
Rudolf kemudian menurunkan Emma tepat di sebuah dataran yang berdampingan dengan lembah gunung dengan tanah yang berwarna kuning.
"Apa itu Lembah Kuning Mengambang? Kenapa tanah di sana warna nya kuning?"
Emma mencoba menahan diri untuk tidak mengernyit jijik saat mengucapkan nama lembah tersebut.
Sungguh nama yang aneh. Dan menggelitik kalbu. Lembah Kuning mengambang.
'Apa lembah itu tercipta dari kumpulan zat-zat berwarna kekuningan yang mengambang?' pikir Emma bertanya-tanya.
"Buahahaaaa! Kau lupa lagi ya Emma, kalau aku bisa mendengar suara pikiran mu?!" Rudolf tergelak menertawakan isi pikiran Emma.
Emma tersadar atas kesalahan nya. Sehingga ia pun menyengir malu ke arah Rudolf.
"Aku lupa. Jadi, apa itu memang sesuai dengan apa yang ku pikirkan Rudolf?" Tanya Emma penasaran.
"Nah. Soal itu, aku juga tak tahu pasti sih. Yang jelas, adalah lembah itu memang sungguh teramat bau! Kau bahkan bisa muntah-muntah dibuat nya nanti saat kau menjejakkan kaki mu di atas tanah kuning nya!" Papar Rudolf menerangkan.
"Sungguh? Jika tempat itu memang sangat bau, kenapa aku tak mencium bau nya ya, dari sini? Padahal jarak nya kan hanya sekitar sepuluh meter lagi!" Tanya Emma sambil menatap bingung Rudolf.
"Sudah ku bilang kan, tadi. Kau baru akan mencium bau nya begitu kau menjejakkan kaki mu di atas tanah kekuningan nya. Atau kau berada di atas area nya berada. Jadi karena itu lah aku hanya bisa mengantar mu sampai di sini saja, Emma. Maaf saja! Aku masih cukup trauma dengan bau nya! Hueekk!" Rudolf bergaya seperti hendak muntah.
"Err.. oke. Kalau begitu terima kasih ya, Rudolf atas semua bantuan mu hari ini!" Ucap Emma berterima kasih.
"Ya. Sama-sama, Emma. Senang bisa membantu mu. Oh ya! Bunga pengingat berada di bagian ujung lembah ini. Warna nya keemasan seukuran buah apel. Letak nya juga tak jauh dari air terjun pelupa. Jadi kau bisa langsung pulang ke dunia asal mu begitu kau berhasil mendapatkan buah itu nanti!" Papar Rudolf lebih lanjut.
Emma mengangguk tanda ia mengerti. Ia pun hendak berbalik dan melanjutkan langkah nya menuju Lembah Kuning Mengambang. Namun panggilan dari Rudolf di belakang nya kembali menahan langkah Emma.
"Oh ya! Aku lupa mengatakan satu hal penting tentang Buah Pengingat itu kepada mu, Nona Emma!" Seru Rudolf tiba-tiba.
"Ya, Rudolf?"
"Bergegaslah pergi ke pohon buah pengingat itu. Karena pohon tersebut teramat jarang berbuah. Jadi biasanya buah nya jadi rebutan banyak orang!" Papar Rudolf memberitahu.
Setelah mengatakan pesan terakhirnya, Rudolf pun melesat terbang dengan papan seluncur nya.
Emma tak membuang-buang waktu. Ia pun menggegaskan langkah nya menuju Lembah Kuning Mengambang.
Pada jejak pertama nya di tanah kuning lembah tersebut, Emma memang mencium samar bau busuk. Entah itu bau bangkai atau sejenis nya, inti nya Emma memang langsung mencium bau nya begitu ia menjejakkan kaki di lembah Kuning Mengambang.
Penasaran dengan penjelasan Rudolf tadi, Emma kembali melangkah mundur sehingga ia tak lagi berpijak di atas tanah kuning. Dan ternyata memang benar. Bau busuk itu tak lagi tercium oleh indera nya.
"Aneh sekali! Ah, biarlah! Seperti kata Rudolf. Aku harus bergegas sebelum buah pengingat itu dimiliki yang lain nya!" Gumam Emma dilanjut berlari sekencang-kencang nya.
Kemudian, keanehan lain nya dari lembah Kuning Mengambang tersebut disadari oleh Emma beberapa menit setelah ia mulai berlari.
Emma merasakan bau di tempat itu semakin menyengat hidung nya. Hingga perlahan ia pun melambatkan laju lari nya karena rasa mual yang ia rasakan.
Ditambah lagi pijakan tanah di bawah kaki nya saat itu terasa semakin empuk. Hingga bahkan Emma seperti sedang bermain trampolin saja saat ia mencoba melompat beberapa kali.
"Ya ampun! Rudolf benar banget soal bau di lembah ini! Bau nya memang bikin trauma banget!" Umpat Emma kemudian.
Gadis itu lalu mengakali untuk menutup hidung nya dengan bagian bawah baju nya yang ia sobek memanjang. Meski begitu, tetap saja Emma harus disiksa oleh bau di lembah Kekuningan hingga ia akhirnya bisa menemukan pohon tujuan nya.
Ada sebuah pohon besar tumbuh di tengah-tengah kolam kecil dengan air yang berwarna kekuningan. Melihat kolam kuning tersebut pikiran Emma langsung melayang ke sumber penyebab warna kekuningan dari air kolam tersebut.
Sayang nya memang itulah yang harus dilakukan oleh Emma. Karena sejauh yang ia lihat memang tak ada cara lain untuk meraih satu-satu nya buah pengingat yang ada di pertengahan dahan pohon tersebut.
Tapi syukurlah, ucapan Rudolf tentang buah itu menjadi bahan rebutan ternyata tak benar. Karena Emma melihat tak ada siapa pun yang berusaha mengambil buah tersebut.
Emma menatap penuh harap pada buah pengingat di hadapan nya. Buah itu terlihat menggoda dengan warna keemasan nya.
"Kalau buah itu sama aneh nya dengan Dunia Mimpi ini, bisa jadi buah nya juga dilapisi emas, mungkin?" Emma berandai-andai.
Emma lalu mengumpulkan keberanian nya. Terlebih dulu ia menyingsingkan lengan baju dan menggulung celana nya hingga di atas lutut. Baru setelah nya ia melangkah masuk ke dalam kolam tersebut.
Begitu Emma memasukkan kaki nya ke dalam kolam kekuningan, ia langsung didera perasaan jijik yang teramat sangat. Ini terjadi lantaran air kolam itu terasa seperti jelly kenyal yang dingin.
Emma tadi nya ingin kembali mundur dari kolam tersebut. Namun saat ia mengingat perjuangan nya sejauh ini, akhirnya gadis itu pun membulatkan tekad nya lagi untuk terus melangkah maju.
Tantangan semakin bertambah, seiring dengan kedekatan Emma menuju pohon yang ditujunya. Karena kedalaman kolam tersebut ternyata semakin dalam dan dalam. Hingga mencapai pinggang Emma.
Belum lagi bau maha busuk yang menusuk tajam penciuman Emma, hingga kedua mata gadis itu pun sampai berair jadi hya.
Menahan tangis yang hendak menjebol kedua netra nya, Emma terus melangkah hingga akhirnya ia sampai juga pada dataran di tengah kolam. Tempat di mana pohon itu tumbuh dan mengakar kuat.
Tak Ingin berlama-lama di tempat terbau itu, Emma pun segera menaiki pohon dan mengambil buah pengingat satu-satu nya yang ada di pohon tersebut.
Begitu selesai, Emma menyimpan buah itu ke bagian dalam kaos nya. Baru kemudian kembali melewati kolam kekuningan dan berpijak kembali di dataran lembah kekuningan.
Begitu ada di sebrang dari tempat nya berada tadi, sebelum ia menaiki pohon, pandangan Emma menangkap keberadaan sungai besar dengan air terjun kecil di atas nya.
Di sana, Emma melihat ada banyak orang dan juga hewan yang pergi menghilang usia melewati air terjun tersebut.
"Itu pasti Air Terjun Pelupa! Akhirnya, aku bisa kembali pulang ke dunia asal ku!" Emma menyerukan rasa syukur nya.
Dengan langkah yang lebih bersemangat dibanding sebelum-sebelum nya, Emma pun setengah berlari menuruni lembah untuk mencapai tempat di mana air terjun di depan nya.
Begitu Emma sampai, ia langsung menjadi pusat perhatian semua orang dan hewan yang hendak melewati air terjun pelupa.
Ini terjadi karena Emma baru saja menceburkan diri nya ke dalam kolam kekuningan. Jadilah akhirnya hampir seluruh pakaian nya basah dan juga bau.
Kebanyakan orang langsung menyingkir dan menghindari Emma. Akan tetapi beberapa dari mereka langsung mendekati Emma dan bertanya kepada nya.
"Apa kau baru saja mengambil Buah Pengingat, Nona?" Tanya seorang pemuda dengan tatapan mendamba.
Seketika itu juga pandangan semua orang langsung tertuju kepada Emma. Agak nya hampir semuanya mengetahui apa itu Buah Pengingat.
Dan Emma melihat tatapan mendamba dan juga lapar dari mata-mata yang menatap nya saat itu.
Secara refleks, gadis itu memegang bagian perut nya, tempat di mana buah keemasan itu ia sembunyikan.
Melihat tatapan mendamba dari orang di sekitar nya, Emma pun menyadari kalau ia kini menghadapi tantangan baru sebelum ia berhasil melewati air terjun pelupa.
Tantangan nya yaitu melewati barisan orang yang seperti nya menginginkan buah pengingat yang telah susah payah ia dapatkan sebelum nya tadi.
***