
Keesokan pagi nya, Reno pergi bekerja. Sebelum pergi, ia sempat berpamitan kepada Emma.
"Emma, Love.. aku berangkat dulu ya. Pulang nya nanti mau ku jemput sekalian?" Tanya Reno saat memasuki apartemen yang ditempati oleh Laila.
"Boleh. Nanti kabarin aja kalau kamu mau pulang ya, Ren!" Sahut Emma dari arah dapur.
"Kamu ngapain, Yang?" Tanya Reno yang mengintip dari pintu dapur.
"Bikin dadar mie rasa soto. Mau coba? Sekalian sarapan dulu yuk!" Ajak Emma.
Reno melihat arloji di pergelangan tangan kiri nya terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Hmm.. bungkus aja bisa gak, Yang?" Reno mengajukan pinta.
"Memang nya waktu nya mepet? Ini belum ada jam 7 lho, Ren!" Imbuh Emma.
"Barusan bos mendadak kasih kabar kalau ada meeting pagi-pagi. Jadi aku buru-buru deh berangkat nya. Boleh dibungkus gak, Yang? Aku pingin cicipin masakan kamu," request Reno agak mengiba.
"Iya. Boleh deh. Tunggu sebentar. Tapi dibungkus pakai apa ya? Di kabinet cuma ada peralatan makan aja. Gak ada kotak bekal," keluh Emma.
"Ada deh kayak nya. Dulu Mama pernah tinggal di sini dan sering buatin aku bekal juga waktu SMA," sahut Reno.
Kebetulan apartemen yang ditempati oleh Emma dulunya adalah milik Mama Reno. Jadi semua perlengkapan dapur dan masak cukup lengkap.
Reno lalu membantu Emma mencari kotak bekal di antara sekian lemari kabinet yang ada di dapur. Dan syukurlah, mereka berhasil menemukan nya.
"Nah. Ini dia. Udah sana, buruan berangkat!" Usir Emma seraya menyodorkan kotak bekal kepada Reno.
"Makasih ya, Yang.. coba deh kamu bisa buatin aku bekal setiap hari kayak gini nih. Mestilah uang jajan ku bakal jauh lebih irit!" Seloroh Reno.
"Dasar! Udah berangkat, Ren! Katanya mau ada meeting pagi?" Usir Emma lagi.
"Iya. Iya. Mm.. gak sekalian dapat bonus nih, Yang?" Tanya Reno sambil mendekati Emma.
"Bonus apaan sih? Iih.. misi, Ren. Aku mau lewat. Lapar nih perut," ujar Emma mencoba melewati Reno.
"Bonus ini nih!" Ujar Reno seraya menyodorkan pipi nya ke arah Emma.
Mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Reno, Emma langsung menyodorkan potongan mi dadar ke mulut Reno.
"Bonus! Bonus.. nih, makan aja nih bonus nya!" Seloroh Emma seraya menggerakkan tubuh nya melewati Reno.
Di belakang Emma, Reno mengikut hingga ke ruang tivi.
"Ya udah. Aku berangkat deh ya, Yang! Jumpa sore nanti! Salam buat Mama juga ya!" Pamit Reno.
"Iya!" Sahut Emma langsung menyantap mi dadar buatan nya sendiri.
Di saat mata Emma melihat ke tivi, nyatanya benak gadis itu justru melayang ke hal lain.
'Aku gak bisa tinggal terus-terusan di apartemen Reno. Malu juga sih sama dia. Tapi gimana lagi, aku takut kalau harus tinggal sendirian di rumah. Takut kalau orang suruhan Nyonya Sofia atau Bi Hara mendatangi ku nanti?' Emma sibuk berpikir sambil mengunyah mi dadar di mulut nya.
'Mau tinggal di rumah sakit, nanti Mama jadi curiga dan nanya kenapa lagi? Terus kalau aku jawab jujur tentang masalah ku, yang ada Mama malah nambah beban pikiran Mama nanti nya. Kalau ngontrak, uang ku kan udah ngepres banget. Ini juga gak tahu pelunasan biaya berobat Mama cukup gak ya?' lanjut Emma sibuk berpikir.
'Apa aku pinjam uang ke bank keliling ya? Tapi.. ishhk.. jangan deh! Nyari penyakit aja itu sih! Itu Teh Tia juga harta nya habis-habisan buat bayar bunga bank keliling. Benar kata Mama dulu. Pinjam ke bank kayak gitu tuh riba. Haram. Bukan nya makmur, malah pendekin umur!'
'Atau.. apa aku terima ajakan nikah nya Reno aja ya? Kalau gitu kan aku gak terlalu ngerasa gak enak hati kalau dia mau bantuin biaya berobat Mama. Tapi kok ya hati ku gak sreg sih? Rasa-rasa kayak nikah karena terpaksa gitu! Padahal pernikahan kan bukan hal main-main!'
"Hoahhmmm! Malah jadi ngantuk! Pergi tengok Mama ah!" Gumam Emma langsung bangkit berdiri.
Menurut Dokter Liani, Mama sudah diperbolehkan pulang sekitar tiga hari lagi. Walaupun Dokter Liani juga menyarankan agar pengobatan Retno kembali dilanjutkan.
Tapi Emma menjawab dengan alasan klise, bahwa ia ingin mengumpulkan biaya pengobatan nya terlebih dahulu. Karena memang itulah yang sebenarnya menjadi alasan Emma.
Kepada Mama, Emma mengatakan kalau pengobatan harus ditunda terlebih dahulu karena majikan nya sedang ada kebutuhan lain. Jadi sedang tak bisa membantunya membiayai pengobatan Retno. Retno pun tak bertanya lebih lagi kepada Emma.
Menjelang maghrib, Reno menjemput Emma. Karena waktu yang mepet dengan adzan maghrib, akhirnya keduanya memutuskan untuk shalat maghrib terlebih dulu di mushola rumah sakit.
"Ma, Emma pamit pulang ya. Reno udah datang," Emma berpamitan kepada Retno.
"Nanggung banget, Emm. Shalat maghrib aja dulu," Retno memberi nasihat.
"Iya, Ma. Ini juga mau ke mushola dulu di lantai bawah. Reno juga udah duluan kok ke sana. Tapi nanti Emma mau langsung pulang, gak ke sini lagi. Mama baik-baik ya. Besok Emma ke sini lagi," ujar Emma berpamitan.
"O.. gitu. Yaudah. Sampaikan salam Mama buat Reno ya, Emm. Hati-hati di jalan!" Sahut Retno.
"Iya, Ma. Mama juga hati-hati ya di sini!" Sahut balik Emma.
"Mama di sini, hati-hati dari apa, coba, Emm? Kamu tuh ada-ada aja!" Imbuh Retno seraya tersenyum tipis.
"Ya hati-hati aja, Ma.. di sini kan perawat cowok nya lumayan masih pada gress.. hati-hati aja Mama kepincut salah satu nya! Hihihi.." Emma tergelak dan langsung buru-buru kabur keluar dari kamar inap Retno.
Sebelum pintu tertutup, Emma masih sempat mendengar Retno berdecak pelan.
"Ck..ck.. Emma.. Emma.." gumam Retno dengan suara yang tak terlalu kencang.
Klik.
Pintu pun tertutup. Dan Emma langsung menujukan kaki nya ke mushola rumah sakit di lantai bawah.
...
...
Selesai shalat maghrib, Emma keluar dari mushola. Dan ia melihat Reno telah menunggu nya sambil berdiri di dekat pintu.
"Ngantri, Bang?" Sapa Emma smabil menyengir.
"Iya nih, Neng. Ngantri biar bisa masuk ke hati Neng.!" Sahut Reno menggombal.
Emma langsung mengunci rapat mulut nya dan segera berlalu meninggalkan Reno di belakang nya.
'Sialan Reno! Bikin malu aja! Nge gombal gak tahu tempat banget! Orang-orang kan jadi ngelihatin aku kayak gimanaaa gitu!' dumel Emma dalam hati.
"Yang! Tunggu dong! Jalan nya kok cepat banget sih? Kamu habis bakar kalori lima potong ayam goreng ya?" Tuding Reno di belakang Emma.
Emma langsung berhenti mendadak dan berbalik menghadap Reno.
"Syuut! Bisa gak sih gak ngegombal dan bongkar aib pacar sendiri di muka umum?!" Tegur Emma yang sungguhan kesal.
"Ehh? Kamu marah, Yang? Kan kamu duluan yang tadi ngegodain aku! Aku balas godain, kamu nya kok malah marah sih?" Sahut balik Reno.
"Kapan aku ngegodain kamu, coba? Ngarang aja!" Elak Emma begitu yakin.
"Lha itu tadi pas kamu baru selesai shalat? Kamu nyapa aku pakai embel-embel 'abang' kan? Apa enggak ngegodain itu nama nya?" Reno memaparkan penjelasan nya.
***