
Setelah menenangkan diri di tepi pantai, Emma dan Reno pun melanjutkan perjalanan mereka ke rumah sakit. Kali ini Emma ingin menemui sang Mama.
Ada banyak yang telah Emma renungkan sejak semalam tadi. Dan gadis itu ingin mendiskusikan nya dengan sang ibunda.
"Ma.." Sapa Emma saat memasuki kamar tempat Retno dirawat.
"Emma! Kamu datang, Sayang!" Seru Retno terlihat sangat gembira.
Emma bergegas menghampiri Retno di pembaringan nya. Dan kedua ibu dan anak tersebut pun kemudian saling berpelukan erat. Demi melepas rindu yang merajai hati.
"Emma kangen Mama.." ucap Emma dengan setetes air mata yang berhasil lolos menitik di ujung mata nya.
Buru-buru gadis itu mengusap tangis nya agar Retno tak melihat kesedihan pada wajah dirinya.
"Mama juga kangen, Emm, sama kamu. Kamu sehat, Sayang? Coba sini Mama lihat? Hmm.. kayak nya nuka kamu agak pucat, Emm.. kamu lagi sakit ya?" Tutur Retno panjang kali lebar.
Wajah Emma seketika meringis. Gadis itu sudah bisa menebak kali pertama perjumpaan nya lagi dengan Retno mestilah akan diisi dengan kegiatan inspeksi dari sang Mama.
"Ya ampun, Ma.. jangan doain Emma sakit dong! Emma tuh sehat bugar tahu.." sanggah Emma sambil bergaya seperti Hulk yang sedang memamerkan otot bisep nya.
"Tapi kamu kelihatan pucat, Sayang?"Retno kembali mengungkapkan penilaian nya.
"Pucat apa sih, Ma. Emma ngerasa oke-oke aja kok!" Sanggah Emma lagi.
"Kamu udah makan belum, Sayang?" Tanya Retno perhatian.
"Makan apa nih, Ma? Makan angin?"
Seketika Emma langsung menyengir. Cengiran yang kemudian mendapat sambutan cubitan di lengan dari Mama Retno.
"Aduh!" Emma mengaduh.
"Kamu tuh ya! Becanda mulu!" Tegur Retno sambil geleng-geleng kepala.
"Ya kali daripada serius mulu, nanti Emma cepat tua, gimana coba hayo?" Balas Emma sambil cekikikan geli.
Retno hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya saat menghadapi tingkah Emma tersebut.
"Maka nya kamu cepat menikah, Emm! Biar gak keburu tua! Mama juga kan pingin nimang cucu sebelum Mama.."
Retno langsung mengerjapkan kedua matanya selama beberapa kali.
Sesaat tadi, Retno hampir saja mengatakan kata, "mati". Beruntung ia langsung mengerem lisan nya. Jadi kata sensitif tersebut belum sempat keluar dari mulut nya.
Meski begitu. Emma sudah bisa menebak kata apa yang akan diucapkan oleh sang ibunda sesaat tadi. Namun gadis itu memutuskan untuk pura-pura tak tahu.
Rasanya percakapan tentang kematian selalu membuat Emma merasa tak nyaman.
"Tenang, Ma. Nanti Emma kasih Mama cucu sebanyak-banyak nya yang Mama mau!" Seru Emma bersemangat.
"Mama mau berapa? dua? tiga? asal jangan lebih dari itu ya, Ma! Emma gak yakin pinggang Emma bisa kuat kalau ngais anak lebih dari tiga!" seloroh Emma dengan asal.
Retno lalu menjawail pipi kiei Enma.
"iih.. Kamu tuh ya! Nikah aja belum udah main janji mau ngasih cucu! Ngerti cara bikin nya gak kamu?!" Sindir Retno kepada Emma.
"Ishkkk! Mama! Omongan nya jorok ih! Lagian siapa juga sih yang gak tahu cara bikin dedek bayi? tinggal dicelup, diaduk. Jadi deh!" ujar Emma sambil terkikik geli.
Gadis itu sedikit menjauhi tempat pembaringan Retno untuk menghindari cubitan dari sang Mama lagi.
"Calon, calon apa sih, Ma! Calon presiden ya? Mama sotehu deh!" Emma mengelak jauh.
"Ya calon suami lah, Emm! Masa iya calon presiden! Itu sih ngibul nama nya!" Giliran Retno yang mencandai putri nya.
Emma langsung merengut kesal. Sementara Retno malah tertawa bahak selepas-lepas nya.
"Ngomong-ngomong, kamu lagi libur kerja atau gimana, Emm? Kok sekarang kamu bisa tengokin Mama?" Tanya Retno tiba-tiba.
Deg. Deg.
Jantung Emma langsung serasa dipacu saat ia mendengar pertanyaan dari Retno barusan.
Sepanjang perjalanan kemari, Emma sebenarnya galau untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Retno atau tidak.
Emma bisa menebak, bila ia menceritakan apa yang ia alami di villa Grandhill, mestilah ibu nya itu hanya akan kembali mengatakan kalau dirinya terlalu parno.
Pada akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, Emma pun memutuskan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada sang ibunda.
"Mm.. iya, Ma. Emma dibolehin libur dulu untuk merawat Mama selama beberapa hari ke depan!" Jawab Emma berdusta.
"Majikan kamu baik banget sih, Emm. Udah ngasih kamu cuti aja padahal kamu baru kerja kan ya! Apalagi dia juga bantuan biaya perawatan Mama pula! Kamu harus kerja yang semangat ya, Emm!" Retno menasihati Emma.
"Iya, Ma!" Jawab Emma singkat.
"Sebenarnya kamu gak perlu ambil cuti juga sih, Emm. Mama kan udah ada perawat di sini. Gak enak lho sama majikan kamu kalau kamu ambil cuti lama-lama!" Tegur Retno kembali.
"Iih.. Mama. Kayak gak senang gitu deh Emma jengukin!" Emma mencebik kesal.
Retno spontan mencubit pipi Emma dengan pelan dan sayang.
"Bukan nya begitu, Emm.. Tapi kamu juga harus bisa menghargai bantuan majikan kamu untuk keluarga kita. Bekerja lah yang rajin dan bersungguh-sungguh. Setidaknya, dengan cara itulah kita bisa membalas semua kebaikan majikan kamu itu!" Imbuh Retno lebih lanjut.
"Iya, Ma.. nanti Emma kerja yang rajin deh. Super rajin dan bahkan ultra rajin deh Emma lakuin!" Seru Emma berapi-api.
"Baguslah kalau begitu.."
"Aasalamu'alaikum! Tante! Emm!"
Tiba-tiba saja Reno masuk ke dalam kamar rawat Retno.
Pada kedua tangan pemuda itu, terdapat tentengan dari tas plastik berisi roti, selai dan juga buah-buahan.
""Wa'alaikum salam warohmatullah.. eh, ada Nak Reno toh! Pas sekali ini Emma juga baru datang!" Ujar Retno terlihat bersiap untuk mencomblangi Emma dan Reno.
"Iya Tante. Kami tadi barengan ke sini nya kok. Cuma tadi Reno mau beli beberapa cemilan dulu di supermarket. Jadi Reno anterin Emma duluan deh ke sini," papar Reno memberitahu.
Retno langsung saja memberikan Emma lirikan penuh arti.
"Oo.. jadi kalian bareng toh ke sini nya! Tapi kok Emma gak cerita ya?" Tanya Retno dengan nada menggoda.
"Iishhk! Mama tuh suka ngadi-ngadi deh. Ngapain juga Emma cerita. Toh nanti nya juga Reno bakal datang kan ke sini. Tuh, Reno nya datang tuh!" Tunjuk Emma kepada Reno.
Pemuda itu hanya tersenyum-senyum saja menanggapi aksi ibu dan anak itu saat membincangkan diri nya. Ia baru tersadar, dari mana kira nya Emma mewarisi sifat senang bercanda nya itu.
'Ternyata dari Tante Retno, ya.. Ku kira Emma lebih mirip Papa nya..' gumam Reno dalam hati.
***