
"Kakak Cantik!" Seru sebuah suara dengan nada melengking tinggi.
Emma, Retno dan juga Reno pun sontak menoleh.
Dan, detik berikut nya, Emma langsung bangkit berdiri dengan ekspresi tercengang di wajah nya. Sementara si empunya suara panggilan tadi, langsung melesat cepat ke tempat Emma berada.
Bruk!
Emma hampir terjengkang jatuh, jika saja ia tak sigap berpegangan pada bahu sofa di samping nya. Sementara benak gadis tersebut masih berusaha mencerna sekiranya ia sedang bermimpi saat ini ataukah tidak.
Tapi kemudian suara dari seseorang yang menubruk tubuh nya dan kini memeluk nya erat itu membangunkan kesadaran Emma.
"Sella kangen Kakak Cantik! Kakak Cantik lama banget bangun nya!" Keluh Sella.
Ya. Sella adalah seseorang yang sudah menubruk Emma sesaat tadi. Dan dia juga adalah pemilik dari rumah megah ini.
"Sella?! Apa yang terjadi? Kamu juga kembali jadi.. manusia?? Ren! Tolong jelasin!" Pinta Emma terdengar mendesak.
"Oke. Aku akan ceritain. Tapi mending kalian duduk dulu deh. Kalau dengar ceritanya sambil berdiri gitu. Lumayan bisa bikin kaki pegal tahu!" Seloroh Reno penuh nada canda.
Emma memelototi Reno dengan garang. Meski begitu ia menuruti juga usulan dari sang kekasih.
Emma kembali duduk di sofa. Dan Sella, yang saat ini adalah wujud manusia nya pun mengikuti.
"Sella, salaman dulu dong sama Oma! Katanya kamu juga penasaran pingin ketemu Oma?" Ajak Reno setengah menegur sang bocah.
Sella pun lalu menatap kilas Retno dengan pandangan malu-malu. Sikap nya itu sontak membuat kedua hati wanita dewasa dalam ruangan itu menjadi gemas kepada nya.
Melihat kalau Sella malu untuk menyapa nya, akhirnya Retno lah yang tlmencoba menginisiasi pembicaraan.
"Hallo adek cantik. Jadi. Nama Adek Cantik adalah Sella ya? Itu nama yang indah sekali. Perkenalkan, nama Oma adalah Retno. Jadi Adek Cantik bisa panggil Oma Retno ya.." tutur Retno memperkenalkan diri.
"Ha.. hallo, Oma.. i..iya. Sella juga udah tahu Oma. Kakak Cantik selalu bilang soal Oma ke Sella.." ucap Sella dengan suara kecil malu-malu.
Retno kini melempar pandangan tanya kepada Emma. Dan Emma merasa bingung harus menjelaskan apa tentang Pasar Ghaib kepada sang Mama.
Karena memang, di Pasar Ghaib lah Emma sering menceritakan tentang Retno kepada Sella.
Akhirnya Emma hanya menyahut singkat, "dia anak dari majikan Emma sebelum nya, Ma.." jelas Emma cukup singkat.
Retno pun akhirnya mengerti dengan majikan yang dimaksud oleh Emma. Sedikit bsnysk nya ia sudah mengetahui kejadian yang berlangsung di villa Grandhill.
Bahwa pemilik villa tersebut yang bernama Sofia ditemukan tak bernyawa dalam kamar nya sendiri. Dan dalam tubuh nya ditemukan obat tidur dengan kadar yang melampaui batas. Bi Hara lah yang sudah mencekoki nya dengan obat itu.
Sofia memiliki sepasang anak kembar yang terbaring koma di rumah sakit. Salah satu nya lalu dikabarkan meninggal di waktu yang hampir bersamaan dengan ibu nya. Sementara satu putri Sofia lain nya tiba-tiba saja siuman dari koma.
Dan rupanya, putri Sofia yang siuman itu kini berdiri tepat di hadapan Retno. Dia lah Sella.
Setelah perkenalan singkat itu terjadi, Reno pun lalu menjelaskan peristiwa yang terjadi kemudian setelah aksi penyelamatan Emma dilakukan.
"Sella sadar dua minggu yang lalu. Dia terus merengek ingin ketemu sama kamu, Emm.Tapi karena kondisi kamu sempat gak stabil, makanya aku minta dia untuk bersabar.." terang Reno mengawali kalimat nya.
"Terus?" Kejar Emma.
"Terus, ya mau gak mau dia ikutin kata aku untuk bersabar. Kami juga sempat bawa dia ke psikolog anak. Soal nya pas bangun dia selalu cerita soal Pasar Ghaib dan hal-hal yang gak kami mengerti. Ada kekhawatiran kalau dia mengalami delusi," lanjut Reno.
"Kamu masih ingat tentang semua yang terjadi selama kita jadi boneka, Sell?!" Tanya Emma tiba-tiba.
"Iya, lah, Kak. Sella kan belum pikun!" Seloroh asal Sella.
Emma meringis malu sekaligus juga ingin tertawa. Di dekat nya, Reno malah blak blakan tertawa. Sementara itu, Retno menyimak perbincangan di ruang tv itu dengan raut serius.
Retno memang tak terlalu mempercayai hsl ghaib yang telah menimpa Emma pada mula nya. Namun, ketika Reno mengajak nya untuk menyaksikan saat seorang ustadz membacakan ayat-ayat suci di dekat Emma yang terbaring koma. Sementara saat itu ada sebuah boneka dengan tangan buntung di dekat sang putri.
Retno dibuat terkejut ketika Emma menunjukkan aktivitas sadar dalam gerak motorik halus di tangan dan juga jemari kaki.
Snah ustadz lalu merobek bagian dada dari boneka buntung tersebut dan menarik keluar sehelai rambut dari dalam nya. Menurut sang ustadz, rambut itu adalah milik Emma yang dijadikan sebagai medium kutukan yang menimpa sang putri.
Saat itulah Retno tersadar kalau putri nya itu sungguh telah dibuat menderita dengan menjadi boneka.
"Jadi sekarang Sella tinggal di rumah inj?" Suara Emma kembali menggema di telinga Retno.
Retno pun kembali memfokuskan perhatian nya pada isi pembicaraan di ruangan tersebut.
"Iya, Kak. Dan Kakak juga Oma nanti akan tinggal bareng Sella juga kan di sini?" Tanya Sella dengan penuh harap.
"Huh?" Emma dan Retno kompak terlihat bingung.
Namun saat dilihat nya Sella hendak menangis, Reno pun buru-buru menjelaskan kepada dua wanita yang masih kebingungan tersebut.
"Sella tenang dulu ya! Biar Kakak jelaskan dulu ke Kakak Cantik dan juga Oma. Nanti mereka juga mau kok tinggal sama kamu!" Ujar Reno menghibur sang bocah.
Sella pun tak jadi menangis. Namun ia kembali memeluk pinggang Emma dari samping. Kemudian bergumam.
"Kakak sudah janji, kalau kita akan sama-sama.. Sella mau selalu bareng sama Kakak.. dan juga Oma.." gumam sella dengan suara pelan.
Emma pun melempar pandangan tanya kepada Reno. Yang kemudian segera dijelaskan oleh pemuda itu.
"Jadi, Emm, Tante.. sejak ibu Sofia, yang adalah Mama nya Emma tiada, maka kepemilikan segala harta dan aset milik nya pun lalu menjadi milik pewaris nya, yaitu Sella dan juga Cello," tutur Reno menjelaskan.
Tapi kemudian Emma memotong penjelasan nya.
"Bagaimana dengan Celia?" Tanya Emma tiba-tiba.
Menyebutkan nama itu saja sebenarnya cukup membuat Emma mengingat semua kengerian yang dialami nya selama ini. Meski begitu, Emma penasaran dengan nasib tubuh manusia nya Celia.
"Dia juga sudah ditemukan mati di ruang rahasia itu, Emm. Tepat di hari saat kita kabur dulu.." terang Reno seketika.
Emma terkejut. Hal ini sungguh baru diketahui oleh nya. Berita tentang Pak Kiman yang didengarnya tak lama setelah ia terbangun telah menyita perhatian dan isi pikiran Emma seluruh nya. Sehingga gadis itu tak terpikirkan untuk menanyakan hal lain yang terkait dengan kejadian di villa Grandhill.
"Apa? Dia sudah meninggal? Kalau begitu, Susi..??!" Cecar Emma kembali.
Kali ini Reno menghadiahi Emma sebuah senyuman.
"Ruh Susi seperti nya menang melawan arwah jahat Celia, Emm. Karena nya, seminggu setelah kejadian itu, Susi pun sudah bangun dari koma nya!" Ungkap Reno dengan senyuman lebar.
"?!!!"
***