
Keesokan hari nya, Emma langsung menyetujui tindakan untuk mengobati kanker hati pada sang ibunda. Ia mengurus segala persyaratan dan pembiayaan yang harus dilunasi.
Emma ingin, pengobatan Retno segera dilakukan setelah kondisi nya fit kembali. Walaupun saat sang ibu melewati semua tahapan pengobatan itu, Emma jelas tak akan bisa menyertainya di sisi.
Untuk lebih memudahkan, Emma juga menyimpan Dokter Liani. Jadi ia masih bisa berkoordinasi dengan dokter tersebut terkait pengobatan kanker yang akan dihadapi oleh Retno nanti nya.
Beberapa hari pun berlalu.
Emma akhirnya harus menyampaikan kalimat perpisahan nya kepada Retno karena mulai besok, ia sudah harus kembali pergi bekerja di villa Grandhill.
"Ma, Emma besok mulai kerja. Jadi nanti sore Emma mau berkemas dan pergi ke rumah majikan Emma," ujar Emma menerangkan.
"Iya, Emm. Pandai-pandai jaga diri ya, Nak.. jaga shalat juga. Karena Mama gak bisa menjaga kamu dari dekat. Mintalah perlindungan kepada Allah saat kamu pergi jauh nanti," tutur Retno menasihati.
"Iya, Ma.. Mama juga yang semangat ya berobat nya. Ikutin nasihat dokter Liani. Dan jangan susah ya minum obat nya. Awas kalau Mama sampai down! Emma udah punya nomor bu dokter lho. Jadi Emma bakal tahu kondisi Mama selalu!" Emma setengah mengancam Retno.
"Iya, Emma.. sudah. Kamu jangan khawatirkan Mama. Mama akan baik-baik aja di sini. Justru Mama khawatir sama kamu, Emm.. kamu kerja sampai keluar kota, cuma biar Mama bisa berobat.." ujar Retno dengan nada sendu.
"Iishhkk! Dibilangin jangan ngomong begitu lagi. Emma cuma minta Mama cepat sembuh. Udah itu aja. Dengan begitu, Emma akan terus semangat kerja nya. Janji ya Ma!" Tagih Emma.
Kedua netra Retno seketika mengembun basah. Ingin rasa hati untuk menahan Emma agar tak bekerja keluar kota.
Entah kenapa Retno memiliki firasat aneh yang membuatnya tak nyaman untuk melepas kepergian sang putri keluar kota.
Akan tetapi saat ia melihat kebulatan tekad putri nya itu, Retno pun akhirnya menahan diri dari mengatakan keinginan hati nya itu.
"Iya, Emm.. kamu juga. Jaga diri dan jaga shalat nya ya! Mama titipin kamu ke Allah aja. Insya Allah kamu senantiasa sehat dan lancar semuanya," doa Retno melambung di udara.
"Aamiin.. makasih ya, Ma.."
Dan Emma pun memeluk sang ibunda erat.
***
Sore hari nya, Emma selesai berkemas. Ia sebenarnya hanya membawa sebuah ransel berisi ponsel dan beberapa alat kemah. Seperti tali, gunting, lakban, dan lain-lain.
Alat-lat itu hanya untuk antisipasi Emma saja, semisal ia butuh melakukan sesuatu untuk perlindungan diri.
Emma lalu meninggalkan surat kontrak kerja nya yang baru di lipatan bawah kasur yang paling bawah. Jadi semisal terjadi sesuatu padanya nanti, ia telah meninggalkan jejak kepergian nya di rumah Retno.
Sekitar jam 5 sore, Emma pun melajukan langkah nya menuju villa Grandhill. Ia pergi ke sana dengan menaiki taksi.
...
Satu jam kemudian..
Emma tiba di depan villa putih Grandhill dengan jantung yang berdebum kencang. Ditatap nya rumah yang telah meninggalkan jejak ngeri di memori nya beberapa minggu yang lalu itu.
"Nona, Emma? Anda kembali..!" Emma tak terlalu terkejut saat mendapati Bibi Hara membukakan pintu villa untuk nya.
Asisten rumah tangga di villa Grandhill itu lalu menuruni anak tangga di teras demi bisa memeluk dan menyalami Emma kembali.
"Saya gak menyangka bisa bertemu dengan Nona lagi. Saya pikir waktu itu adalah terakhir kalinya kita bertemu.." ujar Bi Hara dengan sikap ramah.
"Iya. Maaf ya, Bi.. dan makasih juga untuk malam itu. Bibi kan yang udah nolong Emma ngasih kunci biar bisa pergi kabur?" Emma bertanya pada Bi Hara.
Bibi Hara tak menjawab. Ia malah meminta Emma untuk berhenti mengatakan tentang hal itu lagi.
Bi Hara tak melanjutkan kalimat nya. Beliau langsung menuntun bahu Emma untuk memasuki villa.
Dan Emma pun akhirnya kembali masuk ke villa tersebut dengan hati yang masih terasa berat.
***
"Non Emma istirahat saja dulu ya. Nyonya masih kerja di luar. Mungkin malam nanti baru pulang," tutur Bibi Hara memberi tahu.
Emma lalu duduk di atas kasur kamar nya yang dulu. Kamar yang pernah menjadi saksi saat ia disekap dan diikat sekujur tubuh nya oleh dua boneka arwah tersebut.
"Bi.." panggil Emma ragu-ragu.
"Kenapa Non?" Tanya ibu Hara dengan ramah.
"Dua boneka itu.. maksud Emma, dua anak nya bu Sofia itu apa masih tidur?" Tanya Emma berhati-hati.
Emma menangkap ketegangan di wajah renta Bibi Hara. Dan dada nya pun lantas terasa sesak seketika.
Namun begitu Emma melihat Bi Hara mengangguk, mengiyakan dugaan Emma soak keberadaan dua boneka arwah itu, akhirnya Emma pun merasa lebih lega.
"Oh.. " Emma menghela napas lega.
Meski ia sudah memutuskan untuk menjadi pengasuh dua boneka arwah itu lagi. Tetap saja Emma masih akan merasa tegang setiap kali ia harus berhadapan dengan boneka Sella dan Cello.
Siapa juga sih yang tak akan merasa ngeri?
"Non Sella dan Den Cello biasanya baru bangun pas lewat isya, Non. Sekarang kan baru maghrib ya. Jadi lebih baik Non Emma makan dulu saja. Mau bibi ambilkan sekarang kah, Non? Atau mau nunggu Nyonya pulang untuk makan bareng?" Tanya Bi Hara ramah.
"Mm.. biar Emma ambil sendiri deh Bi, ke dapur. Emma mau makan duluan aja!" Sahut Emma seraya bangkit dari atas kasur.
"Ya sudah. Non Emma mau diantar ke dapur nya?" Bi Hara menawarkan diri untuk mengantar.
"Boleh, Bi.. dan Bi, bisa tolong panggil Emma aja? Jangan pakai embel-embel Nona. Rasanya gak pas di hati. Soalnya kan Emma juga bekerja di rumah ini.." Emma mengajukan pinta.
"Mm.. kalau gitu, Bibi panggil Neng Emma aja deh ya? Ayo Neng, bibi antar kan ke dapur. Biasanya jam segini, Pak Kiman udah selesai masak," ajak Bi Hara.
Dan Emma pun kemudian mengikuti langkah Bi Hara menuju dapur.
...
Di dapur, Emma kembali bertemu dengan koki di villa tersebut. Yakni Pak Kiman.
Seperti biasa, Pak Kiman selalu memasang ekspresi sangar di wajah nya yang memiliki bekas luka sayatan tersebut.
Karena nya Emma bergegas mengambil makan malam nya dan pamit kembali menuju kamar nya tadi. Namun Emma tak langsung makan. Karena ia memutuskan untuk shalat terlebih dahulu.
Saat Emma tiba di villa Grandhill, ia memang tiba saat adzan Maghrib berkumandang. Tadinya ia memang hendak shalat terlebih dahulu. Tapi karena ibu Hara menawarkan untuk mengantarkan nya ke dapur, jadilah akhirnya Emma mengambil kesempatan itu.
Daripada ia shalat dulu, lalu pergi ke dapur sendirian? Mana tahu kalau nanti dia akan bertemu dua boneka itu tiba-tiba?!
'Hii ngeri..' batin Emma bergidik ngeri.
***