelasan Sella.
'Bagaimana bisa ada dunia yang seperti ini? Apa benar dirinya masih hidup dan berada di Dunia Mimpi seperti yang disebutkan oleh Sella tadi?! Lalu, bagaimana cara nya untuk bisa kembali pulang ke dunia nyata lagi?!' lagi-lagi Emma sibuk berpikir sendiri.
"Kau tak akan pernah kembali ke dunia nyata lagi, Kak! Karena aku akan membinasakan mu di Dunia Mimpi saat ini juga. Jadi nanti aku akan menguasai tubuh mu selama nya!" Papar hantu Celia di depan Emma.
Tiba-tiba saja hantu Celia kembali melayang hingga bisa melewati Sella. Saat Emma tersadar, sayang nya ia sudah terlambat.
Hantu Celia berhasil mendarat mulus tepat di depan Emma. Kini Emma bisa melihat wajah pucat hantu yang masih terbilang muda tersebut.
Emma yang sudah berdiri sejak tadi mencoba untuk berbalik dan melarikan diri. Akan tetapi hantu Celia berhasil memanjangkan tangan nya hingga meraih kerah belakang baju yang dikenakan oleh Emma.
Tubuh Emma terangkat dari atas tanah. Untuk kemudian terlempar melayang ke sisi dinding di sebelah kanan.
BRAKK!!
Emma merasakan nyeri di sekujur tubuh nya. Ia sungguh tak habis pikir. Bisa-bisa nya di Dunia Mimpi pun ia bisa merasakan nyeri.
"Kak Celia! Jangan!"
Emma mendengar jeritan Sella. Anak asuh nya itu kembali berada di depan Emma dan menghalangi tangan panjang dari hantu Celia yang ingin kembali meraih tubuh Emma yang sudah tersungkur di atas tanah.
"Sella! Menyingkir lah!" Titah Celia mendesak sang adik.
"Jangan, Kak! Jangan berbuat jahat begini! Sella sedih lihat kakak jadi begini!" Jerit Sella di antara isak tangis nya yang mulai terdengar.
"Jangan bantah perintah Kakak, Sell! Cepat menyingkir! Atau.." ancaman Celia lalu dipotong oleh Cello.
"Ayo, Kak! Dilanjut saja! Cuekin aja Sella nya! Nanti juga dia berhenti nangis sendiri!" Ujar Cello dengan nada santai.
Anak lelaki tersebut kini sedang santai menyender ke sisi dinding yang berseberangan dengan posisi Emma.
Jadi Emma bisa melihat bahwa Cello bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkan nya tadi.
'Psiko..!' umpat Emma dalam hati.
Sedetik kemudian, Kedua netra Emma pun beradu pandang dengan kedua mata milik Cello. Emma melihat, pandangan Cello mengeras saat menatap nya.
Dan Emma pun tersadar kalau umpatan nya dalam hati tadi juga tentu lah bisa didengar pula oleh Cello dan yang lain nya.
"Sudah lah, Kak! Tolong jangan begini!" Pinta Sella mengiba-iba.
"Diam! Menyingkirlah Sell! Atau Kakak gak akan segan untuk melukai mu juga!" Ancam Celia bersungguh-sungguh.
Mendadak, suasana menjadi hening.
Sella nampak tercengang dengan apa yang baru saja didengar nya dari mulut Celia, Kakak kandung nya sendiri.
"Kakak..?" Sella memanggil Celia dengan tatapan tak percaya.
Seolah ingin membuktikan kesungguhan ucapan nya, Celia tiba-tiba saja meraih bagian depan gaun princess yang dikenakan oleh Sella. Dengan sekali sentakan, Celia pun mendorong tubuh Sella cukup keras.
"Aarghh!" Sella menjerit kesakitan.
Dan akhirnya tak ada lagi Sella yang menjadi penghalang bagi Celia untuk menyerang Emma kembali.
"Sella! Kau! Bagaimana bisa kamu menyakiti adik mu sendiri?!" Tanya Emma tak percaya.
"Ka..kak! Jangan menyakiti Kakak Cantik, Kak!" Dalam sakit nya, Sella masih juga mencegah Celia untuk menyerang Emma.
Celia lalu memberikan isyarat kepada Cello.
"Cello!" Panggil Celia pada adik lelaki nya.
"Ya, Kak?" Sahut Cello segera.
"Bawa adik mu itu pergi. Jangan biarkan dia kembali mengganggu Kakak!" Titah Celia terdengar mendesak.
"Hmm.. tak bisakah Cello melihat Kakak membinasakan Kakak Cantik terlebih dulu baru membawa Sella pergi?" Tanya Cello bernegosiasi.
"Cello! Jangan membantah! Turuti perintah Kakak sekarang juga!" Celia menjeritkan titah nya kali ini.
"Iya! Iya! Dih! Dasar Sella. Gara-gara kamu, aku jadi gak bisa nonton yang seru-seru nih!" Umpat Cello dengan suara pelan.
Sementara itu, Sella berusaha berontak saat Cello hendak menggendong nya di punggung.
"Gak mau! Tolongin Kakak Cantik, Cell! Jangan biarkan Kak Celia menyakiti nya!" Pinta Sella dengan suara yang hanya berupa lirihan pelan saat ini.
"Sudahlah, Sell. Jangan membantah ucapan Kak Celia lagi! Tidak kah kau sudah merasakan sendiri amarah Kakak Celia? Dia itu sungguhan gila untuk bisa memiliki tubuh manusia, tahu!" Cello bergaya menasihati Sella.
"Tapi, Cell. Kasihan Kakak Cantik! Dia kan gak punya salah apa-apa!" Protes Sella tak mau kalah.
"Haishh! Kau mau ku turunkan di sini saja dan membuat Kak Celia marah lagi ya?! Sudah! Diamlah! Lebih baik kita menyingkir saja dulu sampai Kak Celia menuntaskan keinginan nya itu!" Ujar Cello acuh tak acuh.
Emma lalu melihat saat dua bocah asuh nya itu mendadak menghilang. Dengan perasaan ngeri dan hampirnputus asa, Emma pun tersadar kalau sekarsng ia tak lagi memiliki siapa pun yang akan menyelamatkan nya dari hantu Celia.
Jangan kan menyelamatkan Emma. Yang membela nya pun tak ada.
Perhatian Emma kini terfokus pada tangan panjang Celia yang berwarna kehitaman. Ia langsung merasa jerih saat melihat kuku-kuku yang panjang dan lagi runcing pada kedua tangan snag hantu.
"Tu..tunggu dulu! Kenapa kita tak bisa membicarakan ini baik-baik?" Tanya Emma mencoba berbasa-basi.
Sayang nya Celia tak menggubris ucapan Emma. Dan terus melangkah mendekati gadis tersebut.
Emma semakin merasa kalau kondisi nya kian sulit. Ia bahkan kesulitan untuk menelan ludah nya sendiri.
'Ya ampun, Ma! Gimana ini?!' Emma tiba-tiba teringat pada sang ibunda.
Wajah teduh milik Retno pun terbayang-bayang di benak Emma.
Betapa banyak yang gadis itu sesali. Betapa banyak kesempatan untuk memperbaiki diri yang telah ia lewati.
Betapa ingin Emma mengulang waktu untuk bisa kembali ke masa lalu. Saat ia masih bersama dengan sang Mama. Sehingga ia bisa berbuat banyak hal baik yang belum sempat ia lakukan.
Emma menyesalkan diri nya yang sering lalai atas waktu hidup nya di dunia.
Jika saja ia bisa diberi kesempatan untuk terbebas dari kondisi sulit yang dihadapinya saat ini, Emma tentu akan merubah semua kebiasaan buruk nya semasa hidup.
Benar lah kata pepatah lama. Bahwa seseorang baru menyadari sesuatu begitu berharga, di saat ia telah kehilangan nya.
Dan Emma pun merasa menyesal karena telah lalai semasa hidup nya dulu.
'Ya Allah.. tolong beri aku kesempatan sekali lagi..!' mohon Emma pada Pencipta nya.
***