Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Keluar dari Ruang Rahasia



"Hihihihi..! Berhenti bicara dan enyahlah kalian!" Lengkingan tinggi milik arwah Celia menyadarkan kembali Emma, Susi dsn juga Reno yang sempat berbincang sebentar.


Celia lalu melemparkan meja dsn kursi ke arah Emma dan juga Reno. Keduanya sudah berpikir kalau mereka mungkin akan merasakan sakit beberapa saat lagi.


Tapi kemudian hempasan angin kencang entah muncul dari mana. Angin itu lalu membuat meja dan kursi yang terlempar ke arah kedua nya pun terhempas ke arah yang lain.


BRAKK!!


Bunyi derak terdengar sangat kencang dalam ruangan tertutup itu. Membuat bising telinga makhluk yang ada di dalam nya.


"Kau?!! Pergilah! Aku tak ada urusan dengan mu!" Kecam arwah Celia kepada Susi.


Tampak nya hempasan angin yang menghalau serangan dari arwah Celia itu diperbuat oleh arwah Susi.


"Bila kau mengganggu Emma, itu sama saja dengan kau berurusan dengan ku, Bocah hantu!" Cecar Susi dengan tatapan sengit.


Tak lama kemudian, kedua hantu itu pun saling menyerang. Keduanya saling mencekik, memukul, melemparkan benda, hingga menjambak rambut masing-maisng lawan nya sekuat tenaga.


Jika saja ini adalah pertarungan antar dua orang wanita, mungkin akan terlihat sedikit lucu di mata Emma.


Namun karena ini adalah pertarungan dua hantu dengan penampakan kulit putih pucat serta mata yang sama-sama merah dibakar amarah, jelas efek yang ditinggalkan di benak penonton nya adalah kengerian semata.


Emma mengkhawatirkan Susi, ahabt nya itu. Karena dilihat secara kasat mata, pertarungan tersebut lebih didominasi oleh arwah Celia.


Mungkin ini bisa terjadi karena arwah Celia lebih senior di dunia perhantusn, bila dibandingkan dengan Susi yang belum lagi ada sebulan bergentayangan.


"Bagaimana ini, Ren? Kita harus menolong Susi!" Emma menyampaikan maksud nya kepada Reno.


"Tapi apa yang bisa kita bantu, Emm? Kita paling bisa baca ayat suci doang. Itu pun mungkin bisa ngasih efek juga buat Susi. Kamu mau begitu?" Tanya balik Reno.


"Aku gak tahu... Terus gimana dong?" Tanya boneka Emma yang terlihat begitu kalut.


Pertarungan antara arwah Susi dan Celia pun kian sengit. Kini keduanya sesekali terlihat melayang di satu sisi ruangan. Lalu berpindah ke sisi yang lain. Lalu berpindah-pindah lagi setelah nya.


"Emma! Segera pergi dari tempat ini! Aku sudah membawa motor Reno di depan rumah. Jadi, pergilah kalian!" Titah Susi terdengar mendesak.


"Tapi, Sus! Kamu gimana??" Boneka Emma tampak enggan mengikuti titah Susi.


"Aku bisa mengurus diri ku sendiri! Pergilah! Selagi aku masih bisa menghadapi bocah hantu ini!" Ujar Susi di sela-sela pertarungan sengit nya melawan arwah Celia.


"Reno! Bawa Emma pergi!" Titah Susi kepada Reno, saat disadari nya Emma tampak enggan mengikuti perintah nya.


Reno pun mengangguk. Lalu berlari sekencang-kencang nya keluar pintu.


"Kalian tak boleh pergi dari sini!" Pekik arwah Celia dengan nada melengking tinggi.


Reno tak menggubris lagi suara-suara di belakang nya. Tujuan nya kini hanyalah satu. Keluar dari lorong temaram itu dan pergi membawa Emma sejauh-jauh nya dari tempat ini.


"Enggak! Ren! Susi, Ren! Dia masih di sana, Ren!" Teriak Emma dalam dekapan Reno.


"Kita harus pergi dari sini, Emm! Itu keinginan Susi!" Ujar Reno sambik terus berlari.


"Tapi Susi, Ren! Dia kepayahan ngelawan arwah Celia!" Pekik Emma tak terima.


Meski rasa sakit itu masih dirasakan nya pada kedua lengan boneka milik nya yang tak lagi ada, Emma tetap berusaha menggeliatkan tubuh nya agar terlepas dari dekapan tangan Reno.


Kedua pasang netra pun saling bersitatap. Sepasnag mata manusia. Juga sepasang mata milik boneka Emma.


Reno masih terngah-engah usai berlari sebentar. Selanjutnya ia pun berkata kepada Emma.


"Kita gak bisa bantuin Susi dengan kemampuan kita saat ini, Emm! Benar kata Susi! Sebaik nya kita segera pergi menjauh dari sini! Mungjin setelah memastikan kalau kamu aman, Susi pun akan ikut menyusul kita pula nanti nya!" Papar Reno dengan nada mendesak.


Emma tercengang kaget dengan nada keras dalam suara Reno. Tak pernah selama keduanya mengenal, Reno membentak Emma walau sekali pun.


Perdebatan yang terjadi saat keduanya putus semasa SMA dulu adalah yang pertama kali nya terjadi dalam hubungan mereka.


Boneka Emma menatap lekat wajah Reno dalam diam. Ia pun perlahan bisa mengakui kebenaran dalam kalimat Reno barusan.


Pada akhirnya Emma menganggukkan kepala nya sekali. Sambil terisak kecil menyesali keputusan yang memang dirasanya adalah yang terbaik saat ini.


"A..aku paham, Ren.. ayo kita pergi!" Lirih Emma berkata.


'Susi.. kamu harus bertahan ya! Kamu harus susul aku secepat nya!' Emma menjeritkan permintaan nya terhadap Susi di dalam hati.


Akhirnya Reno pun kembali melanjutkan laju lari nya. Keduanya berhasil melewati lorong temaram yang panjang. Hingga tiba di kamar utama milik Nyonya Sofia.


"Kenapa kita ada di sini, Ren? Bukan hya ada di gudang Pak Adda?" Tanya Emma terheran-heran.


Reno memang hanya mengetahui jalan lorong yang tersmbung dengan kamar Sofia. Karena dari sana lah ia bisa sampai ke ruang rahasia tempat nya menemukan Emma dan Pak Adda.


Belum sempat Reno menjawab pertanyaan Emma, sebuah suara lain terdengar memekik tajam.


"Kakak Cantik! Apa .. apa yang dilakukan orang jahat ini ke kakak?!" Pekik suara anak perempuan yang ternyata adalah milik boneka Sella.


Emma dan Reno pun spontan menoleh ka tempat boneka Sella duduk saat ini. Yakni di atas kasur.


"Sella! Kamu di sini!" Seru Emma sedikit senang melihat boneka asuh nya itu lagi.


"Iya, Kak! Maaf! Karena Sella, orang jahat itu malah menangkap Kakak! Tadi nya orang itu mengejar-ngejar Sella, Kak.." ucap boneka Sella kepada boneka Emma yang masih ada dalam dekapan tangan Reno.


Sepanjang kedua boneka itu berbincang, Reno hanya diam saja. Ia sadar kalau boneka anak perempuan di hadapan nya itu bukanlah ancaman bagi mereka. Jadi ia membiarkan saja keduanya berbicara.


Sementara itu, Reno melayangkan tatapan was-was nya ke arah pintu.


"Kita harus segera pergi, Emm!" Ujar Reno dengan nada mendesak.


Pemuda itu lalu melesat menuju pintu tanpa menyapa boneka Sella terlebih dahulu.


Melihat kalau Reno hendak membawa Emma pergi bersama nya, boneka Sella pun mendadak members


Anikan diri nya untuk menahan lelaki asing yang tak dikenali nya itu.


Sella tak ingin kakak cantik nya dibawa pergi oleh Reno.


"Jangan bawa Kakak ku!" Pekik boneka Sella yang langsung menggigit kaki Reno sekencang-kencang nya dengan gigi boneka nya.


***