Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Tertangkap Lagi



Setelah profil Sella menghilang dari pandangan nya, Emma pun memutuskan untuk segera kembali ke dunia nyata. Meskipun sebenarnya ia sedikit takut juga dengan gangguan dari hantu Celia yang bisa kembali menyerang nya lagi.


Emma teringat dengan semua rssa sakit yang ia rasakan saat hantu Celia menyerang tubuh boneka nya. Beruntung nya semua rasa sakit itu langsung sirna begitu ia kembali ke Pasar Ghaib. Emma kembali sehat seperti sedia kala di Pasar ghaib ini.


"Hh.. semoga aku tak bertemu lagi dengan nya," Emma melirihkan harapan.


Selanjutnya, Emma pun menggerakkan tangan nya dan merapalkan mantra. Dalam sekejap spirit nya pun sirna dari keramaian pasar Ghaib tersebut. Dan Emma kembbali pada tubuh boneka nya lagi.


***


Begitu terbangun dalam tubuh boneka nya, Emma kembali merasakan sakit, seperti saat ia baru diserang oleh hantu Celia.


Ditatapnya lengan kanan nya yang hampir terputus. Dsn Emma merasa begitu jerih sekaligus ngeri melihat kondisi nya saat ini.


Tapi kemudian hal lain telah menarik perhatian boneka Emma. Gadis itu baru tersadar kalau ia tak lagi berada di tengah-tengah hutan.


Saat ini boneka Emma tengah terbaring di atas tumpukan benda-benda tak beraturan di bawah nya. Emma pun mencoba untuk kembali bangkit. Meskipun ia harus bersusah payah untuk melakukan nya.


"Arrghh! Ampun! Sakit banget sih! Ini nama nya sakot tak berdarah nih!" Gerutu Emma.


Begitu bisa berdiri sambil menyangga tubuh nya pada suatu pinggiran. Emma tersadar kalau ia telah berdiri di atas berbagai tumpukan barang-barang bekas seperti botol, kotak lusuh, mainan lama, dan juga barang-barang lain yang tak bisa ia identifikasi.


Emma pun tersadar kalau ia dan semua barsng-barang tak berguna itu kini berada dlam sebuah kotak berukuran besar. Karena Emma bahkan tak bisa melihat pemandangan di luar kotak, karena tinggi nya kotak melebihi tinggi tubuh boneka nya.


Emma mencoba untuk melompat. Demi bisa melihat dunia di luar kotak tempat nya berada kini. Dan, apa yang ia lihat sungguh membuat nya terkejut dan lemas seketika.


Emma tersadar kalau kini ia telah kembali ke ruang penyekapan nya pertama kali. Yakni kamar tempat tubuh manusia dari Hantu Celia berada. Ruang rahasia.


"Kenapa aku bisa ada di sini lagi? Apa ini ulah dari hantu itu? Argghh!! Sial sekali sih! Padahal kupikir aku bisa kabur sejauh-jauh nya! Tapi sekarang.. aduh!"


Dalam kekesalan nya, Emma terpeleset jatuh.


Dengan menahan sakit, Emma pun kembali bangkit. Namun kemudian ia terperanjat kaget saat mata nya bertatapan dengan bola mata lain yang menatap nya tanpa berkedip.


"Aaargghhh!!" Boneka Emma menjerit ketakutan.


Dalam satu kali gerakan, Emma melonjak mundhr dari tempat nya berdiri sesaat tadi. Seolah lupa pada rasa sakit di lengan nya, Emma terus melangkah mundur hingga kepala nya membentur dinding kotsk tempat nya berada.


Emma menatap ngeri bada sebuah bola mata yang terbuat dari plastik dsn berada tak jauh dari tempat nya berada tadi.


Emma sangat mengenali bola mata tersebut. Karena itu adalah milik boneka Cello.


"I..iti bukan nya ma..mata Cello ya?!" Cerca Emma yang masih sangat ketakutan.


Sesaat kemudian ia hampir kembali terpeleset. Namun tangan nya sigap meraih sesuatu yang teronggok di sisi kiri nya. Emma sekilas menoleh. Dan lagi-lagi ia dibuat kaget sekaligus juga ketakutan setengah mati.


Kepala boneka Cello teronggok tak berarti di sudut kotak. Tak ada tubuh yang menempel lagi dengan kepala nya itu. Dan sebelah mata boneka Cello terlihat bolong. Sementara satu bola mata nya lagi hampir keluar sepenuh nay dari tempat nya terpasang.


Sontak saja, Emma pun lagi-lagi menjeritkan ngeri.


"Aaaarrggghhhh!!!"


Tap. Tap. Tap.


Emma pun sebenarnya menyadari kedatangan seseorang dalam ruangan tempat nya berada kini. Akan tetapi karena perhatian nya masih fokus apds kepala buntung milik Cello yang menatap Emma dengan sebelah mata yang berlubang, Emma pun tak bisa mengalihkan diri dari kengerian yang ia rasakan.


Boneka Emma terus beringsut mundur menjauhi kepala buntung Cello yang menatap nya hampa.


Ada kesedihan dan ketidak relaan yang Emma tangkap dalam tatapan hampa dari potongan kepala milik boneka asuh nya tersebut.


"Rupanya kau sudah terbangun! Kau cukup berisik juga ya. Nona Kecil! Aku bahkan bisa mendengar suara mu dari kamar tidur ku!" Gerutu Pak Adda dengan wajah kesal.


Emma mendongakkan kepala nya ke atas. Dan kemudia tatapan nya punberadu dengan kedua netra milik pengurus halaman Villa Grandhill ini.


Semakin ngeri lah Emma akhirnya. Bensk nya sudah terlampau kalut usai melihat nasib tragis dari boneka Cello.


'Pantas saja Sella mengatakan kalau ia tak bisa menemukan Cello. Itu karena Cello telah di.. di..bantai oleh lelaki jahat ini!' cecar Emma tanpa suara.


Kedua mata gadis itu kini membola lebar. Ditstapnya Pak Adda yang melongok ke dalam kotak dengan pandangan takut.


Emma berharap Pak Adda tak membuat nya jadi potongan-potongan tubuh seperti yang dilakukan nya kepada boneka Cello.


'Tapi.. kenapa spirit Cello juga tak ada di pasar ghaib? Apa itu berarti spirit nya juga telah tak ada lagi di dunia ini? Anak itu benar-benar telah mati?!' benak Emma terlampau kusut dengan pertanyaan-pertanyaan.


Sesaat kemudian, tangan Pak adda menjangkau ke dalam kotak.


Emma pun kembali diterjang oleh rasa takut. Terlebih lagi tujuan dari tangan lelaki itu saat ini adalah tubuh boneka nya.


Dengan bersusah payah, Emma berushaa menghindari jangkauan tangan Pak Adda. Tapi itu jelas adalah hal yang sia-sia.


Dalam satu gerakan cepat, tangan Pak Adda berhasil meraih kerah belakang dari gaun yang Emma kenakan. Dan selanjutnya tubuh boneka Emma pun terangkat dalam satu pegangan.


Emma pun meronta sejadi-jadi nya. Ia mencoba meraih tangan yang memegangi kerah gaun nya lalu menggigitnya. Dan.. usaha Emma kali ini berhasil.


Pak Adda menjerit kesakitan lalu spontan melepaskan pegangan nya pada tubuh boneka Emma. Boneka Emma pun kembali terjatuh ke atas lantai dengan suara berdebum kencang.


Brak!


"Arrgh!" Keluh Emma merasakan sakit.


Meski begitu, Emma tak berhenti lama dan larut dalam ras askit nya. Ia segera bangkit kembali dan menujukan langkah nya ke arah pintu yang separuh terbuka.


Meski rasa sakit itu tak jua hengkang menyiksa lengan kanan nya, Emma tak menghiraukan itu dan terus berlari maju.


Sayang nya, langkah Emma kembali tersendat. Begitu tangan Pak Adda kembali menangkap tubuh boneka nya lagi.


Kai ini, tangan Pak Adda melingkari tubuh Emma di bagian dada nya. Sehingga Emma pun tak lagi bisa bergerak bebas seperti yang diinginkan nya.


Emma kembali akan menggigit tangan Pak Adda. Namun usahanya itu terhenti saat ia mendengar sebuah suara dari arah pintu yang menyebut nama nya dalam nada bertanya.


"E..Emma?? Apa itu kau?!" Panggil suara barito tersebut.


***