Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Ditodong Menikah



"Aku sebenarnya masih takut untuk pulang ke rumah, Ren. Takut kalau majikan ku yang gila itu datang kemari. Atau lebih ngeri lagi kalau Bi Hara lah yang jemput aku ke sini!" Ujar Emma di perjalanan menaiki motor.


"Jangan takut, Yang. Kan sekarang kamu punya aku!" Sahut Reno dengan nada percaya diri.


"Memang nya kamu berani ngelawan mereka, Ren?" Tanya Emma lagi.


"Ya iyalah! Buat kamu, apa sih yang enggak, Yang!" Ujar Reno kembali dengan nada yakin yang serupa.


"Yang buat aku khawatir juga, gimana kalau Nyonya Sofia nuntut aku karena udah kabur sebelum masa kerja ku selesai ya? Apalagi beliau kan ikut bantu biaya pengobatan Mama," ungkap Emma dengan jujur.


"Memang nya berapa yang dia udah kasih ke kamu, Emm?" Tanya Reno.


"Ada mungkin pego juta.. aku juga mikir, kayak nya Mama berobat di rumah dulu aja deh. Kata Dokter Liani, kondisi Mama udah stabil sih," ujar Emma.


"Soal Mama, jangan berhentiin pengobatan nya, Emm. Mending sekalian dituntasin pengobatan nya. Urusan biaya, aku mau bantu kamu kok," sahut Reno dengan santai nya.


"Mana bisa begitu, Ren! Aku gak enak lah!" Tolak Emma segera.


"Ya dienak-enakin dong, Yang! Anggap aja itu uang beli kamu biar bisa aku nikahin nanti!" Jawab Reno sekena nya.


Emma langsung mencubit pinggang Reno sekali.


"Aduh! Jangan main cubit-cubitan sekarang dong, Yang! Bahaya ini. Kita kan masih di jalanan. Nanti aja kita lanjut di apartemen ya, Yang!" Goda Reno kembali.


Dan Emma pun kembali mencubit pinggang Reno pada sisi yang lain.


"Aduh! Kok malah dicubit lagi sih, Yang?!" Protes Reno.


"Maka nya, kalau ngomong tuh jangan asal! Apaan coba tadi. Pake ada kalimat 'beli aku' segala! Memang nya aku barang dagangan apa?!" Protes Emma tak terima.


"Jangan marah dulu dong, Emma ku Sayang.. maksud aku yang sebenarnya tuh, sebentar lagi kan kita resmi halal jadi pasangan suami istri. Ya, kamu gak apa-apa pakai uang ku juga, gitu. Kan nanti Tante Retno bakal jadi Mama ku juga!" Papar Reno menjelaskan.


"Memang nya kita mau nikah dalam waktu dekat apa?! Baru juga balikan. Masa iya mau langsung serius mgomongin soal nikah?!" Protes Emma kembali.


"Lho?! Kan kamu sendiri yang udah ngenalin aku ke Mama kamu tadi sebagai 'calon menantu', Yang?" Tuding Reno mengingatkan.


"Itu kan keceplosan. Maksud aku tuh, ya kita pacaran dulu aja lah! Masa penjajakan awal lagi aja gitu!" Emma memberi usul.


Keduanya lalu tiba di depan sebuah gerai fried chicken.


Reno mematikan mesin motor, dan Emma sudah turun dari atas jok nya. Reno menyusul turun. Namun pemuda itu segera menahan lengan Emma karena ucapan nya yang belum selesai.


Reno lalu menarik kedua tanagn Emma hingga kini kedua nya pun saling berhadapan. Dengan posisi pemuda itu yang agak menyandarkan tubuh nya pada motor milik nya.


"Emma, Sayang. Please kamu dengerin omongan ku sampai selesai ya, Emm. Aku tuh udah nantiin masa kita bisa bersama lagi selama bertahun-tahun ini. Aku tuh udah mimpiin basah muka kamu jutaan kali dalam lima tahun terakhir ini!" Ungkap Reno sejujur nya.


"Dih! Dasar mesum! Ngapain ngomong gitu ke aku, coba!" Elak Emma yang berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman Reno. Sayang, usaha nya itu berakhir gagal.


Reno masih memegang erat kedua tangan Emma. Pemuda itu pun melanjutkan kembali ucapan nya.


"Aku gak mesum, Emm. Kamu memang sebegitu candu nya buat hidup ku. Aku khawatir dengan menunda pernikahan, justru akan menjerumuskan kita pada dosa. Aku takut gak bisa jaga diri kamu, seperti yang sudah dipesankan oleh Tante Retno ke aku! Jadi Emma, Sayang.. please, banget, kita nikah secepat nya ya?" Bujuk Reno dengan pandangan mengiba.


"Memang nya mendesak banget ya, Ren? Aku juga belum ketemu orang tua kamu," gumam Emma dengan suara nyaris berbisik.


"Itu sih soal gampang! Yang penting kamu setuju kalau kita menikah cepat, Emma Sayang. Setelah itu, aku bisa lebih plong untuk dekat-dekatan sama kamu!" Jawab Reno dengan jujur.


Emma tak menyahut apa-apa. Karena itulah Reno pun kembali lanjut berkata.


"Tolonglah, Emm.. please, kita resmiin hubungan kita dulu ya ke pernikahan? Ini juga kan bisa buat Mama kamu, enggak. Maksud aku, Mama kita (Retno) senang. Iya kan?" Bujuk Reno merayu.


Emma berpikir keras. Memang, telah sejak lama Retno menguliahi nya soal pernikahan. Ujung-ujung bahasan nya mestilah soal keberadaan cucu yang sangat diidamkan oleh sang Mama.


Setelah memikirkan kebenaran dalam ucapan Reno, pada akhirnya Emma pun menyahut singkat.


"Ya udah. Aku mau!" Jawab Emma.


Seketika itu pula Reno langsung sumringah.


"Iya, aku mau!" Jawab Emma.


Reno langsung memeluk Emma erat-erst dengan wajah yang buncah dalam rasa bahagia.


Pemandangan keduanya yang berpelukan di depan gerai fastfood itu sontak menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar sana.


Emma akhirnya menyadari di mana mereka berada saat ini. Dengan rasa geram yang bercampur malu, Emma langsung mendorong dada Reno menjauh.


Gadis itu kemudian berbalik menuju gerai fastfood yang ia tuju. Meninggalkan Rneo di belakang nya yang masih menyengir lebar.


Emma mengabaikan pandangan penjaga gerai terhadap nya. Walau sebenarnya dalam hati gadis itu sungguh malu dengan aksi Reno di parkiran motor tadi.


Setelah membayar pesanan fried chicken milik nya, Emma pun kembali ke tempat parkiran motor, di mana Reno menunggu sedari tadi.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Emma langsung naik ke jok belakang motor. Dan Reno pun melajukan kendaraan roda dua nya itu kembali membelah jalanan.


Di perjalanan menuju rumah Emma, Reno menyanyikan lagu-lagu bahagia.


Dan Emma yang semula masih merasa sebal pada pemuda yang menlmboncengi nya tiu, akhirnya harus menyerah. Tak berselang lama, Emma pun ikut menyanyi bersama Reno.


Keduanya menyanyikan lagu karya Lazuli Nun yang berjudul "Arti Hadir mu".


Berikut adalah lirik nya.


Terbayang dalam imaji,


Yang mungkin takkan kau pahami,


Tak Usah kau hirau semua,


Biarlah semua adanya..


Tenggelam ku dalam mimpi,


Mencsri cinta yang sejati,


Dan aku pun temukan mu,


Ku yakin, kau lah cinta ku..


Kau halau semua batas itu,


Cairksn beku di hati,


Alirkan semua rahasia,


Menghilang dalam arusnya,


Cinta yang buat ku bshagis..


Reff:


Tak usah kau cari makna hadir ku untuk mu..


Aku di sini intuk mu..


Mungkin saja beri arti cinta padamu, Sayang..


Aku di sini untuk mu..


***


(Dan, di atas adalah lagu pertama yang Mel buat. Dibuat nya juga pas ada tugas musik di SMA dulu. Puluhan tahun yang lalu. Hihihi.. nada nya cozy. Kayak lagu yang ada di kafe-kafe gitu. Semoga Mel berkesempatan untuk memperdengarkan nya ya!)


***