
Semalaman itu, boneka Sella dan Cello tak lagi bergerak. Padahal Emma sudah menabah-nabahkan mata nya untuk tidak terpejam.
Di waktu pertengahan malam, Emma teringat kalau ia belum shalat isya. Ia teringat kembali pesan sang ibu (Retno) untuk tidak pernah meninggalkan shalat lagi.
Kata Retno, sabar dan shalat adalah penolong orang-orang yang beriman. Percaya pada ucapan sang ibu, Emma pun bergegas pergi kembali ke kamar nya untuk shalat isya. Setelah sebelum nya mengantarkan boneka Sella dan Cello ke kamar nya lagi.
Kamar boneka Sella dan Cello berada di lantai atas. Sebenar nya saat menaiki tangga, Emma kembali didera oleh perasaan tak enak.
Seolah-olah ia tak lagi sendiri. Seolah-olah ada yang sedang mengawasi.
Karena itu lah usai Emma meletakkan dua boneka yang tak lagi bergerak itu di atas kasur, gadis itu buru-buru keluar dari kamar tersebut.
Selama dua menit nya Emma berada dalam kamar dua boneka, ia menyadari sesuatu hal.
Bahwa kamar yang baru saja ditinggalkan nya itu terdiri dari perpaduan tiga warna. Merah, kuning, dan biru..
sisi merah berada di tempat paling ujung dalam ruangan. Sisi kuning berada di pertengahan ruangan. Dan sisi hijau berada di ujung ruangan yang lain di mana posisi nya lah yang paling dekat dengan pintu masuk.
Dalam kamar itu pun terdapat tiga kasur berwarna senada seperti dinding nga masing-masing. Yakni kasur merah, kuning dan biru.
Emma mengira kasur biru adalah milik boneka Cello. Karena nya ia langsung meletakkan boneka Cello di kasur itu. Selanjutnya Boneka Sella di kasur kuning yang ada di bagian tengah.
Emma sekilas melihat ke arah kasur merah yang tak berpenghuni.
Pikiran nya tiba-tiba saja teringat pada sosok hantu perempuan yang sudah meneror nya beberapa kali.
Ketika Emma mulai merasakan hawa dingin menusuk tengkuk nya kembali, ia pun bergegas melafazkan takbir sambil berlari cepat keluar kamar.
Tepat setelah Emma keluar dari kamar tersebut dan hendak menutup pintu, nyatanya pintu tersebut malah membanting sendiri tepat di depan muka Emma.
Mata Emma pun seketika membola. Degup jantung nya kembali berpacu seperti hendak berlari. Emma menatap pintu di depan nya itu dengan pandangan ngeri selama beberapa saat. Hingga bulu roma nya lagi-lagi berdiri.
Tepat sebelum Emma hendak berbalik dan menuruni tangga, ia jelas mendengar suara ******* yang teramat dekat di kuping nya.
"Shahhhhhhh...." ******* dari makhluk gaib itu meremang kan bulu roma Emma.
"Allahu Akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Astaghfirullahal 'azhiim!!" Berbagai lafaz dzikir pun keluar dari mulut Emma.
Syukurlah makhluk halus tersebut tak mengganggu Emma saat ia menuruni tangga. Jika tidak, Emma bisa membayangkan tragedi apa yang akan menimpa nya jika itu benar terjadi.
"Aduh, Ma...! Hidup kok ya sesulit ini sih?!!" Emma bergumam sendiri.
Selepas dari kamar para boneka, Emma langsung pergi ke kamar mandi di kamar nya untuk mengambil wudhu.
Saat mengambil air wudhu pun Emma masih merasakan jantung nya berpacu. Berkali-kali godaan untuk menengok ke sisi kamar mandi yang gelap pun terbetik di benak Emma.
Entah kenapa lagi-lagi ia merasa kalau ia tak sedang sendiri di kamar mandi itu.
Usai berwudhu dengan hati dan pikirna yang kalang kabut oleh rasa takut, Emma bergegas meraih mukenah yang ia letakkan di ujung kasur.
Dengan mulut yang tak henti berkomat-kamit melafazkan dzikir, Emma pun bergegas mengenakan mukenah nya yang berwarna putih gading.
"Allahu Akbar!"
***
Selama shalat, perasaan Emma ajaib nya menjadi lebih tenang. Ia seperti mendapatkan perlindungan dalam balutan kain mukenah yang menutupi hampir sekujur tubuh nya itu.
Hawa dingin yang sering menusuk tengkuk dan meneror pikiran nya, tak lagi Emma rasakan selama dan usai ia menunaikan shalat isya.
Pada saat itulah ia teringat dengan salah satu harapan ibu nya.
Flashback beberapa pekan yang lalu...
"Pakailah kerudung, Emm.. itu bentuk ketakwaan kita kepada sang Pencipta. Tutupi aurat mu, dan hanya tunjukkan itu pada mahram yang berhak untuk melihat nya nanti," Retno memberikan nasihat kepada Emma pada suatu sore yang cerah.
Kebetulan Retno baru saja pulang dari berdagang. Dan ia sedang mengistirahatkan diri di depan teras dengan ditemani oleh Emma. Dua cangkir teh berada di meja kecil di antara keduanya.
"Mama sayang kamu, Emm. Karena nya Mama berani untuk menegur mu. Mama takut bila di akhirat nanti kamu akan diminta pertanggung jawaban atas setiap helai rambut yang kamu tampakkan kepada selain mahram mu," imbuh Retno lebih lanjut.
Emma saat itu sedang memainkan game virtual pet di ponsel nya. Ia mulai jengah hati dengan perbincangan yang penuh dengan petuah dari Mama nya itu.
Emma berusaha tetap diam. Tak ingin menanggapi ucapan Sang Mama dengan serius. Pikir nya, Sang Mama akan berhenti membahas soal memakai hijab itu, seperti sebelum-sebelum nya.
Sayang nya dugaan Emma meleset besar. Sore itu, Retno sepertinya ingin membahas soal menutup aurat hingga putrinya, Emma, benar-benar mengerti. Betapa penting dan wajibnya ibadah yang satu itu.
"Emma. Kata bu ustadzah Harisah juga, baginda rasul saw. Pernah menasihati putri nya, Fatimah seperti ini,
"Wahai anakku, Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otak nya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya dari dilihat oleh lelaki yang bukan mahram nya. (H. R. Bukhari dan Muslim)"
"Begitu besar azab nya, Emm.. Mama ngeri dengar nya!" Ujar Retno terlihat cemas.
Karena nya, Emm. Sejak mendengar nasihat dari bu Ustadzah itulah Mama mantap menggunakan kerudung. Mama takut.. apalagi setiap dosa yang Mama buat juga bisa memberi imbas bagi Papa mu, Nak. Karena bagaimana pun juga pendidikan akhlak seorang istri itu menjadi pertanggung jawaban bagi suami nya," tutur Retno lebih lanjut.
"Lha Emma kan belum punya suami, Ma. Jadi masih aman dong.." tukas Emma beralasan.
"Sayang nya, Nak. Kamu masih jadi pertanggung jawaban Mama dsn Papa selama kamu belum menikah. Dan karena sekarang Papa sudah meninggal, jadilah beban mengingatkan mu itu ada di tangan Mama," ujar Retno dengan nada tegas.
"Jadi, kalau Emma enggak pakai kerudung, dosa Emma bisa terbagi buat Mama juga gitu?" Tanya Emma menyimpulkan.
"Duh. Mama juga kurang tahu sih, Emm. Tapi yang pasti, kamu masih jadi tanggung jawab Mama sebelum kamu bertemu dengan suami mu nanti. Jadi, Mama gak akan bosen untuk terus ingetin kamu pakai kerudung. Mau ya, Nak?" Bujuk Retno menasihati.
"Mm.. iya, Ma. Emma mau kok pakai kerudung," Emma akhirnya mengalah.
Emma lalu bangkit berdiri dan hendak kembali ke kamar nya demi bisa mengecas ponsel nya yang telah low baterai.
Tapi sebelum itu, Emma menambahkan kalimat nya lagi untuk sang Mama.
"Tapi nanti-nanti aja ya Ma, pakai kerudung nya! Kalau Emma udah benar-benar siap ya, Ma!" Ujar Emma terburu-buru melarikan diri dari mendengar nasihat Retno kembali.
Flash back selesai.
***