Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Persiapan Makan Malam



"Apa bibi dan Pak Kiman ini pernah jadi mantan satu sama lain?" Cetus Emma tanpa sempat ia cegah dan saring terlebih dulu.


Selama beberapa saat, suasana di dapur mendadak lengang.


Emma bahkan tak menilai suara gesekan samsi yang dipegang oleh Pak Kiman terdengar sedikit melambat dari sebelum nya.


Bibi Hara pun menatap Emma dengan mata yang membulat seketika.


"Neng Emma ini bicara apa sih?! Mana ada kayak gitu! Saya sama Pak Kiman ini baru kenal beberapa tahun ini aja. Jadi gak ada lah itu kita berdua pacaran.." elak bi Hara dengan gelagat ganjil.


Wanita paruh baya tersebut tak menatap mata Emma saat ia menyampaikan sanggahan nya tadi. Ia pun terlihat sibuk mengelap meja dapur yang menurut Emma tak lagi perlu untuk dilap.


Melihat gelagat mencurigakan dari Bi Hara, Emma pun seketika menyengir kuda.


'Ya ampun! Gak nyangka banget. Di villa horor ini aku bisa dapatin bahan gosip yang asik.. hihihi..' gumam batin Emma yang seru sendiri.


"Ooh.. gitu.. "


Emma menjeda kalimat nya beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan ucapan nya lagi.


"Tapi kalau jadian beneran juga gak apa-apa lho, Bi," goda Emma yang kini sedang menopangkan dagu dengan kedua tangan di atas meja.


"Ish! Neng Emma ini mikir nya suka aneh-aneh ah!" Elak bi Hara lagi.


PRANG!!


Emma dan Bi Hara seketika terkejut dengan suara samsi yang beradu dengan wajan dengan cukup kencang. Perhatian kedua nya pun langsung tertuju pada Pak Kiman.


Setelah beberapa saat dapur dalam suasana hening, Pak Kiman kemudian berkata tiba-tiba..


"Sudah matang! Sisa nya kalian siapkan sendiri lah! Saya mau ke dalam dulu!" Ujar Pak Kiman yang langsung berjalan menuju pintu dapur.


Emma menyaksikan saat Pak Kiman berlalu tanpa memberikan tatapan pamit kepadanya atau pun juga pada Bi Hara.


Setelah lama Pak Kiman berlalu, Emma barulah lepas berkata.


"Kayak nya Pak Kiman marah sama Emma, Bi. Candaan Emma agak kelewatan ya, Bi? Emma minta maaf ya, Bi.. Maaf kalau bibi juga gak suka Emma candai.." ungkap Emma dengan ekspresi bersalah.


"Sudah. Jangan dianggap serius lah, Neng. Nanti juga Pak Kiman baik sendiri. Dia memang sering mendumel kok. Jadi bukan salah Neng Emma juga kenapa beliau kayak tadi," hibur bibi Hara.


"Oya, Bi. Emma mau tanya. Di kamar anak-anak kok ada tiga kasur ya? Yang satu nya itu punya siapa, Bi?" Tanya Emma tiba-tiba.


"Itu punya Non Celia, Neng. Dia itu anak sulung nya Nyonya," jawab segera Bi Hara yang sedang menuangkan tumis udang di wajan ke dalam piring besar.


"Anak sulung? Jadi sebenar nya Bu Sofia itu punya tiga anak ya, Bu? Apa dia juga.. mm... Boneka seperti Sella dan Cello?" Tanya Emma lagi.


Gadis itu tak lagi bisa menutupi rasa penasaran nya terhadap si kembar dan misteri yang terkait dengan keduanya.


"Iya Neng. Tapi Non Celia itu bukan boneka seperti adik-adik nya. Dia manusia seperti kita," jawab Bi Hara sambil lalu.


"Ooh.. terus sekarang orang nya di mana, Bi? Kayak nya Emma gak pernah lihat non Celia ini," ungkap Emma dengan jujur.


"Non Celia saat ini sedang dirawat di rumah sakit, Neng. Bibi dengar sih sakit keras gitu sampai koma. Sudah bertahun-tahun koma nya," jawab Bi Hara lagi.


"Sakit? Tapi Bu sofia kayaknya gak pernah ceritain tentang anak sulung nya itu ya, Bi?" Gumam Emma kebingungan.


"Soal itu bibi juga gak tahu, Neng. Mungkin Nyonya terlalu sedih jadi gak suka membahas soal anak sulung nya yang sakit keras itu?" Bi Hara menyampaikan dugaan nya.


"Bisa jadi juga sih ya, Bi.. mm.."


"Udah yuk, Neng. Kita taruh-taruh piring ini di meja makan yuk. Sebentar lagi Nyonya mungkin akan pulang," ajak bi Hara untuk memindahkan sajian di dapur ke ruang makan.


"Baik, Bi!"


***


Emma melihat kedatangan majikan nya itu dari kaca jendela.


"Selamat malam, Nyo..nya..," sapaan Emma saat membuka pintu nyatanya tak mendapat sambutan dari Sofia.


Wanita tersebut langsung berlalu pergi usai Emma membukakan pintu untuk nya.


Emma melihat wajah majikan nya itu terlihat sangat letih. Terutama dari dua mata panda yang bertanggar di wajah nya yang putih dan lagi cantik itu.


Bibi Hara menyaksikan kejadian Emma yang diacuhkan oleh sang majikan. Dengan lembut, wanita itu pun menghibur Emma.


"Jangan diambil hati ya, Neng. Mungkin Nyonya sedang banyak kerjaan saja," hibur bi Hara.


Emma menggelengkan kepala nya untuk membersihkan prasangka di benak nya.


Sebenar nya Emma tadinya tak berniat untuk menjumpai Majikan nya itu segera setelah Sofia pulang. Namun karena tadi bibi Hara meminta tolong padanya untuk membukakan pintu, jadilah akhirnya Emma melakukan permintaan Bi Hara itu.


Tapi ternyata Emma malah diacuhkan oleh Sofia.


'ah. Terserah lah! Lagipula aku juga gak terlalu suka beramah tamah dengan nya!' hibur Emma pada diri sendiri nya di dalam hati.


"Iya. Tenang aja, Bi. Emma gak ngambil hati kok sama sikap nya Nyonya. Mungkin memang lagi banyak maslah di kerjaan nya sekarang ini," jawab Emma atas penghiburan dari Bi hara tadi.


"Kalau gitu, Bibi panggil Pak Kiman dan Pak Adda dulu ya, Neng. Jadi nanti pas Nyonya manggil tuk makan, beliau gak terlalu lama nunggu," ujar Bi Hara seraya bangkit menuju kamar Pak Kiman yang ada di dekat dapur.


"Kalau gitu, biar Emma yang ngabarin Pak Adda deh ya, Bi. Bagi-bagi tugas.. biar mereka cepat datang juga kan.." usul Emma menawarkan bantuan.


"Boleh itu. Makasih ya, Neng.." ucap Bi hara.


"Sama-sama, Bi. Tapi, Emma gak tahu kamar Pak Adda di mana..?" Ungkap Emma dengan wajah malu.


Gadis itu benar-benar tak terbiasa menyaring ucapan nya. Bisa-bisanya ia menawarkan diri untuk memanggil Pak Adda. Di saat ia tak mengetahui di mana kamar Pak Adda berada.


'Dasar bodoh!' rutuk Emma pada dirinya sendiri.


"Oh.. iya. neng. Kamar nya ada di luar Villa. Neng Emma tahu kan gudang kecil yang ada di belakang villa ini?" Tanya Bi Hara kepada Emma.


Emma mengangguk kaku. Agaknya ia bisa menebak di mana sebenar nya rumah Pak Adda. Dugaan nya itu sungguh membuat Emma langsung menyesali tawaran bantuan yang ia ucapkan kepada Bi Hara sesaat tadi.


"Nah. Di gudang itulah Pak Adda tinggal. Dia memang jadi penjaga kebersihan sekaligus keamanan di villa ini, Neng.." ujar Bi Hara memberitahu.


"Ooh.. yaudah. Emma ke sana sekarang gitu ya, Bi?" Tanya Emma dengan sikap enggan.


"Iya, boleh, Neng," jawab Bi Hara dengan enteng nya.


Hati Emma mencelos. Tadinya gadis itu begitu berharap kalau Bi Hara menyadari keengganan nya untuk pergi ke tempat tinggal nya Pak Adda.


Sayang nya Bi Hara sedang tak melihat ke mata Emma saat ia menyampaikan kalimat terakhirnya tadi. Bi Hara sedang merapihkan majalah yang berserakan di atas meja di ruang tivi tersebut.


"Iya, Neng. Nah. Kalau gitu, bibi minta tolong panggilkan Pak Adda nya ya, Neng.." ujar Bi Hara.


Kali ini wanita paruh baya tersebut menatap langsung mata Emma.


Emma yang tadinya ingin mengungkapkan keengganan nya pergi keluar villa pada jam malam seperti ini pun akhirnya harus menelan kembali kalimat nya.


Ia merasa tak enak hati bila harus mengingkari ucapan nya sendiri.


"Iya, Bi. Kalau gitu, Emma panggil Pak Adda nya dulu ya, Bi.." ucap Emma seraya bangkit berdiri.


Gadis itu pun kemudian memberanikan dirinya untuk melangkah keluar pintu. Begitu pintu terbuka, seketika itu pula hanya kegelapan malam saja yang menyambut kedua netra milik Emma.


Kegelapan malam yang suram tanpa dihiasi satu pun bintang nan terang di atas nya.


***