
"Dasar perawat aneh! Zaman sekarang masih ngomong soal mistis begitu! Hah. Dipikirnya aku bodoh apa!" Rutuk Reno sambil menatap lekat wajah Emma yang masih belum pulih jua dari obat bius nya.
Baru setelah beberapa menit berlalu kemudian sajalah akhirnya Emma terbangun kembali. Akan tetapi, Reno menangkap keanehan lain dari kekasih nya itu.
Emma terus diam sepanjang waktu. Sesekali gadis itu memberinya tatapan marah.
Reno pikir, Emma marsh kepada nya karena telah memaksanya melakukan prosesi CT Scan. Jadi Reno pun membujuk Emma dan meminta maaf kepada nya.
"Maaf ya, Yang. Aku maksa kamu pergi ke sini. Aku sungguh minta maaf. Sekarang, kita akan pergi kemana oun yang kamu mau! Aku akan siap untuk anterin kamu ke mana aja deh pokok nya!" Reno berseru dengan tulus.
Pada awal nya Emma terdiam tak menyahuti ucapan Reno. Sampai beberapa menit kemudian.
"Celi mau makan..Sate ayam!" Seru Emma bernada ketus.
"Oke. Kita makan sate deh. Yuk kita pergi, Emm!" Ajak Reno aambil mengulurkan tangan nya ke arah Emma.
Pemuda itu sebenarnya penasaran dan ingin bertanya kepada kekasih nya itu. Kenapa Emma beberapa kali memanggil dirinya dengan nama lain.
'Celi. Mestilah itu kependekan dari nama Celia. Apa sih yang terjadi sama kamu, Emm?' batin Reno kusut oleh segala prasangka dan tanya.
Keduanya lalu pergi ke warung makan yang khusus menjual sate ayam. Reno dan Emma sengaja makan di tempat itu.
Pada mulanya tak ada yang aneh dengan Emma. Namun selesai porsi sate pertama milik Emma tandas, dan Rneo telah kekenyangan karena banyak makan, Reno dikejutkan oleh permintaan Emma untuk menambah porsi sate nya lagi.
"Kamu masih lapar, Emm?" Tanya Reno tak percaya.
Dan Emma benar menganggukkan kepala nya.
"Tapi kamu kan udah makan banyak banget tadi. Hampir dua kali lipat nya aku loh itu!" Reno mengingatkan.
Ucapan Reno itu tak sengaja terdengar oleh pengunjung lain yang duduk di dekat keduanya.
Khawatir bila ucapan nya itu akan membuat Emma merasa malu, akhirnya Reno pun terburu-buru menambahkan. Kali ini dengan suara berbisik.
"Tapi gak apa-apa kok, Yang! Kamu bisa makan sebanyak yang kamu mau!" Ujar Reno dengan nada yakin.
Sayang nya keyakinan Reno itu perlahan meluntur saat Emma kembali menambah porsi sate nya lagi dan lagi. Sampai enam porsi sate kemudian telah habis dilahap Emma seorang diri.
"Emm..? Kamu kerasukan atau apa sih? Kok tumben kamu gak ada kenyang-kenyang.."
Ucapan Reno langsung terhenti saat ia menangkap tatapan sengit dari kekasih nya itu.
Reno buru-buru mengunci rapat mulut nya. Dan kembali mengatakan,
"Tapi gak apa-apa kok, Yang! Aku tetap cinta kok sama kamu walau kamu jadi gendut nanti nya!"seloroh Reno menguji Emma.
Pemuda itu ingin tahu, bagaimana reaksi Emma atas ucapan nya tadi. Karena sepengetahuan nya, Emma paling tak suka bila dikatakan gendut.
Ternyata tak ada perubahan berarti dari sikap Emma. Gadis itu tetap terlihat asik menyantap setiap potongan daging sate ayam dari setiap tusukan yang ia pegang.
Sudah delapan porsi sate ayam yang telah dihabiskan oleh Emma seorang diri. Dan Reno sungguh ternganga dengan apa yang disaksikan nya saat ini.
'Delapan porsi, woy! Delapan porsi! Ya ampun! Apa jangan-jangan omongan perawat tadi itu benar ya? Kalau sebenar nya Emma lagi kerasukan? Kalau iya, mestilah itu setan rakus! Makan nya kelewat banyak banget sih!' rutuk Reno dalam hati.
Akhirnya, setelah Emma menandaskan porsi ayam sate nya yang ke sepuluh, gadis itu berhenti mengunyah lagi.
Reno masih ternganga keheranan menatap kekasih nya itu. Tak mengira kalau perut kecil milik Emma bisa menampung semua porsi ayam yang baru saja dihabiskan oleh nya tadi.
Selepas dari warung sate, Emma lalu meminta untuk pergi ke taman bermain. Di sana Reno menilai bahwa Emma saat ini memang bukanlah Emma yang ia kenal.
Akan tetapi Reno tak berkomentar apa-apa. Ia membiarkan saja Emma melakukan apa yang diinginkan nya. Sementara dalam hati pemuda itu ucapan perawat di rumah sakit tadi terus saja terngiang-ngiang di benak nya.
'dirukiah? Apa iya aku harus ajak Emma ke tempat Pak Ustadz?' Reno bergumam sendiri.
Saat itu Emma sedang menaiki wisata kincir angin. Reno yang tadi sempat mules pun pamit tak ikut naik bersama kekasih nya itu dan langsung melipir ke kamar mandi umum.
Sambil menunggu, Reno lalu mencari informasi tentang ustadz yang handal dalam merukiyah. Ia segera mendapatkan informasi yang dibutuhkan nya. Dan ternyata lokasi rumah ustadz tersebut berada tak jauh dari taman bermain.
Saat pemuda itu mencari informasi lain terkait jam operasional sang ustadz dalam merukiyah, tahu-tahu Reno dikejutkan dengan kemunculan kaki jenjang di depan nya.
Begitu Reno mengangkat kepala, ia terkejut karena ternyata Emma telah selesai menaiki kincir angin. Gadis itu kini sedang menatap lekat ke arah ponsel milik Reno.
Emma seolah tahu kalau Reno sedang mencari informasi terkait ustadz. Sehingga gadis itu pun kembali diam sepanjang perjalanan pulang mereka menuju apartemen.
Saat itu hari mulai sore. Sebelum pulang, Reno sempat menawarkan Emma untik menjenguk Retno di rumah sakit.
"Kita tengokin Mama kamu dulu, gimana, Yang? Masih sempat sih jam besuk nya," Reno mengajak Emma.
"Mama? Celi mau ketemu Mama," jawab Emma dengan nada datar.
Begitu sampai di pelataran rumah sakit, Reno terkejut bukan main saat Emma justru mengamuk di jok belakang motor nya.
"Gak mau lagi! Celi gak mau ke rumah sakit! Celi mau pulang! Pulang! Pulang!" Jerit Emma begitu histeris.
Reno yang kalang kabut pun akhirnya tak jadi parkir masuk ke dalam rumah sakit.
Keduanya lalu kembski melanjutkan perjalanan pulang mereka ke apartemen milik Reno.
Begitu sampai di depan apartemen yang ditinggali oleh Emma, kekasih nya itu langsung saja masuk dan menutup pintu. Ia tak membiarkan Reno ikut masuk bersama nya.
Reno pikir Emma mestilah marah kepada nya. Akhirnya dengan langkah gontai, Reno langsung saja pergi ke apartemen nya sendiri di lantai atas. Dalam benak pemuda itu, terdapat bahyak hal yang mengganggu pikiran nya saat ini.
Selepas maghrib, Reno kembali ke apartemen yang ditempati oleh Emma. Kali ini ia membawakan fried chicken kesukaan kekasih nya itu.
Emma langsung melahap habis lima potong ayam goreng yang dibawakan oleh Reno. Lalu kembali menagih ayam goreng berikut nya pada pemuda itu.
"Itu tadi udah lima potong, Emm. Jangan berlebihan dalam makan ya, Yang. Aku gak mau perut kamu sakit.." bujuk Reno.
Emma tak terima dengan rayuan Rneo. Gadis itu kembali mengamuk dan melemparkan piring bekas makan nya ke arah Reno.
Prang!!
Berunthng piring yang ia gunakan adalah piring melamin. Jadi Reno tak harus membersihkan pecahan piring tersebut. Karena piring itu bahkan tak lecet sedikit pun.
Pada akhirnya, Reno kembali keluar untuk membeli fried chicken pesanan Emma. Tak tanggung-tanggung. Reno sekalian membelikan sepuluh potong lagi untuk kekasih nya itu.
Reno pikir Emma tak mungkin akan menghabiskan semuanya. Namun anggapan nya kembali meleset untuk ke sekian kali.
Karena pada akhirnya kesepuluh potong ayam goreng yang baru saja ia beli itu habis tandas masuk ke dalam perut kecil nya Emma.
Selesia makan, Reno pun pamit kembali ke kamar nya.
Sepanjang malam itu, Reno terus memikirkan perilaku ganjil dari Emma.
Esok pagi nya, setelah membelikan sepuluh porsi bubur ayam untuk Emma (Reno benar-benar harus bolak-balik empat kali untuk membeli bubur sarapan nya Emma itu), Reno pamit pergi sebentar.
Pemuda itu laku ke rumah sakit tempat Emma melakukan CT Scan nya kemarin lalu. Tujuan nya adalah untuk melihat hasil CT Scan milik Emma.
Dan apa yang Reno dengar dari mulut dokter radiologi pun sontak membuatnya semakin kalut.
"Maaf, Mas. Dari hasil CT Scan milik Nona Emma, tak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari isi kepala nona Emma. Ia dalam kondisi prima sekarang ini. Mungkin kekhawatiran Anda sedikit berlebihan. Atau bisa jadi ada masalah psikologis yang sedang dialami oleh Nona Emma. Jadi saran saya, Anda bisa membawanya menemui seorang psikolog untuk memastikan kondisi nya lagi," papar sang dokter panjang lebar.
Reno tak menjawab apa-apa atas kalimat dokter tersebut. Ia masih terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi kepada Emma nya. Jika secara medis, Emma dinilai sehat, apa mungkin memang psikologis Emma lah yang sedang terganggu.
"Lalu aku harus membawa Emma ke mana lagi? Ke psikolog atau.. ke ustadz?" Gumam Reno dari atas jok motor nya.
Sepanjang perjalanan pulang nya kembali ke apartemen, Reno terus mempertimbangkan untuk membawa Emma pada salah satu dari pilihan tadi.
***