
'Dia adalah Pak Kiman! Bagaimana bisa beliau ada di sini? Apa yang telah menyebabkan beliau hingga disiksa sampai seperti ini?!' Emma sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Sampai-sampai ia tak menyadari kemunculan tiba-tiba seseorang yang tahu-tahu telah berdiri di muka pintu.
"Ahh.. kau membawa teman-teman kecil mu, ternyata Cell.." ujar orang itu terdengar cukup dekat.
Boneka Emma, Sella dan boneka Cello terperanjat kaget dengan kemunculan suara tersebut. Terlebih lagi Emma.
Boneka itu langsung berbalik dan melompat di waktu yang bersamaan. Meskipun tanpa melakukan itu pun ia sudah langsung mengenali pemilik dari suara barito tersebut.
'Pak Adda!! Tidak! Kami ketahuan! Bagaimana ini??!' Jerit Emma begitu panik dalam hati nya.
"Pa.. Paman! Ta..tadi itu.. Mereka yang memaksa masuk ke ruangan ini, Paman!" Tuding Cello ke arah boneka Emma dan Sella dengan jari telunjuk nya yang mungil.
Emma langsung memelototi boneka Cello. Heran nya boneka anak lelaki itu malah menyengir tak bersalah kepada nya.
'Mana mungkin Pak Adda akan percaya begitu saja! Alasan bocah ini sungguh tak mausk akal!' gumam Emma dengan sangat yakin.
Namun ternyata..
"Oo..? Jadi begitu.." gumam Pak Adda yang memang jarang sekali bicara.
"Hei, Cello! Bagaimana bisa kamu berbohong seperti itu! Itu perbuatan yang salah!" Emma menegur Cello.
Selanjutnya boneka Emma pun mengembalikan pandangan nya lagi ke arah Pak Adda. Sebelum akhirnya ia berkata juga.
"Dan Pak Adda! Perlu bapak ketahui ya! Mana mungkin kami bisa memaksa masuk ke tempat rahasia seperti ini. Ini kan kamar rahasia! Kecuali ada orang yang membocorkan keberadaan nya saja lah baru kamar ini tak lagi jadi rahasia!" Emma menjelaskan panjang kali kebar.
Cello dan Pak Adda menatap Emma dengan pandangan datar. Saat melihat tatapan keduanya yang tak hidup, Emma langsung bergidik ketakutan.
'Asli! Mereka mengingatkan ku banget sama boneka arwah di film horor yang ku tonton bareng Susi dulu! Psiko Doll!' umpat Emma dalam hati.
"Hmm.." pak Adda berjalan memasuki ruangan.
Boneka Sella yang berdiri paking dekat dengan nya lalu langsung berlari dengan suara 'klik. Klak' mendekati Emma. Sella lalu bersembunyi di balik boneka Emms.
"Apapun itu, yang jelas kalian sudah tahu dengan tempat ini. Jadi.." ucap Pak Adda menggantung.
Emma merasa dada nya terasa sesak menghimpit saat menunggu Pak Adda menyelesaikan ucapan nya itu. Entah kenapa, ia seperti sedang menunggu takdir yang akan dihadapi nya nanti melalui ucapan Pak Adda.
Dan, benar saja. Apa yang diucapkan oleh lelaki itu kemudian sungguh mengguncang jiwa Emma.
"..jadi kalian juga akan ikut permainan menyenangkan di ruangan ini. Bukan begitu, Cello?" Tanya Pak Adda dengan ekspresi wajah datar.
Cello langsung berseru girang dnegan wajah seringai nya.
"Yeay! Boleh, Paman? Cello senang sekali! Dengan begitu akan lebih seru ya nanti!" Ujar Cello bersemangat.
"Per..permainan apa maksud kalian? Aku gak mau ikut permainan apapun itu!" Tolak Emma mentah-mentah.
Tak. Tak. Tak.
Lagi-lagi Pak Adda kembali berjalan maju, mendekati boneka Emma dan juga boneka Sella.
"Kau belum mencoba nya Nona kecil. Jadi jangan menilai permainan ini terlalu cepat.." tegur Pak Adda di hadapan Emma.
Emma kebingungan. Pada akhirnya iabpun memberanikan diri untuk bertanya.
"Permainan apa yang sebenarnya Bapak maksud? Bisakah ksmi tak ikut permainan ini? Energi kami sudah hampir habis," tolak Emma kembali. Kali ini dengan lebih halus.
"Soal itu, tenang saja. Aku menemukan sekantung biskuit ini di ruang tivi. Jadi kalian bisa sambil mengemil ini untuk sumber energi kalian. Selagi itu, bermain lah dengan Cello!" Ujar Pak Adda kemudian.
Seketika itu juga, Pak Adda melangkah maju dengan sangat cepat, lalu meraih boneka Sella di samping Emma.
"Aargh! Kakak Cantik! huaa..." Boneka Sella menjerit ketakutan.
Digantungkan nya boneka Emma dalam posisi terbalik, sebelum akhirnya lelaki itu menjawab pertanyaan Emma jua.
"Kalia harus ikut main jika ingin keluar dari ruangan ini! Mengerti?!" Tanya Pak Adda dengan suara membentak.
Sementara itu Emma pun terkejut dan begitu khawatir kepada boneka Sella. Saat ia melirik ke arah Cello, boneka lelaki itu hanya menatap kembaran nya dalam diam saja. Tak tampak keengganan dalam sikap Cello terhadap aksi yang dilakukan oleh Pak Adda.
"Cell! Tolong saudari mu dong! Kok kamu diam aja sih?!" Tegur Emma kepada Cello.
"Ahh.. ikut bermain saja lah, Kakak Cantik. Ini permainan yang lumayan seru kok! Ya kan, Paman?" Ujar boneka Cello menatap Pak Adda.
"Ya. Tentu saja bocah pintar!" Puji Pak Adda.
"Cello! Tolong Sella! Huaaa...Kakak Cantik! Tolong!!" Boneka Sella menangis ketakutan.
Panik dengan apa yang dihadapinya kini, tanpa pikir panjang Emma pun langsung mengiyakan keinginan Pak Adda tersebut.
"Oke. Kami akan ikut bermain. Tapi, lepaskan dulu Sella sekarang juga!" Emma mengajukan permintaan nya.
"Tentu!"
Brak.
Pak Adda langsung melepas cengkeraman nya pada kaki boneka Emma. Sehingga boneka anak perempuan itu pun langsung terjatuh begitu saja ke atas lantai.
"Sella!" Boneka Emma langsung menghampiri boneka Sella.
"Hiks.. sakit, Kak.. Sella takut.." sella menangis ketakutan. Kemudian ia terjatuh pingsan.
Sepertinya energi Sella telah habis.
'Sella pastilah kembali ke dunia transit yang seperti pasar ghaib itu!' Emma menebak.
Kemudian Emma menatap garang ke arah Pak Adda.
"Kenapa? Bukannya kau sendiri yang tadi menginginkan ku melepaskan nya? Jadi, ya aku lepaslah langsung!" Ujar Pak Adda tanpa merasa bersalah.
'Dasar lelaki jahat! Sekalipun tubuh Sella hanyalah boneka. Tapi dia juga bisa merasakan sakit. Walaupun kesakitan itu tak akan berlangsung lama, dan ia pun tak akan sampai mati pada akhirnya. Tapi tetap saja kan. Yang namanya terjatuh itu pasti akan terasa sakit!' Gerutu Emma dalam hati nya.
"Jadi, permainan apa yang sebenar nya ingin Bapak mainkan?!" Emma langsung bertanya tanpa mengulur waktu.
Ia ingin segera hengkang dari ruangan pengap dan mengerikan ini. Sekalipun sebenarnya Emma tak tega juga bila harus membiarkan Pak Kiman dalam kondisi nya seperti sekarang ini.
Emma melirik ke ujung terdalam ruang. Tempat Pak Kiman disiksa. Lelaki itu membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin. Begitu lah kiranya pikir Emma.
Perhatian Emma kemudian teralih setelah didengar nya Pak adda kembali berkata.
"Permainan ini!" uajr Pak Adda memberi tahu.
Tanpa aba-aba. pak Adda mengambil anak panah yang ada di atas nakas. Lalu melemparkan anak panah tersebut hingga tepat mengenai tangan Pak Kiman di dinding.
"Tidak!" Emma kelepasan berteriak.
***