Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Wali Pengganti



"Ruh Susi seperti nya menang melawan arwah jahat Celia, Emm. Karena nya, seminggu setelah kejadian itu, Susi pun sudah bangun dari koma nya!" Ungkap Reno dengan senyuman lebar.


"?!!!"


"Jadi, Nak Susi juga terlibat dalam kejadian di villa itu, Nak Reno?" Tanya Retno tiba-tiba.


Reno beralih menatap ibunda dari Emma. Ia pun lalu mengangguk dan menjawab singkat.


"Iya, Tante. Sedikit banyak nya, Susi punya jasa besar dalam menyelamatkan Emma dari arwah jahat itu. Berkali-kali malah Susi menolong nya. Ya, kan, Emm?" Tanya Reno kepada Emma.


Sementara itu yang ditanya kini malah menatap kosong ke udara did epan nya. Secara perlahan kedua netra milik Emma pun mengembun basah oleh perasaan haru.


Emma terharu sekaligus juga bahagia dengan berita terkait Susi tersebut.


"Syukurlah.. berarti sekarang Susi?" Tanya Emma kembali, mengabaikan pertanyaan Reno kepada nya tadi.


"Di rumah nya lah. Aku tahu kabar itu juga setelah baca status medsos nya Kak Bobi secara gak sengaja. Pas tahu kalau Susi sadar, besok nya aku langsung jenguk dia di rumah nya," ujar Reno.


"Terus?" Cecar Emma mengejar kelanjutan kalimat Reno.


"Terus aku saksiin sendiri waktu dia memang udah sadar dari koma nya, Emm. Tapi aneh nya, dia gak ingat sama sekali tentang semua kejadian sewaktu dia jadi arwah. Waktu aku ceritaain soal kamu dan kejadian di villa, dia malah jadi bingung dan anggap aku ngibul!" Lanjut Reno bercerita.


"Tapi dia udah sehat kan? Maksud aku, Susi udah gak tidur koma lagi atau gimana gitu, Ren?" Cecar Emma mendesak Reno.


"Tenag, Emm.. Susi udah beneran sehat kok. Dia belum bisa jenguk kamu di rumah sakit, soal nya kaki nya sendiri masih sakit bekas kecelakaan motor waktu itu," papar Reno menjelaskan.


Mendnegar penuturan dari Reno, seketika benak Emma pun menjadi lega.


"Alhamdulillah.. sebaik nya kamu coba jenguk Nak Susi, Emm. Bagiamana oun juga kalian itu kan berteman dekat!" Retno mengingatkan Emma dalam usulan nya itu.


"Iya, Ma. Nanti Emma langsung tengokin Susi!" Jawab Emma dengan nada mantap.


"Ehh? Sekarang? Jangan dulu lah, Emm. Kamu juga kan baru keluar dari rumah sskit siang tadi.." Reno mengingatkan sang kekasih.


"Kalau kamu gak mau anterin juga gak apa-apa kok, Ren. Aku bisa.."


Ucapan Emma langsung dipotong seketika oleh teguran dari Retno.


"Emma! Jangan bicara gitu! Bagaimana pun juga ucapan Nak Reno ada benar nya. Tunggulah sampai besok. Kamu baru juga kekuar dari rumah sakit kan?" Ujar Retno.


Emma pun akhirnya menggagguk lemah. Pertanda kalau ia akan mengikuti usulan dari Reno dan juga Mama nyanitu.


Tak berselang lama, sebuah suara lain ikut nimbrung dalam pembicaraan ketiga nya.


"Jadi, Kakak Cantik dan juga Oma tinggal sama Sella kan di rumah ini?" Tanya Slella mengingatkan.


Reno menepuk kepala nya karena sempat melupakan soal Sella. Ia pun menghadiahi Sella dengan senyuman permintaan maaf nya, baru kemudian kembali menjelaskan kondisi Sella kepada Emma dan juga Retno.


"Jadi, karena Sella adslah satu-satunnya ahli waris yang masih hidup, akhirnya semua aset milik ibu Sofia pun sekarang menjadi milik Sella. Tapi karena dia masih kecil, diperlukan seorang wali untuk membantu merawat Sella dan juga seluruh harta milik nya," papar Reno melanjutkan.


"Terus?"


"Terus..karena ibu Sofia tak menuliskan apa-apa soal wali pengganti bagi anak-anak nya, akhirnya diputuskan untuk mencari wali pengganti dari sisi kerabat nya. Sayang nya, Sella gak punya satu kerabat pun yang masih ada. Jadi.."


"Kamu ngusulin nama ku untuk apa, Ren?!" Tanya Emma setengah melotot.


Belum apa-apa ia sudah ketakutan saat Reno menyebutkan soal pengacara. Pikiran Emma langsung tersambung dengan penjara dan kurungan besi saja saat ia mendengar satu gelar profesi tersebut.


"Aku ngusulin nama kamu sebagai wali pengganti nya Sella," ungkap Reno dalam satu tarikan napas.


"Hah?! Kok gitu sih?" Emma terkejut dengan pengakuan Reno itu.


"Iya. Soal nya Sella kan merengek terus pingin ketemu sama kamu. Pingin tinggal sama kamu. Jadi akhirnya pengacara itu juga setuju. Itu pun dengan satu syarat,"


"Syarat apa?"


"Kamu cuma membantu Sella mengurus segala keperluan nya dan juga harta nya sampai dia cukup umur. Dan kamu juga gak akan dapat bagian dari harta itu," ungkap Reno lagi.


"Siapa juga yang mikirin soal itu!" Elak Emma sedikit meletup.


"Nah! Ku sampain persis seperti yang kayak kamu bilang tadi, lho Emm. Aku bilang ke pengacara nya, kalau kamu dan Tante itu bukan orang matre. Jadi aku yakin kalau Sella akan hidup dengan nyaman bareng Tante dan juga kamu," sahut Reno lagi.


"Terus?"


"Teras terus melulu! ya udah. Tinggal kamu nya deh yang kasih jawaban. Kamu mau gak jadi wali pengganti untuk Sella? Kalau kamu setuju, itu artinya kamu harus tinggal bareng Sella di rumah ini. Bsreng Tante juga.. " tanya Reno kemudian.


Emma terlihat bingung. Ia lalu bertukar pandang dengan sang Mama.


"Mama sih terserah kamu, Emm. Mama akan selalu dukung semua keputusan kamu," ujar Retno tiba-tiba.


"Kakak Cantik tinggal sama Sella ya, Kak? Kakak kan sudah janji!" Tagih Sella yang masih tak melepas pelukan nya pada pinggang Emma.


Tersadar dengan keberadaan Sella di samping nya, Emma pun spontan mengusap kepala anak perempuan tersebut dengan sayang.


Setelah beberapa waktu berlalu lagi, Emma pun akhirnya menyampaikan keputusan nya di hadapan semua orang di ruang televisi itu.


"Tentu aja, Sell. Kakak mau kok tinggal bareng Sella. Kakak kan sudah janji!" Jawab Emma dengan hati yang lega.


Sella langsung mengangkat pandangan nya ke wajah Emma.


"Beneran Kak? Kakak tinggal sama Sella di rumah ini kan?!" Tanya sella kembali untuk meyakinkan diri nya tak salah mendengar jawaban dari sang Kakak Cantik.


"Tentu saja Sella, sayang. Kapan sih kakak pernah ingkar janji sama kamu?" Emma mencubit pelan pucuk hidung Sella yang cukup mancung itu.


"Enggak pernah! kakak kan selalu mengatakan yang benar. Iya, kan, Kak?!" seru Sella dengan kegembiraan yang terpancar jelas di wajah nya.


Wajah Sella sungguh mengingatkan Emma pada mendiang majikan nya, Nyonya Sofia. Meski begitu, ada satu perbedaan jelas di antara kedua nya.


Dan itu adalah senyuman milik Sella yang melampaui cerah nya matahari di hati Emma. Sementara Emma tak pernah melihat majikan nya tersenyum selepas itu.


Emma pun bertekad dalam hati. Bahwa ia akan memastikan Sella selalu memiliki senyuman matahari nya itu.


***