
"Anak-anak suka buah-buahan," papar Sofia memberitahu.
"Mereka memakan sari-sari makanan. Sementara ampas nya nanti dibuang saja," imbuh Sofia lebih lanjut.
Emma lalu mengamati saat buah mangga yang disodorkan oleh Sofia ke depan mulut boneka Sella dan Cello ternyata tak benar-benar dimakan oleh kedua nya.
Setelah beberapa detik buah itu ada di depan mulut keduanya, Nyonya Sofia kemudian meletakkan potongan buah tersebut di piring yang ada di atas meja.
Sepertinya, yang dimaksud oleh majikan Emma dengan ampas tadi adalah potongan buah yang telah dihisap sari nya oleh kedua boneka arwah tersebut.
Melihat tumpukan ampas buah mangga yang seperti masih baru tak tersentuh, Emma jadi ingin mencicipi rasa buah tersebut. Ia ingin tahu, bagaimana rasa nya.
Emma jadi teringat dengan buah yang sering dijadikan sesajen dalam ritual adat di kampung nya dulu. Karena banyak yang mengatakan kalau buah dan makanan yang telah dijadikan untuk sesajen itu akhirnya akan terasa hambar/ tak memiliki rasa.
"Kakak Cantik mau?" Tanya boneka Sella sambil memiringkan kepala nya ke salah satu sisi.
Melihat tingkah boneka Sella, Emma didera perasaan untuk memeluk boneka itu. Mungkin jiwa kekanakan nya menangkap betapa cute nya penampilan dan sikap Sella.
'Sayang sekali itu adalah boneka berhantu.. kalau itu robot mungkin aku tak akan sesegan ini,' gumam batin Emma.
"Mm.. enggak. Makasih!" Sahut Emma singkat.
"Anak-anak juga suka nasi goreng telor ceplok. Menu sehari-hari nya mereka sudah diketahui oleh Chef Kiman. Jadi tugas kamu hanyalah menyuapi mereka saja," papar Sofia lebih lanjut.
Emma mengangguk-angguk tanda mengerti.
Kemudian ia teringat pada sesuatu hal. Karena nya ia pun segera menanyakan nya kepada Nyonya Sofia.
"Maaf, Nyonya," panggil Emma.
"Ya?"
"Apa memang biasanya anak-anak tidur di siang hari dan..aktif di malam hari?" Tanya Emma tiba-tiba.
Nyonya Sofia tak segera menjawab pertanyaan Emma. Ia terlebih dulu menatap nanny baru nya itu lekat-lekat selama beberapa waktu.
"Ya. Bisa dianggap seperti itu. Jadi biasanya selepas subuh, anak-anak akan kembali tertidur. Jadi tolong ganti baju mereka setiap sebelum subuh ya! Dan antarkan juga mereka ke kamar nya lagi. Karena selepas subuh, mereka benar-benar pulas tertidur," imbuh Sofia memberitahu Emma.
'Mestilah maksud nya dengan pulas tidur itu adalah boneka nya tak bisa bergerak di waktu siang. Kenapa bisa gitu ya?' Emma bertanya dalam hati.
"Baik, Nyonya," sahut Emma singkat, menutupi rasa penasaran nya.
"Kalau begitu, saya titipkan anak-anak ke kamu ya, Emm. Saya mau istirahat dulu. Jangan bangunkan saya. Kalau ada apa-apa, bangunkan saja Bibi Hara!" Titah Sofia jelas dan padat.
"Baik, Nyonya!" Jawab Emma.
Sofia kemudian berkata pada kedua anak boneka nya.
"Dear, Dolls nya Mami.. Mami bobo dulu ya sayang.. kalian main baik-baik sama Kakak Emma. Mami saaayang kalian!" Tutur Sofia sambil mengecup mulut boneka Sella dan Cello secara bergantian.
Melihat itu, Emma langsung bergidik ngeri.
'Bisa-bisa nya dia mencium boneka berhantu di bibir! Beneran gila ini majikan baru ku!' batin Emma berkomentar.
Sofia kemudian bangkit berdiri dan keluar dari ruangan tivi. Sudut mata Emma menangkap profil Sofia yang kini menaiki tangga menuju lantai atas. Tempat kamar tidur nya berada.
Setelah Sofia pergi, Emma merasa canggung dan tak nyaman karena kini ia ditinggal bertiga dengan boneka Sella dan juga boneka Cello.
Kedua boneka itu kini sedang mengulurkan potongan buah mangga di depan mulut masing-masing. Sementara mata keduanya yang berkilat karena pantulan cahaya lampu saat ini menatap Emma tanpa sekalipun berkedip.
Memang desain kedua boneka itu membuat keduanya tak bisa memejamkan mata. Karena mata yang ada pada wajah mereka hanyalah ukiran tangan semata saja.
"Ehemm!" Emma berusaha menenangkan diri dengan berdehem.
"Jadi, kalian masih lapar?" Tanya Emma hati-hati.
Keduanya mengangguk sekali. Sambil masih menatap Emma dalam diam.
Dilihat dengan intens oleh kedua boneka arwah tersebut membuat Emma jadi merasa tak nyaman. Sehingga ia pun kembali mengucapkan basa-basi nya.
"Yah.. bagus lah. Anak-anak memang perlu makan banyak. Untuk pertumbuhan yang baik nanti nya," ucap Emma tanpa dipikir lagi.
"Tapi, Kak. Kami kan boneka. Mana bisa kami tumbuh seperti anak manusia?" Komentar Sella tiba-tiba.
"Dasar gak sopan!" Tegur Emma tanpa pikir panjang.
Begitu cercaan itu keluar dari mulutnya, Emma langsung menyesali ucapan nya itu.
Ia bahkan langsung menutup mulut dengan tangan nya sendiri.
"Siapa maksud Kakak Cantik yang enggak sopan? Apa itu aku, Kak?" Tanya boneka Cello dengan seringai lebar di wajah nya.
Jantung Emma langsung serasa ingin berhenti saat dilihat nya boneka Cello melompat turun dari atas sofa.
Kemudian boneka lelaki itu melangkah mendekati Emma dengan suara 'klik. Klak' khas nya.
Emma berusaha bersikap tenang. Meski begitu, ia tak bisa mencegah tangan nya dari mencengkeram lengan sofa di sisi kiri dan kanan nya erat-erat.
Gadis tersebut jelas masih merasakan takut bila kedua boneka itu mendekati nya. Seperti saat ini.
Klik. Klak.
Klik. Klak.
"Aku suka Kakak Cantik! Apa kakak tahu, kalau Kakak itu lucu sekali?" Ujar boneka Cello, masih sambil mendekati Emma.
Emma sebenar nya ingin langsung lari menjauhi boneka Cello. Akan tetapi sesuatu dalam benak nya mengatakan kalau ia tak perlu takut terhadap kedua boneka di depan nya itu.
"Oh ya? Bagus lah! Kakak juga merasa kalau diri kakak lucu," sahut Emma dengan asal.
Kini boneka Cello telah berdiri di depan Emma. Ia terlihat menyenderkan tubuh nya pada meja kayu yang ada di sisi kanan nya.
"Tapi kenapa Kakak tadi bilang Cello gak sopan? Apa Kakak gak suka sama Cello?" Tanya boneka Cello dengan nada datar.
Entah kenapa, Emma tiba-tiba jadi merasa gugup saat diinterogasi seperti itu oleh Cello. Ia kesulitan untuk berkata-kata selama beberapa detik lama nya.
Tapi setelah Emma menabahkan hati, ia pun akhirnya bisa juga mengungkapkan isi pikiran nya langsung di depan Sella dan juga Cello.
"Mengatakan orang lain bodoh itu sikap yang enggak sopan. Ba.. bagaimana kalau ada yang bilang Cello itu bodoh? Apa Cello gak akan marah?" Tanya Emma dengan keberanian yang entah datang dari mana.
Tik. Tak.
Tik. Tak.
Suasana tiba-tiba saja menjadi hening.
Emma hanya bisa mendengar dentang jarum jam yang berdentum kencang. Ditatapnya boneka Cello dengan tatapan berani. Walau sebenar nya sekujur tubuh Emma mendadak dihinggapi oleh hawa dingin karena perasaan ngeri.
Tapi Emma menolak mengaku kalah. Kali ini ia harus bisa melawan rasa takut nya. Lagipula bukan kah menurut Nyonya Sofia, beliau akan menjamin keselamatan Emma?
Jadi untuk apa ia takut pada dua boneka yang ukuran nya bahkan tak sampai separuh tinggi badan nya Emma?
Akan tetapi, kejadian berikutnya sontak membuat jantung Emma berolahraga keras. Karena tiba-tiba saja boneka Cello melompat cepat ke pangkuan Emma.
Kedua tangan mungil boneka Cello kini memegang bahu Emma cukup kuat. Sehingga Emma bisa menatap wajah boneka Cello dalam jarak yang sangat dekat.
Ba dump. Ba dump.
Emma merasa jantung nya berdentum terlalu kencang hingga ia bahkan bisa mendengar suara dentuman jantung nya sendiri. Ditatapnya boneka Cello dengan tatapan yang kini tak lagi sepenuh nya berani.
Karena kengerian itu kembali menjerat benak dan pikiran Emma. Sayang nya Emma seolah tak bisa mengeluarkan suara walau hanya sepatah kata.
Kedua bola mata Emma membulat lebar. Ia bahkan tanpa sadar menahan napas nya entah sejak kapan. Dan, ketika Emma hampir menyerah oleh rasa takut yang mendera, tiba-tiba saja boneka Cello mendekatkan wajah nya ke wajah Emma. Dan..
Cup.
Boneka Cello mengecup singkat bibir pink milik Emma.
"Terima kasih, Kakak Cantik. Cello sekarang paham kalau mengatai orang bodoh itu sikap yang tak sopan!" Ujar Cello dengan seringai lebar yang tak akan pernah berubah.
"???!!!!"
***