Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Kebenaran tentang Susi



"Tapi, Emm. Susi kan lagi koma di rumah nya! Aku gak ngerti sama ucapan kamu tentang nyelamatin dia dari mereka. Mereka siapa sih maksud kamu?!" Ucap Reno setengah berteriak.


Langkah Emma langsung berhenti seketika. Ucapan dari Reno barusan bagai dering bel yang terdengar nyaring di telinga Emma.


Gadis itu langsing saja berbalik dan berkata kepada Reno. Sebuah prasangka lama yang sempat mengendap, kini kembali muncul ke permukaan benak Emma.


"Kamu tadi bilang apa, Ren?" Tanya Emma dengan pandangan nanar.


"Susi..koma?!" Emma meraungkan pertanyaan nya itu dengan suara melengking.


"Iya," sahut Reno singkat.


"Susi.. bukan Susi Malaiholo kan maksud kamu, Ren?!" Emma mencoba menyangkal kenyataan yang disampaikan oleh Reno.


"Iya Susi yang itu. Maka nya kan tadi aku nanya berkali-kali ke kamu, Emm. Tentang Susi mana yang kamu maksud. Ya maksud ku juga Susi yang itu!" Papar Reno menjelaskan.


"Tapi.. tapi.. mana mungkin, Ren! Tadi itu Susi lah yang udah nolongin aku keluar dari kamar rahasia! Dia juga yang bantu aku keluar dari villa!" Emma berusaha menjelaskan kenyataan yang ia alami tadi.


"Susi juga masih ngobrol sama aku tepat sebelum kamu muncul! Kami itu tadi istirahat soal nya aku jatuh. Nih aku jatuh kan. Bekas luka nya jelas ada!" Emma menunjukkan luka lecet di tangan nya.


Gadis itu masih mengingat jelas rasa sakit nya saat ia terjatuh tadi.


Namun saat Emma mengingat saat Susi mengabaikan nya yang terjatuh, Emma pun dibuat sadar dengan keganjilan yang ditunjukkan dalam sikap sahabat nya tadi.


Susi yang ia kenal, tak akan mengabaikan Emma begitu saja. Karena Susi selalu sigap menolong Emma kapan pun gadis itu dalam kesusahan.


'Jadi tadi itu..siapa?' Emma bertanya tanpa suara.


"Kapan kamu jatuh, Emm? Ayo kita cepat pulang dan bersihkan luka mu itu!" Reno mengajak Emma pulang.


Pada awalnya Emma masih mengikuti tuntunan lengan Reno di bahu nya. Namun ketika Reno sudah menyalakan mesin motor nya, baru lah Emma tersadar dari kondisi trans nya.


"Tapi, Ren! Tadi itu beneran! Aku tuh ditolongin sama Susi!" Emma kembali bersikukuh mengemukakan pendapat nya.


Menyadari kalau Emma masih juga belum mempercayai ucapan nya, akhirnya Reno mengeluarkan ponsel milik nya dari dalam jaket. Selanjut nya pemuda itu membuka aplikasi chat nya dan menunjukkan nya kepada Emma.


"Ini. Kamu baca sendiri deh, Emm. Aku baru aja nge chat Susi sekitar dua hari lalu. Tadi nya aku mau tanya soal tempat kerja kamu ke dia. Tapi yang balas malah kakak nya. Baca sendiri deh!" Titah Reno dengan nada lembut.


Emma lalu mengambil ponsel Reno dan membaca pesan yang berasal dari nomor Susi.


Reno: Sus, gue Reno. Bagi alamat kerja Emma yang sekarang di mana?


Susi: maaf, saya kakak nya Susi. Susi nya lagi sakit. Dan gak bisa jawab pertanyaan kamu sekarang ini.


Reno: Bisa tolong tanyain ke susi nya, kak? Soalnya darurat.


Susi: maaf. Gak bisa. Susi kecelakaan dua minggu lalu. Dia masih koma. Jadi belum siuman.


Reno: oh.. maaf kak sudah mengganggu. Semoga Susi lekas sembuh ya kak.


Susi: sama-sama. Nanti kalau dia sadar, saya sampaikan pesan dari kamu ya.


Reno: gak usah juga gak apa-apa, kak. Saya nanti tanya ke yang lain.


Kedua mata Emma entah sejak kapan membulat lebar. Gadis itu mengulang baca chatting-an Reno dengan nomor yang diberi nama Susi.


Masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca, Emma pun lantas melihat informasi pada nomor kontak yang bernama Susi tersebut. Dan ternyata benar.


"Ini memang nomor Susi.." gumam Emma yang terlampau takjub.


"Iya kan? Kalau kamu masih gak percaya, besok aku anterin kamu tengokin Susi di rumah nya deh! Gimana?" Reno menawarkan diri untuk mengantar Emma.


"Kalau gitu, tadi itu siapa dong, Ren? Aku yakin banget kalau tadi itu Susi yang udah nolongin aku!" Emma menyuarakan kekalutan nya di hadapan Reno.


Reno tak bisa menjawab pertanyaan Emma itu. Sehingga selama beberapa saat, hanya keheningan yang mengisi udara di sekitar mereka.


Setelah membiarkan Emma memikirkan segala sesuatu nya, Reno kembali mengajak Emma untuk pulang.


"Ayo, Emm! Sebaik nya kita pulang dulu sekarang. Ini udah malam banget. Kamu juga gak mau kan orang-orang yang sudah menyekap kamu mengejar kita?" tutur Reno mengingatkan.


Emma pun tersadar kalau ucapan Reno memang ada benar nya.


Masih dengan perasaan gamang dan bingung, akhirnya Emma pun menaiki jok belakang motor Reno. Namun Reno tak langsung tancap gas.


Saat Emma hendak menanyakan apa lagi yang sedang ditunggu oleh nya, tahu-tahu Reno telah melepaskan jaket luar nya. Kini jaket itu diulurkan nya ke arah Emma.


"Pakai ini, Emm. Angin nya dingin!" Tawar Reno.


Begitu Reno mengatakan kalimat itu, barulah Emma tersadar pada udara dingin yang memang sudah menusuk kulit nya entah sejak kapan.


Emma baru menyadari pula kalau tangan nya telah menjadi dingin. Entah karena sebab ia yang habis berlari melawan udara malam. Atau bisa juga karena kebingungan yang membuat bulu kuduk nya secara perlahan meremang.


'Jika tadi itu bukan Susi. Berarti yang tadi itu..'


Emma bergidik ngeri. Dieratkan nya jaket Reno ke tubuh nya. Kehangatan dari tubuh Reno pada jaket tersebut perlahan menular ke tubuh Emma. Membuat tak hanya tubuh, melainkan juga hati gadis tersebut ikut menjadi hangat pula.


Aroma mint segar dari jaket itu juga membuat kekalutan di benak Emma perlahan memudar.


Entah apa yang sebenar nya terjadi malam ini, Emma putuskan untuk memikirkan nya lagi esok nanti.


"Aku antar kamu pulang ke rumah mu ya, Emm?" Tanya Reno.


"Jangan!" Emma spontan menentang tawaran dari Reno itu.


"Terus, kita pergi ke mana?" Tanya Reno kebingungan.


Selama beberapa detik Emma terdiam. Sampai akhirnya sebuah tujuan pun terpatri di benak Emma.


"Ke rumah sakit. Aku harus melihat Mama, Ren.." ujar Emma dengan nada yakin.


"Kamu yakin? gak mau tidur dulu gitu di rumah? Besok pagi baru aku antar kamu ke rumah sakit?" Tanya Reno memastikan.


Emma menggelengkan kepala. Ia lupa kalau Reno tak bisa melihat gelengan kepala nya. Karena nya ia pun menjawab kembali dalam bentuk kata-kata.


"Ke rumah sakit aja langsung, Ren. Aku kangen Mama.." jawab Emma dengan nada yakin yang sama.


"Oke. Kita ke rumah sakit sekarang ya! Pegang yang erat, Emm!" Titah Reno tak ingin disanggah.


Dan Emma langsung menuruti titah pemuda itu.


Dalam benak nya Emma masih merasa bingung dengan kejadian yang dialami nya malam ini. Terutama tentang Susi. Benarkah sahabat nya itu sakit seperti yang dikatakan oleh Reno?


Jika ya, lalu siapa yang sudah menolong nya hingga terbebas dari kuasa Bi Hara dan Pak Adda tadi?


Selain itu, Emma juga memikirkan cara untuk menyampaikan kebenaran tentang pekerjaan nya saat ini kepada Mama. Ia pun harus memikirkan biaya pengobatan Retno untuk ke depan nya nanti. Karena jelas, majikan nya itu tak mungkin mau melanjutkan pembiayaan pengobatan Retno di rumah sakit.


Tapi setidak nya risiko itu masih jauh lebih baik. Dibanding bila Emma harus kehilangan jiwa nya di tangan hantu Celia? Hii.. Emma berharap itu tak akan pernah terjadi.


***