Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Pemuda Aneh



"Kau?! Bagaimana bisa kau ada di sini?!" Cecar Hara memandang marah ke arah Kimanto.


"Aku datang untuk membuat perhitungan dengan mu, wanita Tua!" Kimanto mengumpat.


"Hah! Dengan kondisi mu yang seperti itu? Kau pasti bermimpi!" Cecar Hara menertawakan Kiman yang jelas-jelas terlihat kepayahan, meski hanya untuk bertahan berdiri saja.


Lelaki itu sungguh telah memaksakan diri nya untuk berjalan menyusuri hutan. Demi bisa membantu putri nya, Emma, selamat dari wanita jahat di depan nya itu.


"Kenapa tidak? Bukan kah kau melihat sendiri aku sudah membuat pesuruh mu itu tak sadarkan diri?" Ujar Kimanto dengan napas yang sedikit tersengal.


Hara menatap sebal pada tubuh Adda yang tersungkur di dekat lubang.


"Itu bisa terjadi karena kau menyerang nya diam-diam! Anak kecil pun bisa melakukan itu!" Ledek Hara yang marah kepada Kimanto.


"Kalau begitu, anggap saja aku adalah anak kecil yang akan mengalahkan anak besar seperti mu malam ini!" Sahut Kiman sebelum akhirnya ia merangsek maju untuk menyerang Hara.


Mungkin karena energi nya sudah terkuras habis dalam perjalanan nya menuju ke tempat ini, pergerakan Kimanto akhirnya dapat dibaca oleh Hara.


Wanita itu berhasil menghindar dari pukulan Kimanto. Ditatapnya tongkat besi yang dipegang erat oleh lelaki itu dengan pandangan hati-hati.


Setelah pukulan nya meleset, Kimanto kembali menyerang Hara secara membabi buta. Dan setiap kali nya, Hara pun lagi dan lagi dapat menghindari semua serangan dari Kimanto.


Sampai kemudian, Kimanto kehilangan keseimbangan hingga terjatuh dalam usahanya untuk memukul Hara. Wanita itu lalu bergerak cepat menendang Kimanto dengan tendangan keras.


Hara menginjak-injak perut dan wajah Kimanto hingga lelaki itu kembali tersungkur jatuh dan akhirnya pingsan.


"Cih! Dasar lelaki bodoh! Kau seharusnya pergi dibanding menjumpai dewa maut mu ini!" Umpat Hara dengan tatapan sinis.


Wanita itu lalu mencoba membangunkan Adda. Akan tetapi lelaki itu masih tak jua sadarkan diri.


"Hah! Sepertinya aku harus turun tangan sendiri untuk membersihkan cecunguk-cecunguk ini!" Gumam Hara dengan suara jelas.


Hara lalu mengambil tongkat besi yang tadi dipegang oleh Kimanto, memukul kepala lelaki tua itu berklai-kali hingga darah segar bercucuran dari semua lubang di kepala nya.


Selanjutnya, Hara hendak turun ke dalam lubang untuk membereskan Reno pula. Akan tetapi, sebuah teriakan kencang menghentikan aksi nya tepat di saat Hara sudah mengangkat tinggi tongkat yang ia pegang.


"Berhenti! Lemparkan tongkat itu sekarang juga! Dan angkat tangan mu!" Titah suara barito terdengar tegas tak jauh di belakang Hara.


Wanita itu pun terlonjak kaget dan spontan menoleh kan kepala nya.


Ia terkejut, saat mendapati ada banyak lelaki berseragam serupa telah mengepung tempat nya berada kini.


Hara pun tahu, kalau perjalanan nya telah berakhir di detik itu juga.


***


Di Pasar Ghaib..


Spirit Emma membuka kembali kedua matanya. Dan ia sedikit kecewa karena harapan nya untuk bertemu Mama saat ia membuka matanya lagi, tak terkabul.


"Kakak!" Panggil Sella terdengar jauh.


Emma pun melayangkan pandangan nya ke sekitar kerumunan yang memenuhi Pasar Ghaib.


Berbagai jenis makhluk dan juga spirit dengan penampilan menyeramkan kini tak lagi membuat gadis itu merasa takut.


Emma tahu, kalau para spirit dan makhluk itu pun sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Buruk nya rupa mereka hanyalah kamuflase untuk menutupi kelemahan yang mereka miliki.


Emma lalu menemukan Sella berada tak jauh dari tempat nya berdiri kini. Ia pun segera menghampiri spirit anak perempuan tersebut.


Begitu sampai di depan Sella, anak itu langsung saja memeluk Emma dengan sangat erat.


Emma lalu membalas balik pelukan Sella kepada nya. Ia lalu menatap kedua tangan nya yang kini telah kembali utuh. Seolah ia tak pernah mengalami kejadian buntung, seperti saat itu terjadi pada tangan boneka nya di dunia nyata.


"Maafin Kakak, ya. Kakak gak bermaksud untuk buat kamu menunggu terlalu lama!" Sahut Emma dengan nada menyesal.


Emma lalu merasakan saat Sella menggelengkan kepala nya untuk selanjutnya berkata.


"Gak apa-apa, Kak. Yang penting sekarang Kakak ada di sini, untuk nemenin Sella!" Ujar Sella dengan suara lirih.


Hati Emma mendadak terasa nyeri karena haru. Ia pun merasa sedih atas nasib malang milik Sella.


Di usia nya yang mungkin sekitar delapan tahun saat ini. Anak perempuan itu telah kehilangan dua orang terdekat nya. Yakni sang Mama dan juga kembaran nya, Cello.


Emma tak tahu, bagaimana dan kapan ia bisa memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran menyedihkan itu kepada Sella. Karena hingga saat ini, Sella belum mengetahui tentang kematian kedua nya.


"Tapi, Kak.." lanjut Sella menggantung.


"Kenapa, Sell? Bilang aja sama Kakak," Emma menawarkan telinga nya untuk menjadi pendengar.


"Sella kangen Cello.. dia ada di mana sih sekarang, Kak? Tanya sella tiba-tiba, masih sambil memeluk Emma.


Tenggorokan Emma lagi-lagi tercekat.


'Bagaimana ini? Apa aku harus mengatakan nya sekarang juga?' gumam Emma yang merasa kalut.


"Cello.." Emma kembali menggantung ucapan nya hanya sampai dengan menyebut nama Cello saja.


"...Cello dinmana Kak sebenar nya? Apa dia juga..hiks.. meninggal seperti Mama?" Terka Sella mengejutkan Emma.


Langsung saja Emma menarik pelukan nya hingga terlepas. Jadi kini ia bisa menatap langsung ke dalam mata Sella saat ia berjongkok di depan anak perempuan tersebut.


"Kamu kok bisa bilang begitu sih, Sell?" Tanya Emma dengan keterkejutan yang masih ada.


"Soal nya, kata Om Baik juga begitu.."jawab Sella kemudian.


"Om baik? Siapa itu?" Tanya emma.


"Itu lho, Kak. Yang sering ngasih aku dan Cello makanan. Tadi Sella ketemu lagi sama Om Baik. Dan kata nya Cello sekarang udah pindah ke di.. di..dimensi lain di Dunia Spirit! Ya! Kata Om Baik juga begitu! Itu tuh ditempatin sama orang-orang yang udah gak ada urusan di dunia nyata.. begitu kata Om nya.." papar Sella mengkopi ucapan Om Baik yang tak dikenal oleh Emma.


'Apa maksud nya itu? Mengucapkan kalimat-kalimat aneh kepada anak kecil. Bisa-bisanya orang itu asal bicara! Aku saja tak mengerti dengan penjelasan Sella!' gumam Emma tanpa suara.


"Ah! Itu dia Om!" Seru Sella tiba-tiba seraya menunjuk ke belakang Emma.


Emma pun lantas menoleh ke belakang. Ia mendapati seorang pemuda tampan sedang berjalan ke arah nya kini. Pemuda itu berambut pirang, dengan sepasang mata berwarna hazel.


Pemuda itu mengenakan pakaian yang cukup lusuh untuk paras nya yang sangat tampan. Dan sebuah kantung serut tersampir pada ikat pinggang yang ia kenakan.


"Hello gadis kecil! Kok masih nangis sih? Kan tadi Om udah beliin es krim. Sekarang senyum dong, Sayang!" sapa pemuda itu langsung di depan Sella.


Emma terdiam seribu bahasa saat berdekatan dengan pemuda itu. Entah kenapa, ia merslasa seperti sedang mengalami de javu. Seolah-olah ia pernah bertemu dengan pemuda itu di suatu tempat.


"Aha! Kita bertemu lagi, Nona! Oo.. sayang nya kondisi mu sedang tak baik rupa nya. Hmm..kutukan boneka ya.. Hidup mu sungguh kurang beruntung!" Ujar pemuda itu begitu akrab menyapa Emma.


Emma ternganga keheranan dengan keakraban yang ditunjukkan oleh pemuda itu. Seingat nya, ia tak pernah bertemu dengan pemuda itu sepanjang hidup nya.


"Oh! Rupa nya kau gagal memakan buah Pengingat ya saat itu? Sayang sekali!" Laniut pemuda itu lagi, mengucapkan kalimat yang tak Emma mengerti sama sekali.


***