
"Berjalan lah di belakang ku, Emm! Dan jangan bersuara!" Bisik Susi di depan Emma.
Emma menuruti ucapan Susi. Keduanya pun berjalan keluar dari kamar dalam diam.
Begitu keluar kamar, Emma langsung disuguhi oleh pemandangan lorong panjang seperti berada dalam gua. Diameter lorong di depan nya itu cukup besar untuk dilewati oleh dua orang yang bersisian.
Tak lama setelah melewati tikungan dua kali, Susi mendorong sebuah pintu kayu hingga terbuka. Dari sana, keluarlah cahaya yang sangat terang dari lampu listrik dalam sebuah ruangan.
Masih dalam diam, Emma mengikuti langkah Susi memasuki ruangan, yang setelah ia amati ternyata adalah kamar satu ruangan milik Pak Adda.
Emma sangat mengenali ruangan ini dari berbagai pernak-pernik mistis yang ada di sekitar ruangan. Seperti nampan kecil berisi sesajen, kerangka kepala beberapa hewan, dan juga bau kemenyan yang begitu menyengat hidung.
Baru juga Emma hendak berkomentar, saat ia merasakan sentuhan jari Susi pada bibir nya.
'Di..dingin! Tangan Susi dingin banget!' komentar Emma dalam hati.
Sebuah perasaan tak enak tiba-tiba muncul di benak Emma. Namun wanita itu tak segera menyuarakan kekhawatiran nya saat itu juga.
Ini dikarenakan ia melihat Susi yang memberikan isyarat kepada nya untuk menutup mulut. Dan akhirnya, Emma pun menurut.
Emma mengalihkan kekhawatiran yang dirasakannya saat itu kepada hal lain. Dilayangkan nya pandangan ke sekitar ruangan. Khawatir bila keberadaan mereka akan tertangkap basah oleh pemilik ruangan ini.
Akan tetapi malam itu nampaknya Emma sangat beruntung.
Tak hanya ikatan pada tangan serta kaki nya yang terbuka, ternyata pelarian nya pun kemudian pun lancar jaya.
Dalam ruangan itu Emma tak mendapati keberadaan Pak Adda. Entah ke mana pengurus halaman Villa itu berada kini. Sehingga Emma pun bebas melenggang keluar kamar tanpa bertemu siapa pun jua.
Emma dan Susi berjalan menembus malam yang hening tak berangin. Keduanya kini sedang berlari di antara jalanan di pertengahan hutan.
Sebenarnya banyak yang ingin Emma tanyakan pada sosok Susi di depan nya. Namun setelah keluar dari kamar Pak Adda tadi, lagi-lagi Susi menyuruh nya untuk melanjutkan perjalanan dengan berlari sekencang-kencang nya.
"Hah! Hah! Hah!" Emma mulai merasakan sesak di bagian dada.
Telah belasan menit mereka berlari, dan ia merasa tak lagi bisa melangkah lagi.
Emma merutuki kemalasan nya untuk berolahraga rutin. Sehingga kini ia harus menerima akibat nya. Baru dua menit berlari dari gudang pun Emma sudah merasa sesak sebenar nya. Namun karena pikiran nya dipacu untuk bisa kembali kabur, Emma pun akhirnya memaksakan langkah nya untuk terus berpacu sebisa nya.
Gabruk!
Emma tersungkur jatuh ke atas tanah. Beruntung ia sigap mendaratkan tangan nya tepat di depan wajah. Jadi ia tak perlu mengalami kejadian mencium tanah.
Meski begitu, tetao saja ada harga yang harus Emma bayarkan. Dan itu termasuk luka perih di bagian lengan nya yang tak sengaja bergesekan dengan batu kerikil di jalan yang ia lewati kini.
Emma menunggu selama beberapa detik. Ia kira Susi akan sigap menolong nya kembali berdiri. Namun setelah menunggu selama lima detik, nyatanya ia tak melihat sosok Susi kembali menghampiri nya.
Emma pun menengadahkan kepala nya ke depan. Susi ternyata telah berhenti tak jauh dari nya berada kini. Meski Emma menangkap raut khawatir pada wajah kawan nya itu, ia cukup dibuat heran karena Susi tetap diam di tempat nya berdiri kini.
Merasa dirinya terlihat bodoh karena mengharapkan bantuan uluran tangan, Emma pun bergegas bangun dengan kekuatan nya sendiri.
Dikibaskan nya debu dan dedaunan yang menempel di baju piyama yang ia kenakan. Dan Emma pun menulikan hati dari rasa perih di bagian lengan.
Begitu sampai di dekat Susi, tiba-tiba saja kawan nya itu memanggil Emma untuk berhenti.
"Emma!" Panggil Susi.
"Huh? Kenapa, Sus? Ayo cepat kita lanjut lari! Aku gak apa-apa kok!" Sahut Emma sedikit ketus.
Gadis itu masih kesal dengan sikap Susi yang acuh kepada nya saat ia terjatuh sesaat tadi. Tak biasanya nya Susi seperti itu. Begitu kiranya pikir Emma.
"Tunggu sebentar! Kita istirahat dulu di sini! Mereka belum menyadari kalau kamu sudah pergi," ucap Susi dengan suara yang sangat pelan. Mirip seperti hembusan angin di telinga Emma.
Emma mengikuti ucapan Susi. Ia pun akhirnya berhenti dan duduk di pinggir jalan. Jantung nya masih berpacu cepat. Dan is pun mencoba merileksasi dada nya yang tadi sempat terasa sesak.
Emma lalu menundukkan kepala nya di antara kedua lutut. Secara perlahan napas nya pun tak lagi memburu.
Setelah beberapa menit beristirahat, Emma lalu menyadari kalau Susi sama sekali tak duduk seperti nya. Gadis itu masih berdiri di tempat nya berada sedari tadi.
Emma pun tersadar kalau Susi tak terlihat kelelahan seperti nya. Padahal mereka sama-sama baru saja berlari sepanjang jalan menuju ke sini.
"Kamu gak ngerasa capek apa Sus? Kenapa berdiri aja dari tadi? Sini duduk!" Ucap Emma dengan suara yang melembut.
Kekesalan nya telah menguap bersamaan dengan rasa letih nya yang juga perlahan menguap. Kini ia pun merasa khawatir pada kondisi sahabat nya itu. Terutama ketika ia menyadari sesuatu yang ganjil saat Susi menyentuh mulut nya tadi.
"Tangan kamu tadi itu dingin banget, Sus.." komentar Emma.
'Mirip tangan hantu Celia..' lanjut Emma dalam hati.
Emma mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Ia berusaha mengusir prasangka buruk yang sempat melewati pikiran nya sejak awal pelarian nya malam ini.
Prasangka itu terkait kondisi sahabat nya, Susi, saat ini.
Susi menundukkan kepala nya ke bawah. Menatap tangan nya yang terlihat pucat dalam balutan remang-remang cahaya lampu di pinggir jalan. Saat itu Susi berdiri di bagian yang tak diterangi oleh cahaya lampu. Jadi Emma tak bisa melihat persis wajah sahabat nya itu.
Menyadari sikap ganjil Susi, pada akhirnya Emma tak lagi bisa menahan keingintahuan nya akan sesuatu.
"Kamu kenapa, Sus? Aku ngerasa ada yang aneh dari kamu. Sejak pertama kamu datang di kamar tempat aku disekap, sampai akhirnya kita ada di sini tanpa ketemu orang-orang jahat itu lagi, aku ngerasa semua ini terlalu aneh dan ajaib untuk terjadi. Bisa tolong kamu jelasin ke aku yang sebenarnya, Sus?" Tanya Emma sambil menengadahkan wajah nya ke atas, menatap Susi yang berdiri tak jauh di depan nya.
"Dari mana kamu tahu kalau aku disekap di situ? Dari mana kamu bisa tahu malam ini adalah malam yang tepat untuk aku bisa keluar bebas tanpa ketahuan? Jangan bilang kalau waktu dulu aku kabur pertama kali juga kamu lah yang udah bantuin aku diam-diam. Itu.. gak mungkin kan?" Emma merunutkan pertanyaan nya ke hadapan Susi.
Sahabatnya itu masih juga terdiam selama beberapa saat. Hanya saja, dua pasang mata milik Susi dan juga Emma itu kini saling bersitatap.
Emma mencoba mengusir prasangka nya terkait Susi. Namun beragam memori terkait sahabat nya itu akhir-akhir ini kembali membayang di benak Emma.
Semua kejadian aneh bersama Susi itu dimulai sejak perjalanan malam mereka menuju rumah Eyang Untung. Seorang ustadz yang mereka temui dan telah menutup mata ghaib Emma kembali.
'atau tidak. Mungkin mata ghaib ku masih terbuka. Tak seperti yang dikatakan oleh hantu Eyang Untung malam itu. Jika benar begitu, maka semua hal ganjil yang ku alami sesudah nya bisa dijelaskan. Termasuk juga sikap menghilang Susi di malam acara reuni SMA berlangsung,' Emma sibuk dengan pikiran nya sendiri.
***