Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Siluet



Dua jam kemudian...


Emma tiba-tiba saja terbangun oleh sebab hawa dingin yang terasa menusuk kulit nya. Merasa parno, Emma langsung melayangkan pandangan nya ke sekitar.


Ia menajamkan pendengaran nya di keheningan ruangan apartemen milik Reno tempat nya berada saat ini. Dengan tinggi harapan bahwa hantu Celia tak lagi mengikuti nya hingga ke sini.


Setelah beberapa lama ia diam mengamati kondisi di sekitar nya, dan ternyata tak ada hal ganjil yang terjadi. Barulah akhirnya Emma bisa bernapas lega.


Meski begitu, hawa dingin itu masih juga terasa menusuk kulit. Akhirnya terduga yang kini mata Emma lihat kini adalah AC yang tergantung di atas dinding.


Emma meriah tombol remote lalu melihat suhu nya menunjukkan angka 17 derajat Celsius.


"Pantas aja dingin banget! Ini sih udah kayak suhu di kulkas!" Gumam Emma masih dengan rasa kantuk yang tersisa.


Emma pun segera menekan tombol untuk menaikkan suhu AC hingga 25 derajat celsius. Dan perlahan, hawa dingin itu pun menghilang jua.


Emma kembali memejamkan kedua mata nya. Namun setelah terpejam beberapa lama, benak nya tak jua larut dalam dunia lelap.


Emma mencoba berganti posisi. Namun hasil nya tetaplah sama.


Kerongkongan Emma pun lalu terasa haus. Gadis tersebut akhirnya bangkit dan menuju ruang TV.


Semalam, sebelum pergi Reno telah meninggalkan beberapa botol air mineral dan juga snack untuk Emma di ruang tivi. Kulkas di apartemen yang Emma tempati kini memang tak berisi apapun. Karena memang tak ada yang menempati juga sebelum nya.


Emma lalu duduk pada salah satu sofa di ruang TV dan mengambil botol air mineral. Gadis itu menenggak hampir seperempat botol lalu meletakkan nya lagi di atas meja.


Saat itu, Emma belum menyalakan lampu di ruang tivi. Akan tetapi, karena ada pantulan cahaya dari balkon yang tirainya terbuka, akhirnya ruangan tivi pun memiliki penerangan yang temaram.


Merasa sudah nyaman dengan posisi rebah nya di sofa, pada akhirnya Emma tak lagi kembali ke kamar tidur nya. Gadis itu pun perlahan kembali memejamkan mata dalam balutan remang-remang nya cahaya.


Trak!


Emma tersentak bangun saat mendengar suara benda yang terjatuh. Ia berusaha memulihkan kesadaran nya yang hampir transit sempurna ke dunia mimpi sesaat tadi.


Ditajamkan nya pendengaran Emma, untuk mengetahui sumber muncul nya suara benda terjatuh beberapa saat yang lalu. Namun keheningan lah yang akhirnya menjamu pendengaran gadis itu.


Baru juga Emma hendak kembali memejamkan kedua mata nya. Namun siluet tubuh seseorang di bagian ruangan yang lebih gelap dibanding tempat yang lain pun seketika mencuri perhatian Emma.


Terlebih lagi saat Emma menangkap tatapan jeli dari sepasang mata yang dikenal nya. Hingga membuat jantung Emma serasa melompat tak menentu.


Emma langsung bangkit dari sofa yang ia duduki. Lalu berjalan menuju tempat gelap di mana ia tadi melihat siluet seorang wanita yang ia kenal.


Sayang nya, begitu Emma mendekati tempat itu, tak ada siapa pun atau apapun yang bisa menuntaskan kegelisahan yang dirasa oleh nya.


Justru Emma kembali merasakan hawa dingin yang tak biasa berhembus lembut melewati nya. Emma spontan berbalik. Namun lagi-lagi hanya keheningan saja lah yang menjawab nya.


"...Susi? Aku barusan salah lihat lagi ya pasti? Mana mungkin Susi bisa masuk ke apartemen ini?" Gumam Emma dengan hati yang mulai dirundung oleh gelisah.


Dalam hatinya gadis itu bertekad untuk membuktikan kebenaran ucapan Reno terkait sahabatnya, Susi. Meskipun Emma tak tahu apa yang harus diharapkan nya terjadi.


Jika benar Susi tak koma, maka itu berarti Susi ditangkap oleh Bi Hara dan Pak Adda di Villa Grandhill. Itu adalah harapan terakhir yang tak diinginkan oleh Emma untuk terjadi.


Namun bila Susi benar sedang terbaring koma, lalu siapa yang sebenarnya sudah menolong Emma semalam tadi?


***


Di gudang tempat Pak Adda tidur..


"Kau bilang bocah itu kabur?! Bagaimana bisa?!" Cecar Bi Hara begitu emosi.


"Saya juga tak tahu, Dear. Bagaima--"


Ucapan Pak Adda langsung dipotong oleh Bi Hara tiba-tiba.


"Sudah ku katakan, jangan memanggil ku dengan sebutan dear, di sini! Kau ingin semua orang tahu tentang hubungan kita apa??" Tegur Bi hara dengan emosi.


"Ma..maaf, de..ehh, Hara. Maaf Hara. Saya lupa," sahut Adda dengan wajah menyesal.


"Sudahlah! Tapi Celia ku tak apa-apa kan?" Tanya Bi Hara khawatir.


"Celia baik-baik saja. Seperti nya anak itu tak melakukan apapun pada Celia. Ia hanya melarikan diri begitu saja," jawab Adda dengan lancar.


"Hmm.. sayang sekali. Padahal hanya tinggal seminggu lagi sebelum gerhana bulan terjadi," Bi Hara terlihat merenungkan sesuatu.


Setelah jeda beberapa lama, tiba-tiba saja Bi Hara kembali berseru.


"Tak apa-apa. Untung lah, selama ini aku sudah mencekoki Emma dengan ramuan pemanggil ruh. Jadi dengan begitu, aku bisa mencoba memanggil ruh nya untuk datang kemari. Meski jarak di antara kami puluhan kilometer jauh nya. Hehehe.!"


Bi Hara lalu mengingat ke setiap momen saat ia menyuguhi Emma dengan makanan atau minuman. Saat itulah ia selalu menaburkan sedikit ramuan tanpa rasa ke dalam setiap sajian makanan dan minuman untuk Emma.


Wanita itu sempat terpikirkan kalau Emma pasti akan mencoba untuk kabur lagi. Karena nya ia pun menyusun rencana cadangan dengan ramuan pemanggil tersebut.


Hara tak akan melepaskan buruan yang disukai oleh putri tercinta nya, Celia. Putri nya itu jelas menginginkan tubuh Emma untuk menjadi wadah hidup nya yang baru. Jadi akan Hara pastikan agar Celia mendapatkan keinginan nya itu.


"Sekarang, siapkan beberapa bahan ini untuk ku. Lusa sudah harus lengkap semua nya. Aku akan melakukan ritual pemanggilan ruh. Dengan begitu. Gadis itu akan kembali ke tempat ini di bawah kendali ku. Hahaha!!"


"Baik.. Hara.." jawab Pak Adda dengan sikap patuh.


Setelah nya, Hara pun menuliskan daftar bahan-bahan yang ia perlukan untuk pelaksanaan ritual nanti. Setelah selesai, ia memberikan nya kepada Adda.


"Ingat! Dua hari lagi, harus sudah lengkap semuanya! Aku akan kembali lagi di jam yang sama!" Imbuh Hara mengingatkan Adda.


Adda kembali mengangguk patuh. Lelaki itu memang telah jatuh cinta kepada Hara sejak pertama kali ia melihat wanita itu. Ia pun tak bisa menjelaskan perasaan nya itu.


Alam bawah sadar Adda mengatakan kalau bisa jadi ia telah dipelet oleh Hara. Bukankah wanita itu mempelajari ilmu hitam?


Meski memiliki indikasi ke arah situ, aneh nya Adda tak bisa melawan perasaan nya sendiri yang sudah terlanjur jatuh hati kepada Hara. Apa itu istilah anak muda jaman sekarang? Ya. Bucin akut.


Di luar gudang, Hara dan Adda tak menyadari keberadaan sosok yang tak sengaja telah menguping dengar pembicaraan kedua nya. Sosok tersebut langsung bertekad untuk memberikan peringatan kepada Emma. Gadis yang selama beberapa hari ini telah berhenti bekerja secara tiba-tiba.


Sosok yang telah menguping pembicaraan Bi Hara dan Pak Adda saat itu adalah Pak Kiman.


***