
Reno merasa risih. Saat tangan keriput Bi Hara mere mas salah satu lutut nya dengan pelan. Ia jadi penasaran, apa sebab nya hingga tiba-tiba saja Bi Hara jadi bersikap genit kepada nya.
"Err.. tak usah, Bo.. saya sudah kenyang," tolak Reno dengan halus.
Bi Hara terlihat mengerutkan kening. Pertanda ia kebingungan. Perubahan ekspresi nya tiu disadari segera oleh Reno.
'Ehh? Apa jangan-jangan tadi wanita ini menaruh sesuatu ke dalam makanan dan minuman ku?? Jadi ia berharap terjadi sesuatu pada ku?' gumam Reno sibuk berpikir.
Bi Hara kembali menarik tangan nya dari lutut Reno. Kemudian bersikap wajar lagi.
"Apa Tuan membutuhkan bantuan untuk memperbaiki motor Tuan? Jika ya, saya akan panggilkan Adda. Dia itu penjaga kebun di sini. Barangkali dia bisa membantu Tuan?" Bi Hara kembali menawarkan bantuan.
'Kesempatan bagus!' Reno berhura dalam hati.
"Boleh. Jika itu tidak merepotkan Bibi," sahut Reno dengan wajah ramah.
"Tidak.. sama sekali saya tak repot. Tapi mungkin agak sore an saja mengecek motor nya tak apa-apa ya, Tuan? Saat ini cuaca masih cukup terik. Tuan bisa beristirahat terlebih dulu," tutur Hara kembali memberikan saran.
"Ah.. benar juga. Kalau begitu, saya terima tawaran bantuan nya. Terima kasih ya Bi. Maaf sudah banyak merepotkan!" Ujar Reno kembali.
"Sama-sama.. Tuan bisa beristirahat di salah satu kamar di sini.. atau mungkin ada hal lain yang ingin Tuan lakukan?" Tanya Hara dengan ekspresi ganjil.
'O..gosh! Ini ibu-ibu gak sadar sama umur atau gimana ya? Dari tadi nge flirting in gue melulu sih!' gusar Reno tanpa suara.
"Mungkin tidur saja dulu, Bi. Kepala saya juga sedikit pusing," Reno berbohong.
Yang sebenar nya adalah ia ingin ceoat menghindar dari godaan Bi Hara terhadap nya.
"Begitu. Kalau begitu, sebentar saya siapkan dulu kamar nya," tutur Bi Hara kemudian berlalu.
Reno menghela napas lega. Ia sungguh ketar-ketir menghadapi wanita penggoda seperti Bi Hara.
Jija saja bukan karena Emma, Reno tak ingin berurusan sama sekali dnegan wanita seperti Bi Gara itu.
'Sebaik nya aku menyelidiki nya nanti sore saja. Saat aku punya alasan untuk menginap di sini. Motor ku sudsh kubuat mogok sungguhan. Dan hanya seorang mekanik saja yang bisa menangani permasalahan motor ku itu,' gumam Reno lebih lanjut.
Tak berapa lama kemudian, Bi Hara kembali muncul untuk mengantarkan Reno ke kamar tamu. Letak nya masih di lantai satu. Bi Hara meninggalkan Reno sambil tak lupa memberikan senyuman menggoda pada pemuda itu.
Begitu Reno menutup pintu, pemuda itu langsung bergidik ngeri.
'oo.. gosh! Geli banget deh rasa nya di flirting in sama nenek-nenek!' gerutu Reno tanpa suara.
***
Sore hari nya, Pak Adda dan Reno berkenalan singkat. Keduanya lalu pergi ke lokais tempat motor Reno terparkir di bawah pohon.
Sesuai dugaan Reno, Pak Adda pun tak bisa menghidupkan kembali motor nya. Jadilah akhirnya kedua pria itu kembali ke villa.
"Tak bisa dibenarkan?" Tanya Bi Hara kepada Reno.
"Tak bisa, Bi. Mungkin harus panggil mekanik langsung ke sini. Tapi tadi saya udah coba hubungi mekanik langganan saya. Sayang nya dia lagi banyak pelanggan di bengkel. Jadi gak bisa ditinggal," papar Reno menerangkan.
"Mau coba panggil mekanik dari bengkel lain kah?" Tanya Bi Hara perhstian.
"Saya kurang percaya sama mekanik lain, Bi. Soal nya motor saya itu motor tipe khusus. Cuma mekanik langganan saya aja yang bisa betulin," ujar Reno lebih lanjut.
'Ayo dong. Tawarin aku menginap, Bi..!' Reno berdoa dalam hati.
Setelah semoat hening beberapa saat, akhirnya Bi Hara pun kembali berkata.
"Bagaimana jika Reno menginap saja dulu untuk malam ini? Beosk pagi-pagi baru panggil mekanik nya ke sini," usul Bi Hara lagi.
Reno berpura-pura bersikap segan.
"Itu.. apa tidak merepotkan Bibi lagi nama nya? Apalagi saya takut kalau majikan Bibi nanti akan memarahi Bibi karena membiarkan orang asing seperti saya menginap di villa ini.." tutur Reno dengan wajah menunduk seperti malu.
Padahal yang sebenarnya ada di pikiran Reno adalah sebalik nya. Pemuda tiu sungguh berharap bila Bi Hara akan mempersilahkan nya untuk menginap. Meski hanya satu malam saja. Tapi Reno akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari keberadaan boneka yang mengikat ruh nya Emma.
"Tak apa-apa Reno. Nyonya Sofia tak akan marah. Beliau adalah seorang yang baik hati. Dia skan senang hati menokong musafir yang sedang kesusahan seperti Reno. Jadi, tenang saja!" Ujar Bi Hara menenangkan Reno.
'YES! Rencana pertama berhasil. Nanti malam, aku bisa menyelidiki villa ini diam-diam!' seru Reno kegirangan dalam hati nya.
"Kalau begitu, saya berhutang banyak kepada Bibi dan majikan Bibi," Reno berbasa-basi.
"Jangan sungkan, Reno. Sesama manusia, sudah seharusnya kita ssling membsntu, bukan?" Ujar Bi Hara bersikap bijak.
'Hmm.. wanita ini pandai bersilat lidah juga ya. Aku jadi tahu, kenapa bisa Emma tertipu oleh kebaikan dari Bi Hara ini..' gumam Reno tanpa suara.
***
Malam hari nya..
Setelah menikmati makan malam sederhana bersmaa Bi gara dan juga Pak Adda, Reno tak lantas pergi ke kamar nya. Ia mengikuti ajakan Bi Hara untuk mengobrol.
Reno mengiyakan ajakan Bi Hara saat itu demi membuat Bi Hara kian percaya kepada nya.
"Saya belum melihat majikan Bibi. Apa beliau belum pulang kerja?" Tanya Reno di tengah perbincangan nya dengan Bi hara.
"Nyonya sedang sakit. Jadi saya menyiapkan makanan nya langsung ke kamar Nyonya," jawab Bi Hara.
"Oo.. lalu, apa tak ada orang kain selain Bibi dan Paman tadi yang bekerja di sini? Rasa-rasa nya rumah ini terlalu besar untuk hanya ditempati oleh kalian saja," ujar Reno sekena nya.
"Ah.. soal itu, hanya Nyonya yang bisa memutuskan untuk mempekerjakan pegawai tambahan atau tidak. Tapi untuk urusan mengurus rumah, Nyonya mempercayakan hya kepada saya. Semntara kebun, halaman, dan hal teknis di rumah ini ditangani oleh Pak Adda," jawab Bi Hara menerangkan.
"O.. begitu.. hoaaahmm.. " Reno berpura-pura menguap.
"Anda sudah mengantuk, Reno?" Tanya Bi Hara kepada Reno.
"Iya, Bi. Sepertinya perjalanan saya hari ini cukup menguras energi saya. Kalau begitu, apa tak apa-apa bila saya permisi terlebih dulu?" Panit Reno.
"Silahkan.. silahkan saja Reno. Jika Reno perlu sesuatu, ketuk saja pintu saya di kamar tepat di seberang kamar Reno," Bi hara kembali memberikan tawaran mengundang.
"E.. baiklah, Bi. Terima kasih.." jawab Reno sesingkat-singkat nya.
"Sama-sama Reno.. selamat bermimpi indah.." salam Bi Hara, teoat ketika dilihat nya Reno yang beranjak bangun.
"Err.. selamat malam juga, Bi.." sapa balik Reno.
***