Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Pertolongan yang Lain



"Arwah anak itu, Ren, yang sudah menyerang ku! Dia sudah mencuri tubuh ku. Dan menjadi penyebab kenapa aku bisa terjebak dalam tubuh boneka ini," jawab Emma dengan kalimat yang menggemparkan dunia Reno seketika itu jua.


"...kamu bilang, arwah anak itu, Emm?!" Tanya Reno memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Ya, Ren. Dia.."


Tiba-tiba saja tubuh boneka Emma terpental menabrak dinding dengan sendiri nya. Reno tercengang kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Pemuda itu bergegas menghampiri boneka Emma yang kini tergeletak mengenaskan di atas lantai. Namun langkah nya segera ditahan oleh kekuatan tak kasat mata yang tak bisa dijelaskan.


Selanjutnya, Reno merasakan kembali gangguan dari makhluk halus, yang diyakini nya adalah arwah dari hantu yang pernah menganggu nya di rumah sakit dulu. Hantu yang kini telah memiliki nama di memori nya. Yakni hantu Celia.


Tubuh Reno ditarik mundur menjauhi boneka Emma. Ia pun kemudian dihempaskan ke lantai dengan dorongan keras yang datang nya dari arah belakang.


Reno jatuh terjerembab mencium lantai yang dingin. Dan pemuds itu oun melihat kunang-kunang di depan kepala nya yang kini terasa pusing.


Meski begitu Reno tak menghentikan usaha nya untuk menuju Emma. Ia kembali bangkit dengan susah payah, untuk kemudian dijatuhkan kembali okeh kekuatan ghaib dari hantu Celia.


Terjatuh untuk kedua kali nya, membuat Reno tak bisa segera bangkit berdiri. Pemuda itu lalu menangkap penampakan sosok yang berdiri di depan boneka Emma.


Sosok nya persis menyerupai remaja putri yang saat ini terbaring tak sadarkan diri di atas kasur. Hanya saja penampilan nya lebih pucat dan menyeramkan.


Kuku-kuku panjang dan lagi hitam menghiasi tangan arwah Celia. Kedua mata milik sang arwah pun merah smersh darah. Dengan luapan amarah dan benci yang bisa Reno tangkap hanya dalam sekilas pandang.


Reno segera melihat ke arah boneka Emma yang kini mencoba kembali bangkit. Dan apa yang Reno saksikan berikut nya sungguh membuat hati nya menjadi begitu jerih.


Arwah Celia menarik tangan boneka Emma yang hampir terputus hingga itu benar-benar terputus.


Emma menjerit keskitan, hingga ia bahkan kembali terjatuh di atas kedua lutut nya sambil memegangi lengan boneka nya yang telah terputus.


"EMMA!!" Jerit Reno tak tega melihat Emma tersiksa.


Sayang nya pemuda itu masih sangat lemas untuk berlari secepat mungkin demi membentengi kekasih nya itu dari amukan amarah sang arwah.


Gerakan Reno begitu lambat bagi aksi arwah Celia berikut nya.


Sang arwah kembali meraih lengan boneka Emma yang satunya lagi, lalu hendak melepaskan nya pula dari tubuh nya.


SREEKK..


"TIDAK!! JANGAN SAKITI EMMA!!!" Jerit Reno terdengar memilukan.


Reno menggegaskan langkah nya yang tertatih-tatih menuju tempat Emma tergeletak kini.


Bineka Emma meraung kesakitan sambil berguling ke kanan dan kiri. Jika itu adalah tubuh asli nya, sudah pasti ada banyak genangan darah di sekitar tempat Emma berguling kini.


Melihat penderitaan Emma, Reno pun seketika meraung marah.


Ia lupa pada siapa ia berhadapan kini. Reno melayangkan tinju nya ke arah hantu Celia. Namun dalam sekejap sosok nya menghilang dan berpindah ke tempat lain.


"Hihihihihi!! Kau tak akan bisa melukai ku Kakak dengan tinju mu itu!" Ledek sang arwah kemudian.


Reno pun tersadar, dan skhirnya memutuskan untuk segera mersih boneka Emma untuk dipeluk nya lagi erat-erat. Kali ini ia bertekad tak akan melepaskan Emma dari genggaman tangannya lagi.


Reno merasa jerih saat didengarnya Emma merintih kesakitan.


"Bertahanlah Emm! Kita akan pergi dari tempat ini!" Mohon Reno mengiba pada Emma.


Boneka Emma tak menyahut. Ia hanya mampu mengangguk lemah, sementara nyeri pada kedua lengannnya yang telah terputus itu masih menyiksa Emma begitu kuat nya.


"Kalian tak akan bisa pergi dari tempat ini!" Pekik arwah Celia yang meraung marah.


Reno bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh sang arwah. Bahwa arwah Celia hendak menarik kepala boneka Emma hingga terputus seperti yang telah dilakukan nya pada kedua lengan Emma sesaat tadi.


Sementara itu Emma yang pandangan nya langsung menggelap usai kepala nya dicengkeram erat oleh tangan arwah Celia pun seketika teringat pada nasib boneka Cello yang ia lihat dalam kotak tempat Emma terbangun tadi.


Tubuh, kepala, tanagn, serta kaki milik boneka Cello telah tercerai berai. Hingga Emma hanya bisa mengenali nya dari bola mata milik boneka Cello yang menatapnya hampa.


'Apa nasib ku juga akan seperti Cello? Apa spirit ku juga akan tiada seperti spirit nya bila tubuh boneka ku tercerai berai seperti nya? apa aku masih memiliki kesempatan untuk terbangun lagi di tubuh manusia ku? Ma.. kematian ini terlalu dekat menyiksa ku..' Emma menggumamkan isi pikiran nya tanpa suara.


"JANGAN! JANGAN! JANGAN LAKUKAN ITU! KUMOHON!" Jerit Reno dengan mata terbelalak ketakutan.


"Hiihihihihihii!" Tawa arwah Celia melengking nyaring.


Di saat Emma mulai merasakan tarikan pada kepala boneka nya, tiba-tiba saja ia bisa melihat ke sekitar nya kagi.


Begitu sadar, tahu-tahu arwah Celia sudah berada jauh di ujung ruangan. Meski begitu, bukan arwah Celia yang menjadi perhatain boneka Emma maupun Reno saat ini.


Yang menjadi pusat perhatian kini adalah arwah dari sosok yang berbeda dari hantu Celia. Dan dia adalah arwah Susi.


"Susi! Kamu!!?" Emma memanggil nama sahabat nya itu sambil ternganga takjub.


Emma tak menyangka kalau ia akan menjumpai arwah Susi kembali. Terakhir kali, kedua nya bertemu saat spirit Emma hendak ditarik ke dalam tubuh boneka nya oleh Hara.


Susi menoleh dan menatap Emma dengan pandangan bersalah.


"Emma, maaf ya aku datang terlambat.. ada hal lain yang harus ku lakukan di rumah. Jadi, aku lama tak menemui mu lagi," sapa balik Susi dengan tatapan sendu.


"Susi..!" Boneka Emma tampak bergerltar.


Emma tak lagi mempedulikan rasa sakit yang terus berdenyut di kedua lengan boneka nya yang telah terputus. Ingin sekali rasanya ia menjangkau Susi di hadapan nya.


Dan itu memang dilakukan oleh Emma. Meski kini hanya tubuh nya saja yang bisa bergerak maju. Sementara kedua tangan nya tergolek terpisah di atas lantai.


Susi mengerti dengan keinginan Emma. Ia pun menghampiri sahabat nya itu. Pandangan nya lalu mengeras saat melihat kondisi boneka Emma yang terlihat menyedihkan tanpa kedua tangan.


"Apa yang terjadi padamu, Emm? Apa ini ulah nya?!" Tanya arwah Susi terlihat marah.


Tak sanggup untuk mengeluarkan kata, Emma pun akhirnya hanya menganggukkan kepala nya sekali.


"Reno! Apa guna nya kau sebagai pacar?! Kau bahkan tak bisa menjaga Emma! Ku pikir Emma akan aman bersama mu! Maka nya aku sempat meninggalkan kalian di apartemen itu!" Hardik Susi memarahi Reno.


Kepala Reno langsung tertunduk. Ia pun marah pada diri nya sendiri atas apa yang telah Emma alami. Kegagalan nya untuk menjaga Emma menjadi kesalahan terbesar sepanjang hiudp nya ini.


Jika ia dibolehkan untuk membenci, tentu lah ia sudah akan membenci dirinya sendiri.


Sesaat kemudian, terdengar suara Emma membela Reno.


"Enggak, Sus! Ini bukan salah Reno! Spirit ku ditarik paksa tanpa aku dan Reno menyadari nya. Saat aku sadar, tahu-tahu aku sudah ada dalam tubuh boneka ini. Dan arwah Celia juga sudah menguasai tubuh ku. Begitu kan, Ren?" Emma menoleh ke Reno.


"Ya.. tapi aku juga bersalah, Emm.. aku sempat gak sadar kalau kamu lagi dirasuki. Ku pikir kepala mu terbentur atau kenapa sehingga kepribadian mu jadi berbeda. Salah ku lah yang telt menyadari kalau kamu ternyata sudah dipaksa menjadi boneka arwah!" Tutur Reno menyalahkan diri sendiri.


"Enggak, Ren! Ini bukans alah kamu!" Sanggah Emma masih membela Reno.


"Iya, Emm. Aku juga bersalah karena telat datang ke sini dan menyelamatkan mu dari semua kejadian tragis yang terjadi pada mu. Bahkan di depan kedua mata ini pun, aku tetap gak bisa menolong kamu!" Lanjut Reno dengan rasa bersalah nya.


***