Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Siapa itu Celia?



"Cello! Itu juga gak sopan tahu!" Cecar boneka Sella kepada saudara nya.


"Iya kah? Tapi kita ciu man sama Mami?" Tanya Cello pada saudari nya.


Cello masih berdiri di atas pangkuan Emma usai ia menghadiahi nanny nya kecupan singkat.


Sementara Emma yang baru saja dici um oleh boneka Cello pun seketika mematung. Benak nya dipenuhi oleh berbagai pikiran yang melintas cepat.


'Ya ampun! Barusan itu boneka ci um aku! Itu ciu man pertama ku! Dan itu diambil sama boneka hantu pula!' jerit Emma dalam hati.


"Itu kan sama Mami. Kalau Kakak Cantik kan bukan Mami!" Ujar boneka Sella bersikukuh.


"Apa beda nya? Mereka kan sama-sama cantik! Ooh.. aku tahu!"


Tiba-tiba saja boneka Cello turun dari pangkuan Emma. Ia lalu mendekati saudari nya.


"Kamu juga mau ku ci um ya, Sel? Bilang aja gak apa-apa. Sini, ku ci um kamu juga!" Ujar boneka Cello sambil berusaha menci um boneka Sella.


"Iihh.. gak mau! Kamu tuh bau! Sella gak suka!" Tolak Sella yang langsung berdiri di atas Sofa dan berjalan mundur untuk menjauhi Cello.


"Aku gak bau!" Sanggah Cello tak terima.


"Kamu bau! Kamu kan belum mandi!" Ledek Sella.


"Kalau gitu, kamu juga bau, Sel! Soal nya kamu juga belum mandi, kan!" Tuding balik Cello.


"Enggak lah! Aku kan selalu wangi. Soal nya aku selalu pakai parfum yang dibeliin Mami!" Elak Sella beralasan.


"Aku juga pakai kok!" Cello membela diri.


"Enggak! Kamu gak pakai! Kamu bilang kalau kamu gak suka bunga melati. Kata kamu itu bunga nya anak perempuan! Aku ingat kamu bilang gitu, Cell!" Balas Sella.


"Sella!!" Cello terlihat sangat marah.


Tiba-tiba saja boneka Cello melompat tepat menimpa boneka Sella.


"Aduh! Mami! Cello main gulat lagi nih!" Boneka Sella menjerit kencang.


Emma menyaksikan dua boneka itu bergulat di atas sofa dengan mulut menganga tak percaya.


Tingkah kedua boneka itu menurut Emma tak ubah nya seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar.


"Kakak Cantik! Tolong Sella!" Jerit Sella yang kini meminta pertolongan Emma.


Emma pun tersadar dan bergegas mendekati keduanya. Dengan susah payah ia berusaha melerai belitan tangan boneka Cello pada gaun lolita yang dikenakan oleh boneka Sella.


"Su..sudah, Cello! Berhenti! Jangan bertengkar lagi!" Emma menjeritkan perintah di antara keriuhan yang diciptakan oleh dua boneka arwah tersebut.


"Gak mau! Sella nya nyebelin tuh, Kak! Dia bilang Cello bau!" Cello mengadu kepada Emma.


Sementara tangan boneka Cello masih berusaha menggapai gaun boneka Sella yang telah amburadul berantakan.


"Memang Cello bau! Sella gak mau lah dici um sama Cello yang bau!" Tukas Sella membela diri.


'Ya ampun.. rasa-rasa nya dua bocah, eh, boneka ini mirip kayak anak orang beneran ya?' Emma berkomentar dalam hati.


"Udah dong kalian.. masa sama saudara berantem sih?!" Tukas Emma menengahi kedua boneka.


Belum sampai Emma melanjutkan ucapan nya, ketika tiba-tiba terdengar suara robekan kain yang memecah suasana riuh di ruang tv saat itu.


Srettt...


"Aahhh! Mami!! Cello robekin gaun Sella lagi!! Huaa!!"


Gaun boneka Sella benar-benar telah robek akibat aksi tarik menarik antara dua boneka arwah tersebut.


Boneka Cello terlihat puas melihat hasil perbuatan nya. Sementara boneka Sella menangis kencang memecah kesunyian malam di villa Grandhill.


"Huaaaa!!!" Sella masih menjeritkan tangis.


Emma pun buru-buru meraih tubuh boneka Sella hingga berada di pangkuan nya. Diusapnya rambut boneka Sella berkali-kali.


Sampai di sini, Emma sempat menjeda kalimat nya. Ia hampir keceplosan ingin mengucapkan "Sella, Sayang..". Namun ia tersadar kalau yang ia asuh saat ini adalah dua boneka yang diinangi oleh arwah.


Serta merta kata "Sayang" itu pun kembali tertelan di tenggorokan Emma.


"Sella.. udah. Jangan nangis. Kasihan kan Mami baru tidur. Kalau nanti Mami terganggu dengar tangisan Sella, terus Mami pusing, sakit, gimana coba hayo?" Ucap Emma membujuk.


Diingatkan seperti itu, perlahan boneka Sella pun berhenti menangis. Hingga hanya terdengar suara isakan nya saja sesekali.


Emma mengamati lekat-lekat wajah porselen dari boneka Sella. Dan ia dibuat heran dan takjub karena saat Sella menangis hingga berhenti, ekspresi wajah boneka itu masih tetap sama.


Jika saja Emma tak mendengar sendiri suara jeritan Sella yang menangis, sudah tentu Emma tak akan percaya kalau boneka itu baru saja menangis.


Sang boneka lalu terdiam dan memeluk leher Emma dengan tangan mungil nya. Dan Emma dibuat terkejut dengan gestur yang menunjukkan kedekatan di antara ia dan sang boneka.


Tak lama kemudian boneka Cello mendekat. Kepadanya, Emma memberikan teguran.


"Cello.. kamu bisa bermain sepuas hati. Tapi jangan lah sampai merusak atau menyakiti hati yang lain. Tadi kamu melakukan dua kesalahan sekaligus. Ya merusak gaun Sella, sekaligus juga membuat nya bersedih," tegur Emma langsung tanpa jeda.


Boneka Cello tertunduk seperti terlihat merasa bersalah. Sebuah gumaman kecil turut keluar dari bibir nya yang selalu terlihat menyeringai.


"Sella, maaf!" Gumam Cello dengan suara kecil.


Agaknya Sella mendnegar ucapan Cello tersebut. Namun karena ia ingin membalas perlakuan Cello kepada nya, akhirnya boneka perempuan itu menyahut dengan sebuah pernyataan..


"Gak tahu Cello ngomong apa! Suara nya kecil banget!" Umpat Sella dengan suara sedang.


"Cello minta maaf, Sella!" Ucap Cello mengulang dengan suara setengah berteriak.


"Oh.. yaudah. Sella maafin! Tapi Sella mau jatah es punya Cello buat Sella hari ini,?" Sang boneka perempuan pun mengajukan syarat nya.


"Iihh.. gak mau lah! Kok gitu sih?!" Tolak Cello mentah-mentah.


"Ya iyalah! Anggap aja itu permintaan maaf Cello yang sungguh-sungguh. Kaya Mami yang suka ngebeliin Kak Celia macam-macam. Mami sering bilang maaf dan maaf ke body Kak Celia. Kamu juga pernah dengar itu kan, Lo?!" Tanya Sella minta dukungan Cello.


Mendengar penututan Sella, dahi Emma pun seketika mengerut kebingungan.


'Apa tadi kata nya? Kak Celia? Sella.. Cello dan Cellia.. nama-nama nya sangat mirip. Apa Celia itu anak nya Nyonya Sofia juga ya?' Batin Emma bergumam sendiri.


Lebih lanjut, Emma mendengarkan ucapan boneka Cello.


"Cello gak ngerti! Yang jelas, Cello gak mau jatah es punya Cello buat Sella!" Cello tetap bersikukuh dengan keinginan nya. Ia pun menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.


Sungguh sikap yang membuat Emma ingin tergelak. Karena sikap ini bisa dilihat nya pada Cello yang notabene nya adalah sesosok boneka.


"Yaudah! Kalau gitu, Sella gak mau main sama Cello lagi!" Putus Sella kemudian.


"Dan Kakak Cantik cuma boleh main sama Sella aja! Sama Cello jangan!" Imbuh Sella lebih lanjut.


"Tapi Kakak Cantik juga mau main sama Cello. Iya kan, Kak?" Tanya Cello sambil menyentuh lutut Emma.


Mata Cello menatap Emma tak berkedip. Entah kenapa, secara perlahan Emma mulai tak menganggap kedua boneka tersebut menyeramkan lagi.


"Er.. iya? Tapi, Kakak akan lebih senang kalau kalian berdua akur main nya. Bukan nya kalau main bareng-bareng nanti akan lebih seru?" Tanya Emma membujuk keduanya.


Baru juga selesai mengatakan itu, tiba-tiba saja lampu di ruangan tivi berkedap-kedip mati hidup. Kedipan nya cukup cepat dan berulang. Sehingga Emma pun seketika menengadahkan kepala nya menatap lampu hias yang tergantung di tengah ruangan.


Pernyataan Sella di dekat nya, membuat Emma langsung kembali merasa ngeri secara tiba-tiba.


Katanya, "ohh! Kak Celia akhirnya datang. Dia sepertinya setuju dengan ucapan Kakak Cantik. Jadi Kak, boleh kan Kak Celia ikut gabung sama kita? Kak Celia tanya begitu," ucap boneka Sella di dekat Emma.


Emma merasakan bulu roma nya merinding seketika. Dan ia pun kembali merasakan hawa dingin yang menyerang tengkuk belakang nya secara tiba-tiba.


Dengan keberanian yang entah didapat nya dari mana, Emma pun akhirnya bertanya.


"Celia itu, siapa ya, Sell? Memang nya.. dia sekarang ada di sini?" Tanya Emma takut-takut.


***