
Dua Tahun kemudian...
"Emm, geseran dikit dong, Sayang?" Pinta Reno tiba-tiba.
"Gak bisa, Yang. Ini udah posisi paling enak banget nih. Kalau aku bergeser sedikit aja, nanti aku malah..hueekkk!!"
Emma tiba-tiba mengangkat separuh badan nya lalu memuntahkan isi sarapan nya tadi pagi.
Setelah merasa lega, Emma kembali ke posisi nya tadi. Rebahan di atas sofa panjang. Di dekat nya, Reno menatap khawatir pada Emma.
"Kamu yakin kita gak ke rumah sakit aja, Sayang?" Tanya Reno begitu khawatir.
"Gak perlu.."
"Mamamamamama!!" Dua batita identik yang sedang digendong oleh Reno tiba-tiba merengek, ingin dipeluk oleh Emma.
"Ehh, angan ulu ya, ayang. Mama agi atit.." bincang Reno menahan kedua batita usia setahun lebih itu agar tetap berada dalam kurungan tangan nya. Satu di sisi kiri. Satu di sisi kanan.
Kedua batita itu adalah anak kembar dari Reno dsn juga Emma yang dilahirkan secara normal sekitar empat belas bulan yang lalu di rumah sakit.
Ya. Emma dan Reno sudah menikah. Kedua nya menikah di bulan yang sama setelah Emma memimpikan Kimanto.
Flashback.
Usia terbangun dari mimpi tentang sang Papa, Emma langsung menyetujui ajakan berikut nya dari Reno untuk menikah.
Emma bahkan tak menolak ketika hari itu juga Reno mengajak nya untuk bertemu dengan kedua orang tua Reno di kota lain.
Beruntung bagi Emma, kedua orang tua Reno adalah pasangan berhati baik yang tak memandang rendah status nya yang adalah orang tak berpunya.
Karena itulah pernikahan kedua nya berlangsung dengan lancar, sakral dan juga menenangkan.
Setelah bertemu dengan orang tua Reno, ditentukan pula tanggal pernikahan akan berlangsung pada akhir bulan itu juga. Ini adalah permintaan Reno yang sudah kebelet ingin menikahi Emma.
Tak ada yang keberatan dengan pernikahan dadakan tersebut. Jadi lah akhirnya Reno mendapatkan keinginan nya itu segera.
Tak lama setelah berbulan madu singkat di kota Bali, Reno kembali mendapatkan kabar gembira. Yakni Emma yang ternyata langsung diberkahi dengan kehamilan.
Pasangan yang baru menikah itu semakin terkejut dengan fakta yang mereka ketahui kemudian setelah kandungan Emma berusia sekitar enam bulan.
Ternyata Emma hamil kembar tiga orang anak.
Sayang sekali, ketika proses persalinan berlangsung, salah satu bayi mereka terlahir meninggal. Kesedihan sempat menghinggapi keluarga kecil itu. Namun itu tak berlangsung lama. Karena mereka kemudian disibukkan menjadi Papa-Mama muda bagi dua bayi kembar lain nya.
Flashback selesai.
"Kebiasaan deh! Jangan ngomong gak jelas kayak gitu dong, Pi! Ngomong pakai bahasa wajar aja. Biar nanti anak-anak juga terbawa lancar ngomong nya," Emma kembaki menegur Reno setelah bapak muda itu berbicara kepada dua bayi dengan bahasa yang dicadel-cadel kan.
Reno menyengir bersalah.
"Oke deh, Mami..aww!"
Baru saja bayi Taka menarik rambut Reno. Bayi lelaki itu mencoba untu memanjat ke atas kepala Reno.
"Mimimimimi!" Kali ini gantian bayi Tika yang merengek ingin turun dari gendongan Reno. Tangan mungil bayi perempuan itu ia gapaikan ke arah Emma.
"Taka Sayang, aww! Jangan naik, aduh! Naik! Hey! Tika sebentar, Nak.. turun deh ya, bentar, aduh! Papi turunin kamu ya! Aww! Takaa.."
Emma spontan tertawa bahak melihat Reno yang kelimpungan saat mengasuh kedua anak mereka.
Sesaat kemudian ia merasa sedikit bersalah karena saat ini ia malah asik rebahan di atas sofa.
"Gak apa-apa, Pa. Sini Tika biar duduk dekat Mami aja," ujar Emma kemudian.
Dengan segera, Reno pun menurunkan bayi Tika ke dekat Emma. Setelah itu, ia langsung meraih bayi Taka yang kini hampir berhasil memanjat kepala bapak muda itu.
"Mama, Sella belum pulang, Pa?" Tanya Emma kemudian.
Kini bayi Tika ikut tidur di samping Emma. Dengan mahir nya bayi Tika memegang susu botol nya sendiri. Sikap nya lebih tenang kini, setelah berbaring di dekat Emma dengan susu botol di tangan nya. Ia memang tak seaktif saudara nya, bayi Taka.
"Belum. Tapi sebentar lagi mungkin. Kenapa? Kamu udah ngidam banget ya?" Terka Reno sambil mengayun-ayunkan bayi Taka dengan tangan nya.
"Iya. Tapi kalau udah makan itu, nanti juga mual nya hilang. Hmm.. kali ini, agak mirip kehamilan yang sebelum nya ya Pa? Apa jangan-jangan.. aku hamil anak kembar lagi ya?" Emma mengampaikan dugaan nya.
Reno sekilas tampak panik saat mendengar dugaan Emma itu. Diliriknya bayi Taka dan juga Tika. Kemudian lelaki itu tampak kesulitan untuk berkata-kata lagi.
Emma spontan tergelak. Merasa lucu saat melihat ekspresi di wajah suami nya itu.
"Kenapa? Takut? Padahal suka banget bikin nya. Tapi giliran udah berbuah, malah ketakutan gitu..hihihi.." Emma terkekeh meledeki Reno.
"Err.. enggak kok! Papa gak takut!" Sanggah Reno dengan ekspresi tabah.
Setelah beberapa lama, ia kembali berkata.
"Tapi nanti habis baby nya lahir, Mama mending langsung KB aja ya Ma, Sayang? Biar gak kebobolan lagi.." gumam Reno dengan suara sedikit lebih pelan dari sebelum nya.
"Hahaha! Kan Papa yang waktu itu ngelarang Mama pasang KB. Bilang nya itu gak baik lah buat tubuh. Mau pake KB alami lah. Ya Mama sih ikut kata Papa aja.." seloroh Emma mengingatkan sang suami.
"Assalamu'alaikum!"
Suara salam dari arah pintu sontak mengalihkan perhatian Emma dan juga Reno.
Di dekat pintu, berjalan lah Rerno dan juga Sella yang menenteng satu kantong plastik pada masing-masing tangan nya.
"Kakak! Sella ketemu buah jambu nya!" Ucap Sella yang langsung berlari mendekati Emma. Ia kemudian menyodorkan kantong plastik yang ia bawa kepada Emma.
Sella kini berumur sepuluh tahun. Ia semskin tumbh menjadi anak yang ceria setiap hari nya.
Sella juga jadi lebih pemberani kini. Rencana nya ia akan masuk ke sekolah SMP formal dua bulan lagi. Ia tak lagi takut untuk bertemu dengan orang asing, seperti yang sempat dialami nya di awal mula ia kembali jadi manusia.
"Wah. makasih ya, Sayang.." tutur Emma dengan tulus.
"Nanti dulu, Sell. Buah nya biar dicuci dulu. Mana Bik Ijah?" Tanya Mama.
"Lagi masak, Ma," jawab Emma singkat.
"Kamu gimana? Masih mual banget?" Tanya Retno kembali.
"Wajar lah Ma. Kayak kehamilan yang dulu aja," seloroh Emma sambil mengusap perut nya yang kembali membuncit karena hamil lagi.
Ya. Saat ini, Emma sedang mengandung kembali. Usia kehamilan nya baru menginjak sepuluh pekan kini. Jadi saat ini, Emma sedang merasakan mual muntah yang cukup parah.
"Kalau masih gak bisa dapat asupan makanan, gak apa-apa Emm kamu ke rumah sakit aja. Diinfus atau apa. Biar dede janin nya dapat asupan nutrisi yang cukup," Retno menasihati.
"Jangan sampai kejadian seperti kehamilan yang lalu. Kamu nunggu sampai badan kurus kering baru mau dibawa ke rumah sakit. Jangan menyiksa diri sendiri, Emm.."
Retno terus menasihati Emma panjang lebar. Dan Emma membiarkan sang Mama bicara hingga beberapa menit berlalu kemudian.
Di dekat nya, Reno kembali dibuat repot karena kini si kembar Tika ingin kembali digendong nya. Sementara itu bayi Taka tak membolehkan saudari nya kembali naik ke gendongan Papa mereka.
Sella kembali membawa buah yang sudah dicuci. Senyuman lebar tak pernah lekang dari wajah nya yang semakin cantik seiring pertambahan usia nya.
Emma menikmati saat berkumpul bersama keluarga nya seperti ini. Sambil menerima nasihat dari Retno, Emma melayangkan puji syukur nya kepada Allah untuk semua anugerah yang telah di berikan-Nya dalam hidup Emma.
Setelah semua kejadian dan pengalaman pahit nya di masa lalu, Emma akhirnya menyadari. Bahwa kebersamaan dengan keluarga nya adalah hal yang paling berharga bagi nya saat ini. Dan ia bersyukur untuk setiap detik yang masih bisa ia lewatkan bersama mereka semuanya.
...
TAMAT
***
~Adakala nya..hidup tak semudah yang kau duga..
Dan seringkali, kau tak bisa miliki semua..
Tapi tetap lah, tebarkan senyum mu,
Tak perduli, dunia yang acuh..
Tetap tegak lah, pancangkan tekad mu,
Dengan mimpi-mimpi mu, dan semangat lama milik mu..
Telah seringkali, masa lalu yang tak diingini,
Tak disadari, adanya kini pasti karena lalu..
Cukup lah kau, mensyukuri,
Segala yang telah kau miliki..
Tak kan mampu, kau ubah masa lalu...
Reff:
Mulai melangkah lah,
Pandang masa depan yang telah menanti..
Nyatakan diri mu pada dunia,
Juga pada mereka..
Ingat pula doa dan harapan,
Yang telah tertuju padamu..
Rangkul lah mereka, jangan kau lepas,
Karena hadir mu, ada karena mereka...~
(Lagu di atas adalah soundtrack ke empat di novel ini yang mel buat sendiri. Baik itu lirik maupun musik nya. Judul nya "Melangkah lah!". Kembali, Mel berharap bisa memperdengarkan nya kepada kawan semua nanti. Mohon dukungan nya ya.. sampai jumpa di karya mel berikutnya..)