Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Nasihat Perawat Asing



Akhirnya, Reno kembali ijin tak kerja pada hari ini. Dengan begitu, selama tiga hari ke depan, Reno akan menghabiskan week end nya bersama Emma.


'Jika saja Emma adalah Emma yang dulu..' keluh Reno sambil menengok profil Emma yang ia bonceng di belakang motor.


Flashback setengah jam yang lalu.


Tadi setelah ia mendapatkan ijin dari Ram, Reno langsung kembali masuk ke apartemen di mana Emma berada.


Saat itu Emma masih terus menggedor-gedor pintu hingga detik terakhir ketika Reno membuka pintu nya.


Reno mengeluhkan perilaku Emma ini dalam hati.


'Apa yang sebenarnya terjadi dengan Emma? Sebaik nya aku membawa nya untuk di CT Scan. Mungkin kepala nya memang benar terbentur' begitu kiranya pikir Reno.


Flashback selesai.


"Kapan sampai nya, Kak?" Teriak Emma dari jok belakang motor Reno.


Reno langsung patah hati karena kekasih nya kembali memanggil nya dengan sebutan "Kak". Padahal Reno sudah mengoreksi nya beberapa kali.


"Sebentar lagi! Kita ke rumah sakit dulu ya!" Ujar Reno.


"Rumah sakit?! Gak mau! Celia mau nya ke KUA! Atau beli makanan enak, Kak!" Emma menolak ajakan ke rumah sakit.


'Apa tadi kata nya? Celia? Kenapa Emma memanggil dirinya sendiri dengan nama Celia?' gumam batin Reno.


"Kak! Ke mall Kak! Ke bioskop!" Emma kembali meneriakkan permintaan nya.


"Iya. Nanti kita ke sana. Tapi kita ke rumah sakit dulu ya?" Bujuk Reno.


Tiba-tiba saja Reno merasa pinggang nya dicengkeram sangat kuat oleh Emma. Hingga pemuda itu merasa seperti dicakar dengan kuku yang panjang saja.


"Aduh! Emm! Jangan pegang pinggang ku terlalu kencang dong!" Mohon Reno.


Pemuda itu hampir saja oleng dalam mengendarai motor nya. Beruntung ia cukup lihai berkendara. Jadi cengkeraman tangan Emma yang menyakitkan tadi tak membuat mereka terjatuh kecelakaan motor.


"Celia mau main, Om!" Lagi-lagi Emma menjerit di dekat telinga Reno.


Akhirnya demi keselamatan dalam berkendara, Reno pun memutuskan untuk berhenti sesaat. Kebetulan mereka sedang melewati pasar saat itu.


"Kita beli kue dulu deh ya? Habis itu kita ke rumah sakit, baru ke bioskop atau mana pun yang kamu mau. Gimana Emm?" Bujuk Reno merayu Emma.


"Kue! Yeyy! Celia mau!" Emma memekik kegirangan.


'Hehh? Segampang itu? Emma kenapa sih ya? Sikap nya kayak anak kecil aja!' komentar Reno tanpa suara.


Hantu Celia yang sedang merasuki tubhh Emma memang berusia sekitar 12 tahun. Sejak usia 3 tahun, ia sudah terbaring sakit dan jarang keluar rumah untuk bermain. Karena itulah, ia begitu menginginkan kebebasan seperti yang sedang dirasakan nya saat ini.


Setelah membelikan Emma camilan pasar, Reno kembali melajukan motor nya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Reno langsung mendaftarkan Emma untuk di CT Scan.


Emma sempat menjerit dan menolaj dirinya dari melakukan semua prosesi itu. Hingga akhirnya dokter pun harus memberikan obat bius kepada nya. Barulah proses CT Scan itu bisa dilakukan.


Setelah selesai, Dokter radiologi yang menangani Emma mengatakan kepada Reno kalau hasil nya paling cepat bisa diambil pada keesokan hari nya.


Reno kemudian menunggu Emma tersadar dari obat bius. Saat proses menunggu itulah seorang wanita berpakaian perawat datang dan mendekati Reno.


"Permisi, Tuan. Apa Anda adalah kekasih dari Nona Emma?" Tanya perawat itu dengan ekspresi ragu di wajah nya.


"Mm.. ya. Ada apa ya?" Tanya Reno penasaran.


Tiba-tiba saja sang perawat memelankan suara nya hingga hanya Reno saja yang bisa mendengar nya bicara. Beberapa kali perawat itu melirik ke arah Emma yang masih belum juga sadar.


Saat dipastikan nya kalau Emma masih tak sadarkan diri, perawat itu pun segera menyampaikan maksud nya menemui Reno.


"Saya..melihat hal ganjil pada diri kekasih Tuan," tutur perawat tersebut mengawali.


"Hal ganjil? Maksud nya apa, Sus? Apa hasil CT Scan menangkap penyakit lain pada pacar saya?!" Tanya Reno terlihat khawatir.


"Bukan! Bukan itu, Tuan! Saya.. sebenarnya saya tak biasanya mengatakan ini kepada orang-orang. Tapi karena saya melihat ini adalah hal yang mendesak, jadi saya pikir, Tuan perlu untuk mengetahui hal ini," lanjut sang perawat berkata.


Mendengar ucapan perawat yang terdengar ambigu, Reno pun semakin panik sekaligus juga penasaran untuk mengetahui apa yang akan disampaikan oleh perawat di hadapan nya itu.


"Katakan saja, Sus! Saya siap untuk mendengar nya!" Ujar Reno setengah berkata jujur.


Padahal sebenarnya pemuda itu ketakutan bila ia harus mendengar berita buruk tentang kondisi kesehatan Emma.


"Nona Emma seperti nya sedang dirasuki oleh makhluk halus, Tuan. Aneh nya lagi, saya tak melihat jejak spirit asli milik kekasih Tuan itu pada tubuh nya!" Ungkap sang perawat dengan suara nyaris seperti lirihan.


"..."


Selama beberapa ssaat Reno sibuk mencerna apa yang baru saja didengar nya dari mulut perawat itu.


"..Emma.. dirasuki makhluk halus?!"


Reno langsung beranjak bangun saat mengatakan kalimat barusan. Dari sekian prasangka yang melesat di pikiran nya terkait Emma, pemuda itu sungguh tak menyangka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh perawat di depan nya itu.


"Jangan sembarangan bucara ya, Nona! Apa maksud nya Anda bicara seperti itu?! Bagaimana bisa Anda, seorang yang telah belajar ilmu kedokteran malah menyampaikan diagnosa yang tak masuk akal seperti tadi?!" Reno mengamuk.


Ditatap nya sang perawat dengan pandangan sengit. Sehingga membuat perawat itu jadi ketakutan.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya memang diberkati dengan kemampuan melihat hal yang tak kasat mata. Dan saya melihat kalau dalam tubuh kekasih Anda, telah bersemayam spirit milik makhluk lain. Yang paling mengkhawatirkan adalah.."


Belum semoat perawat itu menyelesaikan ucapan nya, Reno sudah langsung mengusir nya keluar dari ruangan.


"Pergi! Pergi sekarang juga! Atau saya akan melaporkan Anda ke pihak rumah sakit! Saya akan laporkan Anda karena telah menyebarkan kebohongan terkait pacar saya!" Reno mengancam.


Melihat Reno yang sangat marah, pada akhirnya perawat itu pun segera beranjak saat itu juga. Namun sebelum ia pergi, sang perawat sempat menyampaikan kalimat terakhirnya.


"Maaf, jika ucapan saya tak bisa Tuan terima. Tapi saya sungguh ingin menyarankan agar kekasih Tuan itu segera dibawa ke Ustadz untuk di rukiah," ujar Perawat tersebut.


Lebih lanjut lagi perawat itu mengatakan,


"Saya khawatir dengan spirit asli dari nona Emma. Karena sepengetahuan saya, spirit yang terlalu lama terpisah dengan tubuh asli nya, maka ia akan kesulitan untuk kembali ke tubuh nya lagi. Jika itu terjadi, maka spirit yang saat ini sedang menempati tubuh nona Emma akan menjadi pemilik baru tubhh itu. Itu berarti, Anda akan kehilangan jiwa orang yang Anda kasihi itu, Tuan," papar sang perawat panjang kali lebar.


Reno tak menggubris ucapan perawat tersebut. Ia langsung mendekati tempat penbaringan Emma dan meraih tangan kekasih nya itu untuk kemudian ia genggam.


Reno berpikir perawat itu telah pergi bila ia mengacuhkan keberadaan nya. Namun terngata anggapan Reno itu meleset. Karena pemuda itu masih mendengar kalimat terakhir sang perawat sebelum ia menutup pintu.


"Tunggu saja hasil CT Scan besok, Tuan. Tuan sendiri pun akan bisa menilai apa yang terjadi dengan kekasih Tuan nanti. Hanya saja, cepat bawa dia untuk menemui Ustadz untuk merukiahi nya. Sebelum semuanya terlambat!"


Cklek.


Dan pintu pun tertutup akhirnya. Meninggalkan Reno dan Emma yang hanya tinggal berdua saja.


***