Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Malam Berkabut



Dini hari. Pukul 01.30 pagi.


Hujan merintik. Tanah licin dan basah. Udara membeku. Hutan berkabut.


Dua boneka terus berlari menerabas jalanan sepi. Satu boneka perempuan dengan rambut pirang. Serta satu boneka perempuan lain berambut hitam lurus panjang.


Ada yang berbeda dari kedua boneka perempuan tersebut. Yakni pada boneka berambut hitam yang sedih nga tak memiliki tungkai tangan barang satu pun. Ya. Sang boneka memang buntung hingga sebahu.


Boneka buntung itulah yang diinangi oleh ruh Emma.


"Kakak! Tunggu sebentar!" Panggil boneka berambut pirang yang tak lain adalah boneka Sella.


Boneka Emma seketika berhenti. Ia lalu berbalik menghadap rekan boneka nya.


"Kenapa, Sell?" Boneka Emma bertanya.


"Sella.. mulai kehabisan energi, Kak..gimana ini..?" Tanya Sella terdengar panik.


'Ahh.. aku lupa untuk membawa cemilan. Kupikir tadi nya kami tak memerlukan makanan karena kami digendong oleh Reno..' gumam Emma dalam hati.


Boneka Emma terlihat berpikir.


"Ya sudah. Kita istirshst saja dulu ya, Sell? Kita sembunyi di belakang semak-semak itu. Gimana?" Usul Emma.


"Tapi kalau nanti orang jahat nya sampai ke sini gimana Kak? Sella takut.." ujar boneka Sella.


Emma mende sah letih. Diajak nya Sella ke sebuah semak-semak. Hingga sosok keduanya tersembunyi dari pandangan mata.


Detik selanjutnya, Emma bicara dengan suara lirihan yang sangat pelan.


"Gak apa-apa. Yang penting kita duduk diam saja di sini. Lagipula, kata Kak Reno tadi kan, bantuan akan segera datang kan?" Sahut Emma menyemangati.


Boneka Sella mengangguk pelan.


Setelah nya kedua boneka itu pun beristirahat selama beberapa waktu dalam diam.


Malam begitu pekat. Sementara kabut yang tadi nya menipis terlihat semakin menebal kini.


"Kak, ini apa? Sella takut?" Tanya Sella seraya menatap kabut di sekitar nya.


"Ini nama nya kabut, Sell," jawab Emma dengan sabar.


"Kabut? Apa itu kabut, kak?" Tanya Sella lagi.


"Kabut itu uap air yang berada dekat dengan tanah saat udara dalam kondisi sangat dingin. Seperti sekarang ini, Sella ngerasa dingin juga kan?" Tutur Emma menjelaskan.


"Iya, Kak. Dingin. Dan juga basah. Sella gak suka sama hujan. Kata Cello, hujan itu seperti langit yang sedang menangis. Sella gak suka yang sedih-sedih.." lirih Sella terdengar semakin pelan.


Emma tahu, kalau saat ini Sella hampir kembali ke Pasar Ghaib untuk mengisi energi nya lagi.


'Ahh.. betapa kehidupan di pasar ghaib justru terasa lebih menenangkan dibanding di dunis nyata saat ini? Ma.. Emma kangen Mama..' lirih Emma merapalkan rindu nya untuk sang Mama.


Setelah beberapa lama hening. Sella pun berkata lagi.


"Hujan itu berkah dari langit lho, Sell.. bahkan dikatakan kalau saat hujan adalah waktu yang bagus untuk mengajukan doa pada sang Pencipta. Tuhan kita," tutur Emma bercerita.


"Begitu kah, Kak?" Lirih boneka Sella.


"Ya.. dan tahu gak sama pelangi? Pelangi itu kan biasanya muncul setelah hujan atau gerimis, Sell.." tutur Emma lagi.


"Iya, Kak?"


"Ya! Makanya, jangan bersedih bila hujan datang. Karena ada kemungkinan kita bisa melihat pelangi yang indah setelah nya nanti."


"Mm.."


Emma merasa udara semskin dingin menusuk tubuh nya yang basah terkena rintik hujan sepanjang perjalanan tadi. Apalagi luka menganga pada kedua bahu nya yang kini tak lagi memiliki lengan, perih itu mengoyak pikiran nya, setiap kali tetes air menitik ke luka tersebut.


Meski begitu Emma tak ingin menunjukkan rasa sakit nya di depan Sella. Ia tak ingin membuat boneka asuh nya itu semakin risau dengan keadaan nya.


"Kakak, kalau nanti Sella bobo, jangan tinggalin Sella lagi ya, Kak.. Sella takut sendirian.." ucap Sella dengan lirihan pelan.


"Iya. Kakak janji gak akan ninggalin kamu, Sell!" Ujar Emma berjanji.


Tak lama kemudian, boneka Sella tak lagi bergerak. Spirit nya telah kembali ke Dunia spirit untuk para makhluk gentayangan dan terkutuk seperti mereka.


Di samping nya, Emma menatap kabut dengan perasaan yang gundah gulana. Ia masih sulit untuk mempercayai jalan takdir nya saat ini.


Kilas balik masa lalu pun kembsli terbayang dalam imaji sang boneka berambut hitam. Dalam diam nya, Emma pun mengulas kembali semua kenangan.


Kabut putih yang menghalangi sinar mentari,


Menutupi pandangan mata dari segala,


Sesaat saja muncul ilusi di depan diri,


Bayang masa lalu pun datang,


Mewujud dalam kabut nyata...


(Judul lagu: Kabut Putih. Oleh: Lazuli Nun... Btw, Lazuli Nun itu nama pena Mel di dunia musik..)


Secara perlahan kesadaran Emma pun mulai tertarik dari tubuh boneka nya. Ia tahu, kalau sebentar lagi pun ia akan bertemu kembali dengan spirit Sella di Pasar Ghaib.


Sekilas, gadis itu merasa jenuh dengan kondisi nya saat ini. Ia sungguh merindukan kehidupan nya yang damai bersama Mama dan juga sshabat-sahabat nya, Susi dan Inge.


Sebelum masuk ke alam bawsh ssdar nya, sang boneka buntung itu pun melirihkan harapan terdalam nya.


"Maa.. Emma pingin banget Mama, pas Emma buka mata nanti.. Emma kangen Mama.." ucap Emma sebelum akhirnya ia pun terdiam seperti boneka Sella di samping nya.


***


Sementara itu kita kembali kepada Reno.


Pemuda itu kini terseok-seok berjalan mengikuti jalan kecil yang tadi telah dilewati oleh Emma. Ia sengajs tetap berada di jalan agar penjahat yang mengejar nya di belakang masih bisa melihat keberadaan nya.


"Iti dia di sana!" Pekik suara seseorang di belakang Reno.


Ekspresi wajah Reno seketika mengeras. Ia pun kemudian mengubah arah haluan dari langkah kaki nya. Jika Emma dan Wella tadi terus menyusuri jalan berbatu. Maka kini Reno menerobos semak-semak di sisi kanan jalan.


Tujuan pemuda itu adalah untuk mengecoh perhatian lawan. Jadi mereka akan sibuk mengejar nya. Sementara Emma dan Sella memiliki waktu lebih untuk melarikan diri.


Dengan terseok-seok menahan nyeri pada kaki nya yang terkilir, Reno terus menerabas semak-semak di hadapan nya. Ia tak tahu ke mana langkah kaki nya kan membawa. Yang ia yakini adalah bahwa Emma kini telah aman dari penjahat yang mengejar mereka.


Sesaat kemudian, udara yang dingin bertemu dengan hujan yang merintik. Kabut putih yang sudah terbentuk sejak awal pelarian mereka di hutan itu pun perlahan kian menebal.


Kabut itu kemudian berhasil menutupi pandangan Reno sepenuh nya pada jalan di sekitar nya. Hingga tak kama kemudisn, pemuda itu tersungkur jatuh ke dalam lubang yang dibuat oleh pemburu untuk menangkap buruan hutan nya.


Srakk!!


"Aaegghh!"


Kepala Reno terantuk batu. Seketika itu pula rasa pusing pun ia rasakan.


Tak berselang lama, pengejar nya berhasil mendekat. Dan Reno pun memasrahkan takdir nya pada Sang Pembuat Takdir.


"Kabut ini cukup pekat juga, Dda. Coba tengok ke sana. Ambil saja Emma nya. Dan tinggalkan pemuda itu di lubang ini. Biarkan saja dia membusuk atau dimakan hewan liar yang menghuni hutan. Itu adalah ganjaran untuk nya karena sudah menyusahkan ku!" Gerutu suara perempuan dari atas Reno.


'Itu benar suara Bi Hara..' gumam Reno membatin.


Reno yang pura-pura tak sadarkan diri lalu menbiarkan saja saat seseorang membalikkan tubuh nya hingga tidur telentang. Dan ia pun merasakan saat tangan itu mulai merogoh-rogoh kantung jaket dan juga celana nya.


"Emma tak ada bersama nya, Ra!" Ujar suara barito, yang Reno kenali adalah milik Pak Adda.


"Apa?! Cari lah lebih teliti lagi! Mungkin saja boneka itu ada di sekitar nya!" Titah Hara terdengar tak sabar.


***